
"Menikah? Sama ... sama Abir? Abir yang itu?"
Alara mengangguk pelan beberapa kali, sedang Miray menggaruk tak gatal janggutnya. Heran. Wanita berusia pertengahan empat puluhan itu benar-benar keheranan. Apa yang membuat putrinya itu secara mendadak minta izin mau menikah? Dengan Abir pula. Miray bukan hanya kenal dengan pemuda sahabat Alara itu, tapi sudah sangat kenal karena lamanya persahabatan antara Alara dan Abir.
Ini bukan soal Abir yang kurang cocok atau apa, tetapi ... menikahi sahabat sendiri? Yang benar saja? Ditambah, Alara dan Abir juga lebih sering ribut saat bersama. Bagaimana jadinya jika mereka menikah? Oh, tunggu, Alara bahkan belum siap menjadi istri yang baik. Lupakan soal mengerjakan pekerjaan rumah, memegang sapu pun tidak pernah. Apalagi memasak, gadis itu bahkan tak tahu air mendidih yang bagaimana.
"Maa, kok diem? Mama nggak setuju, ya? Tapi kenapa? Mama kan udah kenal sama Abir, kenal akrab malah. Apa iya Mama nggak ngerestuin Alara sama Abir?"
Suara Alara membuyarkan lamunan sesaat Miray. Wanita itu tersenyum kaku; tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
"Mama, ihh!" rengek Alara. Sangat tidak biasa, karena biasanya gadis itu teriak-teriak.
"Bukan begitu, Sayang. Mama cuma ... kenapa kamu mendadak mau nikah? Ini kamu nggak lagi dipaksa, kan? Diancem? Atau ... terlibat masalah apa mungkin, kayak di novel-novel gitu, enggak, kan?"
Alara menatap datar Miray. "Memang siapa, sih, Ma, yang bisa ngancem Alara? Dan ... masalah kayak novel? Ayolah, Ma, sejak kapan Mama baca novel? Novel itu cuma karangan penulisnya, mana ada kejadiannya di dunia nyata. Mama ngada-ngada aja, deh."
"Jadi ... kenapa kamu mau nikah sama Abir?"
"Karena ... ya, pokoknya mau nikah. Mama nggak usah tanya-tanya, deh. Cukup izinin aja, ya ...?" Alara menyatukan tangannya dengan tatapan memelas di hadapan Miray.
"Kita bicarakan ini dengan papamu dulu, oke?"
Alara mengembuskan napas panjang, dengan bibir melengkung ke bawah yang menyedihkan.
***
Seharusnya tidak seperti ini. Abir tidak pulang ke rumah dalam rangka meminta restu pada orang tuanya untuk menikahi Alara. Akibatnya, satu rumah jadi bingung, kecuali Arshia—adiknya—yang langsung jingkrak-jingkrak kesenangan karena akhirnya Abir mau menikah.
"Alara sahabatmu yang model itu, kan? Tapi kenapa, Abir? Apa nggak ada perempuan lain selain dia?" Afsana, ibunya, masih tidak percaya dengan yang Abir katakan.
"Udahlah, Mom, biarin Kakak nikah sama siapa pun. Yang penting dia mau nikah, dan nikahnya sama perempuan," sahut Arshia.
"Apa kamu se-nggak laku itu sampai nikahin sahabatmu sendiri?" Sekarang Arshika, kakaknya, yang protes.
"Bukan nggak laku, lebih tepatnya takdir," jawab Abir asal.
"Dari mana kau tahu itu takdir?" Kini gantian neneknya yang mengutarakan pendapat.
"Emang apa salahnya nikah sama sahabat sendiri? Apa sekarang ada undang-undang yang ngelarang itu? Dan, emang itu ngerugiin satu negara? Menimbulkan perang dunia ketiga? Enggak, kan?" Lama-lama Abir jengah. Tidak seharusnya dia berjuang sampai seperti ini untuk Alara, dalam keadaan dia yang sama sekali tak mencintai gadis itu. Apa perlunya?
"Kami nggak bisa langsung mengiyakan, Abir. Pertama, kami harus bertemu dulu dengan keluarga Alara. Kita semua bicarakan semua ini baik-baik, termasuk apa alasan kuat yang membuatmu menikahi sahabatmu itu," tutur Afsana.
__ADS_1
Abir mengacak rambut frustrasi. Sungguh, dia tak pernah menyangka minta restu untuk menikah akan sesulit ini. Seharusnya, ya, diizinkan saja. Bukankah sejak dulu ini yang mereka semua mau?
Huft. Tahu akan serumit ini, dia kawin lari saja dengan Alara. Pasti sekarang mereka sudah sah sebagai suami istri, dan tidak ada yang akan protes. Paling-paling, akan ada omelan yang tidak seberapa, sandal terbang—jika mungkin—dan ... ya, sudah. Tidak ada reaksi-reaksi yang berlebihan lagi.
Jadi, oke. Setelah ini, Abir harus mengatakan niatnya soal menikah lari dengan Alara. Perempuan kejam itu pasti setuju. Lagi pula, Alara juga tidak suka hal-hal yang rumit.
***
"Payah! Bodoh! Goblok! Nggak pinter-pinter! Cemen! Pake rok sama lipstik aja sana, gitu aja nggak bisa!"
Teriakan tak berperikemanusiaan itu menyambut Abir, usai ia melaporkan 'hasil' dari minta restu tadi. Jangan tanya lagi kelakuan siapa, karena hanya ada satu-satunya orang yang bisa memakinya seperti itu, Alara.
"Ya gue harus gimana, Lara? Gue bingungg!"
"Kebodohan yang hakiki! Lo tinggal ngomong kalau kita itu selain sahabatan, juga punya hubungan! Kita saling mencintai! Gitu aja repot bener!"
"Gue nggak kepikiran bilang gitu, Alara Aarunaya!"
"Ya makanya mikir! Punya otak itu dipake, jangan dijadiin pajangan aja terus-terusan! Ntar tuh otak karatan, mampus lu! Pokoknya, gue nggak mau tau, lo harus bisa dapetin restu dari keluarga lo! Kita harus nikah secepetnya. Sumpah, ya, gue udah pusing banget ini. Gue pengin semua ini cepet kelar gimanapun caranya! Titik, nggak pake koma!"
Tutt.
"Raisha," cetusnya tiba-tiba.
Ya, dia hampir lupa masih memiliki satu sahabat dengan kadar kenormalan lebih banyak daripada Alara. Raisha, perempuan itu harus ia ajak bicara, karena siapa tahu bisa menemukan solusi untuk masalah ini. Masalah meminta restu yang teramat sangat sulit.
Tapi ... tidak. Sudah pukul 1 dini hari. Laki-laki mana yang mengajak perempuan bertemu di jam itu? Meski sahabat sendiri, tetap saja rasanya tidak enak.
Jalan satu-satunya, besok dia harus mengajak Alara bertemu dengan Raisha. Sahabatnya yang satu itu memiliki kadar sifat bijak lebih dari lima puluh persen—lima kali lipat lebih banyak dari Alara. Jadi, bisalah Raisha memberi mereka berdua cara yang tepat, cepat, dan pastinya ampuh.
***
Raisha masih memulihkan dirinya yang sempat terbatuk-batuk karena kaget. Tidak usah dijelaskan, kau pasti sudah tahu apa yang membuatnya seterkejut itu.
"Kenapa?" Kata pertama yang keluar dari mulut Raisha, mewakili segala ketidakpercayaannya dengan omongan Abir dan Alara.
"Apanya yang kenapa?" Dan Alara masih berpura-pura bodoh. Oh, tidak. Dia itu kan memang bodoh.
"Ya kenapa kalian mendadak mau nikah? Apa penyebabnya?"
"Hal yang mendasari terbentuknya ASEAN," jawab Abir.
__ADS_1
"Deklarasi Bangkok?" Raisha menjawab sekaligus menebak dengan polos.
Abir dan Alara saling tatap, selanjutnya terbahak bersamaan.
"Kalau salah satu hal yang mendasari terbentuknya ASEAN adalah latar belakang negara-negara Asia Tenggara yang hampir sama, maka di sini, latar belakang gue dan Abir yang sama, Sha," jelas Alara, yang membuat Raisha berdecak gemas.
"Langsung aja ngomong kenapa, nggak usah bawa-bawa ASEAN segala!"
Sekarang Alara yang berdecak. "Kayak nggak tau aja lo. Gue punya keluarga besar yang bermasalah sama segalanya, sedang Abir punya adek yang lagi kebelet nikah, tapi nggak mau ngelangkahin kakaknya. Nah, karena kesamaan latar belakang itulah, kami memutuskan untuk menikah."
"Jadi ini perjanjian?" Raisha memastikan.
Keduanya mengangguk serempak dengan ekspresi sama-sama menyebalkan.
"Sialan, ya, lo berdua?! Bisa-bisanya kompromi kawin biar bisa bebas," Raisha geleng-geleng tak percaya.
Keduanya menyengir tak berguna.
"Jadi, kenapa malah nemuin gue? Mau sembah sujud minta restu? Tenang, udah gue restuin. Jadi, nikah aja sono, nggak usah ribet mikirin restu."
"Nggak segampang itu, Sha. Keluarga gue sama Alara nggak ngerestuin semudah itu. Suruh inilah, itulah, ribet!"
"Aslinya bukan keluarganya yang ribet, sih, tapi Abirnya aja yang payah! Masa tinggal bilang gue sama dia saling cinta aja nggak mau? Kalau aja dia bilang gitu, pasti kami berdua udah dinikahin," sahut Alara sambil mengerling jengah pada Abir.
"Oh," Raisha tertawa. "Jadi, kalian ke sini mau nyuruh gue mintain restu sama keluarga kalian?"
"Betul!" seru Alara dan Abir bersamaan.
"Lu pinter banget, sih, Sha? Langsung ngerti niat gue sama Alara. Sebagai sahabat lo, gue bangga," puji Abir, biar Raisha mau membantu mereka.
"Nggak usah muji-muji. Gue tau gue pinter. Kenapa gue langsung ngerti sama niat kalian? Jawabannya adalah karena muka-muka kalian itu seolah jelasin semuanya," beber Raisha.
Alara dan Abir saling menunjukkan cengiran payah masing-masing.
"Jadi, lo mau, kan? Maulah, masa enggak. Sama sahabat sendiri juga," cerocos Alara.
"Berani bayar berapa kalian, nyuruh gue mintain restu ke ortu kalian?" tanya Raisha sambil meniup kuku-kukunya, sok sombong ceritanya.
Alara dan Abir ternganga dan saling pandang. Apa minta bantuan sahabat sendiri di zaman ini memerlukan biaya berlangganan juga?
*****
__ADS_1