Deal, Kita Nikah!

Deal, Kita Nikah!
24. Minta Maaf?


__ADS_3

"Kau? Eh, Bibi Amira? Ada apa?" tanya Abir yang masih kaget. Munculnya wanita itu lebih menyeramkan daripada datangnya Pengantar Paket kemarin malam.


Sebelum menjawab pertanyaan Abir, wanita itu memamerkan senyuman manisnya. "Boleh Bibi masuk dulu?"


"Oh, iya, Bi. Ayo, silakan masuk." Abir menyingkir dari tengah-tengah pintu, memberi wanita itu jalan masuk. Bukannya niat tidak mau menyuruh wanita itu masuk, ia hanya lupa.


"Alara sayang~"


Alara membelalak lebar ketika mendengar suara yang masuk beserta makhluk pemilik suara itu. "Bibi Amira? Bibi ngapain ke sini?"


"Bibi mau minta maaf sama kamu," tutur Amira, kemudian mendudukkan diri di sebelah Alara seraya menggenggam kedua tangan keponakannya itu, "maafin Bibi, ya, Lara."


Alara mengerjap beberapa kali tanpa ada jawaban keluar dari mulutnya. Penyihir ini minta maaf pada Alara? Sungguh? Jangan-jangan wanita itu sedang kerasukan penyihir baik?


"Lara, kenapa kamu diam? Kamu nggak mau maafin Bibi? Ayolah, lupakan apa yang sudah terjadi. Bibi tahu, Bibi salah. Tidak seharusnya Bibi bilang begitu ke kamu. Bagaimanapun, kamu kan keponakan Bibi. Jadi, maafin Bibi, ya, Nak? Anggap itu semua nggak pernah terjadi, atau … ya, anggap aja itu kekonyolan Bibi. Bibimu ini sudah gila, atau apa pun itu. Yang penting, kamu mau maafin Bibi, kan, Nak?"


Alara masih belum mampu berkata-kata. Kalimat-kalimat yang keluar dari mulut bibinya ini benar-benar sulit dicerna. Wanita yang biasanya hanya mempergunakan mulut untuk nyinyir, mengecek, menghina, menyindir, untuk pertama kalinya mau meminta maaf. Wah, bukankah ini keajaiban dunia? Pastikan wanita itu tidak habis kebentur tembok?


"Alara, kok kamu diam aja, sih? Kamu heran kenapa Bibi minta maaf? Oke, dengar. Bibi minta maaf karena merasa bersalah sama kamu, bersalah sama Abir, suami kamu. Karena itu, Bibi mau minta maaf. Dan sekalian … Bibi mau nginap di sini, boleh, kan?"


Oh, jadi menginap. Pantas saja dia mau repot-repot bicara panjang lebar meminta maaf. Tapi, jika hanya ingin menginap, kenapa harus serepot itu? Biasanya juga selalu melakukan apa saja yang dia inginkan tanpa perlu menunggu orang lain setuju atau tidak. Kalau begini caranya, berarti dugaan Alara benar, wanita ini habis kebentur tiang bendera, atau pohon, atau tembok.


"Alara, kamu lagi puasa bicara apa gimana? Dari tadi Bibi ngoceh, loh, tapi kamu malah diem aja."


"Jadi, Bibi minta maaf karena mau nginep di sini? Kenapa nggak nginep di rumah keluarga Abir aja? Dan mana Paman? Bibi ke sini sendirian?" Alara akhirnya membuka suara.

__ADS_1


"Ya enggak, dong, Lara. Bibi minta maaf karena merasa bersalah sama kamu, dan nggak nginep di rumah keluarga Abir karena nggak enak, lah. Paman kamu juga lagi ada kerjaan, jadi Bibi diantar ke sini karena apartemen kamu yang letaknya lebih dekat ketimbang rumah Bibi."


Sebenarnya, Alara masih tidak memercayai apa yang keluar dari mulut wanita ini. Merasa bersalah katanya, kenapa baru sekarang? Dua puluh lima tahun Alara hidup di dunia, dan dua puluh lima tahun juga dia diganggu oleh bibinya itu. Kenapa rasa bersalahnya baru muncul sekarang? Selama ini ke mana saja? Aneh.


"Tapi Bibi mau tidur di mana? Cuma ada satu kamar di sini, satunya lagi masih berantakan jadi gudang. Memangnya Bibi mau tidur di ruang tamu?" Kali ini Alara tidak berniat menolak secara halus, tetapi memang benar kamar satunya belum dibersihkan alias masih jadi gudang. Karena itu juga, Abir harus tidur di ruang tamu.


"Iya, nggak apa-apa. Ruang tamunya juga luas, sofanya pun besar dan panjang. Bibi nggak apa-apa tidur di sini."


Fix, ini Bibi Amira bukan habis terbentur tembok atau tiang bendera, tapi kerasukan penyihir baik. Sejak kapan seorang Amira mau tidur di sofa? Bahkan saat mereka sedang mengungsi karena kebanjiran dulu, dia tidak mau mengalah dan tidur di bawah, yang berakhir nenek dan kakeknya yang mengalah.


"Beneran nggak apa-apa, Bi? Kalau misal ada nyamuk atau apa, aku sama Abir nggak tanggung jawab, ya!"


"Iya, beneran, nggak pa-pa."


"Ya sudah, kalian tidur sana, Bibi juga mau tidur. Ini aja aslinya udah ngantuk banget."


Alara terpaksa menyingkir dari sofa yang adalah istana Abir ini. Sekarang dia juga berpikir, mungkinkah karena mengantuk, otak Bibi Amira jadi sedikit geser? Dan permintaan maaf tadi terjadi secara tidak sadar?


"Hei, jangan melamun, ayo tidur."


Alara tersentak, sementara Abir masih melongo di depan pintu. Pria itu benar-benar heran—bahkan curiga Bibi Amira kerasukan.


"Ayo, Alara, Abir, kalian tidur aja. Bibi nggak pa-pa di sini sendiri."


Alara mengangguk, sejurus kemudian menarik tangan Abir dan membawa pria itu masuk ke kamar mereka. Terpaksa, malam ini mereka akan tidur sekamar dan seranjang lagi. Tidak ada sofa panjang di sini, jadi tidak ada pilihan lain.

__ADS_1


Abir sudah senyum-senyum sendiri sejak Alara menarik tangannya. Kedatangan Bibi Amira tengah malam begini tidak sepenuhnya buruk, malah bagus, karena dia tidak jadi tidur di luar.


"Nggak usah senyum-senyum! Jijik tau gue lihatnya!" omel Alara


"Sssttt, jangan keras-keras, nanti Bibi lo denger bisa mampus kita," timpal Abir.


Alara mendengus, bersedekap dada, berbalik memunggungi Abir.


"Kira-kira ada apa, ya, Bibi lo mendadak minta maaf gitu?"


Alara berbalik lagi menghadap Abir. "Dia nggak akan serta-merta minta maaf sama gue gitu aja. Pasti dia lagi ngerencanain sesuatu."


"Gue juga mikirnya gitu. Tapi …, sesuatunya itu apa?" balas Abir.


"Misal, ya, lo jadi Bibi Amira. Lo nggak suka sama gue, lo selalu marah bawaannya tiap lihat gue, terus kita berantem, dan gue nampar lo. Kira-kira …, lo mau lakuin apa demi balas gue? Nggak mungkin minta maaf, kan?"


Abir tampak berpikir, kemudian berkata, "Kalian berantem karena apa, sih?"


"Dibilang dia nuduh gue selingkuh. Dia ngejek gue pokoknya. Dia bilang gue nggak setia sama suami sendiri, nggak punya harga diri sebagai seorang perempuan, pokoknya semacam itulah. Makanya gue ngamuk. Seburuk apa pun sifat gue, atau punya pacar sebanyak apa pun, gue tahu batasan-batasannya kali," jelas Alara terkesal-kesal.


Abir manggut-manggut, lalu kembali diam berpikir. "Mungkin … Bibi Amira ke sini karena mau cari bukti lo beneran selingkuh?" tebaknya setelah satu menit.


Alara membelalak. "Kalau iya, itu bahaya banget buat kita! Misal dia dapat bukti, terus ditunjukkin ke orang-orang, bisa-bisa pernikahan kita ini terancam, Bir!"


***

__ADS_1


__ADS_2