
"Dia namanya ... Alara Aarunaya."
Hening.
Alara hampir tak berkedip memandang Abir, pun sebaliknya, Abir melakukan hal yang sama. Bedanya, tatapan pria itu sangat tulus, lain dengan Alara yang seperti terkejut sekaligus tak percaya.
Lima detik kemudian, Alara tertawa terbahak-bahak. Tidak tahu apa yang lucu, karena perasaan mereka hanya diam sambil saling tatap saja sampai bermenit-menit.
"Kenapa lo ketawa?" tanya Abir terheran-heran.
"Alara Aarunaya? Gue maksudnya? Lo bercanda atau gila, Bir? Lo jatuh cinta sama gue? Gue yang selalu lo katain penyihir kejam ini? Yang bener aja," Alara terus tertawa seolah perkataan Abir sangat layak ditertawakan.
Namun, hanya Alara yang tertawa. Abir tidak. Pria itu cepat-cepat memegang kedua pundak Alara, kemudian menghadapkan padanya dengan tatapan yang serius. Sontak saja, tawa Alara berhenti karena itu.
"Gue serius, Ra. Sangat-sangat serius. Gue tahu, lo mungkin nggak akan percaya, tapi beneran, gue emang jatuh cinta sama lo. Gue nggak tahu kapan rasa itu tumbuh, gue hanya tahu ... gue cinta sama lo, Alara!"
Alara bergeming dari hadapan Abir. Kedua matanya hanya menatap pria itu tanpa berkedip, sementara jantungnya berdegup cepat di dalam sana.
"Gue ngerasain hal yang berbeda tiap kali deket-deket sama lo, gue ngerasa ... gue nggak bisa jauh-jauh dari lo, gue nggak bisa hidup tanpa lo, dan gue ... gue nggak mau kehilangan lo, Lara. Gue nggak akan bisa hidup tanpa lo," ujar Abir tulus.
Tak terasa, air mata Alara menetes. Ketulusan yang Abir perlihatkan dalam sorot matanya, dalam kata-katanya, dalam perbuatannya hingga detik ini—yang muncul satu per satu dalam ingatan Alara—sungguh-sungguh menyentuh hati Alara.
"La-Lara ..., lo jangan nangis .... Kalau lo nggak suka, nggak pa-pa. Yang penting, air mata lo yang berharga itu jangan keluar, itu sangat menyakiti gue, Ra ...."
"Abir ..." Alara beringsut maju, memeluk Abir dengan sangat erat sambil terisak.
Lalu Abir? Tentu saja membalas pelukan perempuan itu tak kalah erat. "I love you, Alara Aarunaya ...."
Abir menamai perasaannya pada Alara sebagai cinta, sebab ... ya, seperti yang dia katakan tadi---dia tidak bisa hidup Perempuan Kejam itu. Dia terima seluruh kekejaman yang Alara beri; sifat gilanya, sifat menyebalkannya, sifat anehnya, setiap ejekannya, semuanya. Abir terima setiap kekurangan dan kelebihan Alara, yang penting Abir tidak berpisah dengan Penyihir Kejam-nya itu.
Hampir semenit saling memeluk erat, Alara melepas lebih dulu tautan tubuh mereka itu. Ia usap jejak-jejak cairan bening yang mengalir di pipinya yang tirus.
"Gue mau minta maaf, Bir, gue ... nggak bisa balas cinta lo, karena ... karena gue emang nggak cinta sama lo---atau mungkin lebih tepatnya belum," ujar Alara dengan pandangan tertunduk. Tetapi, ini sungguhan, tulus dari dalam hatinya.
"Nggak apa-apa," cetus Abir. "Cinta kan emang datangnya nggak instan. Lo nggak marah sama gue aja, gue udah seneng banget. Setidaknya lo masih nerima gue jadi bagian dalam hidup lo, itu udah lebih dari cukup untuk gue, kok, Ra." Abir tersenyum tipis, tetapi sangat tulus.
"Makasih," kata Alara. "Soal gue yang nggak marah atau apa, memang, karena gue nggak bisa mengatur atau melarang perasaan orang lain tumbuh. Jadi, ya, itu terserah lo, soalnya itu perasaan lo sendiri. Tapi kalau saran gue, sih, gue nggak saranin lo cinta sama gue. Kenapa? Karena gue nggak janji bisa bales. Jujur aja ... gue sebenernya nggak percaya kalau cinta itu beneran ada."
***
"Alara ...!"
"Abir ...!"
__ADS_1
"Alara ... kamu di mana, Nak?"
"Abir ... kamu ada di sekitar sini, kan?"
"Alara ... ini Mama ...! Kalau kamu denger, jawab panggilan Mama, Nak ...!"
"Abir ...! Abir ...!"
Kedua wanita itu terus meneriakkan nama anak masing-masing. Tidak cukup hanya menunggu, kedua wanita itu terjun sendiri ke lapangan untuk mencari anak-anak mereka. Keduanya tidak bisa percaya begitu saja pada tim penyelamat dan para polisi, jadi mereka harus turun tangan sendiri. Tidak peduli kalau sekarang ini sudah sangat larut malam. Yang mereka pikirkan hanyalah: Abir dan Alara ketemu.
"Pak, sebaiknya kita berpencar ke beberapa arah. Anda berdua dan istri Anda ditemani salah satu rekan kami ke arah sana, lalu kami ke arah yang satunya, bagaimana?" usul salah seorang anggota polisi yang ikut mencari.
Hal itu langsung disetujui Adi dan Rajvans. Detik selanjutnya, mereka pun mulai berpencar ke arah yang berbeda.
Sesekali mereka memanggil nama anak-anak mereka, tapi tidak sesering yang kedua wanita itu lakukan. Namun, bisa mereka para pria mengerti, betapa khawatirnya para istri. Terlebih bagi Miray, karena Alara adalah anak satu-satunya. Mana menunggu kehadirannya pun sangat lama dulu. Sementara bagi Afsana, Abir adalah putra laki-laki satu-satunya. Putra kesayangan, tentu saja.
"Pa, gimana kalau Alara kenapa-napa?" resah Miray.
"Abir juga. Ah, mereka ini sebenernya ngapain, sih, pake acara camping di tengah hutan segala? Kan bisa, tuh, camping aja di belakang rumah?" timpal Afsana.
"Gimana kalau macan itu bener-bener ngapa-ngapain Alara dan Abir? Astaga, aku nggak bisa tenang," balas Miray lagi.
"Enggak, Bu Miray. Jangan berpikir yang enggak-enggak, ah. Anak-anak kita pasti baik-baik aja. Mereka mungkin ada di suatu tempat. Saya yakin itu," Afsana menimpali lagi. Wanita paruh baya itu percaya, berpikir positif akan membawa dampak yang positif juga.
Keempatnya menoleh ke sumber suara. Petugas polisi yang bersama mereka memanggil. Bergegas mereka semua menghampiri laki-laki bertubuh tinggi besar dengan kulit sawo matang itu.
"Ada apa, Pak? Menemukan sesuatu?" serang Miray dan Afsana hampir bersamaan.
"Lihat, ini ada bekas api unggun. Abu dari kayunya kelihatan masih baru. Kemungkinan besar, ini buatan Alara dan Abir. Mereka habis ke sini," jelas pria ber-name tag Rizvan itu.
"Astaga, iya, ah semoga aja mereka memang habis ke sini," respons Miray.
"Sekarang, kita ikutin jejak yang mungkin ada dari sini. Paling-paling mereka nggak jauh dari sini, ayo?" ajak Pak Rizvan.
Jalan yang terjal, ditambah dengan hari yang sudah sangat malam, sangat mempersulit sebenarnya. Namun, tentu saja mereka tidak akan berhenti begitu saja. Alara dan Abir harus ditemukan malam ini. Atau paling tidak, besok.
***
Alara memandangi Abir yang terlelap dengan menjadikan pahanya sebagai bantal, setelah pria itu terima-terima saja dengan kepercayaan Alara yang menganggap cinta sejati hanyalah omong kosong.
Selama ini, Alara memang punya banyak sekali mantan pacar. Namun, tak satupun dari mereka yang benar-benar dicintai oleh Alara. Hanya gabut, itulah alasan yang selalu Alara katakan bila ada yang bertanya.
Maka, tak heran jika dia bisa menjalin hubungan dengan beberapa pria sekaligus, lalu bisa putus tanpa ada rasa sakit hati sama sekali. Bahkan orang-orang—tak terkecuali ibunya—sering mengatakan, 'Alara berganti pacar seperti mengganti pakaian'. Karena, ya, memang itulah kenyataannya.
__ADS_1
Jika Alara suka sekali kehidupan pribadinya dipublikasikan, pasti sudah lama dia viral dan mendapat julukan 'Model yang Suka Sekali Ganti Kekasih'. Namun, soal kehidupan pribadinya ini, Alara hampir tak pernah menampakkan di media sosial. Paling-paling dia hanya memposting foto dia dan seseorang yang bersama, tapi tidak terlihat jelas siapa orang itu. Alara memang sangat tidak mau, kehidupan pribadinya jadi konsumsi publik. Itu juga mengapa, pernikahannya tidak pernah dipublikasikan. Biar saja dunia masih menganggapnya single, itu sama sekali bukan masalah besar.
Alara sudah punya rencana sendiri, setelah dia dan Abir benar-benar menemukan 'masa depan' untuk pernikahan mereka ini, barulah Alara akan umumkan di media sosialnya soal pernikahannya ini. Untuk sekarang, dia bahkan belum bisa mencintai Abir. Oh, sebenarnya, Alara bahkan tidak tahu apa itu cinta.
Dia menganggap, orang-orang tetap bersama adalah karena saling membutuhkan, dan jika sudah menikah lalu punya anak, maka kebersamaan itu untuk anak mereka. Juga mungkin karena sudah lama tinggal bersama, maka mereka saling menyayangi. Hanya itu, bukan cinta. Cinta itu sebenarnya tidak ada, kan? Itu hanya alasan yang dibuat orang-orang untuk bisa bersama—untuk melegalkan beberapa hal yang tidak boleh dilakukan. Untuk hal ini, Alara tidak akan pernah percaya jika tidak merasakan sendiri.
Bagaimana itu rasanya, tidak bisa hidup tanpa seseorang yang disebut sebagai cinta? Apa seperti Alara yang tidak bisa hidup tanpa Mama dan Papanya? Kalau cinta anak untuk orang tua ataupun sebaliknya, Alara percaya itu memang ada. Tapi kalau untuk orang asing yang tidak ada hubungan darah? Nah, itu masih dia pertanyakan.
"Kenapa nggak tidur?"
Alara terkesiap. Kedua mata yang terpasang di kepala yang berada di pangkuannya, tiba-tiba saja sudah terbuka—entah kapan.
"Nggak bisa tidur," kata Alara asal.
Abir malah bangkit dan mendudukkan dirinya. "Mungkin itu karena lo jadi bantal untuk gue. Jadi sekarang, lo yang tidur, dan gue yang jagain lo. Oke?"
"Gue nggak bisa tidur, Bir," ulang Alara.
"Bisa, pasti bisa. Sini, baring di sini," Abir menarik Alara agar gadis itu yang kini berbaring dengan kepala berada di pangkuannya.
"Mau gue nyanyiin? Lagu waktu itu?" tanya Abir.
"Lo mau nyanyi malem-malem gini? Ntar ganggu tetangga gimana?" Alara tertawa.
"Di sini nggak ada tetangganya btw. Udahlah, mau, nggak?"
"Oke. Yang merdu, ya? Biar gue bisa langsung tidur. Siapa tahu bakalan ketemu Shahid Kapoor di alam mimpi." Alara tertawa kecil.
"Ketemu gue aja, jangan Shahid Kapoor."
"Udahlah, Bir, nyanyi aja," suruh Alara.
Abir pun berdeham, lalu nyanyian yang sama teralun merdu dari mulutnya. Lagu favorit Alara, yang membuat mereka berduet malam itu.
Sementara Alara, dia tak henti-hentinya menatap wajar Abir yang berada di atasnya. Lirik demi lirik berganti, itu justru tidak membuatnya mengantuk. Hal yang aneh malah terjadi; jantungnya berdetak cepat, cepat sekali sampai ia merasa akan terkena serangan janrung. Lalu, seperti ada setruman-setruman aneh dalam tubuhnya—khususnya saat lirik-lirik tertentu dan Abir menatap matanya.
Oh, sial. Apa semua ini? Apa ini pertanda Alara akan terkena serangan jantung? Alara akan pingsan? Atau ini gejala penyakit yang timbul karena dia belum makan nasi?
Atau ... Abir sekarang punya kekuatan listrik? Makanya bisa menyetrumnya. Astaga, apa mungkin begitu? Dari mana juga Abir dapat kekuatan listrik?
Atau ... ya, ada kemungkinan lain. Inikah yang orang-orang sebut sebagai cinta? Jantung berdebar-debar, gugup, dan seperti mau pingsan ini?
*****
__ADS_1