
"Bagaimana ini bisa terjadi? Ha? Bagaimana?! Bagaimana bisa suamiku kecelakaan bersama perempuan lain?!" protes Alara pada para polisi di hadapannya.
Para polisi itu saling melempar pandangan satu sama lain. Bagaimana bisa mereka tahu soal suami perempuan di hadapannya ini kecelakaan dengan perempuan lain? Mereka juga hanya menemukan mereka berdua yang kecelakaan.
"Maaf, Nyonya, kami menemukan mereka berdua dalam keadaan kecelakaan bersama, kami juga belum tahu bagaimana awalnya," tutur salah seorang petugas polisi.
"Kita tunggu mereka sadar untuk menanyakannya," tambah polisi yang lain.
Alara berdecak. Sekarang dia tak bisa tenang sebelum dokter yang menangani Abir dan Alisha keluar sambil membawa hasil. Dan semoga, hasil yang dibawa tidak mengecewakannya. Meski itu mustahil; dia sudah kecewa dari sekarang. Sekali lagi Abir mengecewakannya.
Harapannya mengetahui apa yang terjadi akhirnya terkabul. Seorang dokter keluar dari sana bersama beberapa perawat. Alara cepat-cepat menghampirinya.
"Bagaimana keadaannya, Dok? Abir baik-baik saja, kan?" serang Alara pada dokter setengah baya itu.
"Alhamdulillah. Mereka bertiga selamat," jawab Dokter itu.
Alara mengernyit. Tiga? Ada siapa lagi yang ada bersama mereka?
"Bisa jelaskan apa maksudnya tiga, Dok?" tanya Alara lagi.
"Ya ... tentu saja ayah, ibu, dan bayi di dalam kandungan perempuan itu," jelas Dokter.
Deg!
"Ba-bayi?" tanya Alara memastikan.
"Iya, bayi. Wanita itu kan sedang mengandung, usia janinnya 7 minggu," jelasnya lagi.
Sekarang dunia Alara rasanya runtuh. Kakinya melemas hingga ia memerlukan sesuatu untuk berpegangan agar tidak jatuh.
Dia yang salah dengar atau dokter itu yang mengerjainya? Dia bilang bayi? Bayi? Bayi siapa yang dimaksud?
"Apa Anda saudara korban?" tanya dokter itu.
Alara bergeming. Dia terlalu lemas bahkan hanya untuk mengangguk. Rasa sakit, tak percaya, dan marah menyerangnya di saat yang bersamaan. Jika hatinya ini diibaratkan dengan sebuah kaca, maka kaca itu sudah hancur berkeping-keping dan siap menusukkan pecahan-pecahan itu ke objek yang menyakitinya.
"Nona, Anda baik-baik saja? Mereka berdua baik-baik saja. Sebentar lagi juga akan sadar," ucap dokter itu lagi.
Alara mengusap kasar satu buliran bening yang baru saja mengalir di pipinya. Dengan berapi-api ia menatap dokter di depannya itu. "Boleh aku menemuinya?"
__ADS_1
"Boleh, tapi---" Dokter itu tak melanjutkan kalimatnya sebab Alara sudah lebih dulu menerobos masuk.
"ABIR! BANGUN LO, BIR!" teriak Alara kencang-kencang, hingga membuat para polisi dan dokter tergopoh-gopoh masuk.
"BANGUN LO, SIALAN!" bentak Alara sambil mendorong-dorong dada Abir yang masih tak sadarkan diri.
"Nona, apa yang kau lakukan? Dia masih belum sadar," ujar dokter itu.
"Lalu?" sahut Alara tegas. "Aku akan membangunkannya, atau kubuat saja dia tidur selamanya. Bangun, nggak?! Bangun!"
Alara kembali mendorong-dorong Abir yang masih nyenyak tidur, ah, pingsan lebih tepatnya.
"ABIR! BANGUN GAK LO?!" teriak Alara sekeras-kerasnya.
Para polisi dan dokter itu tidak melakukan apa pun karena melihat jemari Abir bergerak, disusul dengan kedua matanya yang terbuka lebar-lebar. Pria itu berkedip-kedip beberapa kali untuk menyesuaikan dengan keadaan. Namun, Alara tampaknya tak mau memberikan waktu lama-lama untuk Abir loading. Perempuan itu langsung memukul lagi dada Abir hingga pria itu tercengang.
"Lara ... ada apa?" tanya Abir tak mengerti.
"Ada apa? Lo tanya ada apa? Lo punya otak nggak sih, Bir?! Lo bilang lo lagi ada kerjaan ke luar kota, tapi ternyata lo lagi jalan sama selingkuhan lo! Kenapa, sih, lo seneng banget ngecewain gue?! Salah gue apa sama lo? Selama ini, gue udah berusaha jadi istri yang baik buat lo, gue lakuin semuanya yang sebenernya nggak gue suka, itu buat siapa? Buat lo! Tapi ini balesan lo ke gue? Lo selingkuh sama adek sepupu gue sendiri!"
Abir tampak tak bisa berkata-kata. Mulutnya hanya terbuka, entah masih belum mengerti keadaan di sekitarnya ini atau tidak tahu harus membalas bagaimana.
"Lara, apa yang lo maksud? Gue nggak ngerti," ucap Abir yang membuat Alara membuang muka dengan geram.
"Nggak ngerti?" tanya Alara dengan suara tenang. "Nggak ngerti, nggak inget, atau alasan?" lanjutnya.
Abir menggeleng kebingungan. "Gue nggak ngerti apa yang lo maksud, Ra," katanya dengan jelas.
Alara memejamkan mata, menarik napas sedalam-dalamnya dan mencari sedikit kesabaran. Dia tidak mau jika pria yang masih berstatus sebagai suaminya ini akan berakhir detik ini juga di tangannya.
"Lara ..." panggil Abir pelan. "Ada apa?"
"Sejak kapan hubungan lo sama Alisha dimulai? Apa sejak kita berantem waktu itu? Atau bahkan sejak setelah kita nikah? Sejak Alisha sama Bibi Amira nginep di tempat kita, dan lo ngomong kalau lo terkesan sama Alisha? Apa sejak itu?" cecar Alara dengan nada tenang. "JAWAB, ABIR!" bentaknya kemudian karena pria itu terus diam.
"Hubungan apa? Sama Alisha apa? Ra, please, lo lagi bahas apa, sih? Hubungan, selingkuh, ada apa?" Abir kelihatan bingung sendiri.
"ALISHA LAGI HAMIL ANAK LO! PUAS LO SEKARANG?!" tandas Alara. Pada akhirnya dia tak bisa mengendalikan emosinya atau berbasa-basi sedikit saja.
Mulut Abir menganga lebar. Kedua matanya membulat dan percaya. Tetapi tak ada satu patah kalimat pun yang keluar dari mulutnya.
__ADS_1
"Sejak kapan itu terjadi, Bir? Iya, gue tau pernikahan kita ini atas dasar kompromi dan bukan cinta. Iya, gue tau gue belum bisa jadi istri yang sempurna buat lo. Dan iya, Alisha lebih sempurna dalam semua hal dibanding gue. Tapi kenapa lo harus selingkuh dari gue, Bir?! KENAPA?! Oke, sesuai kesepakatan kita sebelum nikah dulu, kita bebas jalin hubungan sama siapa aja, tapi bukannya gue juga udah jelas-jelas bilang JANGAN NGEJALIN HUBUNGAN SAMA PEREMPUAN DARI KELUARGA GUE! Cari orang lain bisa, kan? Seenggaknga gue nggak akan sesakit ini!" teriak Alara begitu marahnya.
"Kalau lo udah capek sama gue, udah bosen sama gue, mending bilang aja baik-baik. 'Ra, gue kayaknya udah nggak bisa lanjutin hubungan ini, deh. Kita udahan aja, ya?'. Nah, gitu kan enak didengernya! Daripada lo sok-sokan nunjukkin cinta ke gue, minta kita lanjutin aja semua ini, tapi ujung-ujungnya ketika gue udah mulai membuka hati, lo malah nyakitin gue kayak gini. Ini sakit, Bir! Sakit tau, nggak?!" lanjut Alara sedikit terisak dengan napasnya yang naik turun menahan emosi.
"Gue juga udah pernah bilang mending kita udahan aja, kan? Mungkin kalau kita udahan, lo bisa berhubungan sama Alisha karena gue juga nggak ada hak buat melarang, tapi lo mau kita lanjut, dan ini semua hasilnya? Mau lo apa sih, Bir? Lo punya masalah apa sama gue? Udah berkali-kali lo bikin gue kecewa, lo bikin gue sakit hati, lo nggak ngehargai semua yang udah gue lakuin. Berengsek banget lo, ya!" Alara mengangkat tangannya tinggi-tinggi siap mendaratkan pukulan di wajah pria itu, tetapi para polisi tadi cepat-cepat menahannya hingga tangannya tak jadi mendarat di wajah Abir.
"Ra, sumpah, gue nggak lakuin semua yang lo tuduhin. Gue beneran ke luar kota, tapi gue nggak sengaja ketemu Alisha di perbatasan di mana dia sangat membutuhkan bantuan. Gue pun nolong dia dan entah gimana, kami mengalami kecelakaan. Gue nggak ada hubungan apa-apa sama dia, Ra! Lo percaya sama gue! Dan soal hamil ... gue juga nggak tahu kalau sepupu lo itu lagi hamil, gue nggak tau!"
"Bohong!" tukas Alara.
Dia kemudian melangkah pergi dari situ dengan hati yang hancur. Saat dia memergoki Abir berada di mall bersama Alisha waktu itu, dan setelah pria itu meminta maaf, semuanya masih bisa Alara terima. Tapi semua ini? Dan jangan lupakan, ada janin tak berdosa yang hidup di dalam tubuh Alisha. Sampai di sini dia berpikir, sudah seberapa semua itu terjadi? Apa langsung setelah pernikahan mereka? Ataukah tragedi mall itu adalah sebuah pertanda dari pengkhianatan yang kedua orang itu lakukan, tetapi Alara saja yang terlalu bodoh sampai tidak sadar?
Tapi kenapa ini semua harus terjadi? Dia sudah berusaha menjadi istri yang baik untuk Abir. Dia melakukan semua hal yang sama sekali tak disukainya hanya demi Abir, tetapi apa balasan yang pria itu berikan? Sebuah luka yang tertancap tajam di hati dan tak bisa diobati.
"KENAPA LO SEJAHAT INI SAMA GUE, BIR?! APA SALAH GUE SAMA LO?" teriak Alara sekeras-kerasnya ketika dia sudah berada di tempat parkir. Tidak peduli beberapa pasang mata menatapnya aneh. Emosi yang membuncah dalam dadanya ini minta dilampiaskan.
Selanjutnya Alara mengendarai mobilnya pergi dari situ. Dia mengebut sekeras mungkin yang ia bisa. Tujuannya adalah rumah Raisha, karena selain tempat itu, dia bisa ke mana?
Hanya Raisha yang mengerti masalahnya. Hanya Raisha yang tidak akan menghakiminya. Hanya Raisha sahabat mereka berdua yang masih ada. Dan hanya Raisha-lah yang saat ini ada dalam pikiran Alara.
Tok
Tok
Tok
"Shaa! Buka pintunya!" teriak Alara begitu tiba di depan pintu rumah Raisha. Dia tidak perlu banyak tata krama ketika datang ke sini, toh Raisha juga sudah hafal dan tidak mempermasalahkan semua ini.
Clek.
"Apa---Alara? Lo kenapa?" Raisha begitu terkejut melihat penampilan Alara yang seperti tidak layak lagi disebut sebagai manusia. Rambutnya acak-acakan, make up berantakan hingga menimbulkan kesan menyeramkan, juga jangan lupakan air mata yang mengalir hingga yang mengering di pipi.
"Sha," Alara langsung memeluk Raisha dan terisak-isak di sana. Hal itu membuat pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiran Raisha semakin bertambah.
"Ra, lo kenapa? Ada apa? Lo bertengkar lagi sama Abir? Abir bertingkah lagi? Apa lagi sekarang yang dia lakuin?" cecar Raisha khawatir.
"Gue akan ceritain."
***
__ADS_1