
Alisha sudah mengatakan yang sebenarnya. Sekarang, tugas Alara dan kawan-kawan adalah mencari siapa sosok Zavier yang disebut Alisha tadi. Menurut penjelasan Alisha, Zavier adalah teman kuliahnya. Mereka sempat menjalin hubungan asmara hingga tak sengaja melakukan kesalahan dan berujung hadirnya kehidupan lain dalam diri Alisha.
Setelah melakukan semua itu, pria itu malah menghilang bak ditelan bumi. Alisha yang sudah panik bercampur takut pun mengadu pada Ibunya. Dan, ya, Amira yang sesat akhirnya malah membuat rencana untuk menjebak Abir. Ditambah dengan beberapa kebetulan dulu---seperti Alisha yang pernah menginap di apartemen Abir dan Alara, juga ketika Abir ingin membeli hadiah untuk Alara dan meminta bantuan Alisha---semua itu seolah mendukung rencana busuk Amira.
Namun, sayang seribu sayang. Sebelum mereka berhasil dengan semua itu, Alara lebih dulu tahu. Memang benar jika Amira menyematkan gelar kriminal pada Alara, toh pada kenyataannya semua itu terbukti karena otak kriminal Alara. Penculikan adalah tindakan kriminal, bukan?
"Apa kita harus pergi ke London dulu buat cari si Zavier itu?" tanya Arshia memecah keheningan di tengah kegiatan diskusi mereka.
"Bolak-balik London-Indo kejauhan. Bisa jadi Zavier melarikan diri ke sini. Kan kata Alisha dia orang sini juga," timpal Alara.
"Apa kita bikin Alisha ngaku aja di depan seluruh keluarga? Kalau semua orang tahu, mungkin mereka juga mau bantuin kita, kan?" pikir Zafar.
"Boleh juga, tapi ... kasian nanti dia," respons Alara.
"Woy, sejak kapan lo bisa kasian sama orang lain? Biasanya juga gimana," komentar Raisha.
"Masalahnya, gue takut nanti Alisha trauma, kena mental, atau apalah. Kan gini ya, dia udah mau bantuin kita dengan bisa diajak kerja sama. Masa kita mau bongkar kebohongannya di depan semua orang?"
"Tapi, Kak, yang kita bongkar bukan kebohongan Alisha, tapi Bibi Amira. Kan dia dalang dari semua kejadian ini. Jadi, nggak ada salahnya, dong, kalau kita bongkar aja kebusukannya? Biar dia jera juga dan nggak ngulangi lagi," tutur Arshia.
Alara terdiam sejenak memikirkan perkataan adik iparnya itu. Ada benarnya, apalagi Bibi Amira juga kelewat menyebalkan. Mungkin ini bisa membuat efek jera.
"Tapi gimana caranya kita nyuruh Alisha ngaku kalau semua ini rencana busuk Maminya?" tanya Alara pada semua orang.
"Gue tau," jawab Raisha.
***
__ADS_1
[Kalian berkumpullah di tempat itu, akan ada kejutan yang membuat kalian senang.]
Pesan itu diterima di ponsel semua anggota keluarga Alara. Pelakunya adalah Raisha, yang membuat pesan misterius dengan ponselnya yang satu lagi, kemudian meneruskan itu ke nomor semua orang, termasuk dirinya sendiri.
"Apa lagi semua ini? Kita sedang panik mencari Alisha, tapi pesan ini?" keluh Amara.
"Coba kita balas, siapa tau itu penculik Alisha," saran Adi.
Amara mengangguk mengikuti saran kakaknya itu. Mereka semua kompak membalas dengan pertanyaan berbeda-beda. Namun, jawaban yang mereka terima sama, bahkan masuk secara bersamaan.
[Kalian tidak perlu banyak tanya.
Lakukan saja, jika ingin kedua orang
yang bersamaku ini selamat.]
Dari situ, mereka paham akan maksud dari semua ini. Detik itu juga mereka melesat menaiki mobil untuk menuju tempat yang nomor asing itu tunjukkan.
Tentu saja, hal itu membuat Arshia senang bukan kepalang karena bisa menjalankan tugasnya sebagai seorang penculik yang baik.
Tepat pukul 7 malam, semua orang sudah tiba di tempat tersebut. Tempatnya berupa lahan kosong yang hanya dihuni beberapa pohon. Tidak ada ruangan atau bahkan bangku. Dan, ya, tempat itu sepi sekali, seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana.
Semua orang lantas saling tatap satu sama lain. Mana Alisha? Jangan bilang mereka semua di-prank?
Mereka masih asyik terkejut saat tiba-tiba di sana terbentang kain putih yang lebar. Keterkejutan itu belum reda saat tiba-tiba turun sebuah proyektor dengan seutas tali tambang dari atas. Proyektor itu sudah menyala, sehingga gambarnya langsung tampak jelas di sana.
Video dari proyektor itu menampilkan Alisha yang duduk di sebuah ruangan berlatar belakang putih. Hanya ada satu bangku di sana—bangku yang diduduki Alisha. Perempuan itu melihat lurus dengan wajahnya yang tanpa ekspresi.
__ADS_1
"Hai, Semuanya. Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin mengatakan ... Kak Abir tidak bertanggung jawab terhadap bayi yang ada di kandunganku. Itu semua bukan salah kak Abir, sama sekali bukan. Dan aku sangat-sangat minta maaf untuk itu. Maaf, maafkan aku, Kak Abir. Maafkan aku, Kak Alara." Alisha menyatukan kedua tangannya.
"Aku juga ingin mengatakan ... yang bertanggung jawab terharap semua ini adalah Zavier, mantan kekasihku yang sekarang menghilang entah ke mana. Dan karena dia yang menghilang itu ... Mami membuat rencana untuk menjebak kak Abir. Maafkan aku, Mi. Aku yang bodoh mau-mau saja, padahal kak Alara dan kak Abir sedang memulai semuanya dari awal lagi, tapi aku malah muncul dan menjadi penjahat dalam kisah cinta mereka. Maafkan aku."
Jeda beberapa detik, "Sekarang, beberapa orang baik menyadarkanku kalau ini salah. Tidak seharusnya aku melibatkan kak Abir dan kak Alara dalam masalah ini. Mereka juga berjanji akan membantuku menemukan Zavier. Tidak usah cari aku, aku baik-baik saja."
Video itu langsung mati. Semua orang sangat shock. Khusus untuk Amira, wanita tua itu menunduk dengan wajah merah padam. Kepanikan dan kemarahannya kini berubah jadi rasa kesal dan malu. Malu karena dirinya ternyata yang bersalah. Malu karena Alisha tidak diculik, tetapi kenungkinan besar memang kabur.
Afsana bertepuk tangan sembari berjalan perlahan mendekati Amira. "Bagus sekali, Bu Amira, bagus sekali. Semua ini karena otak busukmu sendiri, tapi kau malah menuduh putraku? Kau ingin agar putraku dan menantuku berpisah agar ada yang bertanggung jawab terhadap kehamilan putrimu? Wah! Bagus sekali!"
Amira hanya bisa menunduk dalam-dalam mendengar semua itu.
Afsana kembali berkata, "Memang benar Alara menyebutmu sebagai penyihir, ternyata kau bahkan lebih parah dari itu! Bibi macam apa kau yang tega menghancurkan pernikahan keponakanmu sendiri? Setidaksuka apa pun kau pada Alara, tetap saja kalian keluarga! Kau bibinya! Pantas saja jika Alara menentangmu, kau memang pantas untuk ditentang!" tudingnya lancar.
Adi selaku Ayah Alara pun mendekat pada adiknya itu. "Aku tahu kau membenci Alara, Mir, tapi tidak begini juga," tuturnya. Pelan memang, tapi syarat akan kekecewaan.
Sementara itu, Abir tersenyum haru menatap Alara yang hanya diam saja dengan wajah datarnya. Selanjutnya tanpa menunggu aba-aba, Abir berlari kecil ke arah Alara dan memeluk istrinya itu erat-erat.
"Alara, ini bukan salahku. Kau percaya 'kan sekarang?" ujar Abir di sela-sela pelukannya.
"Aku memang selalu memercayaimu," balas Alara.
"Sekarang kita akan melakukan apa? Alisha sebenarnya ada di mana?" tanya Arka memecah keheningan. Dia bahkan tak pernah menyangka Ibunya sendiri yang merencanakan semua akal licik ini. Dan, ya, dia marah. Seharusnya alih-alih memberi jalan sesat, Amira membuat solusi yang lebih masuk akal. Mencari pria itu, misal. Bukannya malah menjebak suami orang atas kesalahan yang tak pernah dilakukan.
"Sekarang kita cari pria itu, pria yang sudah menghancurkan Alisha," kata Alara.
"Lalu Alisha di mana?" tanya Arka lagi.
__ADS_1
"Aku di sini!"
*****