Deal, Kita Nikah!

Deal, Kita Nikah!
07. Tendangan Super Alara


__ADS_3

"Hayo! Mau apa lo?!"


Abir gelagapan saat Alara tiba-tiba berbalik sambil berteriak. Perempuan itu ternyata punya sepasang mata lagi di belakang.


"Mau macem-macem, ya?!" tuduh Alara.


Abir geleng-geleng kuat. "Enggak. Siapa yang mau macem-macem? Nggak ada."


Alara masih menatap sengit laki-laki yang kini jadi suaminya itu. Selanjutnya, ia naik ke atas ranjang dan merebahkan diri di sana; menyelimuti seluruh tubuhnya hingga wajah.


Abir menghembuskan napas panjang. Lalu tentu saja, merangkak ke ranjang sebelah Alara. Pria itu pun berbaring. Sesekali menoleh ke samping, tapi tak mendapati perempuan di sampingnya memunculkan kepala dari balik selimut.


"Ra ...?" Abir coba memanggil.


"Hmm."


"Udah tidur?"


"Kalau gue udah tidur mana bisa ngejawab!"


Abir terkekeh. "Ra, nanti kalau kita punya anak, lu maunya cewek apa cowok?"


"Gue ga minat punya anak," jawab Alara dari balik selimut.


"Kenapa?"


"Karena gue nggak mau bikin anak sama lo!"


"Selain itu?"


"Karena gue nggak siap, lah! Gue ngurus diri sendiri aja nggak becus, gimana mau ngurus anak? Lagian punya anak itu nggak mudah. Maksudnya, itu tanggung jawab seumur hidup, bukan sejam-dua jam. Gue belum sanggup, Bir," jelas Alara, yang kini sudah memunculkan wajahnya dari balik selimut.


"Enggak juga, sih. Ngurus bayi nggak serepot yang lu bayangin. Beneran, deh. Dulu, Arshia lahir pas umur gue 6 tahun. Gue kesel banget karena pasti rumah bakalan bising gegara tangisan bayi. Gue dulu juga nggak suka anak bayi. Tapi, pas Arshia dibawa pulang, kebencian gue langsung hilang lihat wajah lucunya. Apalagi pas senyum, beuh! Cantik banget, imut, lucu. Sampai-sampai, nih, ya, nyamuk aja nggak gue bolehin gigit Arshia." Abir mengenang masa lalunya.


"Oh, ya? Terus, Arshia rewel, nggak?"


"Enggak juga. Ya ... yang namanya anak bayi, wajarlah sesekali nangis. Tapi itu nggak ngeganggu, kok, beneran."


"Tetep aja, gue nggak mau punya anak, Bir. Ya seenggaknya bukan untuk sekarang. Lagian kita juga masih muda. Punya anak nanti-nanti juga bisa. Itupun kalau hubungan kompromi kita ini bertahan sampai nanti," oceh Alara.


"Ke---"


"Pacar-pacar gue!" sahut Alara berteriak sambil melompat turun. Sial, sudah seharian dia tidak sempat mengecek ponselnya. Pasti pacar-pacarnya sudah mengirim spam chat, telpon, video call, dan lain-lainnya.

__ADS_1


Benar, kan. Begitu dicek, beruntun pesan dan panggilan tak terjawab langsung menyambut.


"Gimana?" tanya Abir datar.


"Mereka pada nyariin gue," jawab Alara yang jarinya sibuk mengetikkan pesan balasan satu per satu ke mereka semua.


"Putusin aja, deh," celetuk Abir jengah.


"Putusin-putusin, lo nggak inget apa perjanjian kita sebelum menikah? Gue bebas pacaran sama siapa pun, selingkuh sama siapa pun, lo nggak akan pernah ngelarang, begitu juga sebaliknya. Inget itu!"


Abir mendengus. Sungguh perjanjian kurang ajar yang tak menguntungkan. Bertahun-tahun bersahabat dengan Alara, Abir nyaris tak pernah mendapat perlakuan ramah dari gadis itu, lalu mereka para lelaki bodoh pacar-pacar Alara, mendapat perlakuan yang baik dan ramah. Cih, menyebalkan!


"Woy, kenapa muka lo komat-kamit kayak dukun baca mantra gitu?" tegur Alara.


"Nggak ada." Abir kembali berbaring, menghadap ke kanan agar tak bisa melihat Alara.


Alara beranjak naik ke tempat tidur. "Jadi ceritanya lo marah gara-gara gue nolak bikin anak sama lo?"


"Ga," jawab Abir singkat.


"Ya udah. Lanjutin aja marahnya, tapi jangan sampai ngelewati batas. Guling ini, di tengah sebagai batas, anggota tubuh lo termasuk sehelai rambut pun, nggak boleh ngelewatin itu kalau lo masih mau berumur panjang. Inget itu baik-baik!"


"Hm," balas Abir.


Sekitar lima menit kemudian, Abir membalikkan badan ke arah Alara. Sepertinya si Kejam itu sudah tidur. Abir tidak bisa melihat karena Alara menutup seluruh tubuhnya hingga wajah dengan selimut tebal.


Dengan gerakan sangat pelan, Abir mendekati istrinya itu. Dia singkap selimut tebal yang menutupi wajah Alara.


"Selimut itu seharusnya cuma sampai di dada atau leher, bukan nutupin wajah. Nah, gini kan enak, biar nggak sesek juga napasnya," tutur Abir hampir berbisik.


Pria itu mendekat lagi. Niatnya memberi ciuman selamat malam. Namun, sepuluh senti dari wajah Alara, dia urungkan niatnya itu. Mendadak Abir membayangkan Alara akan memberinya tendangan super jika perempuan itu tahu. Jadi, demi perdamaian dunia dan segala isinya, Abir membatalkan niat tersebut.


"Asal lo tahu, Ra. Meski dunia nyebut lo buruk, bar-bar, kejam, atau apa pun itu, lo tetep Alara yang sama. Alara yang istimewa bagi gue," gumam Abir tersenyum. "Good night, My Wife. Sweet dreams."


Selesai dengan kata-katanya, Abir berbalik lagi miring ke kanan. Matanya memejam, lalu pergi ke alam mimpi.


Di belakangnya, Alara yang setengah bangun terheran-heran dengan tingkah pria itu. Dia sebenarnya tidak tidur, bahkan nyaris tadi menendang Abir keras-keras andai tak mendengar kata-kata lembut yang keluar dari bibir sahabat sekaligus suaminya itu.


'Si Abir mabok apaan dah? Gue? Istimewa? Dia habis kepentok tembok atau keracunan lem tikus?' batin Alara terheran-heran.


***


Ayam berkokok bersahut-sahutan sudah dua jam lalu. Matahari yang tadinya mengintip malu-malu pun, kini sudah tidak lagi. Menempati singgasana timurnya, mengeluarkan cahaya yang menyilaukan. Meski begitu, dua anak manusia dalam kamar ini seolah tak terganggu dengan ulah si matahari. Mereka tidur berpelukan erat tanpa adanya pembatas. Lalu guling semalam? Entahlah. Benda bulat panjang itu tak terlihat wujudnya.

__ADS_1


Sekitar setengah jam kemudian, keusilan sang mentari baru menganggu salah satu dari mereka. Salah satu tangannya mengucek kelopak mata yang sesungguhnya masih berat untuk dibuka. Dia kemudian mengerjap beberapa kali, dan, ya, mata yang semula enggan terbuka, langsung melotot lebar kala melihat sosok yang masih nyenyak tidur di hadapannya.


"AAAAA!" Alara berteriak keras-keras. Refleks, dalam satu kali tendangan saja, manusia yang meringkuk di hadapannya itu mendarat sempurna ke lantai yang dingin.


BUGH!


Abir gelagapan. Rasa ngilu di tubuhnya itu baru terasa beberapa detik kemudian—ketika dia sudah menyadari apa yang terjadi.


"Alara!" jeritnya sambil mengusap-usap bagian tubuh yang terasa ngilu. Sakit memang tidak—karena tempat tidur itu tidak tinggi—tapi terkejut jelas iya.


"Siapa yang nyuruh lo peluk-peluk gue, ha?!" omel Alara.


"Namanya juga orang tidur, ya wajar, lah! Lagian bukan cuma gue, tapi lo juga meluk gue," balas Abir terkesal-kesal.


Sekarang Alara yang gelagapan sendiri. "Ya ..., kembali ke jawaban lo yang pertama, namanya juga orang tidur, mana sadar lagi meluk buaya darat atau kadal air! Dan, ya, gue yakin yang pertama meluk-meluk itu elu, bukan gue!"


"Terserah!" Abir bangkit dan langsung ke kamar mandi. Daripada berdebat terus dengan Alara, itu tidak akan ada habisnya.


Di waktu yang sama di sebuah kamar, Amira sudah tidak lagi tertawa-tawa tidak jelas. Pengaruh dinitrogen monoksida alias gas tertawa itu sudah hilang. Setelah hampir dua hari tertawa-tawa tidak jelas, kini wanita itu tengah merengut kesal. Namun, ya, dia masih tidak tahu apa penyebab dirinya tertawa tidak jelas.


"Pasti anak kurang ajar itu yang kasih aku sesuatu," duganya, yang langsung diiyakan kedua saudarinya.


"Kok bisa, ya, Abir sahabat si Alara itu ternyata anak orang kaya? Kirain ... mereka sama-sama kere," ucap Amara, adik termuda mereka.


"Ya nggak tahu juga aku. Tahu-tahu jelas langsung kaget. Seriusan anak kurang ajar itu mau nikah? Sama orang kaya pula. Kirain siapa, ternyata sahabatnya sendiri," timpal Amrita, yang paling tua dari ketiga bersaudara itu.


"Mereka aslinya nikah cuma pura-pura," ungkap Amira.


Amrita dan Amara langsung menatap tak percaya pada adik dan kakaknya itu. "Serius?"


Amira mengangguk yakin. "Makanya, aku diracun sama sesuatu yang bikin ketawa-ketawa kayak orang gila, sebabnya aku tahu rahasia mereka."


"Kenapa kamu nggak bilang ke siapa-siapa, sih, Mira?"


"Ya gimana mau bilang? Akunya ngakak terus, Mbak juga tahu sendiri, kan?"


"Iya juga, sih ...."


"Makanya, pengin banget aku laporin ke orang tua mereka, tapi udah nggak guna sekarang. Secara mereka udah sah, siapa yang mau percaya?"


"Ya udah, sih. Biarin aja. Itu kan urusan mereka," tutur Amara.


"Nggak bisa gitu!" sungut Amira. "Pokoknya mereka harus dapat balesan yang setimpal."

__ADS_1


***


__ADS_2