
Momen menyanyi bersama itu, bisa dibilang menjadi salah satu momen termanis yang Abir lewati bersama Alara. Untuk pertama kalinya, Abir melihat binar kebahagiaan yang berbeda di mata Alara, juga tatapan yang entah apa artinya untuk dirinya. Hal yang sungguh takkan bisa Abir lupakan dalam hidupnya.
Bahkan sekarang, Alara tertidur sambil menyandar di bahunya dengan tenang. Tidak ada lagi raut kesal karena tersesat di sini, dan tentu saja, ini berkat lagu itu.
Memandang wajah terlelap Alara yang tenang begini, Abir refleks mengusap lembut rambut istrinya itu dengan senyum mengembang.
"Kalau lagi tidur, si Penyihir Jahatnya berubah jadi Peri Baik. Dilihat sekilas gini, siapa yang bakal nyangka kalau lo itu ratu penyihir? Alara, Alara, perempuan paling unik yang pernah gue temui. Sahabat, sekaligus istri gue," gumam Abir tanpa memudarkan senyum.
"Good night, Alara. Sweet dreams," bisik Abir. Lalu entah dengan keberanian dari mana, dia mendekat dan mendaratkan satu kecupan di kening perempuan itu.
Alara memang tetap tenang dan tak terganggu, tapi justru jantung Abir lah yang berdetak kencang seperti musik pesta. Ada yang aneh ketika dia mendaratkan ciuman itu di kening Alara. Sebuah rasa, yang Abir yakini baru pertama kali ia rasakan. Rasa yang sedikit aneh, tapi menyenangkan.
Abir menggelengkan kepala cepat-cepat. Memikirkan apa, sih, dia? Alih-alih pikirannya berkelana bebas alias halu, bukankah lebih baik dia menyusul Alara di alam mimpi? Siapa tahu, mereka akan menari seperti Hero dan Heroine di video klip lagu Main Rang Sharbaton Ka—yang mereka nyanyikan tadi.
***
"Emmh," Alara menggeliat pelan, meregangkan otot-ototnya setelah tidur dalam posisi yang sama semalaman penuh: menyandar di pundak Abir.
Dia tidak perlu terkejut ketika melihat Abir berada di sampingnya—dia sedang tidak lupa ingatan tentang kejadian semalam. Karena itu jugalah, Alara langsung tersenyum ketika seluruh nyawanya sudah terkumpul kembali. Senang, ya, rasa itu masih mendominasi hatinya hingga detik ini.
"Nyenyak juga nih orang tidur. Nggak pegel apa itu lehernya?" gumam Alara terheran-heran seraya memandangi Abir.
Untuk selanjutnya, keheranan itu berubah menjadi senyuman lebar. "Dia kelihatan ... okelah kalau lagi tidur, tapi kalau lagi bangun? Ish, enggak banget. Udah penakut, payah, ngeselin lagi. Komplit deh pokoknya," ocehnya.
Alara menggeleng menyadarkan dirinya. Daripada dia mengoceh sendiri begini, bukankah lebih baik kalau dia bangunkan Abir, lalu mereka berusaha mencari jalan pulang?
"Bir, bangun," panggil Abir seraya menggerakkan sedikit bahunya. Entah mengapa dia tidak ingin berteriak dan mengagetkan Abir seperti yang biasa dia lakukan.
"Eh, bandel lo, ya. Bangun, Abir!" Alara menaikkan volume suaranya, tetapi tidak sambil mengguncang tubuh Abir atau menyingkir begitu saja.
Ini ampuh. Abir memisahkan tubuhnya yang menempel pada Alara. Pria itu mengucek mata pelan-pelan, sesekali menguap, sambil terus mengerjap.
"Eh, udah pagi aja," gumamnya dan menguap sekali lagi.
"Udah, lah. Lo kira mau malam terus? Udah, bangun sana. Kita cari jalan pulang."
Alara bangkit. Ia sudah tidak mau banyak drama dan terus-terusan terjebak di sini. Dan satu lagi, perutnya sangat lapar. Ia pun haus. Jika dia terjebak di sini lebih lama lagi, bisa dipastikan dia akan menyusul Sara ke alam sebelah.
"Abir! Ayo pergi dari sini!" Alara segera menjerit, karena Abir malah seperti hampir tidur lagi.
"Ayo ke mana?" tanya Abir malas.
"Pergi dari sini! Kita coba cari jalan keluar, gue nggak mau kejebak di sini terus, ya! Nanti kalau kita bisa keluar dari sini, kita langsung pulang aja. Eh, kita ambil barang-barang kita dulu, deh." Alara mulai beranjak, tetapi kemudian berhenti untuk melirik Abir yang masih duduk. "Lu mau bangun sekarang, atau gue gampar dulu biar kesadaran lu balik?"
Abir mendengus "Iya, iya. Gue bangun, nih."
__ADS_1
Keduanya kemudian beranjak pergi dari situ. Mereka tidak perlu mematikan api unggun karena api itu sudah mati duluan akibat kehabisan kayu bakar. Lagi pula, mereka juga tidak membawa apa-apa yang akhirnya jadi sampah dan mengotori lingkungan—selain bekas abu pembakaran kayu untuk api unggun—yang bisa hilang setelah tertiup angin nanti.
"Kemaren kita belum nyoba pergi ke arah situ," Alara menunjuk ke sebuah arah, yang menurut ingatannya belum mereka datangi semalam.
"Ya udah, kita ke sana," putus Abir.
Medan yang akan mereka lalui ini lumayan sulit. Ada jalan turunan yang sempit dan terjal, bahkan dipenuhi oleh tanaman liar yang tumbuh semaunya. Ini sedikit tidak bisa disebut sebagai jalanan, jika di sampingnya bukanlah tempat curam semacam jurang, lalu sampingnya lagi tempat tinggi semacam bukit.
"Gila, sih. Ini tempat belum kejamah manusia apa gimana? Jalan aja modelan gini," keluh Alara.
"Ya terima aja, namanya juga hutan," timpal Abir. Pria itu berjalan di depan Alara, menyingkap tanaman-tanaman liar yang mengganggu mereka, jadi Alara tinggal mengikuti tanpa harus susah-susah menyingkirkan tumbuhan-tumbuhan liar itu sendiri.
Dengan berbagai drama, akhirnya mereka bisa melewati jalan berbahaya itu dengan selamat. Tidak tergelincir, hanya kaki saja yang rasanya sakit semua.
"Bir, Bir," Alara menepuk pundak Abir, sementara kedua matanya terfokus pada sesuatu di depan sana, "itu ... rumah pohon, kan?"
Abir menyipitkan mata untuk membuat pandangannya lebih jelas. "Iya. Itu rumah pohon. Tapi punya siapa? Kenapa di tengah hutan gini?"
Alara menggeleng. "Punya manusia purba, kali," tebaknya. "Udahlah, kita ke sana aja. Lumayan 'kan, habis nyasar, kita langsung ketemu rumah pohon."
Abir akhirnya hanya pasrah-pasrah saja saat tangan Alara menyeretnya ke arah situ. Dengan bertemu rumah pohon sekarang ini, impian Sara terpenuhi, dan mereka bisa pulang dengan tenang nanti.
"Keknya nggak ada siapa-siapa di dalam sana. Naik, yok?" ajak Alara semangat.
"Enggaklah. Kelihatannya aja masih kokoh gini. Udahlah, naik aja. Gue naik duluan, ya?" Satu detik setelah kata-katanya keluar, Alara mulai memanjat tangga kayu yang terbentang sampai ke atas—menempel di sebuah pohon yang cukup besar dan menjadi tempat rumah pohon itu didirikan.
"Enggak rapuh, Bir! Ayo naik!" seru Alara dari atas.
Tiga detik setelahnya, gadis itu sudah berhasil memasuki rumah pohon tersebut. Abir bisa melihat Alara yang kesenangan di atas sana dari suara-suara yang gadis itu keluarkan.
"Ayo sini, Bir! Jangan payah, deh, lo! Sini!"
"Gue datang!" balas Abir.
Satu per satu tangga kayu Abir pijaki, hingga sampailah dia di rumah pohon yang mungkin setinggi 3 meter lebih di atas tanah. Luasnya sekitar 2 × 2,5 meter, dengan atap yang terbuat dari daun kelapa kering.
"Kalau aja kemaren kita ke sini, enaklah kita bisa tidur di sini semalem. Nggak perlu takut kedatengan ular atau apa, nggak perlu juga bikin api unggun," oceh Alara.
"Tapi kita nggak akan nyanyi-nyanyi kalau semalem nggak bikin api unggun," timpal Abir.
"Iya juga, sih. Jadi, sekarang kita mau apa di sini?"
"Gimana kalau nginep sekali lagi? Kan mana mungkin langsung balik sekarang juga."
"Lah, nggak bisa gitu! Masalahnya gue udah laper banget, haus juga, mau makan apa kalau kita terus di sini tanpa makanan?" protes Alara tak terima.
__ADS_1
"Tapi kan ... untuk wujudin impiannya Sara punya rumah pohon, meski ini bukan rumah pohon punya kita. Kalau misal kita pergi, nggak ada jaminan kita bisa balik nemuin ini lagi."
Alara menggaruk pelipisnya tak gatal. "Lo bener. Tapi masa iya kita nggak makan dan minum sampe besok? Bisa mati dong gue."
"Gue yang akan cari makanan sama minum---"
"Enggak! Gue nggak mau semdirian di sini! Meski gue berani kalaupun ada macan, tapi gue nggak mau di sini sendirian!" sahut Alara cepat-cepat.
"Ya tinggal ikut gue," balas Abir santai. "Ayo?"
"Emang lo yakin di sekitar sini ada sungai?" tanya Alara setengah berteriak ketika Abir mulai turun.
"Ya kan nggak ada salahnya kita cari. Sama cari lapangan juga 'kan, buat nerbangin layangan."
"Tapi kita nggak bawa apa-apa, gimana caranya bikin layangan?"
"Ya udahlah. Kalau gitu cari sungai aja buat nyelam."
***
Jika dihitung, mungkin sudah dua jam atau lebih Alara dan Abir berjalan tak tentu arah demi mencari keberadaan sungai. Jika di gerbang masuk hutan ini ada beberapa petunjuk, maka jangan mengharap itu juga ada di sini. Sama sekali tidak ada apa pun yang bisa digunakan sebagai petunjuk arah. Mereka hanya berjalan dengan mengandalkan insting saja.
"Udahlah, Bir. Gue nggak kuat lagi, pingsan nih gue lama-lama," Alara mendadak menghentikan langkah; terduduk dengan kedua kaki diselonjorkan.
"Gue tau lo capek, tapi gue juga nggak kalah capeknya, Ra. Inget, kemaren lo sempet makan, tapi gue? Gue nyari sungai yang keberadaannya ternyata nggak ada, dan akhirnya kita diserang macan terus tersesat," timpal Abir. "Ayo, ya, kita jalan sedikit lagi, siapa tahu di depan sana ada sungai. Ya, Ra, ya?" bujuknya.
Alara menggeleng kuat-kuat sambil merengek. "Nggak mau! Gue udah nggak kuat jalan lagi, Bir ...."
"Mau gue gendong?"
Alara mengerjap beberapa kali. "Eh, seriusan? Lo kuat gendong gue memangnya?"
"Kuat, lah! Jangan ngeremehin lo, ya." Abir berjongkok di depan Alara, "Naik," titahnya.
Alara tersenyum lebar, lalu dengan senang hati naik ke punggung Abir. "Ayo jalan," titahnya.
Abir menghela napas panjang, sebelum akhirnya bangkit dan mulai berjalan. Ya, Alara memang berat, tetapi keputusannya menggendong Alara ini adalah yang paling tepat—karena dengan begitu Alara tidak kebanyakan drama lagi.
"SUNGAI!" Alara menjerit heboh di atas punggung Abir, seraya menunjuk ke sebuah arah.
Abir hampir roboh, tapi penguasaan dirinya yang kuat membuat hal itu tidak terjadi. "Mana?" tanyanya sambil menoleh pada Alara.
"Itu!"
*****
__ADS_1