Deal, Kita Nikah!

Deal, Kita Nikah!
23. Perjanjian Menyebalkan


__ADS_3

Melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah keponakan suaminya, Zafar, setelah resmi bertunangan dengan Arshia, Amira ikut merasakan kebahagiaan yang sama. Kebahagiaan yang tak pernah muncul jika itu berhubungan dengan Alara.


Amira akui, dia tidak suka dengan keponakannya itu. Itu sudah berlangsung lama, jauh sebelum Alara lahir ke dunia ini. Ketidaksukaannya pun bukan tanpa sebab, tetapi karena pernikahan kakaknya dengan Miray yang memang tak pernah ia setujui.


Miray adalah teman satu kelasnya semasa sekolah dulu. Kedatangan Miray ke kelasnya, merebut posisinya yang semula adalah anak pintar kesayangan dan kebanggaan para guru. Ia tidak senang karena Miray tidak berasal dari keluarga kaya raya sepertinya. Ya, Miray masuk ke sekolah itu lewat jalur beasiswa. Bagian yang paling ia benci, bukan hanya para guru, tapi kakak dan teman-temannya, semua berada di pihak Miray.


Puncaknya adalah ketika kakaknya, Adi, mengutarakan niat untuk mempersunting Miray. Saat itu Amira mengatakan pendapatnya, yang mana dia sangat keberatan dengan hal itu. Akan tetapi, Adi tidak mau mendengar siapa pun dan tetap menikahi Miray.


Adi menentangnya yang semula adalah adik kesayangan, menentang Amrita selaku kakak pertama, bahkan orang tua mereka yang saat itu juga tak merestui pernikahan Adi dan Miray. Adi lakukan semua itu hanya demi Miray, si gadis miskin yang entah dengan sihir apa bisa merebut simpati semua orang.


Dan sekarang, setelah puluhan tahun berlalu, orang tuanya juga turut terkena sihir Miray. Mereka menyayangi Miray, menjadikan wanita itu sebagai menantu kesayangan. Meski, Miray tak mampu memberi keturunan seorang anak laki-laki untuk keluarga mereka. Wanita itu hanya mampu memberi satu keturunan, yaitu Alara, dan itupun setelah penantian panjang selama bertahun-tahun.


Dia sangat senang ketika tahu yang lahir ssetelah bertahun-tahun adalah seorang bayi perempuan, karena itu berarti, harta warisan keluarganya yang banyak itu takkan pernah menjadi milik Miray dan keturunannya. Dan yang paling penting, dia bisa mengendalikan keponakan perempuannya itu.


Namun, rupanya semua itu salah. Alara adalah gadis pemberani yang tak bisa diatur. Lupakan soal mengatur, keponakannya itu takkan tinggal diam jika ada satu orang saja yang menyenggol dirinnya atau ibunya. Alih-alih mengendalikan, dia dan kedua saudarinya justru selalu dibuat kalah telak oleh Alara.


Ditampar, Alara akan menampar balik. Dimarahi, Alara akan marah balik. Diejek, sudah pasti mengejek balik. Sungguh sifat yang sangat berkebalikan dengan kakak ipar yang tidak ia sukai itu, Miray, yang sedikit lebih mudah ditindas. Bahkan, seperti yang dilakukan Alara di hari pernikahannya waktu itu, membuat dia menghirup gas tertawa, hingga terus-menerus tertawa seperti orang gila.


Karena itu, sekarang Amira ingin membalaskan sakit hatinya terhadap Alara. Dengan menemukan apa penyebab keponakannya itu menangis berjamaah bersamanya Abir tadi, akan membuatnya mudah menghancurkan Alara.


***


Rangkaian acara yang melelahkan itu berakhir juga. Alara merasa tulang-tulangnya mau lepas semua akibat terlalu banyak melakukan pekerjaan. Ya, tahu sendiri 'kan, bagaimana dia yang 'banyak bicara, sedikit bekerja'. Jadi, pekerjaan yang sebenarnya tak terlalu banyak, serasa membuatnya mau mati berdiri.


Walau begitu, dia dan Abir tetap pulang ke apartemen mereka. Soal ini jangan ditanya mengapa, karena jawabannya sudah jelas: dia tidak ingin tidur seranjang dengan Abir, dan takut tertangkap karena tidak tidur berdua.


"Bir, kamar sebelah udah lo beresin belom?"


"Belom, lah. Orang gue dari tadi pagi juga pergi sama lo," jawab Abir. Pria itu sedang merebus air untuk membuat teh, sedang Alara tengah berselonjor kaki di sofa.


"Terus lo mau tidur di mana?"


"Ya di kamar, sama lo kayak semalam," jawab Abir enteng.


"Ih apaan, enggak! Cukup semalam aja kita tidur bareng, malam ini enggak lagi!" teriak Alara.


"Lara, please lah, apartemen ini juga milik gue, jadi izinin gue tidur di kamar," Abir memelas.

__ADS_1


"Enggak, Bir! Dalam perjanjian kita, nggak ada yang namanya tidur bareng satu ranjang. Jadi kita tetep tidur misah!"


Abir mendengus. "Nanti gue kabur sama cewek lain, lu culik lagi gue kayak waktu itu sama Sara," dumelnya.


"Ya dipikir aja, sih, Bir. Kita lagi honeymoon, tapi lu malah kabur sama cewek lain, gimana gue nggak kesel coba?"


"Tapi itu udah ada dalam perjanjian kita sebelum menikah, kita bebas mau jalan sama siapa pun, jadi, lo nggak berhak kesel!" terang Abir.


Alara menatap sengit laki-laki itu. "Dan sesuai perjanjian kita sebelum menikah juga, nggak ada yang namanya tidur bareng!'


"Iya, iya, oke. Gue ngalah! Gue tidur di luar!" seru Abir. "Daripada tidur sama lu juga gue tersiksa terus."


"Nah, itu pinter," Alara tertawa penuh kemenangan. "Eh, btw, biasanya jam segini ada Abang kurir nganterin paket dari si peneror itu, kenapa sekarang belum datang, ya?"


"Mungkin si peneror bingung mau neror lu pake apa lagi. Karena diteror pake apa pun percuma, elunya kagak takut," jawab Abir seraya mendudukkan dirinya di sisi Alara, bersama secangkir tehnya yang sudah siap diminum.


"Dasar suami nggak ada akhlak! Bikin teh bukannya istrinya dibikinin, ini malah minum sendiri," omel Alara.


"Biar gue ingetin, bikinin teh dan semacamnya itu nggak ada dalam perjanjian kita. Oke?"


Alara mendengus. "Ya udah, gue mau tidur."


"Apaan?"


"Besok lo sibuk, nggak? Gimana kalau kita ke makam Sara?"


"Memang lo tahu di mana makamnya?"


Abir menggeleng. "Gue bukan peramal. Gue tahu Sara udah nggak ada juga dari lo."


"Bir, Bir, kalau Sara udah nggak ada, trus siapa dong yang teror kita?"


Abir menarik napas panjang, meletakkan cangkir teh yang sudah kosong itu ke meja depan mereka, kemudian menghadap Alara. "Mungkin itu cuma orang iseng."


"Iseng apanya? Udah dua kali kita dapat paket isinya aneh-aneh, orang iseng nggak mungkin segabut itu," Alara tak percaya. Bagaimanapun, paket yang datang dua hari berturut-turut itu jelas bukan pekerjaan orang iseng yang gabut.


"Ya udah, gini aja, kita tunggu malam ini, ada paket ketiga, nggak. Kalau ada, berarti orang itu memang niat neror kita. Tapi kalau nggak ada, berarti itu cuma orang iseng yang lagi gabut aja," ujar Abir.

__ADS_1


Alara manggut-manggut. "Oke. Gue setuju. Dan gue yakin, paket-paket itu bukan dari orang iseng, tapi orang yang memang niat neror kita."


Setelah saling berunding menunggu kurir datang, Abir dan Alara duduk bersebelahan, menatap lurus ke arah pintu, sambil bertopang dagu. Entah mereka yang sangaja abai atau memang tidak sadar hari yang sudah larut malam. Kurir mana yang mau repot datang sambil membawa barang-barang tak berguna itu?


Baru lima menit berlalu, Alara sudah menguap berkali-kali karena diserang rasa kantuk. Tentu saja, gadis itu memang paling tidak betah terjaga lama-lama dalam keadaan diam.


"Bir, lo jaga sendiri aja di sini, ya? Gue ngantuk banget," pinta Alara sambil sekali lagi menguap.


"Yang kekeh akan ada Abang Kurir datang siapa? Elu, kan? Jadi stop ngantuknya, tunda, lanjut nanti aja setelah dapat paket yang lu tunggu-tunggu itu," balas Abir.


"Atau gue tidur di sini aja kali, ya? Iyalah, tidur aja sambil nunggu. Lagian tempatnya juga luas."


"Hey!" seru Abir saat Alara baru menata tempat.


Alara menatap Abir. "Kenapa?"


"Kalau itu kamar milik lo, artinya sofa ini milik gue. Jadi, lo nggak boleh tidur di sini. Itu tercatat di perjanjian kita sebelum menikah," jelas Abir.


Sekarang Alara ternganga. "Perjanjian unfaedah! Perjanjian sialan!" makinya.


Abir hanya mengedikkan pundak sambil menggeleng. "Perjanjian itu dibuat bersama Nyonya Alara Aarunaya."


"Ya udah, gue nyerah. Sekarang gue mau tidur. Dan ya, lo nggak boleh masuk!" seru Alara sembari menunjuk Abir.


Abir cuek saja. Dia malah membaringkan dirinya karena sofa itu akhirnya kembali luas setelah Alara pergi.


Tiga langkah sebelum Alara sampai di kamar, bel berbunyi beberapa kali, yang spontan membuatnya berbalik kembali menghampiri Abir.


"Itu orangnya, Bir," bisik Alara seraya menunjuk ke pintu di mana bukan hanya bel yang berbunyi, tetapi juga ketukan tidak sabar beberapa kali terdengar.


"Lu apa gue yang buka?"


"Lu aja."


"Oke." Menuruti kata Alara, Abir bangkit. Berjalan perlahan ke arah pintu, sambil berkomat-kamit membaca doa atau apa saja demi menyiapkan mental melihat sosok tersebut.


Abir menarik gagang pintu secara perlahan. Setelah terbuka 35 derajat, dia tarik cepat-cepat, dan tampaklah sosok di hadapannya yang membuat kedua bola matanya terbelalak lebar.

__ADS_1


***


__ADS_2