Deal, Kita Nikah!

Deal, Kita Nikah!
49. Solusi atau Bukan?


__ADS_3

Alara kembali ke rumah Raisha dengan keadaan lebih marah lagi. Kedatangannya yang setengah membanting pintu, membuat Raisha terkejut bukan main. Perempuan yang sibuk berkutat dengan laptop itu nyaris membanting benda tersebut.


"Sekarang ada apa lagi?" tanya Raisha langsung ke intinya. Dia tidak perlu mengomel kenapa Alara datang-datang membanting pintu; tidak berguna, toh bukan itu yang membuatnya penasaran.


"Gue sama Abir mau cerai."


Perkataan Alara itu sukses membuat Raisha memekik keras-keras sekaligus memelotot lebar-lebar. "Tapi kenapa? Apa lagi masalahnya sekarang?"


"Kami udah nggak saling cocok. Abir dan gue beda. Dan ... ya, Alisha yang lebih baik buat Abir daripada gue," kata Alara dingin.


"Alisha?" Raisha berdecak. "Gila, ya! Jadi Abir selingkuh gitu?"


Alara mengangguk datar. "Kurang lebih gitu. Lo tahu tingkah temen lo itu selama gue nginep di sini? Dia ngabisin malem sama Alisha di apartemen kami. Gila, nggak, tuh?!"


Raisha menganga. Hampir saja ia memekik sebab tak percaya mendengar penuturan Alara barusan. "Tapi ... dia bilang dia cinta sama lo, Ra."


"Cinta yang nggak dibales bisa apa? Haha, kadaluarsa. Mending nyari orang lain yang sejalan dan seprinsip, orang yang bisa jadi istri yang baik, daripada penyihir kayak gue," Alara tertawa hambar.


Raisha bergeming. Alara itu paling tidak mau tahu. Apa saja yang dilihatnya, itulah yang dia anggap terjadi. Bisa jadi Abir tidak berselingkuh seperti yang dikatakan perempuan itu. Bisa jadi yang terjadi adalah hal lain dan semua ini hanyalah salah paham.


"Ini ... ini keputusan terbaik kalian? Nggak bisa dipikir-pikir lagi gitu? Inget, ya, Ra, cerai itu keputusan yang besar; nggak bisa diambil gitu aja dengan emosi. Atau mending gini aja, deh, kalian ketemuan setelah kepala kalian sama-sama udah dingin? Dibicarain lagi baiknya gimana. Jangan asal mau cerai aja. Pernikahan itu bukan mainan, loh. Kalian mau nikah aja kayak lagi beli permen, sekarang mau cerai pun gitu?" tutur Raisha panjang lebar.


Alara menghela napas panjang sembari mengacak-acak rambutnya. "Nggak tahu gue."


"Ya udah, mending lo istirahat aja dulu. Gue mau ketemu Abir. Mau gue penggal palanya kalau sampai beneran selingkuh," kata Raisha.


"Terserah," respons Alara, lalu beranjak pergi ke salah satu kamar yang ada di lantai atas.


***


Abir hanya tertunduk di hadapan Raisha. Tidak ada satu patah kata pun keluar dari mulutnya setelah Raisha menanyainya masalah dengan Alara. Raisha juga sebenarnya tidak mau ikut campur dalam masalah ini, tapi bagaimana lagi? Di sini dia berperan sebagai makhluk netral yang menengahkan kedua kubu yang tengah berseteru itu. Lagi pula, hanya dia juga yang tahu segala permasalahan kedua pasangan itu. Dan, ya, dialah yang paling waras dari mereka bertiga.


"Gue nggak selingkuh, Sha. Beneran. Percaya deh sama gue," kata Abir setelah bermenit-menit diam.

__ADS_1


"Trus lo ngapain minta si Alisha nginep di tempat lo?"


"Gue nggak tega biarin dia pulang tengah malem gitu. Mau gue anter pun gue males. Gue juga nggak mikir kejadiannya bakalan gini," papar Abir.


"Lo tuh tolol tau, nggak?! Udah tahu akar permasalahannya ada di Alisha, lo malah seakan-akan bikin dia masuk dalam rumah tangga lo. Gila, ya, lo?!" omel Raisha. Lagi-lagi Abir hanya bisa tertunduk. "Atau ... jangan-jangan emang bener lagi, lo suka sama Alisha? Cewek itu cewek tipe lo?"


Abir spontan mengangkat wajah menatap Raisha. "Enggaklah, Sha!" sanggahnya. "Lo kan tahu sendiri, gue cinta sama Alara. Ya meskipun dia itu penyihir, tapi gue tetep cinta sama dia."


"Tapi Alisha itu tipe-tipe istri idaman, loh. Bukan kayak Alara," kata Raisha sengaja, dia ingin tahu apa reaksi Abir.


Abir garuk-garuk kepalanya yang tak gatal sama sekali. "Ya ... iya, sih. Alisha emang idaman, tapi gue nggak ada niatan buat ganti posisi Alara."


"Ya trus sekarang lo maunya gimana? Alara ngotot pengen pisah."


"Gue nggak mau pisah," jawab Abir cepat-cepat. "Gue nggak mau pisah sama Alara, Sha ...."


Raisha menarik napas dan mengembuskannya sampai berkali-kali. Di sini lagi-lagi dirinya yang terkorban. Abir mana mungkin bisa melakukan apa-apa sendiri tanpa bantuannya?


"Alara nggak bisa dibujuk dengan mudah, apalagi dia sekarang udah mutusin buat pisah, ya ... siap-siap aja lo," balas Raisha.


"Eh, Shaa ... jangan gitu, dong!" protes Abir. "Lo harus bantuin gue. Gue harus gimana biar bisa dapetin maafnya Alara?"


"Gue juga nggak tahu, Bir. Gue ini orang luar, loh, tapi gue yang paling pusing tiap kalian berantem. Gue aja belom nikah, gue tahu apa soal pernikahan?!" sembur Raisha. Kepalanya benar-benar mau pecah rasanya memikirkan masalah dua orang itu.


Abir malah cengengesan. "Ya habisnya cuma lo yang tahu dan ngerti sama masalah kami. Kalau bukan lo, siapa lagi?"


Raisha berdecak. "Ya udah, gini aja. Alara masih marah besar, dia nggak akan bisa dibujuk, yang ada kalau lo maksa nemuin dia, kemungkinan yang terjadi ada 2: satu, lo dikirim ke alam sebelah; dua, lo dicerai hari ini juga."


"Jadi ... gue mesti gimana?"


"Selama seminggu ini, mungkin lo jangan temui Alara dulu."


***

__ADS_1


Setelah menemui Abir dan melarang pria itu datang sampai seminggu kedepan, Raisha juga menyampaikan hal itu pada Alara. Agar Alara tidak mengamuk karena mengira Abir tidak berniat memperbaiki hubungan mereka, juga Raisha tidak mau sampai ada kesalahpahaman.


Seminggu ini, Alara juga tidak pulang dari rumah Raisha. Pekerjaannya setiap hari adalah ikut Raisha mengurus kafe, sambil menenangkan diri dan sedikit-sedikit memikirkan soal hubungannya dan Abir.


Memang benar. Cerai bukanlah keputusan yang baik. Maksudnya, hal itu tidak bisa diambil dalam keadaan emosi. Alara sadar, dia menikah secara dadakan seperti orang beli permen, dan mungkin karena kurangnya persiapan, ditambah dengan niat awal yang tidak bisa dikatakan benar, maka terjadilah semua ini.


Tidak seharusnya orang berkompromi untuk menikah hanya agar terbebas dari pertanyaan 'kapan nikah', kan? Sekarang kalau sudah terjebak begini, dia harus bagaimana? Pernikahan bukanlah permainan anak-anak, yang bisa dilakukan ataupun dihentikan seenak jidat.


"Bagaimana es krimnya, Sayang? Enak?"


"Iya, Ma, enak banget!"


"Kalau gitu Papa pinter dong milihin rasanya?"


"Betul, betul, betul. Papa memang yang terbaik!"


"Ya sudah, sekarang kamu habiskan es krimnya, ya."


"Siap, Mama!"


Alara tak sengaja memerhatikan interaksi manis antara ayah, ibu, dan anak yang duduk beberapa meter di hadapannya. Mereka bertiga terlihat sangat bahagia, bahkan sepasang suami istri itu juga tampak romantis dan kompak. Apa ... itu karena hadirnya anak di tengah-tengah mereka? Apa benar, istilah anak adalah pemanis dan perekat dalam sebuah hubungan?


"Gue tahu sejak tadi lo perhatiin mereka," ucap Raisha tiba-tiba. "Lo pengen, ya? Kalau iya, itu nggak salah, sih. Tapi, sebelum itu lo pikirin dulu mateng-mateng. Misal kalian nanti berantem lagi dan mau pisah, itu bukan cuma kalian aja korbannya, tapi anak kalian. Jadi anak broken home itu nggak enak, loh. Jadi, pastiin kalau mau melangkah ke jenjang itu, kalian harus bener-bener siap mental dan tenaga. Jangan sampai anak nggak berdosa yang jadi korbannya."


Alara melirik Raisha yang mengoceh panjang lebar di dekatnya. Saat ini gadis itu seolah curhat masalahnya sendiri.


"Gue cuma lihat, kok. Nggak mikir sampai ke situ. Lagian manusia macam gue nggak cocok jadi ibu. Ngurus diri sendiri aja kagak bisa, gimana mau ngurus anak?" balas Alara.


"Baguslah," timpal Raisha sambil berbalik dan kembali masuk.


Alara malah ternganga. Sebenarnya apa yang dikatakan Raisha itu memang sempat ia pikirkan, tapi dia juga tidak bohong ... dia belum siap. Dan, itu bukan solusi sama sekali. Lalu sekarang dia harus bagaimana?


*****

__ADS_1


__ADS_2