Deal, Kita Nikah!

Deal, Kita Nikah!
26. Alisha yang Manis


__ADS_3

Abir menutup pintu tanpa semangat setelah Alara masuk. Ekspresi keduanya pun berbanding terbalik; Abir tampak kesal, sementara Alara senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Begitu Abir menjatuhkan diri di tempat tidur, Alara cepat-cepat menyusul dengan duduk di sebelah pria itu.


"Abir, makasihhh," ucapnya tanpa memudarkan senyumnya. "Sumpah, lo tadi keren banget! Rasa-rasanya ini pertama kalinya lo bisa se-gentleman itu. Cara lo ngebela gue, cara lo bikin Ritvik nggak bisa ngomong apa-apa, sumpah! itu keren bang---"


"Diam!" potong Abir setengah berteriak.


Alara berkedip-kedip polos. "Kenapa?"


Abir berdecak. "Masih tanya kenapa? Lara, gue udah berapa kali bilang sama lo? Putusin semua pacar-pacar lo itu! Tapi nggak, bukannya dengerin gue, lo malah tetep menjalin hubungan sama mereka semua. Sekarang lihat sendiri, apa yang terjadi karena sifat maruk lo yang pacarin semua macam cowok itu?! Pernikahan kita hampir hancur, Ra!"


"Tapi dalam perjanjian kita---"


"Iya, gue tahu, gue inget! Tapi paling nggak, lihat dulu kondisinya! Sebelum sama sesudah kita nikah itu beda banget, Ra! Bukannya gue ngelarang, tapi ya lo bisa lihat sendirilah, gimana kejadiannya. Dia datang tanpa diundang, ngamuk-ngamuk nggak jelas, dan ya, ada bibi lo di sini. Kalaupun nggak ada bibi lo, tetep aja, apa kata orang? Ada cowok malam-malam datang sambil ngamuk, ngeklaim lo itu pacarnya, untung aja dia bisa diatasi, kalau enggak?"


"Kan ada lo, lagian gue juga nggak minta si Ritvik ke sini. Apa salah gue kalau dia ke sini sambil ngamuk?"


"Salah lo adalah, nggak mau putusin dia!"


"Hey! Itu bukan salah gue, lah! Kan sesuai perjanjian, kita nikah cuma biar nggak ditanyain terus kapan nikah, dan adek lo juga bisa langsung nikah tanpa perlu neror lo biar cepet nikah!"


"Iya, oke, terserah! Dan seperti perjanjian kita, lo bebas mau berhubungan sama siapa pun, dan kalau lo dapat masalah dari pacar-pacar lo itu, GUE NGGAK MAU BANTUIN LAGI, inget itu! Dan, ya, seperti perjanjian kita juga, jangan salahin kalau gue melakukan hal yang sama!" seru Abir sembari menunjuk Alara, lalu keluar dengan setengah membanting pintu.


Amira yang baru bersiap tidur, mengurungkan niatnya ketika melihat suami keponakannya itu keluar dengan keadaan seperti marah.


"Mau ke mana, Abir?" tanyanya hati-hati, karena suasana hati laki-laki itu sepertinya sedang buruk.


Abir berhenti sebentar. "Ada beberapa urusan di luar, Bi," jawabnya dingin.


"Oh, oke. Hati-hati, ya."


Abir hanya mengangguk, lalu lanjut berjalan keluar.

__ADS_1


Sementara Amira, tentu saja masih terbengong-bengong di tempat. Tadi, laki-laki itu dan keponakannya menjelaskan bahwa kedatangan lelaki bernama Ritvik adalah murni kesalahpahaman; dia bukan kekasih Alara seperti yang dikatakannya. Namun, tentu saja Amira tidak percaya begitu saja. Amira bukan orang bodoh. Dia juga tahu sifat keponakannya itu yang suka sekali ganti-ganti pacar. Bahkan, dia melihat dengan jelas Alara masih chattingan dengan pacar kelimanya sehari sebelum menikah. Maka, tak heran jika setelah menikah pun, keponakanya itu masih punya pacar lain.


Hanya saja, semua itu tak menjawab kebingungan Amira tentang menangisnya kedua orang itu tadi.


Tapi ... sebentar, Amira punya satu pertanyaan lagi. Jika pernikahan Alara dan Abir hanyalah kompromi belaka, lalu mengapa Abir kelihatan marah setelah kedatangan salah satu kekasih Alara yang akhirnya berhasil pria itu usir? Apa seperti dalam cerita novel, perjanjian berubah jadi cinta? Kalau begitu, lalu apa yang membuat kedua pasangan itu menangis tadi?


***


Satu jam sudah Abir pergi. Satu jam itu pula, Alara tak bisa berhenti mondar-mandir kesana-kemari menunggu pria itu pulang. Sebenarnya, Alara tidak mengerti, kenapa dia dan Abir sering sekali bertengkar setelah menikah? Padahal dulu-dulu, mereka tidak pernah begini. Memang ada sedikit pertengkaran, tapi tidak sesering ini.


Abir lebih mudah marah setelah mereka menikah. Uring-uringan terus, bahkan untuk hal kecil sekalipun. Alara rasa, Abir sudah berubah. Tapi pertanyaannya, kenapa? Apa Abir cemburu karena dia masih punya tiga pacar yang masih belum diputuskan? Jadi, Alara harus mengakhiri hubungan dengan mereka semua? Kalau begini ceritanya, apa perbedaannya pernikahannya dengan pernikahan-pernikahan lain? Apa perbedaannya dia dan Abir dengan pasangan-pasangan lain?


Tapi ... ya sudahlah. Alara mengalah saja. Dia juga masih belum siap andai dapat masalah dari semua pria itu. Dan, lagi pula Bibi Amira masih di sini. Dia tidak boleh pura-pura bodoh dengan pura-pura tidak tahu apa tujuan wanita itu ke sini.


Alara mengambil ponselnya yang tergeletak di nakas, mencari aplikasi di mana dia selalu berkomunikasi dengan pacar-pacarnya itu, kemudian mengirim pesan pada ketiganya untuk mengakhiri hubungan mereka. Setelah itu, Alara blokir ketiga kontak tersebut tanpa menunggu balasan dari mereka. Tak lupa ia screenshot dan kirim ke nomor Abir.


"Udah selesai. Sekarang lo puas?" gumamnya sambil memandangi foto profil Abir.


Laki-laki itu tidak online. Alara bahkan tak tahu Abir bawa ponsel atau tidak. Abir itu memang konyol. Di zaman ponsel adalah segalanya bagi setiap manusia, maka itu tidak berlaku bagi Abir. Laki-laki itu mengklaim dirinya lebih tenang tanpa ponsel. Alara bahkan menebak, hanya Abir satu-satunya manusia di abad ini yang tak menganggap penting benda pipih itu.


***


Sudah satu jam Abir menyetir tak tentu arah. Mungkin memang tidak seharusnya dia marah-marah pada Alara tadi. Abir sungguh tak bermaksud begitu, dia hanya ... tidak senang saja Alara masih punya hubungan dengan lelaki lain, sementara dirinya tidak. Oke, anggap saja Abir egois. Karena nyatanya, hubungan ini tidak seimbang seperti yang telah mereka atur dalam perjanjian itu.


Mungkin, dia harus mencari sesorang juga untuk dijadikan kekasih—biar impas dengan Alara? Tapi masalahnya, Abir sedang tidak berminat menjalin hubungan dengan siapa pun. Tahu sendiri 'kan, punya hubungan dengan satu orang saja sudah merepotkan, apalagi cari yang lain?


Baiklah. Sudah cukup jalan-jalannya malam ini. Entah ditunggu Alara atau tidak, Abir tetap akan pulang. Suasana hatinya juga sudah membaik, jadi untuk apa keluyuran menjaga seluruh kota seperti orang pengangguran?


"Eh, itu kan sepupunya Alara? Siapa namanya? Emm ... Alisha, ya, Alisha," gumam Abir ketika matanya menangkap sosok mirip sepupu Alara, Alisha, sedang duduk sendirian di sebuah halte bus.


"Lagi ngapain Alisha duduk sendirian di situ malam-malam begini? Nggak takut ketemu penjahat apa?" gumam Abir terheran-heran.

__ADS_1


Kemudian, ia berhentikan mobilnya tepat di depan halte, tepat di depan Alisha duduk pastinya.


"Alisha, lagi apa di situ sendirian?"


"Eh, Kak Abir," Alisha berdiri. "Lagi ... mmm ... nyari Mami."


Abir mengernyit. "Bibi Amira?"


Alisha mengangguk.


"Ooh, Bibi Amira nginep di rumah kami. Katanya nggak mau pulang karena udah malam," jelas Abir.


"Di apartemen Kak Abir sama Alara?"


Abir mengangguk. "Iya. Memangnya Bibi Amira nggak bilang apa-apa ke kamu?"


Alisha menggeleng. "Enggak ...," jawabnya tertunduk.


"Ya sudah. Daripada kamu sendirian tengah malam begini, lebih baik ikut aku pulang. Sekalian nginep sama Mamimu."


"Enggak apa-apa memangnya, Kak?" Alisha bertanya seperti takut-takut.


"Memangnya kenapa? Kamu kan saudara Alara, berarti jadi saudaraku juga. Lagian ada Mami kamu juga di sana. Ya sudah, ayo naik."


Alisha mengangguk, sejurus kemudian mengikuti Abir masuk ke mobil yang terparkir dekat itu.


"Makasih, ya, Kak Abir," Alisha tersenyum manis menatap Abir.


Abir mengangguk. "Iya, sama-sama."


Alisha dan Alara, kedua gadis itu berbeda sekali. Alisha bahkan mengucap terima kasih untuk hal sekecil ini, tapi Alara? Lupakan saja. Kata 'terima kasih' itu tidak ada dalam kamus hidup Alara. Lalu perbedaan lainnya yang tampak oleh mata Abir, Alisha itu murah senyum, berbeda dengan Alara yang kejam dan galak. Alisha juga sopan, ramah, manis, dan selalu terlihat malu-malu. Menggemaskan.

__ADS_1


Dosa tidak, sih, kalau Abir ingin Alara bisa seperti Alisha?


...****************...


__ADS_2