Deal, Kita Nikah!

Deal, Kita Nikah!
47. Kesalahan Terbesar Abir


__ADS_3

Ketika Abir sampai di depan mall, Alara sudah tidak terlihat lagi di sana. Gadis itu menghilang dengan cepat dan hanya dalam beberapa kedipan mata saja.


Sungguh sial. Sekarang Abir harus bagaimana? Ke mana dia harus mencari Alara? Dalam keadaan marah begitu, Alara yang gila bisa nekat melakukan apa saja.


"Kejar aja, deh," putus Abir. Ia lantas berlari ke tempat parkir dan melajukan mobilnya ke sembarang arah, berharap Alara masih bisa ia kejar.


Abir mengebut. Usahanya tidak sia-sia karena akhirnya melihat plat mobil Alara yang berjarak beberapa meter di hadapannya. Dia pun semakin menambah kecepatan untuk bisa menyusul gadis itu.


Tinnn!


Tinnn!


Abir membunyikan klakson ketika mobilnya dan Alara hampir bersebelahan. Mungkin Alara bisa melihatnya, karena gadis itu tiba-tiba menambah lagi kecepatan mobilnya.


"Lara, please stop," gumam Abir lelah.


Kebut-kebutan di jalanan bukanlah hal yang baru bagi Alara. Jika ada yang tidak sejalan dengan kemauannya, gadis itu pasti berbuat macam-macam. Sifatnya yang langsung menyimpulkan apa yang dia lihat itulah yang terjadi, benar-benar membuat Abir kadang jengkel.


"Nggak, gue harus bisa jelasin ini semua ke Alara. Alara harus tahu kalau ini cuma salah paham aja," Abir bermonolog. "Ayo, Bir, kalau Alara bisa kebut-kebutan, lo juga harus bisa."


Beberapa detik dari itu, Abir menambah kecepatan mobilnya hingga sampai di angka paling cepat. Dan benar saja, dia bisa menyusul Alara. Mobil mereka berdua kini berjalan bersebelahan.


"LARA, STOP! GUE BISA JELASIN! LO JANGAN KEBUT-KEBUTAN GINI!" teriak Abir sambil membagi fokusnya antara melihat jalanan dan Alara.


"APA LAGI YANG MAU LO JELASIN? SEMUANYA UDAH JELAS, BIR!" balas Alara.


"ENGGAK! LO SALAH PAHAM, ALARA! GUE SAMA ALISHA NGGAK ADA APA-APA!" Abir tak mau menyerah mengatakan yang sebenarnya terjadi, meski Alara akan terus menyangkal.


"HALAH! MANA ADA MALING MAU NGAKU!" tukas Alara.


Abir memukul kemudi, kemudian menyalip Alara hingga gadis itu spontan menghentikan mobilnya. Ia lantas keluar dan mencegat Alara di depan di depan mobilnya.


"Keluar, Lara!" pinta Abir.


Dengan lebih dulu berdecak, Alara membuka kasar pintu mobilnya. "Apa?! Apa lagi yang mau lo jelasin? Semuanya udah jelas! Lo selingkuh sama Alisha!"


"Enggak, gue nggak selingkuh, lo salah paham," koreksi Abir.


"Oh, ya?" Alara melipat tangan di depan dada. "Salah paham yang gimana?"


"Jadi gini, gue tadi niatnya ke mall mau beliin lo beberapa barang, dan gue nggak sengaja ketemu Alisha di sana. Gue pikir, Alisha itu kan sepupu lo, pasti dia tahu dong, barang-barang yang lo suka. Atau gini aja deh singkatnya, gue minta Alisha bantuin gue milih barang buat lo, karena gue nggak paham soal barang-barangnya cewek. Terus gue yang beliin Alisha sepatu, itu cuma sebagai hadiah aja karena dia udah bantuin gue. Nggak salah 'kan, gue kasih hadiah ke orang yang udah bantuin gue?" jelas Abir panjang lebar.


Alara terlihat menimbang-nimbang apa yang Abir katakan, tetapi Abir tak yakin gadis itu akan langsung percaya begitu saja.


"Tapi lo bilang lo sibuk, dan kenapa malah belanja sama Alisha? Gue minta lo temenin gue, Bir! Tapi lo malah mentingin kerjaan lo dan bukan gue, terus gue lihat lo malah belanja sama Alisha padahal dengan jelas lo bilang kalau lo sibuk. Siapa yang nggak kesel coba? Wajar kan kalau gue marah?!" beber Alara emosi.

__ADS_1


"Iya, itu wajar, kok. Gue emang salah. Maafin gue, ya? Gue janji nggak akan ngulangin itu lagi. Tapi percaya, deh, gue sama Alisha nggak ada apa-apa. Lo bisa tanya sendiri ke Alisha-nya langsung kalau lo masih nggak percaya," tutur Abir. "Maafin gue, ya, Ra? Gue emang salah," lanjutnya menyesal.


"Jujur aja gue masih sakit hati, Bir. Maaf nggak semudah itu," tukas Alara.


Abir tertunduk. Menyakitkan juga mendengar Alara sakit hati karenanya, tapi memang lebih baik begitu. Lebih baik jujur meski itu menyakitkan daripada pura-pura memaafkan tapi itu hanya kebohongan. Inilah sifat Alara yang Abir sukai; gadis itu paling blak-blakan terhadap apa yang ia rasakan.


"Jadi ... gue harus gimana biar lo bisa maafin gue?" tanya Abir setelah sekian detik diam.


"Nggak tahu," jawab Alara dingin.


Abir menghela napas panjang. "Gue bakal lakuin apa pun yang lo minta, Ra. Lo bilang aja gue harus apa?"


"Lo harus pergi dari kehidupan gue selama beberapa hari," kata Alara masih dengan suara dinginnya.


Hal itu sukses membuat Abir menganga. "Maksud lo ...?"


"Iya, kita pisahan dulu selama beberapa hari. Gue butuh waktu buat nenangin diri," papar Alara.


"Nggak ada cara lain selain itu? Gue nggak bisa jauh-jauh dari lo, Ra," Abir berkaca-kaca. "Atau gini aja, lo bisa pukul gue, siksa gue sesuka lo, tapi jangan pisahan gitu. Jangan, Ra, gue nggak sanggup ...."


"Nggak mau. Gue nggak mau KDRT." Alara memandang ke arah lain.


"Enggak, kok. Itu bukan KDRT namanya. Itu semacam ... hukuman karena gue udah bikin lo sakit hati, hukuman karena gue udah bikin lo marah. Ayo, hajar aja gue, lo kan penyihir. Enggak pa-pa, Ra, yang penting lo jangan pergi dari gue," mohon Abir.


Abir berjalan gontai kembali ke mobilnya. Tidak pernah dia sangka, akan memberi kejutan tapi malah berakhir perpisahan. Oke, ini memang sementara, tapi sangat berat baginya ditinggalkan oleh Alara. Meski gadis itu selalu menyiksanya dan lain sebagainya, tapi tetap saja dia mencintai Alara.


"Satu minggu itu lama. Bagaimana gue bisa hidup tanpa lo, Ra?"


***


Alara pergi ke rumah Raisha. Itu satu-satunya tempat teraman baginya. Raisha akan bersikap netral dan tidak menghakimi, juga tidak bertanya-tanya dan mengomel seperti yang mungkin akan ibunya lakukan jika dia pulang.


Raisha kini memandangi Alara yang memeluk bantal dengan muka kusut di ruang tamunya. "Jadi sekarang lo mau gimana? Tinggal di sini sampai seminggu?" tanyanya.


Alara hanya mengedikkan pundak. "Gue nggak tahu. Intinya gue kesel aja sama si Abir."


Raisha mendengus. "Emang si Abir juga bener-bener. Mau beliin hadiah ngajak-ngajak si Arshia, kek. Kenapa pula harus si Alisha? Iya, sih, dia sepupu lo. Tapi kan lo udah bilang kalau lo nggak suka dia jalan sama sepupu lo," katanya kesal.


"Lo juga, Ra, udahlah, balik aja. Kasihan juga lama-lama si Abir. Melas banget dia pasti sekarang," lanjutnya.


"Dibilang gue masih marah artinya ya marah!" sungut Alara.


Raisha menghembuskan napas lumayan panjang. "Terserah. Gue nggak tahu harus dukung siapa atau gimana. Ribet banget ternyata pernikahan. Udah bener gue nggak nikah-nikah."


***

__ADS_1


Abir pulang ke apartemennya dan Alara. Tempat itu masih sepi dan terkunci. Tentu saja. Mana mau Alara pulang ke sini? Pulang pun pasti dia ke rumah orang tuanya atau Raisha.


Kemudian Abir mendudukkan dirinya di sofa. Ia melonggarkan dasinya dan mengusap wajahnya frustrasi. Sekarang, tempat ini akan sangat sepi tanpa Alara.


Ting.


Ting.


Abir berdecak. Sekarang siapa lagi yang membunyikan bel? Tidak tahukah dirinya saat ini sedang patah hati?


Dengan langkah malas dan teramat sangat terpaksa, Abir menarik gagang pintu dan membukanya. Alisha muncul dengan beberapa tas belanja di hadapan Abir.


"Kak Abir, hmm ... mana kak Alara?" tanya gadis itu.


"Nggak tahu," jawab Abir sedikit kesal.


"Ini barang-barang yang Kak Abir beli buat kak Alara tadi," Alisha menyerahkan beberapa tas belanja pada Abir. "Maafin aku, ya, Kak? Aku juga nggak tahu kalau kejadiaannya akan begini," sesalnya.


"Bukan salah kamu," balas Abir. "Ayo masuk dulu."


Alisha masuk seperti yang dikatakan Abir. Mungkin ini adalah hal terbodoh yang Abir lakukan, karena jika Alara sampai tahu, gadis itu akan tambah mengamuk.


"Sekarang gue harus gimana, Sha?" tanya Abir lelah.


"Umm ... memangnya kak Alara bilang apa tadi?"


"Dia mau pisahan sama gue sampai seminggu kedepan. Gue nggak bisa, Sha. Gue nggak sanggup hidup tanpa Alara," papar Abir.


"Kalau gitu Kak Abir harus bujuk kak Alara," saran Alisha.


"Udah, tapi lo tahu sendiri kan gimana sifat Alara? Dia nggak akan luluh semudah itu." Abir rasanya benar-benar putus asa.


"Ya udah, kalau gitu tunggu sampai situasinya membaik dulu. Mungkin nanti kemarahan kak Alara akan mereda. Sekarang mendingan kak Abir istirahat. Jangan terlalu dipikirkan, nanti kak Abir malah stress sendiri," tutur Alisha.


Abir mengangguk-angguk. "Lo bener. Mending gue tidur dulu sekarang. Besok gue coba temui Alara lagi, siapa tahu kemarahannya udah reda."


"Ya sudah, Kak. Kalau gitu aku pulang dulu, ya," pamit Alisha.


"Eh tunggu," cegah Abir. "Ini udah malem, kamu pulang naik apa?"


"Taksi kan ada. Kak Abir tenang aja," jawab Alisha tersenyum.


"Tapi naik taksi sendirian malem-malem gini juga nggak aman. Gimana kalau kamu nginep di sini aja?"


*****

__ADS_1


__ADS_2