Deal, Kita Nikah!

Deal, Kita Nikah!
50. Saling Merindukan


__ADS_3

Ini malam keenam Alara menginap di rumah Raisha. Sambil memainkan kertas-kertas di atas meja yang ada di sudut kamar, dia melamun. Entah mengapa, dia merasa ingin sekali bertemu Abir. Pria itu sedang apa sekarang? Sudah makan atau belum? Sedang baik-baik saja atau tidak? Sedang sibuk berkutat dengan laptop atau tiduran di depan TV? Atau malah menghabiskan waktu dengan Alisha?


Semua pertanyaan itu sejak tadi berkecamuk dalam benak Alara. Biasanya dia tidak pernah rindu begini pada laki-laki itu. Mau Abir jungkir balik pun, dia tidak akan peduli. Tapi kali ini, pikirannya sejak tadi—sebenarnya semejak memutuskan untuk berpisah selama seminggu—dia malah jadi tak berhenti memikirkan pria yang selalu disebutnya manusia payah itu.


Apa jangan-jangan ... sekarang Alara mulai mencintai Abir? Tanpa dirasa, apakah Abir sudah masuk dalam hatinya selama ini, tetapi tidak ia sadari? Tapi bagaimana mungkin? Ketika dia malah ingin berpisah dengan pria itu?


Atau ini hanyalah reaksi otomatis karena selama ini dia dan Abir hampir tak pernah berpisah? Jadi, dia semacam merasa kehilangan, begitu?


"Masa iya, sih, gue sekarang suka sama Abir?" gumamnya. "Tapi mana mungkin? Tapi harusnya gue ngerasa seneng dan bebas, dong, dengan berpisah gini sama Abir. Ini enggak, gue malah pengen banget ketemu dia," lanjutnya.


"Apa ... gue udahin aja kali ya marah-marahannya? Toh sesuai perjanjian kami dulu, kami bebas mau ngapain aja karena pernikahan ini cuma kompromi. Eh tapi, gue kan pernah bilang sama Abir, kalau dia mau selingkuh atau apa pun itu, yang penting ceweknya bukan keluarga gue. Berarti ... gue nggak salah, dong? Gue memang berhak marah, kan Abir ngelanggar perjanjian itu dengan berhubungan sama Alisha, terlepas dari apa pun hubungan mereka," monolognya lagi.


"Cinta bilang aja kali, Mbak," sahut seseorang dari depan pintu.


"Raisha!" jerit Alara. "Ngapain lo di situ? Jadi mata-mata, ha?! Dan kenapa malah ngintip gue?!"


"Gue nggak ngintip. Dan, ya, ini kan rumah gue, kamar gue, jadi gue bebas dong mau ke mana aja?" balas Raisha santai, lantas berjalan menghampiri Alara dan mendudukkan diri di sisi sahabatnya itu.


"Rindu itu berat, ya," ejek Raisha sambil tertawa. "Makanya, nggak usah sok-sokan berpisah segala. Kalian kan bisa bicarain semua ini baik-baik, lagian mana mungkin Abir dan Alisha sampai macem-macem? Iya, oke, Abir itu dulu playboy, tapi itu kan semata-mata karena dia orangnya emang nggak tegaan, bukan karena mau. Kalau dia niat selingkuh nih ya, pasti udah dia lakuin dari dulu, kan?"


Raisha menjeda kata-katanya selama beberapa detik. "Sekarang gini, lo inget-inget, deh. Selama lo jadi istrinya Abir, tugas apa sebagai seorang istri yang lo lakuin? Kagak ada, kan? Justru, Abir yang merangkap posisi sebagai suami sekaligus istri. Dia ngerawat lo dengan baik, seperti orang tua lo sendiri. Kalau dia itu emang pria berengsek, dia pasti udah nyerah sejak minggu pertama pernikahan kalian, bukannya bertahan sampai sekarang."


"Kan di awal pernikahan dia udah selingkuh, Sha. Inget yang waktu kami ke Bali? Dia bersama sama selingkuhannya yang sakitnya cacat logika itu, sampai akhirnya gue culik dia, tapi ternyata Sara emang sakit," balas Alara.


"Dan emangnya lo enggak? Bukannya setelah pernikahan dan dipaksa Abir, lo baru putusin pacar-pacar lo itu?"


Alara rasanya tak mampu menjawab. Kenapa yang Raisha katakan itu benar sekali? Dia dan Abir sebenarnya sama saja. Malah mungkin dia yang lebih buruk karena sampai melakukan penculikan segala, ya ... meski itu juga untuk kebaikan Abir.

__ADS_1


"Jadi sekarang?" tanyanya setelah beberapa menit diam.


"Temui Abir, besok. Gue yakin, dia juga pasti sama galaunya kayak lo," jawab Raisha tersenyum.


***


Abir memakan semangkuk mi instannya tanpa minat. Beberapa hari pekerjaannya hanyalah bolak-balik pergi ke kantor, pulang, makan, lalu tidur. Tempat ini sepi sekali tanpa ocehan Alara. Bahkan lihat saja, semua tampak rapi tertata sesuai tempat karena tidak ada Alara yang memberantakkannya. Biasanya saat pulang kerja, Alara akan melempar sepatunya ke mana saja, dan berakhir Abir-lah yang membereskan semua itu. Tapi tidak apa-apa. Itu semua jauh lebih baik daripada dia dan Alara harus berpisah begini. Abir tidak sanggup. Sungguh.


Sekarang Abir bertanya-tanya, kira-kira apa yang Alara lakukan sekarang? Jangan-jangan perempuan itu sudah menemukan penggantinya? Apa mungkin Alara sedang berpesta dan bersenang-senang karena terbebas dari Abir?


Sebenarnya sedih sekali memikirkan soal itu. Alara akan menemukan penggantinya, itu adalah pikiran yang tak pernah Abir harapkan akan terjadi.


Abir pernah dengar pepatah, 'mencintai tidak harus memiliki, melihat yang kita cintai bahagia, itu sudah cukup'. Tapi itu menurut Abir omong kosong besar. Pada kenyataannya, semua itu sulit untuk dilakukan. Melihat orang yang kita cintai bahagia dengan orang lain, bagaimana mungkin kita bisa bahagia juga?


Selain itu, Abir juga pernah dengar, 'puncak tertinggi dari mencintai adalah mengikhlaskan'. Apa dia akan bisa ikhlas andai Alara bersama yang lain? Tidak, tidak mungkin. Gadis kejam itu sudah membuat tanda yang begitu dalam di hati Abir. Melupakannya? Itu tidak mungkin.


Dua detik setelah Abir mengatakan itu, ponselnya bergetar. Pesan masuk dari nomor perempuan yang dia cintai, namun tidak pernah membalas itu.


"Lara?" pekik Abir dengan mata berbinar-binar. Langsung ia buka pesan yang masuk itu, berharap isinya tidak akan membunuhnya detik ini.


[Bir, besok kita bisa ketemu?]


Bergegas jemari Abir mengetikkan pesan balasan. [Bisa banget. Ketemu di mana?]


[Ga usah jauh-jauh, kafenya Raisha aja.


Gue tunggu jam 9.]

__ADS_1


[Iya, Ra, iya. Gue akan dateng jam 8.] Balasnya secepat kilat.


Setelah itu, tanda centang dua berubah biru dan tak ada balasan lagi dari Alara. Sekarang perasaan Abir jadi campur aduk. Dia senang sekaligus takut memikirkan apa yang kira-kira akan Alara bicarakan. Apa tentang perpisahan mereka? Ah, jangan sampai. Abir tidak siap walau hanya memikirkannya.


***


"Udah?" tanya Raisha.


Alara mengangguk beberapa kali. "Abir kelihatannya excited," katanya.


"Pastilah dia excited, dia juga pasti kangen sama lo," balas Raisha.


"Iya kalau kangen, kalau dia udah nggak sabar mau pisahan sama gue, gimana?"


Raisha berdecak. "Pikiran lo tuh, ya?! Mikir yang baik-baik, kek. Lagian Abir itu cinta sama lo, yang namanya cinta mana bisa dihilangin dengan mudah begitu?"


"Tapi bisa jadi itu cuma rasa suka sesaat aja, Sha. Mana bisa dia mendadak cinta sama gue, kan aneh."


"Yang aneh apanya? Kalian bersama setiap hari, ya meski nggak 24/7 sama-sama, tapi tetep aja. Buktinya lo, lo sekarang kangen sama Abir, kan? Lo yang biasanya selalu sama dia, jadi ngerasa ada yang kurang kalau dia nggak ada, kan?" serang Raisha.


"Iya, deh, iya. Mungkin lo bener deh, Sha. Gue emang mulai mencintai Abir. Tapi ... gimana kalau Abir menyikapi perpisahan yang gue omongin kemarin dengan serius? Masa iya gue baru jatuh cinta tapi langsung patah hati?"


Raisha menghembuskan napas panjang-panjang. "Enggak akan, Ra. Gue yakin seratus juta persen, Abir juga nggak mau pisah sama lo. Udahlah, pokoknya nanti kalian harus balikan. Ungkapin aja ke Abir semua yang lo rasain sekarang selama ada di sini. Cinta itu nggak usah gedein gengsi, ntar malah nyesel sendiri."


Kata-kata Raisha itu memang kedengaran kejam, tetapi Alara membenarkannya. Dan, ya, dia akan melakukan itu nanti. Dia sekarang ingin hubungannya dan Abir membaik. Hanya itu.


*****

__ADS_1


__ADS_2