Deal, Kita Nikah!

Deal, Kita Nikah!
34. Ditangkap Polisi?


__ADS_3

Bagai setahun tidak melihat air, Abir dan Alara rasanya tidak ada niatan kembali. Mereka berenang, bermain air, menyelam, juga minum puas-puas. Bagaimana lagi? Tidak ada air selain ini. Toh air sungainya juga jernih dan menyegarkan. Selain salah satu wishlist Sara terpenuhi, mereka bisa puas berendam di air nan sejuk ini.


Sambil menyelam, Abir berusaha mencari ikan. Lumayan 'kan, untuk mengganjal perut yang kelaparan. Si Rakus Alara juga sudah sangat kelaparan—meski kemarin sudah makan banyak-banyak. Ingat, perutnya yang seluas samudra itu mana bisa kenyang.


Air yang jernih membuat Abir sedikit lebih mudah mendapat ikan. Sungai ini cukup banyak ikannya, besar-besar pula. Makan satu saja, dia yakin sudah kenyang—hanya saja itu tidak berlaku bagi Alara.


Lima ekor ikan lumayan sedang berhasil Abir tangkap. Ia kini tinggal membuat api untuk membakar ikan-ikan itu. Impian Sara camping di alam bebas benar-benar sudah tercapai. Apa yang ia dan Alara alami ini adalah tinggal di alam bebas yang sesungguhnya; makan dari alam, minum dari alam, tinggal di alam, membuat api juga dari alam.


"Bir, ntar kalau ikannya udah mateng, panggil gue, ya! Gue mau nyelam dulu seperti impian Sara," teriak Alara dari kejauhan.


Abir—yang tengah berusaha membuat api unggun—mendengus. Dasar keterlaluan! Di sini Abir susah payah membuat api, di sana Alara enak-enakan berenang.


"Eh, Bir, ntar kita nggak usah nginep, ya? Kita lanjut jalan aja, cari desa terdekat atau apa, cari layangan, trus diterbangin. Jadi, besok kita bisa pulang. Iya, nggak?" oceh Alara.


"Terserah," balas Abir tak semangat. Bagaimana mau semangat, kalau apinya saja tidak nyala-nyala. Sementara di sisi lain, cacing-cacing di perutnya sudah berdemo minta makanan.


"Bir, ikannya udah mateng belom, sih? Lama banget perasaan. Gue udah kelaperan, nih!"


Abir menatap tajam Alara yang berjarak 10 meter darinya. "KALAU LO LAPER, YA SINI MASAK SAMA GUE! JANGAN CUMA TERIAK!" sembur Abir terkesal-kesal.


"Enggak mau," kata Alara. "Gue lebih suka makan daripada masak. Lagian masak kan tugas lo, bukan gue."


Abir mencebik. Padahal di perjanjian mereka sebelum menikah, tidak tertulis yang Abir harus memberi makan Alara. Justru yang tertulis adalah: mereka makan masing-masing, masak sendiri-sendiri, dan tidak ada yang berkewajiban membuat masakan untuk satu sama lain.


Namun, demi kedamaian dunia dan segala isinya, Abir bersabar dan tidak protes tentang ini pada Alara. Karena protes pun, sama saja. Alara tidak akan mau disalahkan, yang ada malah Abir nanti yang rugi.


***


Puas menyantap tiga ekor ikan yang lumayan besar, Alara jadi punya kekuatan untuk kembali ke rumah pohon itu. Mereka bukannya tidak jadi pergi, tetapi bingung mau pergi ke mana. Hari bahkan sudah mulai sore, kalau mereka memaksa jalan dan tersesat, itu malah lebih merepotkan lagi, kan?


Maka, mereka memutuskan untuk bermalam sekali lagi di hutan ini. Malam ini sedikit lebih baik, karena mereka menemukan rumah pohon yang lumayan besar dan nyaman untuk ditempati berdua. InsyaAllah, mereka akan aman dari gangguan binatang buas seperti harimau kemarin.


Sementara Abir membersihkan rumah pohon, Alara duduk merenung di bawah pohon. Bukan merenung sebenarnya, ia hanya khawatir jika tidak bisa keluar dari sini. Akan bagaimana dia nantinya? Masa tinggal di sini selamanya? Lalu membuat peradaban baru? Ah, itu ide yang sangat buruk.


"LARA! LARA, SINI, DEH!"

__ADS_1


Teriakan heboh itu hanya membuat Alara mendongak malas. "Apaan? Jan bilang lo digigit laba-laba? Mau jadi spiderman?" cerocosnya malas. Dia memang tidak ikut bersih-bersih karena tadi melihat laba-laba besar di atas sana.


"Gue nemuin layangan!" seru Abir seraya memperlihatkan benda temuannya dari atas sana.


Alara melebarkan mata. "Serius? Itu layangan asli? Bisa diterbangin?!" tanyanya berbinar. 


Abir tampak mengangguk semangat. "Ini emang layangan asli! Ada benangnya juga di sini. Gue otw turun, kita nerbangin layang-layangnya sekarang."


Alara tidak tahu sudah selebar apa senyumannya saat ini. Pertama, menemukan rumah pohon; kedua, menemukan sungai dan bisa makan, mandi, menyelam, dan minum dengan puas; lalu ketiga, menemukan layang-layang plus benang. Sungguh, semesta rasanya berpihak pada Alara hari ini. Meski tersesat, dia merasa beruntung sekali.


"Ayo kita ke tempat yang tadi," ajak Abir dengan semangat seraya menarik tangan Alara.


Sama seperti Alara, Abir juga senang bukan main. Bagaimana tidak? Hari ini, apa-apa yang dia niatkan tentang wishlist Sara, semuanya terwujud. Itu artinya, dia dan Alara bisa pulang besok dengan tenang. Soal sisa-sisa mimpinya, bisalah diwujudkan nanti-nanti. Atau ini juga sudah cukup, toh tidak ada kewajiban untuk memenuhi semuanya, kan? Lagi pula, rasa-rasanya semua ini sudah cukup sebagai permintaan maaf.


"Lo pegang layangannya, gue yang tarik dari sana, oke?" ujar Abir memberitahu 'sistem menerbangkan layang-layang' pada Alara—walau kenyataannya Alara sudah tahu.


"Gue yang nerbangin aja gimana? Lo yang megang di sini?" Dan dasarnya Alara, dia tidak mau diatur ataupun diperintah.


"Ya udah, deh, terserah." Mau tak mau, Abir lagi yang mengalah. Ingat, demi perdamaian dunia dan segala isinya.


Karena semesta sedang berbaik hati dan mendukung, layang-layang itu langsung terbang tinggi, tanpa ada gangguan sama sekali. Sangat lancar, bahkan rasanya Alara tak perlu repot mengeluarkan tenaga.


"Yuhhuu~ terbang! Sara pasti seneng banget lihatnya dari surga!" sorak Alara kegirangan.


Dia berjalan ke sana-sini, memanjangkan dan terus memanjangkan benang layang-layangnya, membuat benda tipis dari kertas dan bambu itu semakin melayang tinggi.


"Ah, jadi kangen masa kecil! Dulu kita tiap pulang sekolah selalu main layang-layang ya kan, Bir. Sampe-sampe Mama marah karena tiap musimnya layangan, gue nggak pulang-pulang," celoteh Alara dengan senyuman terus mengembang.


"Andai kameranya sempet kebawa, Ra, kita bisa abadikan momen ini," balas Abir.


"Nggak apa-apa nggak diabadiin dalam bentuk foto, toh momen ini akan selalu ada dalam ingatan kita. Ya, nggak?"


Abir mengangguk dan tersenyum. "Pastinya. Dan Sara," dia mendongak ke atas, memandang ke langit luas yang biru tanpa awan, "impianmu sudah kami wujudkan, kau pasti senang, kan?"


"Pasti, dong, Bir! Kita sampe dikejar-kejar macan gara-gara menuhin impiannya dia. Sara pasti bangga sama kita," sahut Alara.

__ADS_1


Selanjutnya, mereka bergantian mengendalikan layang-layang. Mereka terus bermain, hingga hari berubah gelap. Ketika malam datang, mereka baru berhenti dan kembali ke rumah pohon yang jaraknya sekitar 100 meter dari sini.


***


Miray sedang memasak ketika ponselnya berdering nyaring, dan tertera nomor asing sedang memanggil. Tanpa rasa curiga sedikitpun, dia angkat panggilan itu.


"Dengan keluarga Nona Alara Aarunaya?"


Miray memandang heran ponsel itu saat nama Alara disebut, tetapi akhirnya dia hanya memilih berkata, "Iya, saya ibunya. Ada apa, ya?"


"Ibu bisa datang ke kantor polisi sekarang?"


"Hah? Kantor polisi? Ada apa? Dan ... siapa Anda ini? Kenapa memanggil saya ke kantor polisi?"


"Begini, Bu ... saya tidak bisa mengatakannya langsung lewat telepon. Anda bisa langsung ke sini untuk kami beritahu sesuatu tentang putri Anda."


"Baiklah. Saya ke sana sekarang." Miray meletakkan ponselnya dengan lemas. Ada apa lagi ini? Ulah apa yang Alara buat sampai-sampai dia dipanggil polisi?


Kalau dulu, para guru yang sering sekali menelponnya, mengadukan kalau Alara bertengkar, nakal, memukul anak orang, dan sebagainya. Tapi ini? Polisi? Alara putrinya ditangkap polisi?


"Ada apa, Ma?" tanya Adi yang terheran-heran melihat istrinya itu seperti lemas.


"Kita harus ke kantor polisi sekarang, Pa."


"Apa?! Kantor polisi?" pekik Adi. "Tapi kenapa? Ada apa, Ma?"


"Alara ... nggak tahu ada apa, tapi polisi bilang kita harus ke sana. Katanya ini menyangkut soal Alara," beber Miray.


"Alara kenapa, Ma? Alara baik-baik aja, kan?" Adi langsung cemas.


"Mama juga nggak tahu. Yang pasti, polisi nyuruh kita segera ke sana," kata Miray lesu. Membayangkan Alara sudah berulah yang macam-macam, itu membuat Miray lemas sendiri.


"Ya udah, ayo kita ke sana sekarang. Nggak apa-apa kalau Alara berulah, yang penting dia baik-baik saja," putus Adi cepat.


*****

__ADS_1


__ADS_2