Deal, Kita Nikah!

Deal, Kita Nikah!
44. Usaha Mengesankan Alara (1)


__ADS_3

Abir memutar otak untuk memberi kejutan pada Alara. Gadis itu sangat berbeda dari gadis-gadis lainnya, maka dari itu Abir juga sedikit lebih repot. Jika dia memberi kejutan yang biasa saja, maka jangan harap Alara bisa baper. Yang ada perempuan kejam itu akan ilfeel padanya, atau marah-marah, atau mengamuk sendiri.


Jadi, Abir harus bagaimana? Apa yang akan Abir lakukan agar si Kejam itu bisa jatuh cinta padanya?


Memang sial, membuat Alara jatuh cinta itu jauh lebih sulit dari tugas apa pun. Macan Tutul Himalaya itu mana bisa jatuh cinta padanya? Abir bahkan yakin, meski dia berhasil mengambil bintang pun, Alara tidak akan pernah mencintainya.


Seseorang, tolong beri Abir saran!


***


Alara membuka mata di hari yang baru ini. Rasanya ... berbeda sekali dengan hari biasanya. Jelas saja. Biasanya dia akan bangun setelah Abir hampir putus asa membangunkannya, tapi kali ini ... dia bangun sendiri tanpa ada yang membangunkan. Entah mengapa, Alara merasa kurang lengkap tanpa Abir.


Sekarang Alara juga jadi berpikir, apa Abir sudah bangun? Pria itu tidur di mana? Kedinginan atau tidak? Baik-baik saja atau tidak? Lalu ... apa penyebab Abir menghilang sehari semalam?


Jika boleh jujur, dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Alara khawatir pada sahabat sekaligus suaminya itu. Jangan-jangan benar, Abir sedang tidak baik-baik saja? Abir diculik, mungkin?


Ah, tidak. Memang siapa yang mau menculik Abir? Dia itu bukan anak kecil. Paling-paling Abir dapat pacar baru, makanya sampai melupakan Alara yang notabene adalah istrinya. Lagi pula, istri hanya statusnya. Nyatanya mereka berdua hanyalah teman sekamar. Meski Abir pernah bilang mencintai Alara, tapi bisa saja itu cuma bercanda, kan? Memang apa yang membuat pria itu jatuh cinta pada Alara yang kejam? Tidak ada. Dan, ya, mustahil sebenarnya.


"Udahlah. Mending gue mandi, sarapan, trus berangkat kerja. Ntar kalau Abir inget pulang, biar pulang sendiri. Ngapain juga repot-repot mikirin tuh cowok? Ga penting banget." Alara bermonolog sebelum melangkahkan kakinya ke kamar mandi.


Sekitar 30 menit kemudian, Alara siap berangkat ke tempat dia akan melakukan pemotretan. Tempatnya tidak terlalu jauh, dan hanya ini jadwalnya hari ini. Mungkin hanya sampai setengah hari, dia akan pulang.


Ketika Alara melangkah keluar pintu, lagi-lagi dia disambut dengan sebuah kotak seukuran kardus. Apa si Peneror Gabut itu berulah lagi? Tapi ... perasaan belum seminggu, kan?


Meski sebenarnya ogah sekali membuka bungkusan kotak itu, tapi Alara tetap membukanya. Bagaimana lagi, dia juga penasaran apa yang kali ini dikirimkan padanya oleh si Peneror Kurang Kerjaan itu. Dulu kepala boneka, jus stroberi, mi instan, lalu sekarang apa lagi?


Kening Alara mengerut saat mendapati isinya bukan dari barang-barang yang dia tebak. Isinya sebuah miniatur masjid yang mirip Taj Mahal. Persis seperti yang pernah Alara lihat di salah satu film.

__ADS_1


Alara mengambil benda itu dan memandangi setiap sudutnya dengan rinci. Di film, Hero-nya memberi ponsel pada Heroine yang dipasang sebagai pintu miniatur Taj Mahal itu, lalu dirinya akan mendapat apa? Ponsel juga? Tapi dia kan sudah punya ponsel.


Oh, ternyata surat. Ada gulungan kertas putih seukuran diameter pulpen yang dimasukkan ke dalam benda itu setelah Alara menarik pintunya. Hmm, jika ini semua ulah si Peneror Gabut itu, romantis sekali, ya, dia lama-lama? Shahjahan membangun Taj Mahal untuk istri tercintanya, dan Peneror itu mengirim miniatur Taj Mahal untuk Alara? Wah, apa jangan-jangan Peneror itu sebenarnya secret admirer Alara?


“Untuk Gadis Kejam-ku, Macan Tutul Himalaya-ku, Penyihir-ku. Lima menit setelah kau membaca pesan ini, akan ada paket yang datang untukmu. Paket itu berisi sebuah gaun yang sangat cantik, secantik dirimu yang kejam itu. Malam nanti, kau pakai gaunnya, ya? Akan ada taksi yang menjemputmu tepat pukul 8 malam ini, lalu membawamu ke sebuah tempat yang—aku janji—akan kau sukai. Oke, Penyihir? Kau harus datang, ya? Aku menunggumu. Dariku, pria yang selalu kau sebut Manusia Payah.”


Alara membelalak selebar-lebarnya setelah selesai membaca tulisan dalam gulungan kertas itu. Apa maksudnya? Macan Tutul Himalaya? Gadis Kejam? Penyihir? Tunggu, apa ini semua ulah Abir?


Tidak ada satupun manusia yang memanggilnya dengan sebutan Gadis Kejam, Macan Tutul Himalaya, dan Penyihir, kecuali Abir. Dan, ya, hanya Abir juga yang selalu Alara sebut Manusia Payah.


Kalaupun dari penggemar rahasianya, kan tidak mungkin merangkai kata-kata yang bahkan tidak ada romantis-romantisnya sama sekali itu. Penggemar rahasia mana yang menyebut seseorang yang dikaguminya sebagai 'Macan Tutul Himalaya, Gadis Kejam, dan Penyihir'? Seharusnya juga, kata-katanya romantis, bukannya deretan aksara yang ditulis seenak jidat seperti ini.


Jadi, sudah jelas. Ini ulah Abir. Manusia Payah yang lucunya adalah sahabat sekaligus suami Alara.


"Permisi, Nona. Ada paket untuk Anda."


Alara hampir tak percaya saat tiba-tiba ada kurir yang sudah berdiri di depannya. Apa ini sudah lima menit? Jadi yang tertulis dalam gulungan kertas itu benar?


"Eh, ehm, iya. Saya baik-baik saja. Omong-omong ... itu paketnya dari siapa, ya?"


"Dari Mr. A," jawab kurir itu sembari membawa kertas yang menempel di sana.


'Hilih, sok-sokan Mr. A-Mr. A, tulis aja Manusia Payah gitu apa susahnya?' dumel Alara dalam hati. "Oke, saya terima paketnya, ya."


"Oke, Nona. Tanda tangan di sini, ya."


Kurir itu mengucap terima kasih sambil memasang senyum ramah sebelum pergi. Alara sampai lupa berterima kasih kembali padahal sudah dibawakan paketnya. Tapi ya sudahlah, bukankah itu sudah pekerjaannya?

__ADS_1


Sekarang, Alara akan membuka bingkisan yang sudah dispoiler yaitu isinya gaun. Kejam-kejam begini, Alara suka pakai gaun. Lumayan lah, yang penting gaunnya nyaman dipakai, dia pasti akan suka.


Sebuah dress berwarna navy blue dengan lengan pendek dan panjang yang menjuntai sampai mata kaki. Modelnya simple, tapi cantik dan elegan.


"Bolehlah seleranya. Oke, Mr. A yang Payah, gue mau dateng malem nanti."


***


Abir menyeringai memandangi layar ponselnya. Dia sudah mendapat laporan dari orang suruhannya, bahwa Alara sudah menerima surat beserta paket yang dia kirimkan. Dia tebak, Alara akan datang. Sebenarnya, itu keyakinannya.


Semalam mendadak saja Abir mendapat sebuah ide untuk membuat Alara terkesan; ide yang berasal dari wish Sara yang belum sempat dia wujudkan. Dengan menggunakan wish itu sebagai ajang pertemuannya dengan Alara setelah lebih dari 24 jam menghilang, Abir akan langsung dapat 2 keuntungan. Pertama, wish Sara terwujud, dan kedua, Alara mungkin bisa dibuat terkesan.


Drrrt....


"Iya, halo?"


"Pak Abir, tempatnya sudah dihias sesuai permintaan Anda. Semuanya juga sudah disiapkan," ujar seseorang dari ujung telepon.


"Baguslah. Pastikan tidak ada satupun yang kurang, ya?"


"Siap, Pak. Semua akan berjalan sesuai dengan kemauan Anda. Saya jamin, Bu Alara akan terkesan dengan semua ini."


Abir terkekeh pelan. "Baiklah. Terima kasih, ya."


"Sama-sama, Pak."


Abir memutus sambungan teleponnya tanpa berkata-kata lagi. Hanya senyuman lebar yang sejak tadi ia perlihatkan. Entahlah, dia merasa ... dia sangat-sangat bahagia dan sangat tidak sabar untuk acara nanti malam.

__ADS_1


Satu yang Abir harapkan: semoga Alara menyukai semua yang telah dia siapkan, dan ... terkesan dengan semua ini.


*****


__ADS_2