Deal, Kita Nikah!

Deal, Kita Nikah!
48. Semuanya Berakhir


__ADS_3

Raisha tengah menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan Alara. Memang benar, Alara menginap di rumahnya. Entah sampai seminggu kedepan, atau pulang hari ini. Raisha juga hanya mau membiarkan dan tidak mau terlalu ikut campur.


"Gue mau pulang keknya, Sha," cetus Alara.


"Syukur alhamdulillah, beneran?" Raisha menanyakannya dengan semangat.


Alara mengangguk beberapa kali. "Maksudnya, gue mau ambil beberapa barang yang ada di sana," katanya sambil tertawa.


"Lah, kirain," Raisha memasang wajah datar. "Padahal mah pulang aja, kasihan juga si Abir, gimana kalau dia putus asa dan tiba-tiba gantung diri misal?"


"Bodoh!" rutuk Alara. "Mana ada pikiran Abir sesempit itu. Dan kalaupun iya, ya terserah, bukan urusan gue juga."


"Lah, syalan lo, ya? Lo itu istrinya, masa nggak peduli misal suami lo gantung diri?"


"Mau gantung diri di mana? Nggak ada kipas di sana," kata Alara datar.


"Ya ... kalau gitu mungkin lompat dari balkon, bisa aja, kan?"


"Hilih, nggak akan berani. Lo tahu sendiri Abir itu payah, kadang-kadang takut darah, lebay banget meski sakit dikit aja, mana mungkin berani lakuin itu?" Alara masih menyangkal setiap dugaan konyol Raisha. Baginya, mana mungkin saja Abir sampai melakukan itu. Sebodoh dan sekonyol apa pun Abir, tetap saja rasanya mustahil.


"Kalau gitu pasti minum racun!" duga Raisha lagi. Entah bagaimana otaknya dipenuhi cara-cara mengakhiri hidup.


"Nggak ada racun di sana," kata Alara masih datar.


"Kalau gitu obat nyamuk," balas Raisha.


"Udah, deh, Sha. Simpen aja cara-cara bundir itu buat lo sendiri. Lagian obat nyamuk rasanya pahit, Abir nggak akan doyan," kata Alara dengan yakinnya.


"Iya, deh, iya. Nyerah gue. Sekarang lo mau balik, kagak? Atau nggak jadi?"


"Balik, lah. Sekarang, tapi pertama-tama habisin dulu ini makanan," Alara menyenyir lebar. Jelas saja, yang namanya Alara, mana bisa menolak makanan.


***


Abir membuka mata ketika indra penciumannya mencium bau masakan yang begitu lezat. Sempat ia membayangkan semua ini ulah Alara, akan tetapi ia harus menerima kenyataan bahwa itu bukan pekerjaan Alara, melainkan Alisha.

__ADS_1


Semalam, gadis itu menginap di sini. Dia sedikit malas keluar dan mengantarnya pulang, jadi meminta agar sepupu istrinya itu untuk menginap. Tapi tenang saja, Alisha tidur di luar. Tentu saja itu karena kamar yang hanya berjumlah 2 yang mana satunya dipakai gudang. Lagi pula Alara juga sedang tidak berada di sini, jadi ... hmm Alara tidak akan tahu.


"Eh, Kak Abir udah bangun?" sambut Alisha dengan suara ramahnya.


"Iya, gara-gara nyium bau masakan kamu yang enak ini," timpal Abir terkekeh.


"Oh, iya. Ini aku masak karena kak Abir kan belum makan sejak semalam. Pasti laper banget, kan?"


Abir tertawa pelan seraya menarik kursi. "Tahu aja kamu."


Alisha tersenyum sembari menyajikan masakannya di hadapan Abir. Ada banyak macam makanan yang ia masak, bukan hanya sekadar nasi goreng dan telur mata sapi dengan segelas susu, tetapi ada ayam kecap, sayur sop, tempe goreng, tahu goreng, perkedel, dan sambal.


"Aku nggak tahu apa makanan kesukaan Kak Abir, jadi apa aja yang ada di kulkas aku masak, deh," kata Alisha sedikit canggung.


"Nggak pa-pa kok, Sha. Masak semuanya juga nggak pa-pa. Lagian Alara nggak bisa masak, sampai sering bahan-bahan makanan di kulkas pada layu," balas Abir.


"Jadi kak Alara belum bisa masak sama sekali?"


Abir menggeleng. "Paling-paling masak mi instan atau nasi goreng. Kamu tahu? Yang masak tiap hari itu aku," curhatnya.


Hal itu malah membuat Abir tertawa. "Biasa aja, Sha, nggak ada yang istimewa dari diri gue. Buktinya Alara aja masih ngeluh terus."


"Kak Alara kan memang orangnya gitu," timpal Alisha. "Oh iya, Kak, aku mau pamit pulang dulu, ya? Lagian ini juga udah pagi."


"Nggak mau sarapan dulu?"


"Nggak usah, nanti aku makan di rumah aja. Mami juga pasti udah masak banyak." Alisha beranjak mengambil tasnya yang ia taruh di kursi, kemudian keluar tanpa lagi Abir cegah.


Sebenarnya Abir mau membawa Alisha pada Alara; ingin menjelaskan semuanya dan agar Alara tidak marah lagi. Tapi mana mungkin juga ia mencegah-cegah Alisha terus untuk pergi? Yang ada dirinya malah dikira memiliki perasaan pada Alisha atau malah kegenitan.


Brak!


Abir terlonjak kaget saat pintu utama tiba-tiba dibanting. Hal yang lebih membuatnya kaget adalah itu kelakuan Alara. Alara pulang.


"Lara, lo ... beneran ini lo pulang?"

__ADS_1


Alara dengan wajah datarnya yang tak ramah hanya menatap Abir tanpa berkata apa pun. Detik selanjutnya pandangannya tertuju ke meja makan, di mana di situ sudah dipenuhi oleh berbagai macam makanan.


"Hmm---makanan ini ...," Abir kebingungan sendiri. Jika dia mengatakan semua ini masakan Alisha, Alara akan makin mengamuk.


"Alisha yang masak?" sahut Alara datar.


"Eng-enggak, kok. Gue sendiri. G-gue tadi nyari resep dan langsung praktek. Iya, gitu," jelas Abir sebisa mungkin tidak gelagapan, meski kegugupannya itu tetap saja terlihat jelas.


"Lo kira gue bodoh? Gue ketemu Alisha tadi di depan lagi nyari taksi. Dan dari mana dia kalau nggak dari sini? Nggak usah bohong, deh, Bir. Lo punya hubungan apa sama Alisha? Bilang aja kali, gue nggak pa-pa. Lo suka sama dia, kan? Oh, sekarang gue ngerti. Karena semalam gue nginep di rumah Raisha, itu artinya lo sendirian kan, ya? Jadi lo pasti minta si Alisha nemenin lo. Iya, kan? Ngaku aja, Bir," Alara tersenyum kecut.


Abir diam saja. Memang benar Alisha menginap di sini dan atas permintaannya, tapi itu kan karena dia tidak tega membiarkan Alisha keluyuran sendiri malam-malam.


Alara kemudian mendekat pada Abir dengan memberikan tatapan yang entah apa artinya. Ada senyuman di bibirnya, tetapi ada lapisan cairan bening dalam bola mata kehijauannya.


"Gue tahu, Bir, gue nggak bisa jadi istri yang baik buat lo. Bahkan sesuai perjanjian kita sebelum nikah, lo dan gue bebas selingkuh atau memiliki hubungan sama siapa pun. Tapi apa lo inget? Siapa yang pertama bilang cinta? Itu elo! Di saat mungkin kita mau nyerah sama rumah tangga ini, lo malah bilang kalau kita nggak boleh pisah, kita harus terus bersama apa pun yang terjadi, lo akan terus mencintai dan menunggu gue membalas cinta lo, meski itu lama, lo bilang itu nggak pa-pa sama sekali. Tapi kenyataannya? Lo nggak bisa nunggu gue mencintai lo, lo malah main api sama sepupu gue sendiri di belakang gue! Lo tahu, nggak? Selama ini gue berusaha, gue janji sama diri gue sendiri mau berusaha jadi istri yang baik buat lo! Gue berusaha mencintai lo! Gue nggak mau lo cuma mencintai sebelah pihak aja, gue berusaha, Bir!"


Alara mengusap air mata yang tanpa diminta mengalir deras di pipinya. "Lo sahabat gue sejak kecil, lo tahu semua kisah gue dari A sampai ke Z, tapi lo malah lakuin ini? GUE KECEWA BERAT SAMA LO, BIR!" tukasnya.


"Lara, Lara bukan gitu. Gue bisa jelasin semua ini," Abir meraih kedua tangan Alara, tapi segera dihempaskan kasar oleh gadis itu.


"Jelasin lagi, minta maaf lagi, dan diulangi lagi. Gue bosen, Bir! Gue bukan cewek bodoh yang terus-terusan bisa terima lo sakiti!" teriak Alara penuh kekecewaan.


"Lara, beneran bukan seperti yang lo pikirin. Iya, Alisha emang nginep di sini. Dan iya, itu semua atas perintah gue. Lo tahu kenapa gue lakuin itu? Karena gue lagi males mau nganterin Alisha pulang, sementara itu udah tengah malem. Gue nggak tega biarin Alisha pulang sendirian, jadi ... gue minta aja dia nginep di sini. Dan itu, dia tidur di sofa itu semalaman. Dan makanan itu, iya, itu buatannya Alisha. Semua itu dia lakuin karena gue belum makan sejak semalam," jelas Abir.


Alara tertawa sinis. "Lo kira gue percaya lagi untuk yang kali ini? Enggak, Bir! Sama sekali enggak!" teriaknya lantang. "Kalian berdua semalam cuma berduaan, tempat ini sepi pula, apa lagi kira-kira yang terjadi kalau bukan adegan-adegan menjijikkan itu!"


"Cukup, Alara! Lo nggak bisa ngomong seenaknya gitu, ya! Hanya karena gue terus sabar sama semua sifat lo yang memuakkan itu, bukan berarti lo juga berhak nginjek-nginjek harga diri gue!" teriak Abir yang akhirnya tersulut emosi.


Alara bertepuk tangan sambil tertawa. "Nah, kan. Lo marah. Berarti bener yang gue duga," Alara menghembuskan napas panjang beberapa kali. "Oke, Bir. Mungkin kita cuma bisa sampe di sini. Sekarang nggak akan seminggu, tapi selamanya. Gue mau kita cerai," tukasnya sembari beranjak pergi.


Abir membelalak bagai baru sadar. "Alara ... Alara jangan gitu! Iya, gue ngaku salah, tapi jangan pergi lagi, Ra! Alara ...!" kejarnya, tapi itu tidak menghentikan langkah Alara.


Mungkin memang benar. Ini adalah akhir dari kisah mereka yang dibangun dengan tujuan yang salah, atau tujuan yang bisa dikatakan hanya candaan. Dua orang yang sama sekali belum siap secara mental untuk mengarungi sebuah kisah yang tidak ada akhirnya bernama rumah tangga.


***

__ADS_1


__ADS_2