
Abir akhirnya berhasil membaringkan Alara ke tempat tidur mereka setelah membiusnya. Ini mungkin memang kedengaran kejam, tetapi Abir tak punya cara lain. Obat bius itu kebetulan ada di mobilnya—setelah dulu pernah hampir dipakai untuk membius Bibi Amira, tapi batal.
Tingkah Alara yang seperti dalam pengaruh obat dan tak bisa dikendalikan, akan berakhir fatal bila dibiarkan. Abir benar-benar tak mau ambil risiko nanti Alara marah besar padanya—meski jelas-jelas itu karena ulah Alara sendiri. Bahkan gara-gara itu, Abir kini harus mencari pelampiasan lain.
Setelah memastikan Alara benar-benar nyenyak dan mungkin tidak akan bangun untuk beberapa jam kedepan, Abir keluar dari sana. Tidak tahu dia akan pergi ke mana, yang penting Alara jauh-jauh sebentar darinya.
***
Alara menggeliat pelan kala merasa sinar matahari menggelitiki hidungnya. Kepalanya pusing. Badannya pun terasa remuk semua. Dia mengerjap beberapa kali, sampai akhirnya seluruh nyawanya terkumpul kembali dan matanya bisa memandang dengan jelas ke sekitar.
"Abir ke mana?" Kata-kata itu yang pertama terlontar dari mulutnya saat mendapati ruangan ini kosong. Ruangan yang Alara tahu adalah kamarnya dan Abir ini, tidak dihuni oleh sosok lain selain dirinya sendiri.
Perlahan, Alara bangkit dan mulai menginjakkan kakinya ke lantai yang dingin. Dia berjalan perlahan-lahan keluar. Namun, nihil. Dia tidak mendapati Abir berada di sini. Biasanya, pria itu akan ketiduran di sofa depan TV dengan keadaan TV menyala menontonnya. Namun, kali ini ruangan itu sepi.
"Abir ke mana, sih? Pagi-pagi udah ngilang aja. Nggak biasanya banget," gumam Alara keheranan.
Ketika pandangannya jatuh ke meja makan, tidak dia dapati sarapan atau minimal segelas susu pun di sana. Padahal biasanya jika Abir sedang gugup mau pergi, pria itu akan meninggalkan setidaknya segelas susu dan semangkuk sereal untuk Alara. Apa pagi ini Abir terlalu gugup sampai tak sempat membuatkan apa-apa untuk Alara?
Bagaimanapun, baiklah, lupakan sejenak soal Abir. Alara ingat dia ada jadwal pemotretan pagi ini. Kemarin dia sudah cuti, jadi hari ini dia harus kembali bekerja lagi.
Dua langkah Alara beranjak ke kamar mandi, kejadian malam tadi mengganggu ingatannya. Tunggu, dia semalam sempat minum-minum dan ... mabuk, kan? Oh, sial, apa jangan-jangan Alara bertingkah bodoh lagi saat berada dalam pengaruh minuman itu?
Tapi kalau benar, lalu ke mana Abir pergi sekarang? Seharusnya Abir menjaganya sampai dia sadar, kan? Ini kenapa malah main menghilang saja?
Jika Abir menghilang, itu berarti Alara tidak melakukan hal konyol, kan? Berarti semalam Alara masih bisa mengendalikan dirinya dan tak membuat Abir kerepotan.
Baiklah. Kalau itu yang terjadi, maka sekarang Alara bisa pergi bekerja dengan tenang. Mungkin Abir pergi duluan karena ada meeting dadakan.
***
"Gue nggak tahu harus gimana, Sha. Alara juga nggak akan pernah bisa cinta sama gue. Mungkin jalan terbaik ... kami pisah aja," ungkap Abir lemah. Dia baru saja menceritakan masalahnya dengan Alara pada Raisha—masalah tentang teror, pernikahan sistem rumah kos, dan lainnya.
Abir memilih Raisha adalah karena gadis itu sahabatnya dan Alara. Raisha tidak akan memihak salah satu dari mereka; Raisha gadis yang netral dan adil, itu yang Abir ketahui dari sifat sahabatnya tersebut.
__ADS_1
Sisanya, Abir yakin Raisha akan bisa memberi saran yang baik untuk hubungannya dan Alara kedepannya. Memang, mungkin kedengaran tidak baik menceritakan permasalahan pribadi pada orang lain, tapi pada Raisha? Raisha rasanya bukan orang lain. Dia sahabat Abir dan Alara sejak belasan tahun lalu.
"Katanya lo cinta sama Alara, kenapa malah mau pisah? Denger, ya, Bir, bukannya gue mau ngehakimi ataupun sok tahu. Tapi, mendingan masalah ini dibicarakan baik-baik sama Alara. Cinta itu butuh waktu, Bir, atau kalau enggak, Alara mungkin juga udah ada rasa sama lo, cuma dianya yang nggak sadar aja. Lo tahu sendiri 'kan, gimana sifat Alara? Dia nggak percaya cinta itu ada. Kalaupun dia merasakan tanda-tanda jatuh cinta, dia pasti nyangkanya itu hal lain."
"Jadi," Abir menatap Raisha, "gue harus gimana?"
"Bikin Alara jatuh cinta, atau menyadari rasa itu."
Abir mengernyit. "Caranya?"
***
Satu hari telah terlewati. Sekarang, hari sudah hampir malam. Alara harus pulang. Pemotretan hari ini berjalan lancar dan cepat.
Ketika Alara tiba di apartemen, pintu tempat itu tertutup rapat. Seperti Abir tak pernah kembali atau mungkin belum pulang. Bahkan saat dibuka, di dalamnya masih seperti pagi tadi. Tak terlihat seperti habis ada seseorang yang masuk ke sana dan memindah beberapa barang saja.
"Abir nggak pulang? Dia ngilang ke mana, sih?" gumam Alara bingung sendiri.
"Lo ke mana, sih, Bir? Nggak biasanya banget. Apa jangan-jangan ... lo sekarang lagi selingkuh? Ish, harusnya kalau mau selingkuh, tuh, bilang dulu ke gue, lupa apa sama perjanjian waktu itu? Gue juga mau menilai gimana selingkuhan lo kali, Bir," oceh Alara.
Dari dugaan perselingkuhan itu, Alara hanya takut Abir sekarang dalam masalah; Abir kenapa-napa; Abir dalam kesulitan. Ya, itu yang mengganggu pikiran Alara saat ini. Tidak tahu mengapa, tapi takut saja kalau Abir memang saat ini kenapa-napa.
"Telpon siapa, ya, kira-kira? Nah, kak Arshika aja. Barangkali kak Arshika tahu, Abir sekarang ini masih di kantor atau di rumah mereka." Alara bergegas mengotak-atik ponselnya, mencari nomor kakak iparnya itu, kemudian menghubunginya.
"Iya, Alara? Ada apa?" jawab seseorang dari ujung telepon.
"Kak, emm ... aku mau tanya, Abir masih di kantor, nggak?"
"Abir? Loh, kata Aditya, Abir nggak masuk hari ini."
"Nggak masuk kantor?" ulang Alara.
"Iya. Aditya sendiri yang bilang. Katanya dia sampai kewalahan gara-gara Abir nggak masuk hari ini."
__ADS_1
"Oh, gitu, ya. Ya udah, Kak, makasih."
Alara berdecak. Sekarang jika Abir tidak ke kantor, lalu ke mana perginya pria itu? Apa dia benar-benar diculik orang? Ah, tapi itu sama sekali tidak lucu. Abir bukan anak kecil, penculik mana coba yang mau?
"Raisha. Gue telpon dia aja kali, ya? Oke, deh." Sekarang Alara mencari nomor sahabat mereka itu. Mungkin, Raisha tahu di mana keberadaan Abir. Abir jika tidak memberitahunya pergi ke mana, mungkin saja pria itu memberitahu Raisha, kan?
"Halo, Ra? Tumben lo inget gue. Ada apa?" sambut suara riang Raisha dari seberang sana.
"Lo tahu di mana Abir, nggak, Sha?" Alara langsung bertanya to the point. Sungguh dia malas untuk berbasa-basi dulu.
"Lah, kok lo tanya sama gue, sih? Lo kan istrinya, malah tanya suami lo ke orang lain. Gue juga mana tahu Abir ada di mana. Emangnya kenapa, sih? Dia ngilang apa gimana?"
"Iya," aku Alara. "Sejak gue bangun tadi pagi, Abir udah nggak ada di apartemen. Gue kira, dia lagi ada meeting dadakan kayak biasanya, tapi kata kak Arshika dia malah nggak masuk ke kantor."
"Lah, jadi Abir ke mana, dong? Masa diculik orang? Eh tapi ... semalam masih ada, kan?"
"Iya. Semalam kami kan habis dari pesta. Seinget gue, gue habis minum-minum, terus pala gue pusing banget, habis itu kami pulang. Gue nggak inget apa gue mabuk apa enggak, yang pasti, Abir udah ngilang pas gue bangun pagi-pagi tadi."
"Terus Abir ke mana, dong?"
"Nah, itu. Gue bingung mikirnya ini. Apa jangan-jangan semalam gue berulah yang macem-macem, ya? Makanya sekarang Abir kesel terus kabur? Atau ... gue udah bikin orang asing marah sama gue, makanya orang asing itu sekarang nyulik Abir?" duga Alara, tidak peduli jika semua ini kedengaran konyol.
"Masa lo nggak inget apa-apa, sih, Ra? Dikit aja, lo ngapain semalam pas mabuk, pas perjalanan pulang?"
Alara menggeleng. Sadar Raisha tidak bisa melihatnya, dia berkata, "Enggak, Sha. Gue nggak inget apa-apa sama sekali."
"Waduh, kacau kalau gitu mah. Siapa tahu Abir sekarang ngilang gara-gara ada sangkut-pautnya sama kejadian tadi malam. Coba, deh, lo pikir-pikir lagi. Mungkin jawaban dari pertanyaan lo ada di kejadian malam tadi."
Alara menghela naps panjang. "Ya udah, deh. Iya, gue pikirin dulu. Thanks sarannya."
Alara setengah melempar ponselnya ke sofa. Ia lalu duduk di sana sambil bertopang dagu. Kejadian apa yang terjadi semalam? Dia bahkan tidak ingat apa-apa. Dia hanya ingat kepalanya sangat pusing, mereka pulang, lalu bangun-bangun dia sudah berada di kamar. Sekarang, kejadian apa semalam yang mungkin membuat Abir melarikan diri?
*****
__ADS_1