Deal, Kita Nikah!

Deal, Kita Nikah!
62. Menyatukan Dua Cinta (End)


__ADS_3

Semua orang terperangah mendengar jawaban itu. Abir memberontak ketika Zavier mulai mendekat pada Alara. Kalau saja kondisinya tak terikat dengan mulut dilakban, dia pasti sudah memukuli habis-habisan pria itu.


"Hmmph! Hmmphh!" teriak Abir yang tak jelas sama sekali.


"Jadi kau mau membunuhku?" tanya Alara dengan suara tenang. Tampak tak takut, padahal di tangan pria itu ada sebuah pistol.


"Ya, apa kau akan memohon ampun dengan alasan kalau kau hamil? Dengar, Nyonya Alara, aku tidak peduli kau sedang hamil atau apa pun itu. Kau membuatku terpisah dari kakakku, jadi aku juga ingin memisahkanmu dari suami dan semua keluargamu," kata Zavier dingin.


"Aku tidak akan memohon padamu untuk mengampuniku. Aku hanya tidak mengerti, kenapa kau malah ingin melenyapkanku? Bukankah kau pikir kalau aku lenyap, aku malah akan tenang di alam sana?" Alara menatap Zavier masih dengan raut dan suara tenangnya.


Zavier menaikkan sebelah alisnya. "Jadi, apa aku harus melenyapkan semua keluargamu saja? Atau---" Zavier menggantung ucapannya dan malah mengalihkan pandangannya ke perut Alara.


Seringai mengerikan terlukis di wajah pria itu. "Kematian bukanlah sebuah hukuman, itu adalah sebuah pembebasan. Akan lebih menarik jika aku ... merenggut saja janin itu dari perutmu."


Sekarang wajah Alara berubah menjadi panik. Abir semakin berontak dan berteriak sebisanya meski sangat sulit. Sementara Zavier malah kembali mundur. Dia mengambil sebuah kotak kecil. Itu adalah peluru. Dia mengisi pistol yang dibawanya dengan benda itu, lantas mulai mengarahkannya tepat ke perut Alara.


"HEY!" teriak Abir ketika lakban di mulutnya berhasil terlepas. Sekarang tinggal ikatan di tangan, kaki, dan tubuhnya yang ternyata sangat kuat.


Zavier tertawa keras. Terdengar sangat mengerikan. "Kukira aku yang bodoh, tapi ternyata istrimu lebih bodoh lagi, Tuan Abir," kekehnya.


"Aku ingin melenyapkannya, tapi dia malah memberi penawaran menarik untukku, yaitu melenyapkan janin dalam perutnya saja. Sungguh, istrimu itu terlalu pintar atau bagaimana?" lanjutnya sambil kembali tertawa.


"Kalau kau berani, hadapi aku, jangan malah mengincar janin tak bersalah itu!" pekik Abir.


Zavier menggeleng. "Aku tidak bisa bela diri, dan aku tidak mau kalah," katanya dengan suara kembali tenang.


Selanjutnya, suasana berubah menegang saat Zavier kembali mengarahkan pistolnya ke perut Alara. Alara sendiri tak bisa bergerak atau mengelak, jelas sebab kondisinya yang terikat sangat kuat.


Mata semua orang semakin membulat seiring dengan jari Zavier yang mulai bergerak untuk menekan pemicu.


"Zavier! Lenyapkan aku saja, jangan bayiku!" teriak Alara.


Namun, sepertinya itu sudah terlambat. Zavier perlahan menekan pemicu itu, dan ....


BUG!


DOR!


"Bibi Amira!" jerit Alara.


***


Alisha menangis terisak-isak di dekat makam Amira. Peluru yang Zavier lesatkan tadi berbelok dan tepat mengenai kepala Amira karena Raisha memukulnya dengan tongkat kayu bersamaan dengan dirinya yang melesatkan peluru. Wanita yang sering Alara sebut sebagai penyihir itu meregang nyawa seketika.


"Alisha, sudah, kuatkan dirimu," ucap Miray lembut sembari mengusap-usap punggung Alisha.


"Bibi, Mami ..." isak Alisha.


Miray tak berkata-kata dan hanya memberi perempuan itu pelukan. "Ikhlaskan, ya? Mamimu akan tenang di sana," tuturnya lembut.


Alara yang semula berdiri, kini ikut berjongkok di sebelah Alisha.


"Alisha, maafkan aku, ya? Semua ini ... salahku, kalau saja aku dulu tidak begitu," sesal Alara.


Alisha menggeleng. "Tidak, Kak. Itu bukan salahmu sepenuhnya. Zavier bersalah karena hidup dalam dendam, aku juga bersalah karena dengan mudahnya jatuh dalam rayuan pria itu, dan ... kau, wajar kalau kau tidak mau suamimu dekat-dekat dengan wanita lain. Bahkan Mami juga bersalah karena ingin menghancurkan rumah tanggamu. Intinya kita semua bersalah," balasnya panjang lebar.


"Kalau begitu, kita semua saling memaafkan saja," kata Abir.


Alisha mengangguk. "Maafkan aku, ya? Maafkan juga Mami."


Alara tanpa berkata-kata lagi langsung memeluk Alisha sambil mengucapkan maaf juga. Selanjutnya, mereka semua pergi dari sana ketika hari mulai gelap.


Alisha terus melamun. Bagaimana sekarang kehidupannya? Zavier berada di penjara, sementara Ibunya sudah tiada. Bagaimana dia akan bisa mengurus bayinya ini nanti? Seorang diri pula.


"Lisha," panggil Alara pelan.


"Bagaimana kalau kau tinggal di rumah Mama dan Papa saja? Bukannya meremehkanmu atau apa, tapi kami tahu, kau butuh seseorang untuk bersamamu. Apalagi kau masih sangat muda, dan mengurus bayi seorang diri itu tidaklah mudah," tutur Alara.


"Yang dikatakan Alara benar, Nak. Kau tinggal saja bersama kami. Lagi pula rumah kami jadi sepi karena Alara sudah punya tempat tinggal sendiri sekarang," sambung Adi.


Alisha lantas melirik Ayahnya yang hanya diam. "Tapi Papi dan Kak Arka ...."


"Kau butuh sosok seorang ibu, tidak apa-apa, Nak, tinggal saja di sana. Papi dan Kakakmu bisa menjaga diri," ujar Harun. "Kami akan sering-sering datang mengunjungimu juga," tambahnya.

__ADS_1


"Nanti kita ke dokter kandungan bersama-sama, aku juga akan pindah kembali ke rumah Mama saat waktunya melahirkan tiba. Kita akan bersama-sama nanti," ucap Alara.


Alisha tersenyum kecil dan akhirnya mengangguk.


***


6 Tahun Kemudian ....


"Harnaaz, kembalikan mobil-mobilanku!" teriak anak laki-laki kecil sambil mengejar anak perempuan yang berlarian di depannya.


"Haha, kau tidak bisa menangkapku, Abhi," Anak perempuan kecil bermata abu-abu dengan rambut hitam agak keriting yang dikuncir dua itu menjulurkan lidah, mengejek anak laki-laki bernama Abhi yang mengejarnya.


"Mama, lihat Harnaaz, dia nakal sekali," adu Abhi sambil menghentikan langkahnya dan menatap seorang wanita yang berdiri di sebelahnya.


"Sayang," Wanita menunduk menyamakan tingginya dengan Abhi, "Harnaaz meminjam mainanmu, dia tidak mengambilnya," tuturnya lembut.


"Tapi, Mama, Harnaaz itu nakal," Abhi memeluk lengannya sendiri dan mengerucutkan bibirnya.


"Bibi Alisha, putramu itu pelit," ucap Harnaaz tiba-tiba.


Wanita itu, Alisha, sedikit melongo mendengarnya. "Oh, ya? Abhi pelit?"


Harnaaz mengangguk dengan sangat yakin. "Kalau tidak, mana mungkin dia mengejarku karena aku pinjam mobil-mobilannya," celotehnya.


"Kau pinjam karena mau kau rusak lagi, kan? Aku akan mengadukanmu pada Bibi Alara. Kau lihat saja nanti," kata Abhi.


"Adukan saja, Mama pasti akan mendukungku. Aku kan kesayangannya," balas Harnaaz tanpa rasa takut. Gadis kecil itu memang mirip sekali dengan Alara, ibunya, mulai dari sifat hingga fisiknya.


Hari ini, Alara dan Abir ada pekerjaan penting, oleh sebab itu mereka menitipkan Harnaaz di rumah Mama dan Papa Alara, yang mana Alisha dan putranya, Abhimanyu—atau yang lebih akrab dipanggil Abhi—masih tinggal di sini.


"Sayang-nya Mama~"


"Mama!" seru Harnaaz kegirangan, lalu memeluk Mamanya yang baru datang sekaligus minta digendong.


"Cokelatnya mana, Ma?" tagih anak itu sembari mengulurkan tangannya.


"Itu, dibawa Papa," kata Alara.


"Ini coklatnya. Kau makan bersama Abhi, ya," ujar Abir.


"Oke, Papa." Harnaaz langsung menarik tangan Abhi dan pergi ke ruangan sebelah.


"Alisha, ada seseorang yang ingin menemuimu," kata Abir pada Alisha.


Alisha mengernyit. "Siapa, Kak?"


"Kau keluar saja, temui dia," jawab Alara.


Meski masih bertanya-tanya, Alisha melangkah keluar dengan ditemani Alara dan Abir. Seseorang yang kata Abir dan Alara menunggunya, rupanya seorang pria. Saat ini pria itu berdiri di teras, tapi tak terlihat wajahnya karena pria itu berdiri membelakanginya.


"Hei," panggil Alara.


Pria itu mulai berbalik. Dalam hituangan detik saja, terlihat dengan jelas wajahnya. Dan pria itu adalah ... Zavier.


"Alisha," sebut Zavier pelan.


Alisha hanya diam. Enam tahun ini, mereka tak pernah bertemu. Alisha juga bukannya marah pada pria itu, tapi ... sebuah rasa yang tak bisa ia sebut apa namanya.


"Kau mau apa?" Akhirnya pertanyaan itulah yang meluncur dari bibir Alisha.


"Aku ingin meminta maaf padamu. Maafkan aku, ya? Selama tidak bertemu denganmu ... aku sadar, aku mencintaimu, Alisha," ungkap Zavier tulus.


"Kau mau memaafkanku, kan?" lanjutnya penuh harap.


Alisha masih diam. Abir dan Alara pun tak mengatakan apa-apa, hanya melihat sambil menunggu jawaban yang akan keluar.


"Mama! Harnaaz mengganggu---eh, itu siapa, Ma?" Abhi berdiri terbengong-bengong menatap seorang pria asing yang ada di sana.


Zavier sedikit berkaca-kaca melihat anak kecil yang wajahnya mirip dia itu. "Dia ...."


Alisha buru-buru mengangguk. "Dia putramu. Namanya Abhi," ucapnya.


"Abhi ..." lirih Zavier.

__ADS_1


"Iya, Paman siapa, ya?" tanya Abhi.


"Papamu," sahut Alisha. "Iya, Nak, dia papamu."


Kedua mata Abhi membulat. "Papa? Aku punya Papa, Ma?" tanyanya memastikan.


Alisha hanya mrngangguk saja tanpa ekspresi apa pun, sementara Abhi langsung menghambur ke pelukan pria yang kata Mamanya adalah Papanya itu.


"Jadi aku punya Papa juga seperti Harnaaz? Terima kasih, Tuhan," ucap Abhi dalam pelukan Papanya.


Tak jauh dari situ, Harnaaz menuju ke orang tuanya. Kedua matanya masih tertaut pada adegan pelukan nan mengharukan antara ayah dan anak itu.


"Papanya Abhi habis pergi dari mana, Ma, Pa?" tanyanya.


"Dari jauh sekali," jawab Alara.


"Jauh itu di mana?" tanya Harnaaz lagi dengan polosnya.


"Yaa pokoknya jauh," jawab Abir.


"Alisha ... apa kita bisa menjadi keluarga yang utuh untuk Abhi?" tanyq Zavier, memotong perkataan Harnaaz yang hampir keluar. "Aku sekarang sudah tidak punya siapa-siapa," lanjutnya.


Alisha masih sama diamnya.


"Kalian mau menikah, ya?" seru Harnaaz tiba-tiba dengan heboh. "Ayo, kalian menikahlah," lanjutnya antusias.


Alisha menunduk sedikit. Jujur saja, dia tak ingin menolak. Jauh dalam hatinya, dia masih mencintai Zavier. Ya, sejak dulu, dia sangat mencintai pria itu dan mempercayainya, hingga dengan suka rela menyerahkan segalanya pada pria itu. Dia sempat marah saat tahu dirinya dijadikan semacam alat balas dendam, tapi tak bisa dipungkiri, rasa cinta yang ada untuk Zavier tetap tak berubah.


"Membuat semua kisah cinta happy ending," celetuk Alara.


Zavier dan Alisha kompak menatap Alara yang malah meringis.


"Aku tiba-tiba teringat wish list Sara," Alara menyengir, padahal itu tujuannya adalah memberi kode.


Alara pernah memergoki Alisha menangis diam-diam sambil memandangi fotonya bersama Zavier. Selain itu, dia juga mendengar suara lirih Alisha yang bilang sangat merindukan Zavier.


Cinta itu memang kadang aneh. Kadang sudah disakiti berkali-kali, tapi tetap saja ingin bertahan. Itu yang orang-orang sebut sebagai kebodohan, tapi pasti setiap orang pernah melakukan kebodohannya masing-masing karena benda tak kasat mata bernama cinta.


"Ayolah, Bibi Alisha, kau mau menikah atau tidak? Atau mau menunggu aku dan Abhi menikah dulu?" celetuk Harnaaz.


Semua orang melongo mendengar itu. Apa katanya tadi? Aku dan Zavier? Apa anak kecil yang baru berulang tahun kelima beberapa bulan lalu itu sudah mau menikah? Ah, lebih tepatnya, sudah mengerti tentang pernikahan?


"Siapa juga yang mau menikah denganmu, kau itu nakal!" seru Abhi.


"Memangnya kau kira aku mau menikah denganmu? Kau itu payah, payah sekali!" balas Harnaaz.


"Hei, kenapa malah jadi kalian yang berdebat ingin menikah?" lerai Alara terheran-heran.


"Habisnya Bibi Alisha diam saja, Ma," kata Harnaaz.


Suasana menjadi hening kembali karena Alisha kembali berpikir. Zavier sudah nyaris akan menyerah ketika tiba-tiba terdengar suara Alisha yang mengatakan, "Baiklah, aku mau ... demi Abhi."


Zavier langsung memeluk Alisha tanpa menunggu lagi. Kedua anak kecil itu pun ikut berpelukan ikut bahagia, meski keduanya tak tahu orang-orang dewasa ini terlibat masalah apa.


Sementara itu, Abir merangkul pundak Alara sembari tersenyum. Senyum itu dibalas dengan senyuman yang sama oleh Alara. Kini, kebahagiaan mereka telah lengkap. Semua masalah juga sudah selesai. Bisa dibilang, ini adalah awal baru yang sesungguhnya dalam kehidupan mereka semua. Yang saling mencintai akhirnya bisa bersatu.


Kisah ini dimulai oleh sesuatu yang sangat tidak masuk akal dan tidak serius sama sekali. Hal itulah yang membuat masalah-masalah muncul dan ikut serta. Sesungguhnya, kita tidak harus mengikuti omongan orang dan berubah sesuai apa yang orang-orang katakan. Pertama adalah karena pendapat orang-orang pasti berbeda-beda, dan kedua adalah karena itu bisa menyakitimu sendiri.


Seperti Alara yang terpaksa berkompromi menikah dengan Abir karena bosan mendengar omongan orang-orang yang mempertanyakan pernikahannya, atau seperti Abir yang sudah putus asa karena dipaksa adiknya menikah—agar adiknya itu mendapat restu dan bisa menikah juga.


Sedikit lika-liku ini adalah bukti kalau kehidupan—kehidupan pernikahan juga khususnya—tidak mungkin selamanya berjalan lurus. Pasti ada beberapa kerikil di beberapa tempat. Dan, ya, terlebih jika niat menjalin hubungan tersebut tidaklah benar. Siap-siap saja memainkan segala game yang dipersiapkan kehidupan.


...---THE END---...


Akhirnya berhasil tamat juga....


Aku ucapkan terima kasih untuk semua yang baca sampai ending ini, dan maaf banget, kalau cerita ini teramat sangat ga jelas dan up-nya pun kayak ga niat banget 😭🙏


Mungkin nanti kalau ada waktu akan kurevisi besar-besaran.


Sekali lagi, thank you so much,


love you all ❤

__ADS_1


__ADS_2