Deal, Kita Nikah!

Deal, Kita Nikah!
22. Kebenarannya, Sara....


__ADS_3

Amira memegangi pipinya yang terasa panas, setelah satu tangan keponakannya mendarat keras di sana. Sepasang bola mata wanita itu menatap penuh kebencian ke sosok yang telah mendaratkan tamparan padanya, Alara.


"Berani kamu sama saya, ya?!"


"Kenapa enggak?!" sahut Alara tanpa menunggu detik berganti. "Itu cuma tamparan, kalau Bibi mau yang lebih parah lagi dari itu, aku juga bisa!"


"Dasar anak kurang ajar!"


Alara menangkap tangan Amira sebelum sempat mendarat di pipinya. Dia pegang erat hingga wanita itu kesusahan melepas tangannya sendiri.


"Lepas! Lepaskan tanganku, Anak Kurang Ajar!" bentak Amira.


"Hoey, Alara!"


Prang!


Alara dan Amira spontan menoleh bersamaan ke sumber suara. Abir, pria itu berlari tergopoh-gopoh ke arah mereka berdiri, dengan di belakangnya nampan yang tergeletak begitu saja setelah dibanting.


"Kalian ngapain?"


"Perang!" tukas Alara sambil membanting tangan bibinya ke udara.


Dengan napas yang belum beraturan, Abir menatap bergantian dua wanita yang adalah bibi dan keponakan di hadapannya itu. Melihat Bibi Amira yang masih memegang pipi, dengan ekspresi yang terlihat marah, Abir seolah langsung paham apa yang terjadi sebelum dia datang.


"Awas aja kalian!" Amira bersungut-sungut pergi dari situ, menyisakan Abir yang terbengong-bengong dan Alara yang masih dalam keadaan marah.


"Lo habis ngapain Bibi Amira?" tanya Abir setelah wanita itu tak terlihat lagi di pandangan mereka berdua.


"Kelihatannya ngapain?" ketus Alara.


"Jadi, lo beneran nampar dia?"


"Ya iyalah! Salah sendiri, siapa yang nyuruh dia ngoceh di sini, bersyukur itu cuma satu kali tamparan."


Abir menepuk keningnya, "Ya ampun, Lara …, kenapa lu bisa lakuin itu, sih? Dia itu bibi lu, bukan musuh!"

__ADS_1


"Ya terus? Gue peduli? Enggak!" sembur Alara. "Dia aja nggak mikirin perasaan gue, ngapain gue repot-repot mikirin dia?"


"Tapi nggak gitu juga konsepnya! Mentang-mentang dia nyinyir di depan lo, langsung mau lo habisin gitu? Sadar, Ra, sadar! Kita bisa kena masalah nanti!"


"Gue nggak peduli!" teriak Alara. "Terserah itu Mak Lampir mau ngapain, gue nggak peduli! Sudah cukup dia selalu cari masalah sama gue, cari masalah sama Mama, gue nggak bisa diem lagi sekarang! Dia ngibarin bendera perang, gue terima!"


Abir geleng-geleng. "Suatu hari sifat lu itu bisa bikin kita habis, Ra."


"Halah, tenang, Bir. Itu orang nggak akan berani apa-apa selain cuma omong doang. Lo nggak perlu takut. Lawan aja pokoknya," sahut Alara.


"Oke, oke, iya, terserah. Sekarang, gue mau tanya, emang itu Mak Lampir ngapain lu, sih?"


"Dia mergokin gue selingkuh," jawab Alara pelan, "padahal gue nggak selingkuh."


"Tapi ngapain?"


"Gue tanya sama Deva soal Sar---iya, Bir, Sara! Gue tau apa yang terjadi sama Sara dari Deva!" teriak Alara heboh setelah bicara seperti tanpa tenaga.


Dan Abir bisa menyesuaikan, dia tahu betul Alara itu pikun. Pertengkaran dengan Amira tadi, sudah pasti membuat Alara lupa dunia dan segala tujuannya.


"Jadi gimana? Sara kenapa?"


"Sara kenapa, Lara? Baik-baik aja, kan?" tanya Abir sekali lagi.


"Sara udah dapat tiket ke surga, Bir …."


Deg!


Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Abir, kecuali hanya bola mata yang membulat, dan bibir sedikit terbuka.


Sara … Sara sudah tiada? Sara yang sama? Sara mantannya? Sara yang punya banyak impian aneh itu? Sara yang menginginkan beberapa hari dari hidup Abir untuk menghabiskan waktu bersamanya, tapi sekarang … sekarang sudah benar-benar pergi dan tidak akan pernah kembali lagi?


"Lo serius, Ra?" tanya Abir dengan suara lirih, masih sangat syok.


Alara mengangguk yakin. "Ini chat dari Deva, lo bisa baca sendiri."

__ADS_1


Dengan tangan sedikit bergetar, Abir menerima ponsel itu dari Alara. Benar, di sana tertera kontak bernamakan Deva, membalas pertanyaan Alara yang dibubuhi foto Sara. Jawaban agak panjang, yang menjelaskan tentang kepergian Sara beberapa hari lalu, hari yang sama di mana Alara menculik Abir.


Chat itu membuat lutut Abir terasa lemas. Ia bagai kehilangan kekuatan untuk menopang berat tubuhnya sendiri. Berita itu benar-benar mengguncang Abir. Rasa tak percaya, tapi tak bisa lagi disangkal sebab bukti sudah terpampang nyata.


Memang, selain hanya jawaban singkat, Deva juga mengirim beberapa salinan berita tentang meninggalnya Sara pada Alara. Sumber yang tertera pun tak bisa diragukan lagi, ditambah dalam salah satu tautan, terdapat cuplikan foto Sara yang terlihat jelas.


Abir ambruk. Kekuatan di kakinya untuk berdiri benar-benar sudah tak ada lagi. Satu tetes cairan bening mengalir dari pelupuk matanya, yang langsung ia hapus dengan kasar.


"Jadi … jadi dia beneran udah nggak ada?"


Alara berjongkok di sisi Abir. Lagi-lagi perempuan itu hanya bisa mengangguk. Namun, kali ini di kedua pelupuk matanya tergenang cairan bening yang siap tumpah kapan saja.


"Gue minta maaf, Bir. Gue beneran nggak tahu akan begini kejadiannya. Gue … gue nggak pernah mengira Sara beneran sakit dan hanya punya waktu sesingkat itu. Sekali lagi gue minta maaf, Bir ...." Genangan itu pada akhirnya tumpah, tak bisa lagi Alara tahan.


Abir menyeka kasar cairan yang keluar dari kedua pelupuk matanya. Dia beralih menatap Alara sambil menggeleng kuat. "Ini bukan salah lo, Ra. Lo nggak perlu minta maaf. Dan kalaupun lo ingin tetep minta maaf, itu sama Sara, bukan gue."


Biasanya Alara takkan bisa menangis semudah seperti sekarang ini, tapi kali ini beda. Entah kematian Sara adalah salahnya atau tidak, dia tetap merasa sangat bersalah.


"Maafin gue, Bir. Gue nggak tahu bakalan gini, gue nyesel ...." Tangis Alara semakin menjadi.


Abir menggeleng kuat seraya memegang kedua pundak Alara. "Takdir itu pasti terjadi, dan itu juga butuh perantara. Dalam kasus ini, lo nggak bersalah. Lo cuma perantara takdir menjalankan tugasnya, Ra."


"Tapi tetep aja, Bir," Alara sesenggukan, "gue merasa bersalah ...."


Jika ditanya sakit, Abir juga sangat sakit mendengar kenyataan ini. Tetapi menangis, tidak, dia tidak boleh selemah itu. Kalau dia menangis, maka Alara akan semakin merasa bersalah. Sifat kejam Alara hanya ada di luar, sementara dalamnya, sangat lembut seperti perempuan kebanyakan.


"Stop, Lara, lo nggak boleh nangis, oke?" Abir menghapus lelehan-lelehan bening yang menganak sungai di pipi Alara. "Nanti kalau kita udah ada waktu, kita bisa balik lagi ke Bali, kita datang ke makam Sara, kita sama-sama minta maaf sama dia, ya?"


Alara mengangguk pelan meski masih sesenggukan. "Iya, Bir."


Jarak beberapa meter dari kedua pasangan itu, Amira mengintip di dekat tangga atas. Awalnya ia memang ingin kembali, tapi pada akhirnya diurungkan sebab penasaran dengan apa yang akan keponakannya itu lakukan bersama suaminya.


Dia kira, Alara akan mengadu yang tidak-tidak atau apa, tapi ternyata, malah pemandangan ini yang ia dapat. Sepasang suami istri baru itu, menangis berjamaah di depan pintu setelah melihat sesuatu dari ponsel yang Alara bawa.


Amira tidak tahu apa penyebabnya, karena dari jarak ini dia tak bisa mendengar apa-apa. Ia hanya tahu, hal itu pastilah sesuatu yang besar; sesuatu yang berusaha ditutupi oleh keponakannya itu.

__ADS_1


"Aku memang nggak tahu kalian berdua nangis kejer berjamaah kayak gitu karena apa, tapi aku pasti akan cari tahu apa penyebabnya, dan menjadikan itu senjata untuk menghancurkan kalian," Amira memasang senyum sinis, tanpa melepas pandangannya dari sepasang pengantin baru itu.


***


__ADS_2