
"Jadi, kita harus gimana, Ra?" tanya Abir setelah terdiam beberapa saat.
Alara menarik-hembuskan napas sampai berkali-kali. "Kita diem, kita tidur, kita nggak boleh bersuara, pokoknya kita jangan menunjukkan kalau kita masih hidup."
"Lah, jadi kita harus pura-pura mati gitu?"
"Ya enggak---"
*ting
*ting
*ting
"---loh, itu … siapa lagi yang datang?" Alara menunjuk ke arah pintu begitu suaranya disahut bel yang berbunyi.
Abir menggeleng. "Mungkin sepupu lo yang mau jemput ibunya?" tebaknya.
"Semoga aja." Alara bergegas melangkah ke arah pintu, yang sudah ramai oleh ketukan dari luar beserta suara bibinya.
"Alara … ada tamu, cepat keluar!"
"Iyaa!"
Begitu pintu dibuka, Amira sudah berdiri di depan pintu dan tampak sekali menunggu. Hal yang aneh bagi Alara, karena biasanya di mana pun bibinya itu berada, tidak akan bersikap sopan sampai menunggu tuan rumah sendiri yang membukakan pintu seperti ini. Jadi sekarang, wanita itu sudah benar-benar berubah?
"Kenapa Bibi nggak buka pintunya?" tanya Alara.
"Karena ini bukan rumah Bibi. Sudah, ayo sana, tamunya pasti nungguin itu."
Alara mengangguk dan langsung bergegas ke pintu utama. Abir mengikutinya dari belakang, masih dalam keadaan super heran melihat tingkah bibi dari istrinya itu.
Pintu dibuka dari dalam. Seketika itu juga, tampaklah sesosok tamu yang membunyikan bel sambil menggedor pintu dengan tidak sabar. Sosok yang adalah seorang laki-laki seusia Abir, tengah berdiri di depan pintu, menatap tajam tepat ke mata Alara.
"Ri-Ri-Ritvik?" sebut Alara terbata-bata.
"Kenapa, Alara? Kenapa kamu terbata-bata gitu nyebut namaku?" balas pria bernama Ritvik itu.
__ADS_1
"A-a-aku … itu …."
"Siapa yang datang, Alara?"
Amira datang hampir bersamaan dengan Abir. Kedua orang itu menatap bergantian Alara dan Ritvik dengan tanda tanya yang seolah terpampang besar.
"Dia siapa, Ra?" Abir melirik sedikit Ritvik, kemudian menatap Alara seolah meminta penjelasan.
"Anda ini yang namanya Abir, kan? Pria yang beberapa hari lalu Alara nikahi?"
Abir mengangguk kaku. "Iya, saya Abir. Anda ini siapa, ya? Kenal sama Alara?"
Alara langsung menginjak kaki Abir sambil memelototkan mata—hampir membuat Abir memekik jika tidak melihat dulu ke mata Alara yang melotot lebar itu.
"Udahlah, Alara. Sampai kapan kamu mau bohong terus?" sahut Ritvik.
"Bohong? Kamu bohong soal apa, Ra?" tanya Abir.
"Jadi, Anda ini belum tahu, ya?" Ritvik turut bertanya pada Abir.
"Saya ini kekasihnya Alara, yang tanpa ada angin, hujan, atau pemberitahuan apa-apa, ditinggal menikah oleh Alara dengan Anda!"
Alara hanya bisa memejamkan mata saat kata-kata itu meluncur indah dari mulut Ritvik. 'Mati gue,' batinnya merutuk.
Soal Abir, dia bisa jelaskan semua ini dan Abir pun takkan cemburu. Tapi selain Abir, di sini ada Amira, bibinya. Susah payah dia berusaha diam agar Bibi Amira tidak mendapat informasi apa pun, malah Ritvik—pacar ketiganya—yang datang dan membuat rahasianya yang tak lagi rahasia, diketahui semua orang dengan sangat jelas.
Tahu Alara yang tengah dilanda kesulitan, Abir cepat-cepat menyahut, "Hey, Bung, kau pasti salah alamat. Kekasihmu mungkin tidak tinggal di sini, dan namanya kebetulan sama dengan istriku. Jangan mengada-ada lah, Bung!" belanya sembari merangkul pundak Alara.
"Nggak usah coba-coba lindungin dia. Saya punya banyak bukti kalau perempuan itu memang memiliki hubungan dengan saya!" tuding Ritvik pada Alara, yang di kedua bola matanya terpancar jelas kilatan amarah.
Alara buru-buru melepas rangkulan Abir dari pundaknya, lalu menarik tangan Ritvik agar menjauh dari situ. Bahaya, dan situasi akan semakin memburuk jika pertengkaran malah pecah di tempat itu: depan pintu, yang juga disaksikan Bibi Amira.
"Lo ngapain, sih, marah-marah di situ?!" omel Alara tak tahan lagi, ketika mereka berdua sudah berada di tempat parkir apartemen.
"Ngapain? Kamu tanya aku ngapain marah-marah di situ? Alara, kamu sadar nggak, sih? Kamu masih berstatus pacar aku, tapi malah diam-diam nikah sama laki-laki itu? Sekarang biar aku yang tanya, apa maksudnya semua itu, ha? Kamu anggap apa hubungan kita selama ini?"
Alara berdecak. "Dan biar gue jujur sama lo, gue bukan cuma menjalin hubungan sama lo, Vik! Ada empat laki-laki lain selain lo yang statusnya juga pacar gue! Gue nggak cuma pacaran sama lo, Vik!"
__ADS_1
Mulut Ritvik terbuka tak percaya. Semua kosakata untuk membalas Alara pun mendadak lenyap dari otak.
"Kenapa? Sekarang lo diem? Nggak bisa jawab?"
"Dan Abir salah satu dari keempat pria itu?"
"Lo nggak perlu tahu," jawab Alara cepat.
"Jadi kenapa kamu nikah sama dia? Apa yang istimewa dari dirinya yang nggak ada di aku? Kurang apa aku selama ini? Aku udah jadi pacar siaga buat kamu, aku turuti semua keinginan kamu, tapi kamu malah tega khianatin aku dengan menikahi laki-laki itu? Kamu nggak sadar status kamu ketika memutuskan menikah dengan laki-laki itu?"
"Nggak ada hukum yang melindungi orang pacaran, Vik. Sampai saat ini, setahu gue, pacaran itu bukan hubungan yang dilindungi undang-undang. Jadi, gue nggak salah, dong, kalau tiba-tiba nikah sama orang lain," sahut Alara.
Ritvik geleng-geleng tak percaya menatap Alara. "Kamu bener-bener cewek kurang ajar, Alara! Nggak ada harga dirinya sama sekali sebagai seorang perempuan! Malu-maluin kaum perempuan! Perempuan macam apa yang menjalin hubungan langsung dengan beberapa pria sekaligus? Dasar cewek murahan!"
"CUKUP, RITVIK!"
"Abir?" gumam Alara ketika melihat ke arah sumber suara itu menggelegar.
"Alara memang salah, karena diam-diam menikah denganku tanpa memberitahumu atau memperjelas hubungan kalian. Tapi itu bukan berarti kamu berhak berkata-kata buruk tentangnya! Alara memang salah, tapi yang kau lakukan itu juga nggak benar! Hanya karena dia meninggalkanmu, kamu berhak berkata-kata semaumu padanya? Enggak! Sama sekali enggak!" tegas Abir.
Ritvik malah mengukir senyum sinis sambil bertepuk tangan. "Wah, wah! Suaminya membela istrinya yang murahan itu. Kau tahu dengan berapa pria istrimu itu punya hubungan? Oh, jelas tidak. Makanya kau bisa berkata-kata begitu. Atau … ya, kau sebenarnya tahu, dan malah sengaja menyuruhnya? Apa ya istilahnya …, ya! Menjual istrimu sendiri?"
BUGH!
Bogeman mentah mendarat di wajah Ritvik, hingga pria itu nyaris terjungkal.
"Berani kau berkata-kata buruk lagi tentang Alara, kukirim kau ke neraka sekarang juga!" Abir meradang. Dia tak terima Alara dikata-katai begitu.
"Lakukan saja, Tuan Abir yang Mulia. Pada kenyataannya, istrimu memang yang bersalah! Berhubungan dengan banyak pria sekaligus, cih! perempuan macam apa itu?"
"Begitu, ya," Abir memasang senyum—yang entah apa artinya, "jika perempuan yang punya pacar beberapa laki-laki sekaligus, maka perempuan itu buruk. Dan jika itu dibalik, laki-laki yang punya banyak pacar sekaligus, maka itu hal keren. Itu 'kan, yang mau kamu katakan?"
Ritvik terdiam.
"Dan pacaran. Setahuku, hubungan itu dibuat untuk mengakrabkan diri dengan seseorang yang disuka, mendekatkan diri, mengetahui karakter seseorang yang disebut 'pacar' itu, biar nanti setelah nikah sudah tahu sifat luar dan dalam masing-masing. Hanya karena nama hubungan yang adalah 'pacaran', tidak berarti mereka melakukan hubungan selayaknya suami dan istri, kan? Dan, ya, hubungan satu itu, memang nggak ada Undang-undang yang menjamin seperti halnya pernikahan. Jadi sekarang kamu mau apa? Pergi dari sini, atau lanjut ngomel-ngomel semalaman?"
***
__ADS_1