
Bahkan sampai kesal sendiri, Alara tidak berhasil mengingat satu pun potongan kejadian semalam, kecuali dia yang merasa mabuk lalu lupa segalanya.
Sekarang, dia harus bagaimana? Apa dia akan terus membuang-buang waktu dengan berpikir, tetapi tidak tahu apa yang dipikirkan?
Oke, sekarang Alara memutuskan untuk mengirim beberapa pesan pada Abir, lalu dia akan lanjut tidur.
[Bir, kalau lo niat balik, balik aja, kalau enggak, terserah mau ke mana. Inget, gue nggak akan repot nyariin lo!]
Kirim. Dan selesai. Pesan itu bukan hanya Alara kirimkan ke WhatsApp, tetapi juga SMS. Mungkin, Abir sedang kehabisan kuota, jadi dia tetap bisa membaca pesan Alara lewat SMS, kan?
***
"Nah, kan, Sha!" seru Abir setengah merengek sambil menunjukkan ponselnya pada Raisha.
Raisha mengacak pelan rambutnya sembari menarik napas panjang. Memang benar, Abir tidak pergi ke mana-mana, melainkan terus di sini bersamanya. Inilah 'cara' yang Raisha maksud. Dia dan Abir berencana untuk membuat Alara mencari-cari Abir yang 'menghilang' tanpa kabar. Namun, yang terjadi malah Alara mengamuk dan tidak mau mencari Abir. Rencana yang seharusnya sudah sempurna, tapi terpaksa gagal bahkan sebelum dijalankan.
"Sekarang gue harus gimana, dong? Pulang sekarang? Atau gimana?" rengek Abir.
"Pokoknya jangan pulang. Karena kalau pulang ... sia-sia aja, dong, lu pake acara sok-sokan ngilang? Enggak, Bir, cari cara lainnya," balas Raisha.
"Tapi cara lainnya itu gimana, Sha? Udahlah, Alara nggak cinta sama gue, jadi semua ini percuma," kata Abir tak semangat.
Raisha diam. Mungkin dalam diamnya, gadis itu membenarkan perkataan Abir.
"Oke, jadi sekarang lo mau ke mana?" tanya Raisha baik-baik.
"Gue mau pergi dari sini, mungkin nginep di hotel atau gimanalah malam ini. Biar besoknya dipikir-pikir lagi. Gue pamit dulu, ya, Sha. Thanks untuk rencana hari ini," ujar Abir seraya bangkit dan mengenakan kembali jaketnya.
Raisha mengangguk sambil memasang senyum kecil. "Maafin gue, ya, rencananya malah nggak berhasil. Alara tuh emang kepala batu banget."
"Seharusnya malah gue yang minta maaf, soalnya ini masalah rumah tangga gue sama Alara."
"Ck, enggak pa-pa kali, gue kan sahabat kalian berdua. Udah, kalau lu mau pergi, hati-hati, ya. Jangan mikirin Alara terus selama nyetir. Mikirin Alara lagi boleh, tapi nanti pas udah sampai di hotel. Oke?"
Abir tertawa kecil. "Siap, Nyonya Raisha. Saya akan baik-baik saja," candanya.
__ADS_1
"Dasar lu, udah sana," Raisha mendorong pelan tubuh Abir keluar rumahnya.
"Ngusir, nih, ceritanya?"
"Iya, ngusir. Cepetan pergi sana."
Dengan Raisha yang mengantarnya sampai di depan gerbang, Abir meninggalkan area rumah Raisha yang memiliki halaman lumayan luas.
Sekarang, Abir tidak punya tujuan. Dia memang belum tahu akan pergi ke mana, tapi satu hal yang pasti: dia tidak akan pulang. Ini bukan tentang berharap menunggu Alara mencari-carinya, tapi Abir memang tidak ingin pulang—setidaknya untuk malam ini.
Sebuah halte bus yang sepi menarik perhatian Abir. Pria itu menghentikan mobilnya di situ, kemudian turun dan duduk di sana. Seorang diri, tentu saja, karena manusia bodoh mana yang tengah malam begini kegabutan dan duduk-duduk di halte? Semua orang jelas akan memilih bergulung di balik selimut sambil mengejar dunia mimpi yang biasanya sangat indah.
Abir menghela napas panjang. Jadi, dia akan berdiam diri di sini semalaman? Sambil memikirkan masalahnya dengan Alara. Ah, sebenarnya itu bukan masalah. Dia dan Alara tidak ada masalah apa-apa. Dia hanya lelah sendiri lama-lama berada dalam hubungan pernikahan yang hanya mereknya saja ini. Dia ingin mengubah 'pernikahan perjanjian' ini jadi pernikahan sungguhan. Dia dan Alara menjadi sepasang suami-istri yang sungguhan, bukan suami-istri ala teman kos.
"Hey, Bro!" sapa pria seusia Abir—atau mungkin lebih muda—yang tengah memakan kacang dan kemudian mendudukkan dirinya di sebelah Abir.
"Mau?" tawar laki-laki itu.
Abir menggeleng. "Tidak. Terima kasih."
Laki-laki itu berhenti sebentar dari kegiatan mengunyahnya; memandangi Abir. "Kenapa wajahmu kusut sekali? Ada masalah?"
"Hey, Bro, dengar, aku ini orang asing, kau bisa ceritakan apa saja padaku, aku tidak mengenalmu, kau pun tidak mengenalku, ini tidak akan merugikan kita," tutur pria itu. "Ceritakan saja, mungkin aku bisa membantumu, kan?"
"Aku terjebak, Bro. Aku tidak tahu harus mempertahankan pernikahanku atau berhenti sampai di sini," Abir memulai ceritanya.
Pria itu terlihat sangat menyimak perkataan Abir. "Memang, apa masalahnya?"
Abir menarik napas panjang. "Masalahnya adalah ... aku dan istriku itu menikah karena perjanjian yang sangat konyol; kami menikah agar bebas dari pertanyaan kapan nikah, juga karena adikku yang sudah tidak sabar untuk menikah, sementara keluargaku mewajibkan aku dulu yang menikah.
"Akhirnya, kami jadi suami-istri, tapi tak ubahnya seperti teman sekamar. Pernikahan konsep rumah kos, kami menyebutnya. Karena kami yang sudah bersahabat sejak belasan tahun lalu, jadi kami membuat banyak sekali perjanjian sebelum pernikahan. Salah satunya, ya, itu tadi, kami hanya seperti teman kos. Kami bebas beraktivitas seperti orang lajang; dia bisa berpacaran dengan siapa pun, aku tidak akan melarang, pun sebaliknya. Dia juga tidak berkewajiban menjalankan tugasnya sebagai seorang istri, aku juga tidak harus menjalankan kewajiban sebagai seorang suami.
"Tapi, lama-lama aku tidak bisa tahan dengan semua ini, Kawan. Aku jatuh cinta duluan padanya, tapi dia hanya menganggapku tak lebih dari ... sahabat. Bahkan sekarang ini, aku pura-pura menghilang agar dia mencariku atau setidaknya khawatir, tapi yang ada dia malah marah-marah dan tidak mau mencariku." Abir menutup ceritanya dengan senyum getir.
Pria itu manggut-manggut seolah memahami cerita Abir. Hingga beberapa detik dia berpikir, baru kemudian memyampaikan pendapatnya, "Sudah berapa bulan pernikahan kalian?"
__ADS_1
"Sekitar 2 bulan."
"Dia tahu kau mencintainya?"
"Tahu, aku sudah mengungkapkannya beberapa hari yang lalu, tapi istriku itu tidak percaya cinta. Maksudnya, dia hanya menganggap cinta adalah omong kosong. Memang, mantannya ada banyak, tapi itu semua adalah dari hasil kegabutannya; dia hanya ingin mempermainkan para pemuda dengan menjadikan mereka pacar, lalu diputus pas lagi sayang-sayangnya."
Mulut pria itu terbuka sedikit seperti tak percaya. "Sungguh begitu?" tanyanya memastikan.
Abir mengangguk yakin. "Ya. Dia itu memang agak gila orangnya."
"Hmm, mendengarnya ... sepertinya mustahil kalau istrimu itu sama sekali tidak mencintaimu. Maksudku, kalian sudah bersama selama itu, kan? Bahkan dalam film, satu minggu pun bisa jatuh cinta. Jadi kemungkinan, dia juga sudah mencintaimu, hanya saja dia belum menyadari perasaannya itu."
"Nah," Abir menjentikkan jarinya. "Aku dan sahabat kami yang lain juga berpikir begitu. Tapi masalahnya, bagaimana cara membuat perasaan cintanya padaku keluar? Bagaimana caranya agar dia sadar, kalau dia juga mencintaiku. Bagaimana itu?"
"Mungkin dia punya beberapa impian? Coba satu per satu wujudkan itu, atau ... bersikaplah yang manis padanya, bersikap seperti seorang pria yang sangat mencintai wanitanya; bersikap seolah kalian berdua saling mencintai; perlakukan dia seperti seorang ratu. Ya, semacam itulah kira-kira."
Abir berpikir sebentar. Cara itu mungkin efektif, tapi untuk orang yang bukan Alara. Alara mau diperlakukan semanis apa pun, tetap sama kejamnya, dan jelas, tidak akan baper sama sekali.
"Dengan perlakuanmu yang selalu manis, lama-lama dia pasti akan tersentuh. Jika dia sudah jatuh cinta padamu, rasa cintanya akan bertambah besar dan akhirnya dia tidak tahan lagi untuk mengungkapkannya. Lalu jika dia belum mencintaimu, dia pasti akan jatuh cinta dan terkesan dengan perlakuan manismu. Sungguh, coba saja, perempuan mana pun akan luluh dengan segala perhatian dan cinta yang begitu besar," sambung pria itu.
Abir mengangguk-angguk kecil. Raut wajahnya seakan berkata, bahwa dia mulai setuju dengan ide pria asing itu.
"Terima kasih, Kawan. Aku akan mencoba melakukan apa yang kau katakan," ujar Abir disertai senyuman lebar, seraya menyalami pria itu.
"Karena kita sama-sama orang asing, jadi aku menerima terima kasihmu," balas pria itu tersenyum. "Semoga berhasil memenangkan hati istrimu, ya. Ingat, jangan sampai berpisah. Berpisah itu mudah, yang sulit, tentu saja mempertahankan setelah susah payah membangun hubungan."
"Aku benar-benar kagum padamu. Sekali lagi terima kasih, ya."
"Iya. Sekarang, pulang dan praktikkan. Jangan habiskan waktumu untuk merenung di sini," candanya.
Abir tertawa. "Oke. Aku pergi dulu."
Abir cepat-cepat memasuki mobilnya yang terpakir beberapa meter saja dari sana, kemudian melesat pergi dari halte itu. Sementara pria asing tersebut, masih duduk di situ, memandangi mobil Abir yang mulai jauh dan tak terlihat.
"Semoga berhasil, Abir. Permainannya akan seru, jika kau dan Alara sudah saling mencintai. Seratus dua puluh hari yang kalian miliki, harus cukup bagaimanapun caranya. Jika cara yang kemarin gagal, masih ada cara lainnya, kan?" Pria itu mengukir senyum sinis.
__ADS_1
"Aku sudah sangat tidak sabar untuk memulai semuanya, Abir dan Alara," tambahnya tanpa memudarkan senyum.
*****