
"ABIR ...! TOLONGIN GUE ...!" jerit Alara sekencang-kencangnya.
Alara makin dibuat ketar-ketir kala sosok Kucing Besar itu melangkahkan keempat kakinya. Jika bisa, Alara pasti sudah menenggelamkan dirinya di tanah kering berumput ini.
"Stop! Jangan mendekat! Stop!" Alara berteriak dengan memasang gerakan tangan menyetop. Oh, ya, dia baru ingat tadi habis makan sebanyak itu. Jika Harimau ini memangsanya, pastilah dia akan kenyang selama berhari-hari.
"Apaan, sih, Ra---" Abir ternganga di tempat; beberapa patah kayu di tangannya terjatuh begitu saja.
"I—i—itu ... kucingnya siapa?"
"Kucingnya Pak RT!" sahut Alara gemas. "Udah tahu itu macan, pake nanya lagi kucingnya siapa!" semprotnya kesal.
"Terus ... dia ngapain di sini?" Kata-kata itu keluar dari mulut Abir, dengan manusianya yang tak berkedip plus pucat menatap si Kucing Besar itu.
"Mau jemput gue ke kerajaannya!" teriak Alara yang sudah teramat jengkel. Pria ini konyol sekali, ya, saat takut?
"Daripada lu sibuk tatap-tatapan sama tu macan, mending lakuin sesuatu, kek! Apa gitu!" teriak Alara lagi.
"Ya lakuin apa? Gue bingung mau apa," rengek Abir.
Alara mendengus. Matanya berkeliaran ke sekitar, dengan tubuh yang masih berdiri di tempat. Sebenarnya, dia bisa saja berlari, tetapi jelas akan kalah dengan Kucing Besar yang pasti mengejarnya itu. Mana dia juga tidak tahu bagaimana cara menghadapi Harimau. Jika diterkam, pasti dia akan habis dalam sekali 'ngap'.
"Lara ..., lakuin sesuatu," rengek Abir. Bahkan kakinya itu kelihatan sekali gemetaran ketika melihat langkah demi langkah dari makhluk yang orang-orang sebut 'Raja Hutan' itu.
"Woy, Can! Tangkap!" Alara cepat-cepat melempar batang kayu ke belakang macan itu, hingga dalam satu kedipan saja, Kucing Besar itu langsung berbalik arah mengejar kayu yang Alara lempar.
"Kabur, Bir!" Alara langsung menarik tangan Abir secepat yang dia bisa, menyeretnya sejauh mungkin dari tempat ini sebelum Harimau itu menyadari kepergian mereka.
Namun, sial. Kucing Besar itu tetap bisa mengendus jejak mereka. Kini tidak ada cara lain selain bersembunyi, atau mereka akan masuk bersama-sama ke perut harimau itu. Akan tetapi, double sial. Tidak ada semak-semak terdekat, adanya hanyalah pepohonan yang sedikit mengganggu jalan.
"LARA, LARI!" seru Abir.
"LU KATA GUE LAGI NGESOT?!" semprot Alara, meski napasnya mulai tak teratur akibat jarak tempuh lari yang makin jauh.
"BELOK SINI!" Abir menarik tangan Alara berbelok menyamping, ke arah yang sejujurnya tak mereka ketahui. Namun, satu yang pasti, pepohonan di situ lebih rimbun. Kemungkinan besar, itulah hutan yang paling dalam.
Hingga saking fokusnya berlari sambil sesekali menoleh ke belakang, mereka tidak sadar dataran di sini tidak lurus-lurus saja. Yang mereka pijaki saat ini adalah dataran tinggi, sementara beberapa meter di depan adalah dataran rendah.
"AAAA!"
Mereka tergelincir, jatuh terperosok ke bawah sana dalam kondisi bergulung-gulung sambil berpelukan.
__ADS_1
Brug!
Gulingan dua tubuh yang saling memeluk itu baru berhenti ketika tanah di bawah mereka tak lagi miring.
Seperti adegan umum dalam film, Alara dan Abir bukannya langsung bangun, melainkan saling mantap dalam jarak sedekat ini. Posisi Abir saat ini berada di atas Alara, kedua tangannya menopang badan agar tidak ambruk dan sepenuhnya menindih perempuan itu. Sementara mata keduanya saling terkunci satu sama lain.
Entah berapa lama adegan itu berlangsung, yang pasti Abir mental ketika Alara mendorongnya kuat-kuat. Perempuan itu pun bangkit dengan gusar, menepuk-nepuk kedua tangannya, baju, dan rambut yang kotor terkena tanah.
"Gila! Sialan! Kurang ajar! Bedebah! Macan gak ada akhlak!" maki Alara tanpa ampun. Selain tubuhnya yang kotor semua, badannya juga ikutan linu gara-gara menggelinding dari atas sana. Mana saat mendarat, Abir ada di atasnya lagi, makin lengkap sudah penderitaannya.
"Katanya hutan khusus buat kemah, tapi nyatanya ada dipake melihara macan!" omel Alara lagi.
"Sakit semua 'kan, badan gue. Elu juga, Bir! Harusnya tuh lu yang di bawah, bukannya malah numpang di atas gue! Remuk kan badan gue sekarang!" semburnya pada Abir.
Abir—yang kini duduk diam di tanah dan masih tampak syok—hanya bisa geleng-geleng mendengar makian Alara.
"Ini kita di mana, lagi? Gimana juga caranya naik ke atas?! Ah, ngeselin banget emang! Tahu gini, gue nggak mau repot-repot segala kemah di hutan! Bukannya berkesan atau nyenengin, malah kejebak di bawah gara-gara dikejar macan! Aaargghh! Sial, sial, sial!"
Abir menghela napas panjang. Ditanya kesal, dia juga kesal, tapi Alara Seolah-olah adalah manusia paling menderita di planet ini. Padahal, masih bersyukur mereka bisa selamat dari ditelan Kucing Besar itu.
"Apa lihat-lihat?! Mending lo pikirin caranya kita naik ke atas! Gue nggak mau, ya, kita nginep di sini semaleman! Badan gue capek semua! Pas kita sampai ke atas nanti, gue mau kita balik aja ke rumah. Persetan sama ngabulin wish list Sara!"
Kata-kata yang keluar dari mulut kejam Alara seolah menuduh Abir yang memaksanya pergi ke tempat ini. Sementara kebenarannya, Alara sendiri yang kekeh mau mewujudkan impian-impian Sara. Apa salah Abir dalam hal ini? Harimau juga bukan milik Abir.
"Gue harus ngasih respons yang kayak gimana? Lo sejak tadi ribut ngoceh sendiri, segala nyalahin apa-apa yang nggak seharusnya lo salahin. Lo gila apa gimana, sih, Ra?" ucap Abir untuk pertama kali setelah mendarat di sini.
"Justru karena gue nggak gila, makanya gue ribut gini! Sekarang lo lihat, ini hutan, Bir, hutan! Dan kita, kita kejebak di jurangnya! Jurang! Lo tahu jurang, kan? Trus gimana caranya kita bisa balik ke atas dan pulang? Gimana caranya?!"
"Orang sabar disayang Macan," kata Abir pelan.
"Pala lu yang macan!" teriak Alara. "Abir, gue pengin balik ke atas, Bir! Ayolah lakuin sesuatu!"
"Gue musti ngapain, Lara ...? Gue juga nggak tahu ini di mana, lewat mana bisa sampai atas, atau lewat mana buat bisa cari jalan keluar. Gue nggak tahu," balas Abir jengkel sendiri.
"Ya trus gimana? Masa kita diem di sini aja? Gue nggak mau! Pokoknya kita harus cari jalan ke atas, titik!" tukas Alara sembari bersedekap dada.
Abir mendengus. Memang hanya dia sendiri apa, yang mau ke atas? Abir juga. Dia juga mana betah berdiam diri lama-lama di sini.
"Ya udah, ayo kita naik," ajak Abir seraya bangkit.
Dalam tiga langkah saja, dia sudah berada sangat dekat dengan tanah miring yang menjulang tinggi ke atas, tanah yang sama yang mengantar mereka ke bawah ini.
__ADS_1
"Gimana cara naiknya?" gumam Abir bingung sendiri. Selain sangat miring dan mustahil didaki, tanah ini juga penuh dengan berbagai macam tumbuhan.
"Gimana cara naiknya?"
Abir menatap datar perempuan yang dalam sejekap saja sudah berada di sampingnya. "Barusan gue tanya," katanya datar.
"Tapi gue juga punya pertanyaan sendiri!" Alara ngegas. Memang perempuan itu tak mau dikalahkan.
"Ya udah, kita coba jalan dulu, siapa tahu di sekitar ini ada jalan lain," putus Abir.
***
Entah sudah berapa jam lamanya Alara dan Abir berputar-putar di daerah situ, tetapi hasilnya mereka tetap tak menemukan jalan keluar. Tempat itu sangat luas. Tenaga mereka sampai terkuras semua rasanya. Ditambah lagi mereka habis berlari, juga tidak bawa makanan ataupun air. Bahkan Alara saja yang sebelum adegan lari-larian tadi sangat kekenyangan, sekarang ini sudah berubah kelaparan.
Selain semua itu, hari juga mulai gelap. Tidak tahu ini jam berapa, karena jam tangan Alara maupun Abir hilang saat mereka jatuh ke sini tadi. Mereka juga tidak bawa ponsel. Tentu saja, mana sempat?
"****! Masa kita muter-muter di sini aja dari tadi?" Alara mengeluh lagi, dan mungkin ini sudah lusinan kalinya keluhan keluar dari bibirnya.
"Kayaknya kita bakalan kejebak di sini semalaman, deh," timpal Abir seraya mendudukkan dirinya.
"Gila! Ya kali nginep di sini? Di hutan ini? Kita bahkan nggak bawa makanan, minuman, senter, atau ponsel, gimana caranya kita bertahan di sini?!" protes Alara.
"Ya terus mau gimana, Ra? Mau manjat ke atas juga susah. Mau keliling lagi, malah takut tambah tersesat. Jadi jalan satu-satunya, ya kita nginep dulu di sini untuk malam ini," jelas Abir baik-baik.
Sesungguhnya menjelaskan sesuatu pada Alara memang harus dilakukan dengan kewarasan penuh serta kesabaran ekstra, atau gadis itu tidak akan terima dan malah mengamuk.
"Terus kita mau tidur di mana? Di sini isinya daun-daun kering semua, tumbuhan-tumbuhan yang nggak tahu apa semua ini. Kita juga nggak tahu di sini ada hewan apa aja. Mungkin bisa ular, kalajengking, atau anakan macan," oceh Alara.
Abir menarik-hembuskan napas, mencoba sesabar mungkin. "InsyaAllah nggak ada apa-apa, Ra. Kita tidurnya jangan sambil berbaring, tapi sambil duduk nyandar di pohon aja."
"Tapi gelap, Bir! Kita nggak bawa lampu!" Alara masih menemukan alasan untuk protes, seolah terjebak di sini adalah kemauan Abir.
"Bikin api unggun," jawab Abir.
"Halah! Pasti susah! Lagian gue juga nggak bisa! Mana laper banget lagi, tahu gini gue bawa semua makanannya tadi."
"Gue yang bikin!" seru Abir geregetan. "Udah, lo duduk aja di sana, makan daun atau apa kalau kelaperan. Gue cari sesuatu dulu buat bikin api unggun."
"Heh! Sialan lo! Lo kata gue kambing makan daun?!" sungut Alara.
Abir malah terkikik geli. "Bukan kambing, tapi lo kan pemakan segala. Daripada lo makan gue, kan mending makan dedaunan aja," katanya, lalu ngacir pergi sebelum Alara melempar sesuatu ke arahnya.
__ADS_1
"DASAR ABIR KURANG AJAR!"
***