Deal, Kita Nikah!

Deal, Kita Nikah!
60. Bantuan


__ADS_3

Sekarang, semua pihak mendukung Alisha, tetapi marah pada Amira. Bahkan tak satupun yang mau mengajak wanita itu berbicara, termasuk kedua saudarinya yang biasanya selalu satu server dengannya.


Semua orang sekarang juga menghubungi kenalan masing-masing untuk mencaritahu soal keberadaan Zavier. Arshia dan Zafar juga memunculkan diri mereka. Tak ada satupun orang yang tahu merekalah pelaku di balik hilangnya Alisha. Kini, mereka menyulap diri untuk membantu mencari Zavier.


Hal ini memang sedikit rumit sebab Alisha tak tahu di mana tempat tinggak pria itu yang sebenarnya. Bahkan, akun media sosialnya saja Alisha tak tahu. Inilah yang membuat Alara dan semua orang benar-benar tak mengerti.


"Kalau dia orang terkenal pasti gampang nyarinya, nah ini, siapa dia?" keluh Alara.


"Viralin aja, barangkali berhasil," celetuk Raisha.


Abir spontan menjentikkan jarinya. Dalam gerakan kilat, ia mendekat pada Alara yang sibuk berkuatat dengan ponsel---katanya bertanya pada teman-teman dan para mantannya.


"Ra, followers instagrammu kan banyak, kenapa nggak live aja di ig? Minta bantuan followers-mu buat nemuin Zavier. Salah satu dari mereka pasti ada yang kenal, kan?" usulnya.


"Nah!" sambut Raisha cepat-cepat. "Kadang lo lupa kalau lo itu model yang punya banyak followers, Ra. Ngapain kita ribet-ribet nyari kalau ada cara instan gitu?"


Alara berkedip-kedip. "Iya juga, ya. Kenapa gue nggak kepikiran coba? Bodoh banget, dah."


Ia lantas menggeser-geser layar ponselnya menuju ke aplikasi yang dimaksud. Tanpa menunggu lagi, ia melakukan siaran langsung detik itu juga.


Ribuan orang langsung bergabung menonton siaran langsung yang diadakan Alara. Alara tak membuang waktu. Langsung saja ia mengatakan apa tujuannya melakukan siaran langsung ini, tak lupa juga menunjukkan foto Zavier di ponsel Alisha pada semua orang.


Banyak sekali yang berkomentar tidak tahu, banyak juga yang malah mengatakan hal semaunya yang sama sekali tak berhubungan dengan topik. Tapi, yang Alara tunggu bukan itu. Dia mencari komentar yang benar-benar akan membantunya saat ini.


@chlsdshy Itu namanya bukan Zavier, kak, tapi Sagara


Alara beserta semua orang saling tatap. Kenapa malah jadi Sagara? Alisha dengan jelas bilang nama pria itu Zavier, kan?


"Kamu serius? Dia namanya Sagara? Bukan Zavier?" tanya Alara.


Akun itu pun kembali berkomentar.


@chlsdshy Iya kak, serius. Ini nih orangnya @iamsagara773


Alara mengucapkan terima kasih berulang kali, lantas segera mematikan live-nya dan mencari akun yang tadi di-tag oleh salah satu followers-nya itu.


Benar saja. Akun bernama @iamsagara773 itu memang dipegang oleh seorang pria yang wajahnya begitu mirip dengan sosok Zavier yang Alisha tunjukkan.

__ADS_1


Sampai sini, Alara jadi memahami satu hal. Alisha ditipu. Itu sebabnya dia tidak tahu informasi apa-apa soal pria itu, bahkan untuk sosial media pribadinya. Padahal, followers dan postingan pria itu juga lumayan banyak.


Alara men-scroll postingan di akun itu guna mencari informasi. Pria satu itu rupanya sangat rajin memposting. Hampir setiap minggu setidaknya dia memposting satu foto.


Jari Alara yang asyik men-scroll layar seketika berhenti di sebuah foto yang diposting beberapa bulan lalu. Itu foto ....


"Sara? Ini Sara? Sara mantan lo yang penyakitan itu 'kan, Bir?" tunjuk Alara ke layar ponselnya.


Abir mengambil alih benda itu dari tangan Alara dan memperhatikannya. Pria itu mengangguk-angguk. "Iya, bener banget. Ini Sara, mantan gue," ujarnya.


Alara langsung teringat kejadian itu dan seketika tampak shock. Apa hubungan kekasih Alisha dengan Mantan Abir itu?


Sementara Alara masih sibuk shock, Abir terus men-scroll layar. Jarinya pun terhenti di postingan setengah tahun lalu, di mana seorang perempuan membuat ekspresi lucu meski dia tengan disuntik.


Yang membuat Alara dan Abir bertambah shock bukan foto tersebut, melainkan caption yang tertulis di postingan itu.


‘Cepat sembuh, Kakakku. Kau wanita yang kuat’.


Alara dan Abir dibuat ternganga sambil saling tatap satu sama lain. Kakak? Jadi mereka adalah adik-kakak? Bagaimana mungkin?


"Kakaknya mengganggu kak Abir, lalu adiknya mengganggu Alisha. Apa maksudnya semua ini?" cetus Arshia tiba-tiba.


"Tapi masalah apa? Tidak terima karena Abir menikah denganku?" kata Alara.


"Entahlah, tapi pertama kita harus temuin dia. Di mana alamat rumahnya?" tanya Arshia.


"Di bionya tertulis di Bali. Tapi emang iya, soalnya kami ketemu Sara dulu juga di sana. Iya 'kan, Bir?" Alara melirik Abir meminta pembenaran.


Abir mengangguk. "Rumah Sara emang di Bali. Nggak salah kalau adiknya juga di sana."


"Ya ampun," Arshia menepuk dahinya. "Jadi kita harus jauh-jauh pergi ke Bali buat nyari makhluk satu itu, gitu?"


Semuanya menggeleng.


"Mantan!" celetuk Alara tiba-tiba. Seketika semua pasang mata menatap padanya.


"Hah? Mantan siapa?" tanya Arshia.

__ADS_1


Alara malah cengengesan sembari melirik Abir. "Aku punya mantan yang tinggal di Bali. Bisalah aku minta bantuan dia buat nyari manusia satu itu," katanya.


Selanjutnya, Alara bergegas mengotak-atik ponselnya mencari kontak mantan-nya itu. Sementara itu, Alisha hanya diam dengan tatapan kosong ke depan. Dia masih terlihat tak percaya dengan semua ini.


"Zavier ... jadi kau memanfaatkanku? Kau menjadikanku alat balas dendammu?" lirihnya.


Alara spontan berhenti dari kegiatannya mencari nomor salah satu mantannya. Perkataan lirih Alisha mengingatkannya pada sesuatu. Sesuatu yang ia coba lupakan, meski terkadang masih kepikiran juga.


Ya. Kepergian Sara. Sampai detik ini, Alara mengakui jika itu adalah salahnya. Andai ia tidak menculik Abir dari gadis itu, pasti meskipun Sara pergi, dia takkan merasa bersalah sebab dia tak mengambil bagian.


Apa semua ini ada hubungannya dengan itu? Zavier, atau yang nama aslinya Sagara, adalah adik Sara. Apa laki-laki itu menggunakan Alisha untuk media membalas dendam padanya?


Lamunan Alara buyar saat ponselnya tiba-tiba bergetar. Nama yang tengah ia cari malah lebih dulu menghubunginya. Deva, mantannya.


"Halo, Dev?"


"Lara, kamu tadi live instagram, ya?" tanya Deva dari seberang sana to the point.


"Iya. Gue ada masalah, lebih tepatnya adik sepupu gue. Ada laki-laki berengsek yang ngerusak dia, tapi malah kabur dan nggak mau tanggung jawab," papar Alara.


"Kau butuh bantuanku untuk mencari laki-laki itu?"


Alara termangu. Bagaimana bisa Deva menebak apa yang akan ia katakan? Atau lebih tepatnya ini adalah isi hatinya.


"Lara ... kau dengar aku?"


Alara mengangguk. "Iya. Dan ... iya, kalau kamu nggak keberatan. Katanya cowok itu ada di Bali. Kamu kan tinggal di sana."


"Aku sama sekali nggak keberatan. Akan kucari dia. Kau tidak perlu khawatir di sana, ya. Nanti akan kuhubungi jika sudah ketemu."


Alara sekali lagi menganggukkan kepala. "Terima kasih, ya, Dev. Dan ... maaf, maafkan aku, kesalahanku padamu sangat banyak. Aku juga sudah mematahkan hatimu. Maaf ...."


"Tidak masalah. Apa yang kau lakukan sama saja memberiku pelajaran. Jangan dipikirkan lagi, ya? Oke, aku matikan dulu. Jaga dirimu."


Alara memandangi ponselnya dengan perasaan berkecamuk. Antara menyesal, lega, tapi juga khawatir dan panik. Sekarang dia juga merasa kalau dirinya ini wanita paling kejam yang sudah membuat semua orang repot dan terlibat masalah.


"Apa yang Deva katakan?" tanya Abir, membuat lamunan Alara buyar.

__ADS_1


"Deva akan membantu kita, tapi ... kita juga harus ke sana."


*****


__ADS_2