
Sekarang rumah sakit ini bagai rumah sakit pribadi. Seluruh anggota keluarga Alara dan Abir hadir. Dan tentu saja bukan cuma itu, tapi semua Bibi Penyihir Alara juga turut datang. Dari ujung matanya, Alara bisa menangkap raut kemarahan yang sangat di wajah Bibi Amira. Ya, itu memang wajar jika Abir benar-benar bersalah, tapi entah mengapa melihat itu, Alara justru makin yakin Abir tak bersalah.
"Nak," panggil ibu mertua Alara, Afsana, sembari mendekat. "Maafkan Abir, Nak. Abir sudah membuatmu sangat kecewa. Tapi kau berhak marah padanya dan menghukumnya---"
"Ma, aku yakin Abir nggak bersalah," potong Alara.
Semua pasang mata sekarang menatap Alara dengan ekspresi terkejut. Khususnya Amira. Bibinya itu langsung berdiri dan perlahan menghampiri Alara.
"Apa maksudmu Abir nggak bersalah? Sudah jelas-jelas dia membuat putriku begitu! Dan kamu bilang dia nggak bersalah?!" murka Amira.
"Lalu? Kalau memang iya suamiku bersalah, kau mau apa?" tanya Alara berani.
"Tanggung jawab. Dia harus bertanggung jawab terhadap Alisha," kata Amira sambil berpangku tangan dengan angkuhnya.
"Dan jika benar dia tidak bersalah?"
Amira langsung melepas lipatan tangannya dan seperti terkejut menatap Alara. "Apa maksudmu dia tak bersalah? Dia jelas-jelas bersalah!" tekannya.
"Baiklah. Mana Abir? Aku ingin bicara berdua dengannya."
Menanggapi pertanyaan Alara, Afsana menunjuk sebuah ruangan. Alara lantas memasuki ruangan itu dan keluar bersama Abir tak lama setelahnya.
"Kami butuh waktu bicara berdua," kata Alara tegas namun tanpa ekspresi.
Semua orang hanya mengangguk. Alara membawa Abir keluar, ke tempat yang jauh dan cukup sepi. Pilihannya jatuh pada tempat parkir yang sekarang ini cukup sepi dan juga tersembunyi.
"Lara, kau percaya padaku?" tanya Abir penuh harap.
Alara menggeleng. "Nggak tahu."
Abir menggenggam kedua tangan Alara. "Please, percaya padaku. Aku sama sekali nggak ngelakuin itu. Aku sama sekali nggak ada hubungan apa pun sama Alisha. Lara, aku beneran ke luar kota, tapi ketemu Alisha dalam keadaan yang butuh bantuan. Aku bisa apa selain menolongnya? Kamu percaya padaku, kan? Aku sama sekali nggak khianatin kamu ...."
Alara menatap dalam Abir. Tangan Abir yang menggenggam tangannya ia genggam balik, lalu ia tempelkan ke perutnya. "Lo berani bersumpah atas nama anak kita?"
__ADS_1
"A-anak?" tanya Abir sedikit terbata. Pandangannya kemudian jatuh ke perut Alara. "Maksudmu ...."
"Iya, Bir. Gue sedang hamil anak lo!" teriak Alara. Air matanya berjatuhan juga pada akhirnya. "Bukan cuma Alisha, tapi gue! Gue juga lagi hamil!" lanjutnya sejelas mungkin.
Abir tersenyum meski air matanya juga berjatuhan. Dia tampak tak bisa berkata-kata lagi saking senangnya. Mulutnya terbuka seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya hanya senyuman bahagia yang keluar bersamaan dengan jatuhnya air mata.
"Lara," Abir memeluk Alara erat-erat dengan kebahagiaan yang sangat. Ia sedikit terisak dengan membenamkan kepalanga di antara ceruk leher Alara. "Lara, gue ... gue nggak tahu harus berkata-kata apa lagi. Gue ... gue seneng banget," katanya seraya mengurai pelukan.
"Gue nggak tahu harus seneng atau enggak. Di satu sisi gue percaya sama lo, tapi di sisi lain gue terlanjur kecewa karena sekali lagi lo ngecewain gue," ucap Alara sebisa mungkin menahan isakannya.
Abir kembali memeluk Alara erat-erat dan menggeleng. "Maafin gue, Ra. Maafin gue ..." lirihnya yang juga terisak-isak.
Alara melepas paksa pelukannya dan mengusap kasar lelehan air mata di pipinya. "Katakan, lo berani bersumpah atas nama anak kita atau enggak?" tanyanya tegas.
Abir menarik napas dalam-dalam. "Iya, Ra. Gue berani bersumpah atas nama anak kita. Gue dan Alisha nggak ada apa-apa. Bukan gue yang bertanggung jawab atas apa yang menimpa Alisha saat ini. Dan semua itu bukan ulah gue."
Air mata Alara kembali berjatuhan, tetapi segera ia usap dengan kasar. "Oke. Gue terima dan percaya sama sumpah lo. Dan kalau terjadi apa-apa sama bayi gue, gue nggak akan mengampuni lo. Inget itu baik-baik."
***
"Lara, udah, ya, tenang. Jangan nangis terus, kasihan sama baby lo," ucap Raisha menenangkan.
"Gue nggak tahu, Sha. Gue bingung banget, gue kalut, gue nggak tahu harus gimana," isak Alara.
Raisha yang iba memberi pelukan pada sahabatnya itu, mengusap-usap punggungnya untuk menyalurkan ketenangan.
"Udah, ya? Jangan nangis lagi. Gue juga ikutan sedih, nih. Mana Alara yang kuat? Alara yang nggak pernah nangis? Alara yang selalu bisa menghadapi apa pun?" bisik Raisha sembari mengusap air mata yang mengalir di pipi Alara.
"Kalau iya Abir khianatin gue, gimana, Sha? Dia---dia tadi udah bersumpah atas nama anak kita, kalau Abir bohong dan terjadi apa-apa sama bayi gue ... gimana? Dan ... nggak tahu, gue bingung," Alara tak sanggup melanjutkan kalimatnya dan kembali terisak-isak.
"Udah, Ra. Udah. Mending sekarang lo istirahat, ya? Lo juga harus mikirin kondisi lo, juga bayi yang ada dalam kandungan lo, oke?"
Alara mengangguk-angguk. Baru saja ia berdiri hendak pergi ke kamar Raisha, bel rumah Raisha berbunyi, yang otomatis membuatnya memutar ke arah sana dan membuka pintu.
__ADS_1
Alara tercengang di depan pintu yang kosong. Tidak ada siapa-siapa, padahal dengan jelas tadi belnya berbunyi nyaring.
"Ada siapa, Ra?" tanya Raisha menghampirinya.
"Nggak ta---" Alara menghentikan ucapannya saat menemukan sebuah kotak berwarna hitam tergeletak di depan pintu. "Kotak apa lagi ini?"
"Eh, lo pesen apa?" tanya Raisha.
"Gue nggak mesen apa-apa," balas Alara sambil berpikir. Seketika ingatannya jatuh pada teror-teror tidak masuk akal yang dulu selalu muncul, tetapi sudah sekitar sebulan lebih tidak pernah datang lagi. Apa sekarang peneror itu berulah lagi?
"Kita masuk aja, Sha."
Kini kedua wanita itu duduk berhadapan dengan kotak berukuran 20 × 20 sentimeter itu berada di tengah-tengah mereka. Raut wajah Raisha tampak bingung, tetapi dia seperti memilih bungkam saja sampai Alara mau mengatakan sesuatu.
"Gue nggak inget pernah cerita ke lo atau nggak, kalau gue sama Abir sering banget dapet teror-teror nggak masuk akal dulu. Benda-bendanya nggak berbahaya, sih, malah lebih terkesan kayak orang gabut. Dan gue inget banget pas pertama kali teror itu datang, isi pesannya nyuruh kami hitung mundur dari 120 hari. Dan sampai detik ini, gue rasa udah lebih dari 120 hari, jadi ... mungkin hal yang dimaksud si Peneror itu akan terjadi," ujar Alara.
Raisha hanya berkedip-kedip entah masih mencerna perkataan Alara atau saking terkejutnya.
"Sekitar sebulanan lebih ini, teror itu udah nggak pernah dateng. Dari situ gue sama Abir yakin teror itu cuma ulah orang gabut. Tapi ini," Alara menunjuk kotak di hadapannya, "sepertinya kelakuan Peneror ga jelas itu lagi."
Raisha meringis. "Gue kok malah ngeri, ya?" katanya sambil memeluk lengannya sendiri. "Udah, Ra, mending buang aja. Nggak usah dibuka. Atau bawa aja ke kantor polisi."
"Nggak. Ini harus dibuka. Gue harus tahu apa isinya," putus Alara.
"Tapi, Ra---"
Raisha tak bisa melakukan apa pun karena jemari Alara lebih cepat membuka kotak dari kardus berwarna hitam itu.
Dan lagi, isinya adalah sebuah kertas karton lusuh yang digulung bersama sebatang bunga mawar kering. Raisha semakin bergidik ngeri melihat itu, sementara Alara yang seperti sudah hafal pun memungut kertas itu.
"Bagaimana? Kau suka dengan kejutannya? Jangan lupa, sudah lebih dari 120 hari," ucap Alara membaca isi surat itu.
Alara tercengang usai membacanya. "Kejutan apa maksudnya?"
__ADS_1
*****