Deal, Kita Nikah!

Deal, Kita Nikah!
52. Kecelakaan Bersama ....


__ADS_3

Hari demi hari sekarang dilalui Alara dan Abir sebagai pasangan yang bahagia. Tentu saja masih dengan beberapa perdebatan terhadap beberapa hal, tapi itu bukan masalah karena mereka berusaha sebaik mungkin untuk bertahan sebagai pasangan yang bahagia.


Sekarang, Alara juga sudah mau menjalankan tugasnya sebagai dengan sedikit lebih banyak. Katakanlah bangun pagi untuk memasak sarapan, itu juga sekarang menjadi tugasnya dan bukan Abir lagi. Lalu beberapa pekerjaan yang umumnya dilakukan oleh seroang istri, dia kerjakan meski itu cuma kadang-kadang dan sambil mengomel.


"Pagi, Istriku," sapa Abir sembari memeluk Alara dari belakang. Perempuan itu tengah khusyuk membaca buku resep masakan demi bergantinya menu makanan mereka setiap hari.


"Kenapa udah rapi banget? Mau ke mana? Besok kan Minggu, nggak libur?" tanya Alara sembari menatap suaminya itu.


Abir tersenyum sembari menggaruk tak gatal kepalanya. "Hmm ... sebenernya ... aku disuruh kak Aditya ke luar kota. Ada beberapa pekerjaan di sana. Nggak lama, kok. Senin pulang. Gimana? Boleh, kan?"


"Luar kota lagi, luar kota lagi. Kenapa selalu lo, sih? Nggak ada orang lain gitu? Hobi banget pergi-pergi ke luar kota," dumel Alara.


"Soalnya kan ... yang selalu travelling ke mana-mana itu kan aku, Ra. Jadi sekalian gitu kan, hehe," Abir menyengir lebar.


"Sekalian travelling? Katanya itu ngurus pekerjaan," Alara memajukan bibirnya tak suka.


"Hmm ... nggak gitu. Kan tempatnya agak-agak sulit didatangi, trus yang kerjaannya pergi-pergi gitu kan aku, juga itu memang keahilanku, jadi ya siapa lagi kalau bukan aku?" tutur Abir baik-baik. "Boleh, ya? Nanti pas pulang, aku bawain oleh-oleh, deh. Kamu bilang aja mau apa?"


"Harus itu. Kalau lo---maksudnya kamu pulang nggak bawa apa-apa, nggak boleh masuk rumah!" kata Alara garang.


Oh, iya. Soal panggilan lo-gue, mereka sebisa mungkin sekarang mengubah itu. Kan kedengaran tidak bagus juga suami-istri panggilannya masih lo-gue, apalagi di depan orang-orang. Setidaknya jika tidak romantis, maka bisa sedikit diterima akal sehat dan tidak membuat yang mendengar heran.


"Iya, siap, Sayangku, eh Istriku. Apa pun yang kamu minta, pasti akan kubawakan."


"Awas kalau enggak, pisau dapur masih tajem nih, ya!" ancam Alara. Tenang saja, itu hanya bercanda.


"Ya sudah, sekarang aku berangkat, ya? Kamu jaga diri baik-baik di rumah. Makan tepat waktu, tidur tepat waktu, nggak usah keluyuran, atau kalau mau nginep di rumah Mama atau Raisha, silahkan aja. Itu malah lebih baik karena aku takut kalau kamu sendiri. Inget, kan? Seratus dua puluh hari yang peneror itu katakan udah lewat. Aku takutnya terjadi apa-apa sama kamu," ujar Abir.


"Justru gue yang khawatirin lo, Bir. Lo kan mau ke luar kota, gimana kalau di perjalanannya peneror itu malah berulah?" timpal Alara. Untuk sekali lagi panggilan 'lo-gue'-nya kambuh.


"Enggak. Aku akan baik-baik aja, kok. Aku bisa jaga diri," balas Abir. "Oke, aku berangkat dulu, ya. Kamu jaga diri baik-baik."


Abir mencium singkat puncak kepala Alara. Alara memeluk pria di hadapannya ini sedikit manja. Rasanya tidak mau berpisah meski itu hanya hitungan hari, tapi mau bagaimana lagi?

__ADS_1


"Cepetan balik, jangan lupa oleh-olehnya," pesan Alara sebelum Abir benar-benar pergi.


"Iya, Istriku Sayang," balas Abir tersenyum.


Pria itu lantas menghilang di balik pintu. Alara hanya bisa memandanginya sampai tubuh Abir tak lagi terlihat. Jujur saja dia sedikit tak rela melihat itu. Seperti takut akan terjadi sesuatu, tapi ... ah, mungkin itu cuma perasaannya saja karena tidak mau ditinggal Abir.


"Mendingan lanjut praktekin resep baru ini," putusnya kemudian.


***


Alara pulang tepat pukul 5 sore setelah menjalani pemotretan. Dirinya kini akan menghabiskan malam Minggu dengan menonton film saja. Mau ke luar pun rasanya malas, apalagi dalam keadaan sendirian.


Baru lima menit Alara menikmati film bersama satu wadah besar popcorn, telepon rumah berbunyi nyaring. Perempuan itu berdecak kesal karena merasa santainya terganggu, tetapi tetap mengangkat telepon itu meski dalam keadaan malas.


"Halo?"


"Dengan keluarga Tuan Abir Nanda?" tanya suara seorang perempuan di seberang sana.


"Iya. Ini siapa, ya? Dan ada apa?"


Prak!


Alara langsung menjatuhkan telepon itu dari genggamannya. Tangan dan seluruh tubuhnya melemas seketika. Abir ... Abir mengalami kecelakaan? Mendadak saja ia teringat teror-teror itu dan mengaitkan semua yang terjadi ini berhubungan dengan semua itu.


Setelah beberapa detik terkejut, Alara kembali mengambil telepon itu, yang ternyata seseorang yang ia duga adalah perawat sudah memanggil-manggilnya.


"Halo, Nyonya Alara? Anda bisa datang ke sini sekarang?"


"I-iya. Saya ke sana sekarang."


Alara meletakkan telepon itu dan bergegas berganti pakaian, mengambil tas, serta kunci mobil untuk langsung meluncur ke sana.


Sepanjang perjalanan, pikirannya sudah berkecamuk tidak karuan. Namun, dari semua itu dia hanya mencemaskan Abir. Dia berdoa semoga pria itu baik-baik saja, tetapi tetap saja rasa khawatirnya tak bisa dilawan.

__ADS_1


Jarak rumah sakit yang disebutkan masih berada di kota ini, itu satu hal yang membuat Alara bersyukur karena jika letaknya di luar kota, akan membutuhkan perjalanan yang lebih lama lagi. Sementara dirinya sekarang ini sudah panik luar biasa.


Butuh sekitar 30 menit untuk tiba di sana. Begitu sampai, Alara langsung berlarian masuk dan memarkir mobilnya sekenanya. Di tempat resepsionis dia sudah disambut oleh beberapa orang polisi yang sepertinya menangani kecelakaan yang dialami Abir.


"Keluarga Tuan Abir?" tanya salah seorang polisi.


"Iya. Bagaimana keadaan Abir, Pak? Tidak terjadi apa-apa, kan? Dia baik-baik saja? Bagaimana bisa mengalami kecelakaan?" berondong Alara dengan berbagai pertanyaan.


"Nyonya harap tenang, Tuan Abir dan istrinya sedang ditangani oleh dokter. Oh ya, Anda ini siapanya?"


Alara mengernyit. Istri? Anda siapanya? Apa maksud polisi ini?


"Pak, saya ini istrinya. Istri mana lagi yang Anda maksud?" tanya Alara baik-baik, dia masih tidak mau berpikir yang tidak-tidak dulu.


"Loh, jadi Anda ini istrinya?" Polisi itu terlihat kaget.


Alara mengangguk beberapa kali. "Iya, saya Alara, istrinya."


"Umm ... begini, Nyonya, Tuan Abir mengalami kecelakaan bersama seorang perempuan. Kami mengira perempuan itu adalah istrinya."


Jantung Alara sudah berdetak berkali-kali lipat lebih cepat. Dari yang semula ia sangat mengkhawatirkan Abir, maka kini prasangka buruk soal perempuan yang kecelakaan bersama Abir mulai menguasai pikirannya.


Bagaimana tidak? Apa-apaan ini? Abir kecelakaan dengan perempuan? Bukankah Abir mau pergi ke luar kota? Oh tunggu, apa Abir pergi ke luar kota bersama sekretarisnya mungkin?


"Siapa perempuan itu, Pak?" tanya Alara dengan bibir bergetar. Kedua matanya sudah memanas dan hampir mengeluarkan cairan bening dari dalam sana, tapi sebisa mungkin coba ia tahan.


"Mari ikut saya."


Polisi itu membawa Alara ke ruang di mana Abir dan perempuan itu sedang ditangani. Dari kaca tembus pandang di ruangan itu, Polisi tersebut menunjuk dengan tangannya seorang wanita yang terlihat dengan jelas tengah berbaring di dalam sana.


Deg!


Kaki Alara melemas. Air matanya pun mengalir tanpa lagi bisa dibendung. Satu nama muncul dari bibirnya setelah beberapa detik. Dan nama itu adalah ....

__ADS_1


"Alisha?"


*****


__ADS_2