Deal, Kita Nikah!

Deal, Kita Nikah!
54. Semakin Rumit


__ADS_3

Satu kotak tissue sudah dihabiskan Alara selama menceritakan semua yang terjadi pada Raisha. Kini sahabatnya itu hanya diam tanpa berkata-kata, tetapi keningnya mengerut seperti tengah berpikir keras.


"Mending sekarang lo balik ke rumah sakit," ujar Raisha setelah beberapa menit diam.


"Nggak. Kenapa juga gue harus ke sana? Apa perlunya? Laki-laki sialan itu udah buat gue berkali-kali kecewa," kata Alara datar.


Raisha terdiam lagi. "Terus gimana?"


Alara hanya mengangkat pundak tak tahu. Raisha pun menghembuskan napas panjang dan kemudian bertopang dagu. Keduanya sama-sama terdiam untuk waktu yang lumayan lama.


"Sha, nangis sama ngamuk bikin gue laper. Lo punya makanan, nggak? Apa aja, deh, yang penting cacing gue ini bisa diem," ucap Alara setelah beberapa menit berada dalam keheningan.


"Gue tadi beli nasi goreng. Masuk aja sana, trus makan."


Alara langsung tersenyum ceria seolah lupa tadi menangis sehisteris itu. Selanjutnya ia berlarian masuk ke ruang makan Raisha. Di meja makan sana terdapat dua bungkus nasi goreng yang masih utuh. Langsung saja Alara ambil dan buka salah satunya.


"Hmmm ... pasti en---" Alara menghentikan kalimatnya. Mendadak ekspresinya berubah aneh ketika mencium aroma nasi goreng itu.


Saat itu juga Raisha datang dan langsung duduk di kursi depannya. "Kenapa muka lo kek gitu?"


"Beli di mana ini nasgor? Kenapa baunya nggak enak gini?"


Raisha berkedip-kedip. "Nggak enak gimana? Ini beli di abang-abang nasgor langganan gue. Biasanya lo juga suka, tuh."


"Eh, nggak enak beneran baunya. Coba cium sendiri, deh." Alara mendorong piringnya ke arah Raisha. Sahabatnya itu lantas mendekatkan nasi goreng yang sudah dibuka ke hidungnya. Seketika saja ekspresinya berubah datar.


"Lo mau ngerjain gue? Orang baunya enak banget gini. Dari pertama kedai itu buka sampe detik ini, ya begini aromanya," kata Raisha.


Alara menggeleng. "Enggak! Hidung lo pasti error. Udah jelas-jelas baunya aneh kayak nasi goreng basi, tapi lo bilang enak? Please, deh, Sha, lo tau makanan enak apa enggak, sih?!" balasnya sedikit ngegas.


"Yang error tuh lo! Habis nangis berjam-jam gitu pasti bikin syaraf agak geser dikit, kan? Nah, itulah yang terjadi sama hidung lo!" Raisha tak mau kalah.


"Enggak, emang nasi gorengnya aja yang udah basi. Gue mau pesen makanan lain ajalah, daripada sakit perut ntar."


Raisha bersedekap dada. "Ya udah, nggak doyan bilang aja. Gue juga sanggup ngabisin ini sendiri," katanya jengkel.


"Oke." Alara lantas meraih ponselnya dan mengotak-atik benda pipih itu. Tak sampai semenit, dia selesai. "Gue udah pesen butter chicken, bentar lagi dateng," ucapnya angkuh.


"Terserah." Raisha memilih mengabaikan perkataan Alara dan mulai memakan nasi goreng yang tadi ditolak Alara dengan alasan baunya basi. Padahal tidak. Rasanya enak seperti biasa.

__ADS_1


Sekitar 10 menit kemudian, butter chicken pesanan Alara datang. Dengan semangatnya gadis itu membuka pesanannya dan menghirup baunya. Kali ini ekspresinya langsung berubah lebih buruk lagi sesaat setelah mencium bau masakan itu.


"Hoek!" Alara berlarian ke kamar mandi terdekat dan memuntahkan isi perutnya. Raisha tercengang. Sementara di dalam sana Alara terus terdengar muntah-muntah.


Raisha pun bergegas menghampiri sahabatnya yang masih khusyuk dengan adegan muntah-muntahnya itu.


"Ra, lo nggak apa-apa? Kenapa muntah-muntah gini?"


Alara tak menjawab karena terus muntah-muntah. Raisha memijit pelan tengkuk Alara hingga sahabatnya itu berhenti muntah-muntah setelah beberapa menit. Sebenarnya tidak ada yang keluar dari mulut Alara selain hanya cairan, mungkin juga karena dia belum sempat makan apa-apa.


Setelah itu, Raisha menuntun Alara kembali ke meja makan. Wajah Alara sekarang berubah pucat. Raisha masih berkedip-kedip belum mengerti apa yang terjadi.


"Kenapa gue mual banget, syalan?!" maki Alara.


"Apa lo masuk angin? Atau ...." Raisha menggantung kalimatnya.


"Atau apaan?" sahut Alara dengan tatapan tak ramahnya.


"Lo ... lo ...."


"Sha, sekali lagi lo ngomongnya lo-lo terus, gue gaplok juga lo!" ancam Alara.


"Uhuk!" Alara tersedak hingga terbatuk-batuk. Raisha memberinya segelas air yang langsung diminum hingga tandas.


Wajah Raisha masih berseri-seri, sementara Alara kelihatan masam. Alara menunduk sedikit memandangi perut ratanya yang tertutup pakaian.


"Masa iya gue hamil?" lirihnya.


"Gini aja, kita ke dokter sekarang. Ayo!" Raisha dengan semangat menyeret Alara keluar dari rumahnya.


***


Abir menyandar di ranjang rumah sakit dengan kepala yang teramat pusing. Ketika dia melirik ke sampingnya, ada Alisha yang terdiam melamun. Abir masih tak mengerti dengan apa yang terjadi padanya. Asyik-asyiknya memikirkan semua itu, orang tua Alisha datang dengan sangat emosi dan menghampirinya.


"Apa yang kamu lakukan pada putriku?!" bentak Amira tanpa basa-basi.


Sekarang kebingungan Abir jadi berlipat ganda. Baru saja Alara yang menyerangnya habis-habisan, sekarang penyihir ini pula.


"Mami ..." panggil Alisha lirih dari sisi yang lain.

__ADS_1


Amira mendekat dan memeluk erat-erat putrinya itu. Alisha menangis, sementara Amira mengusap-usap bahunya menenangkan.


"Keluarga besarmu harus tahu apa yang kau lakukan ini. Pi, telfon orang tua Abir sekarang," titah Amira pada suaminya.


"Eh, Bibi, jangan," cegah Abir, tapi terlambat. Harun, suami Amira, sudah beranjak keluar sambil berbicara dengan seseorang di telepon.


Abir mendesah panjang dan pasrah. Sekarang orang tuanya akan tahu dan dirinya akan disidang, padahal dia masih belum mengerti dengan semua yang terjadi ini.


***


Setelah keluar dari klinik tempat periksa, Alara bagai orang yang tak punya semangat. Pasti dia akan menangis histeris jika air matanya tidak habis karena tadi. Sementara di sebelahnya, Raisha malah terlihat ceria. Tapi bukan itu yang menyita perhatian Alara sekarang ini, melainkan hasil pemeriksaannya beberapa menit yang lalu.


Ya. Benar yang Raisha duga. Dia juga akan menjadi seorang ibu. Pantas saja sejak beberapa hari yang lalu dia merasa ada yang berubah dalam dirinya. Ternyata karena semua ini.


Sekarang pertanyaan Alara satu, kenapa ini harus terjadi sekarang? Ketika Abir mengecewakannya besar-besaran, ketika dirinya berpikir untuk meninggalkan Abir, mengapa ini harus terjadi?


"Emang syalan, kenapa kisah gue malah mirip sinetron-sinetron sih anjir?!" maki Alara di sepanjang perjalanan pulang.


"Hust, nggak boleh ngomong gitu. Itu tuh berkah. Dalam sebuah pernikahan, anak itu bonus, kan?" ujar Raisha.


"Bonus sih bonus, ya tapi kenapa musti gue yang harus dapet bonus? Bukannya nggak mau atau gimana, tapi ... ya lo tahulah keadaannya sekarang kayak gimana. Gue juga mana bisa jadi single parent, Sha?"


Alara berhenti sejenak dan mengusap air matanya. "Kenapa Abir harus selingkuh sama Alisha? Bahkan mereka ... mereka sampai mau punya anak juga. Terus gimana sama anak gue? Ah lebih tepatnya gimana sama nasib gue?"


"Ra, gue tanya sama lo, ya? Dalam hati lo yang paling dalam, apa lo yakin Abir selingkuh? Coba, deh, lo pikir lagi. Bisa aja ini cuma salah paham atau ... maaf banget sebelumnya, akal-akalan Bibi lo itu."


Alara terdiam memikirkan perkataan Raisha, sekaligus bertanya pada hatinya sendiri tentang keyakinannya Abir selingkuh atau tidak.


Beberapa detik kemudian, Alara menggeleng lemah. "Gue nggak yakin, tapi kalau dilihat lagi semua yang terjadi, termasuk pas gue pergi ke rumah lo, mungkin aja bisa."


"Katanya firasat seorang istri itu nggak pernah salah. Kalau lo yakin Abir nggak gitu, ya berarti Abir nggak lakuin itu," tutur Raisha.


Baru selesai Raisha mengatakan itu, ponsel Alara berdering nyaring dan terpampang nama mamanya di layar. Mau tak mau ia harus mengangkatnya.


"Halo, Ma?"


"Lara, kamu bisa datang ke rumah sakit sekarang? Ada hal yang penting banget yang ingin kami bicarakan," ucap Mamanya dari seberang sana.


Alara mengembuskan napas panjang. "Iya." Dia kemudian menyimpan kembali ponsel itu ke dalam tas. "Ke rumah sakit, Sha."

__ADS_1


***


__ADS_2