
Semua orang kini sudah sampai di pulau Bali ketika hari sudah berubah menjadi pagi lagi. Mereka semua tak menunggu apa-apa dan langsung pergi ke sana. Tidak ada waktu lagi, juga takutnya Adik Sara itu akan melarikan diri.
Rumah Deva yang menjadi tempat Alara dan semua keluarganya tinggal. Bukannya tidak ingin menyewa hotel, tapi pria itu sendiri yang meminta agar tinggal di rumahnya saja. Biar proses pencarian dan semuanya berlangsung mudah.
"Aku sudah tahu dari salah satu temanku di mana rumah pria itu," kata Deva malamnya.
"Kita ke sana sekarang," putus Alara.
Mereka semua bergegas pergi lagi ke rumah yang jaraknya lumayan jauh dari kediaman Deva. Mereka agak tak yakin sang penghuni ada di sana, tetapi tidak ada salahnya langsung didatangi.
Setelah hampir satu jam perjalanan, mereka sampai di depan gerbang sebuah rumah besar berlantai tiga. Jika biasanya rumah sebesar itu akan dijaga oleh beberapa penjaga di gerbangnya, maka itu tidak. Keadaannya benar-benar sepi. Sekarang semua orang jadi yakin Sagara tidak ada di rumah itu.
Deva adalah yang pertama turun. Untuk bisa masuk, pertama tentu saja mereka harus bisa membuka gerbang yang menjulang tinggi itu.
Dan entah keberuntungan berada di pihak mereka atau bagaimana. Gerbang itu langsung terbuka ketika tangan Deva mendorongnya sedikit. Ternyata gerbang itu tidak dikunci.
"Ayo masuk," ajak Deva pada semua orang.
Mereka membentuk barisan dan beranjak mengikuti Deva yang berjalan paling depan. Ketika sampai di dalam gerbang, mereka bisa melihat lampu rumah tersebut menyala semua. Tampaknya tidak mungkin jika di sana tak ada satupun orang.
"Rumahnya pasti dikunci, kan? Trus gimana cara kita masuk?" tanya Alisha.
"Ada ahlinya," kata Alara sembari melirik Zafar. Adik iparnya itu ahli sekali dalam hal semacam ini, kan.
Sekarang Zafar yang berdiri di depan semua orang, tepat berada di depan pintu utama yang menjulang tinggi di hadapannya. Zafar mulai menyentuh gagang pintu, dan ajaibnya ... pintu itu juga terbuka dengan sedikit dorongan.
"Aneh banget. Dari gerbang sampe ke pintu, kenapa semuanya nggak dikunci? Apa jangan-jangan cowok itu lagi ngejebak kita?" tebak Raisha.
"Nggak mungkin. Yang mungkin itu dia kabur," timpal Abir.
"Ya udah, kalian masuk duluan, gue mau jaga-jaga di depan sini aja," kata Raisha.
Semua orang mengangguk dan tak memaksa. Memang benar, mereka juga butuh satu orang yang bertugas berjaga-jaga. Jika sewaktu-waktu ada yang datang atau mereka sungguhan dijebak, setidaknya akan ada satu orang yang dalam keadaan bebas.
Zafar, Deva, Alara, Abir, Alisha, Arshia, dan para orang tua berjalan memasuki rumah sambil berhati-hati memandangi sekitar. Mereka terus melangkah ke dalam dengan hati-hati. Ini memang kesannya lebih seperti pencuri daripada orang yang ingin menangkap penjahat. Mereka melakukan ini karena jika berteriak memanggil nama pria itu, pria itu pasti akan melarikan diri. Bisa dibilang, mereka ingin menangkap Sagara secara diam-diam.
"Sebaiknya kita berpencar," usul Abir yang langsung diangguki semua orang.
Dia bersama Alara mencari ke sebelah kanan rumah, Arshia, Zafar, Alisha, dan Deva berpencar ke lantai atas, sementara Miray, Adi, Amira, dan Harun ke bagian kiri dan ruangan dalam rumah besar itu.
"Nanti kita berkumpul lagi di sini," kata Abir sebelum semua orang berpencar.
Mereka pun mulai menyusuri jalan masing-masing, terus berputar-putar dan berkeliling demi menemukan sosok laki-laki itu.
__ADS_1
Sekitar satu jam kemudian, Alara dan Abir berhenti di depan sebuah kamar. Alara tampak sangat kelelahan karena terus berkeliling sedari tadi.
"Kita kembali ke ruang tadi aja, siapa tau orang-orang bawa informasi," ujar Abir.
Alara mengangguk, lalu mulai berjalan pelan-pelan sambil dituntun Abir. Entah mengapa hal seperti ini sekarang terasa sangat melelahkan.
"Sekalian kita cari di mana dapur, buat ngambil air minum," kata Abir lagi. Alara hanya menurut karena dirinya kini benar-benar lemas.
Tibalah mereka di ruang tamu—tempat start sekaligus finish. Namun, tak ada satupun oranh di sini. Abir dan Alara saling melempar tatapan kebingungan. Orang-orang yang terlalu semangat mencari atau mereka saja yang terlalu gampang lelah?
"Bir, kayaknya kita---"
Bug!
Bug!
***
Alara mulai membuka mata. Tidak tahu apa yang terjadi, yang pasti adalah kepalanya terasa pening. Butuh waktu beberapa detik sampai kesadarannya kembali dan pandangannya benar-benar jelas.
Betapa terkejutnya ia ketika melihat ke sekelilingnya, di mana semua orang dalam keadaan terikat di kursi dengan mulut dilakban. Setelah beberapa detik, Alara baru menyadari bahwa ia juga sama terikatnya dengan mereka. Bedanya, mulutnya dibiarkan bebas tanpa diikat lakban.
Seorang laki-laki yang wajahnya persis dengan yang Alisha tunjukkan, tengah duduk santai di hadapan semua orang. Tidak hanya duduk, tapi laki-laki itu juga memakan snack. Wajahnya benar-benar kelihatan tenang seolah di hadapannya tidak ada orang sebanyak ini.
Pria itu melirik dengan cueknya, kemudian kembali memakan snack-nya hingga satu bungkus besar itu habis. Setelah bungkusnya dibuang ke tempat sampah, pria itu kembali duduk menatap bergantian semua orang di hadapannya; orang-orang yang ia ikat di kursi.
"LEPASKAN KAMI!" gertak Alara. Alih-alih takut, justru di matanya terlihat kilatan amarah.
"Kenapa kau melakuka semua ini, ha?! Tidak puas kau membuat adikku begitu? Apa maumu, Sialan?!" lanjut Alara terus membentak.
"Sagara Zavier, kau bisa memanggilku dengan salah satu nama itu. Jangan hanya 'kau, kau, kau', I don't like this," kata pria itu masih dengan suara tenang.
Zavier lantas berjalan ke arah Alara. Ah, tidak, dia melewati Alara dan tiba di bangku Alisha. Lalu bagai tanpa perasaan, pria itu menarik lakban di mulut Alisha hingga perempuan itu menjerit.
"Sakit?" tanyanya sedikit mengejek, karena menarik sedikit sudut bibirnya ke atas dengan ekspresi meremehkan.
"Zavier ... kau tega padaku? Kau tahu aku---"
"Sedang hamil," potong Zavier datar.
"Sudah tahu dia sedang hamil, lalu apa maksudmu dengan meninggalkannya dan malah melakukan semua ini? Di mana otakmu, ha?!" pekik Alara.
Zavier mengalihkan tatapan datarnya itu pada Alara. "Otakku sama hilangnya dengan kau," ucapnya dengan suara tak bernada.
__ADS_1
Pria itu lantas menyeret langkahnya ke arah Alara. "Otakmu itu juga sudah hilang, kan? Kalau tidak, kau tidak mungkin membiarkan seseorang yang sekarat sendirian luntang-lantung di jalanan."
Alara terdiam. Otaknya sekarang tidak bergerak lambat dan langsung mengerti dengan apa yang Zavier maksud.
"Soal kakakmu---"
"Kakakku sudah pergi, dan itu karena kau! KAU!" potong Zavier membentak. Ekspresinya yang tadi masih tenang, sekarang berubah marah. Matanya melotot, napasnya naik turun, wajahnya memerah seperti menahan amarah.
"Kau tahu apa yang terjadi? Kak Sara mencari Abir, berlarian kesana-kemari seperti orang gila! Padahal saat itu, kondisinya sangat buruk. Sangat-sangat buruk! Dia hanya mencari dan mencari Abir. Sampai akhirnya dia tak kuat ... dia pingsan di tengah jalan dan hampir tertabrak mobil! Kau bisa bayangkan itu? BISA?!"
Zavier melanjutkan kalimatnya yang dipenuhi kemarahan itu. "Saat tiba di rumah sakit, kau tahu siapa yang dia cari? Itu kau!"
Alara mengangkat wajahnya menatap Zavier. "A-aku? Bagaimana bisa?"
Zavier memejamkan matanya, meraup udara untuk memenuhi rongga paru-parunya yang sesak. Memang, sesak sekali rasanya.
"Dia ingin berterima kasih padamu karena sudah meminjamkan Abir. Dan ...," Zavier beranjak ke sebuah lemari kaca yang ada di ruangan itu, mengambil sebuah benda berbentuk kotak yang dibungkus sebuah kain, kemudian menyerahkan benda itu pada Alara.
"Apa ini?" tanya Alara.
"Itu buku diary kak Sara. Dia ingin impian-impiannya yang belum terpenuhi, kau dan kak Abir yang wujudkan," tutur Zavier.
Alara lagi-lagi dibuat tak bisa berkata-kata. Sekarang penyesalannya semakin bertambah banyak, meski sedikit tenang juga karena beberapa impian Sara sudah dia wujudkan bersama Abir.
"Dia merasa bersalah karena ingin menghabiskan waktunya bersama Abir, yang notabene adalah suamimu. Makanya dia ingin langsung meminta maaf dan sekaligus minta bantuanmu untuk memenuhi mimpi-mimpinya, tapi sayang sekali, kau malah membunuhnya," lanjut Zavier tersenyum kecut.
"Dan sekarang, ini permainanku untuk membalas dendam padamu. Teror benda-benda aneh itu, aku yang kirim. Bukan hanya itu saja, aku juga mendekati adik sepupumu yang polos itu, Alisha, agar dia bisa kujadikan alat balas dendam. Kebetulanbya adalah Ibu Alisha tidak menyukaimu. Jika aku melakukan semua itu, pasti dia akan berpikiran licik dan merusak hubunganmu dengan suamimu itu. Lalu? Ya, kebahagiaanmu akan lenyap, kau akan hancur, karena posisinya kau sudah mencintai suamimu itu, ditambah dengan kehadiran calon bayi kalian," tambah Zavier lagi.
Alara sebenarnya ingin sekali mengamuk atau menjambak pria itu, tapi dia sadar dirinyalah yang bersalah dalam hal ini. Mungkin memang tidak sepenuhnya, tetapi dirinyalah biang masalah yang sebenarnya.
Andai saja dia dulu membiarkan Abir bersama Sara sedikit lebih lama, atau tidak menuduh sakitnya Sara yang cacat logika, dan yang paling penting tidak menculik Abir. Pasti meski Sara tetap tiada, kejadiannya tidak akan pernah begini.
"Aku tahu kalian akan segera mengetahui tentangku, itu sebabnya aku menyiapkan kejutan spesial ini untuk kalian semua. Semoga kalian, dan khususnya kau, Alara, menyukai semua surprise kita," tutup Zavier.
Terjadi keheningan yang lumayan lama. Zavier tampak tak berniat lagi bicara, sementara Alara juga hanya tertunduk ke bawah. Ya, dia menyesal. Menyesal sekali, meski tentu saja ini tidak sepenuhnya salahnya.
Seorang istri tak ingin suaminya bersama perempuan lain, itu wajar, bukan? Alara juga berpikir begitu. Tetapi kemudian dia sadar, dia dan Abir sudah membuat sebuah perjanjian untuk tidak mengikat diri satu sama lain. Abir bebas selingkuh atau bersama siapa pun, begitu juga dirinya. Tapi tetap saja, meski posisinya tidak saling mencintai, Alara juga tidak rela membiarkan suaminya bersama perempuan lain alih-alih menemaninya.
"Ya, kuakui ini kesalahanku. Aku bersalah atas kepergian kakakmu," ucap Alara setelah keheningan yang terjadi cukup lama. "Sekarang, apa yang kau inginkan dariku untuk menebus kesalahan itu?"
Zavier menatap Alara dengan tatapan dinginnya itu, lantas menjawab, "Nyawamu."
****
__ADS_1