Deal, Kita Nikah!

Deal, Kita Nikah!
58. Terbongkar: Bukan Abir?


__ADS_3

Kehebohan terjadi karena menghilangnya Alisha. Amira sudah menangis histeris sebab putri kesayangannya itu tidak ditemukan di mana-mana. Putra pertama Amira, Arka, mencari ke sekitaran rumah bersama sang ayah, Harun. Namun, Alisha tetap tidak ditemukan juga. Amira semakin meraung-raung histeris.


"Mi, coba kita hubungi keluarga besar dulu, ya, barangkali Alisha ada sama salah satu dari mereka," ujar Arka pada ibunya itu.


Amira mengangguk-angguk dengan keadaan masih terisak-isak. Arka pun segera menelpon keluarga besarnya. Dan ... ya, kehebohan bertambah. Alisha tidak ada bersama mereka. Bahkan tidak ada satu pun yang tahu di mana keberadaan perempuan itu.


Dalam satu jam saja, berbondong-bondong keluarga besar mendatangi rumah Amira. Saudari-saudarinya sudah heboh duluan, sementara Ayah Alara selaku satu-satunya pria dalam lingkaran persaudaraan itu mencoba mencari solusi.


"Pasti diculik anakmu tuh, Kak! Si Alara!" pekik Amira tiba-tiba.


Perhatian semua orang kini tertuju pada Amira dan teriakannya yang tiba-tiba itu.


"Nah, bisa jadi. Sekarang mana Alara? Dia nggak ada di sini juga, kan?" tambah Amrita.


"Alara kan belum dikasih tahu, jadi pasti nggak ada di sini, lah," timpal Ayah Alara, Adi.


"Ya kalau gitu kasih tahu sekarang lah, Kak. Berani ke sini nggak dia?" kata Amira yang kini sudah tak lagi terisak-isak.


"Iya, bener itu. Aku yakin juga semua ini ulahnya Alara, anakmu itu kan kriminal banget, tuh," sambung Amara, adik termuda Adi.


Miray memegang lengan suaminya dan menatapnya penuh arti. Adi mengangguk pelan dan berkata, "Alara akan kujemput ke sini sekarang juga."


"Nah, baguslah. Bawa ke sini sekarang juga," dukung Amrita dengan wajah sinisnya.


Adi segera pergi dari sini ke rumah Raisha, dia tahu betul putrinya itu ada di sana. Alara terkaget-kaget melihat kemunculan tiba-tiba ayahnya pagi-pagi begini di rumah Raisha. Setelah dijelaskan, Alara mengerti dan mau ikut. Bersama Raisha juga tentunya.


Ketika berada di rumah Amira, Alara langsung dihadang oleh para bibinya sambil diberondong oleh pertanyaan tentang hilangnya Alisha. Namun, bukan Alara namanya jika tak terlihat santai seperti tak pernah terjadi apa pun.


"Jadi si Alisha ilang? Syukurlah, ada juga yang mau nyulik dia," kata Alara dengan entengnya.


Para bibinya ternganga seketika. Mereka sedikit tak menyangka jawaban sesantai itu akan keluar dari mulut Alara. Namun, mereka segera ingat itu Alara, manusia menyebalkan dan tidak ada akhlak yang mereka kenal.


"Jawab jujur aja, Lara, di mana kamu sembunyikan Alisha?!" serang Amira lagi.


"Bibi pikir Alisha itu barang apaan main disembunyiin? Dan disembunyiin pun di mana? Mau ditaruh laci juga kagak muat," balas Alara masih santai.


"Mir, sebaiknya jangan nuduh Alara sembarangan tanpa bukti," tutur Adi.


"Ya, emang nggak ada bukti, tapi selain Alara, ini ulah siapa? Kan nggak mungkin Alisha nyulik dirinya sendiri!" sergah Amira.


"Nggak mungkin nyulik diri sendiri, tapi dia mungkin kabur. Inget, Alisha itu udah gede," timpal Alara. "Mungkin dia tertekan punya emak penyihir," lanjutnya pelan.


"Enak aja kamu bicaranya, ya?! Alisha putriku nggak mungkin kabur-kaburan! Kalau dia hilang, berarti itu ulah kamu! Kamu pasti yang nyulik dia, kan? Ayo ngaku, kamu!" teriak Amira berapi-api.

__ADS_1


Alara berpangku tangan menatap bibinya itu. "Terus? Bibi mau apa?"


"Mau kamu balikin Alisha! Balikin dia!" seru Amira.


"Balikin itu kalau Alara yang nyulik, nah kalau enggak, gimana balikinnya?" celetuk Raisha.


"Pokoknya kami yakin Alisha itu Alara yang sembunyiin!" teriak Amira kekeh.


"Gini aja, kita geledah tempat tinggal Alara? Selama ini dia tinggal di mana?" saran Harun, ayah Alisha.


"Di rumah temennya, tuh," tunjuk Amrita pada Raisha dengan dagunya.


"Oke, kita geledah rumah itu sekarang juga," Amira langsung menyetujui usul suaminya itu dan maju lebih dulu keluar rumah.


Alara menatap Raisha. Senyuman kecil terbit di bibir mereka berdua. Kemudian dengan santai, mereka mengikuti langkah orang-orang keluar.


Tak butuh waktu lama, semua orang kini tiba di kediaman milik Raisha. Tanpa kata, Raisha membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan orang-orang menggeledah seluruh isinya. Sementara dia dan Alara hanya menunggu di luar tanpa sedikit pun terlihat panik atau khawatir.


Beberapa menit kemudian, orang-orang itu kembali keluar dengan tangan kosong dan wajah merah padam. Alara dan Raisha tersenyum kecil menyaksikan.


"Gimana? Ketemu Alisha-nya? Ada di kolong meja atau di laci?" tanya Alara setengah mengejek.


"Kamu sembunyikan di mana putriku?!" bentak Amira.


"Nggak! Pasti kamu sembunyiin Alisha di tempat lain!" sergah Amira.


"Mi, udahlah, nggak mungkin juga Alara nyulik Alisha. Toh buat apa tujuannya? Mending kita cari lagi aja, barangkali emang bener Alisha kabur," tutur Arka.


"Tapi---"


"Mi, please .... Daripada kita cuma nuduh Alara di sini, nggak akan ada hasilnya. Siapa tahu di luar sana Alisha lagi butuh kita, kan? Mending sekarang kita cari dia," potong Arka lagi.


Meski dengan berat hati, Amira menyetujui perkataan putranya itu. Mungkin Arka memang benar, pikirnya.


Segera saja orang-orang itu bubar dari rumah Raisha. Entah mau mencari ke mana lagi, Alara dan Raisha tak peduli. Mereka juga tak mau ikut karena punya agenda lain.


Alara tertawa-tawa sesaat setelah keluarga besarnya itu pergi. Tentu saja Alisha tak ditemukan di sini, karena memang dia tidak menyembunyikan Alisha di sini. Atas saran Zafar, Alisha disekap di rumah milik orang tua Zafar yang sudah tidak ditempati. Rumah itu berada di pinggir hutan dan cukup jauh dari pemukiman penduduk, tempatnya aman dan jarang diketahui. Zafar bilang dulu dia dan Arshia juga sering ketemuan di sana. Bahkan tugas menjaga Alisha agar tidak kabur pun Alara serahkan pada sepasang suami-istri gabut itu.


"Sekarang saatnya kita interogasi si Alisha," kata Alara yang langsung diangguki Raisha.


***


Alisha didudukkan di sebuah kursi kayu. Kedua tangannya diikat dengan pegangan kursi, kedua kakinya pun diikat menyatu dan diikat lagi dengan kaki kursi, matanya ditutup menggunakan sebuah kain, dan terakhir mulutnya dilakban agar perempuan itu tidak berteriak.

__ADS_1


Alara menarik lakban yang menempel di mulut Alisha dalam sekali tarik. Sepupunya itu meringis ketakutan, dan mungkin juga agak kesakitan. Sepanjutnya Alara melirik Zafar untuk menyuruh adik iparnya itu mewakili dalam berbicara. Bagaimanapun juga Alisha pasti hafal dengan suaranya, itu sebabnya, penting memakai suara orang lain.


"Kalian siapa? Kenapa kalian menculik dan menyekapku?" tanya Alisha terisak-isak.


"Kami hanya sekumpulan orang-orang yang mencari keadilan," jawab Zafar.


"Keadilan? Keadilan apa yang kalian cari dariku? Memangnya apa yang bisa kulakukan untuk kalian, sampai-sampai kalian menyekapku begini?"


Zafar menatap Alara di sebelahnya. Alara mengangguk pelan dan mengetik beberapa kalimat di ponselnya, lalu menyerahkan benda itu pada Zafar.


"Jawab saja dengan jujur jika kau ingin bebas dan selamat. Siapa ayah dari bayi yang kau kandung?" tanya Zafar dengan suara yang dibuat setegas mungkin.


Alisha terdiam seketika. Bahkan kini terisak pun dia tidak. Dia menunduk dalam-dalam meski tidak menunduk pun tidak bisa menatap wajah para penculiknya.


"Hey, jawab!" bentak Zafar. "Siapa ayah dari bayimu?!"


"Kami tidak akan macam-macam padamu, kami tidak akan membunuhmu, juga tidak akan membuangmu ke luar negeri. Kau hanya harus berkata dengan sejujur-jujurnya, siapa ayah dari bayimu itu? Ha? Ayo jawab," bujuk Arshia. Suara Arshia pun tidak akrab di telinga Alisha, jadi dia bisa ikutan bicara.


"Alisha, ayo jawab, apa kami harus melakukan kekerasan dulu padamu biar kau mau mengaku?" Arshia memegang dagu Alisha dengan jari jempol dan telunjuknya, dihadapkan padanya meski perempuan itu tak bisa menatapnya juga.


"Sampai detik ini kami masih baik, ya, tapi jangan harap sampai satu jam kedepan kami akan tetap baik padamu," ucap Arshia lagi.


"Ke-kenapa kalian menanyakan soal itu? Apa perlunya?" tanya Alisha sedikit terbata.


"Itu perlu!" tukas Arshia. "Sudah kami bilang, kan? Kami hanya mencari keadilan."


"Kalau kau merasa kau tidak mendapat keadilan, kau bisa bilang pada kami, kami akan membantumu juga untuk mencari keadilan. Jangan diam saja dan malah memfitnah orang lain. Kau tahu, kan? Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan," sambung Zafar.


Sekali lagi Alisha terdiam menunduk. Dari sini, Alara menebak sepupunya ini mendapat ancaman untuk tidak bicara jujur. Entah apa yang sebenarnya terjadi, tapi Alara yakin Alisha memang berada di bawah tekanan.


"Alisha, kenapa diam? Ayo jawab, sudah kami bilang kami akan membantumu, bukan? Kalau ada yang mengancammu, katakan saja pada kami. Kami akan selalu siap membantumu, asal kau mau diajak kerjasama saja," ujar Arshia lagi.


"Apa kau mau mencoba dulu teknik paksaan dari kami? Kau mau dipaksa dengan teknik yang mana?" lanjut Zafar.


"Semua tekniknya menyakitkan, ya. Kalau kau mau coba, nanti jangan kaget. Oh, satu lagi. Teknik itu mungkin juga bisa membahayakan janinmu, jadi kau pikir dulu baik-baik. Mau bicara dengan suka rela, atau perlu kami paksa dengan beberapa teknik," terang Arshia.


Alisha tertunduk dalam. Bibirnya tampak bergetar. Perempuan itu terlihat mengambil napas beberapa kali dan menghembuskannya perlahan. Sementara para penculiknya sudah menunggu dengan sangat tidak sabar.


"Apa kalian kenal dengan kak Alara? Apa semua ini perintah kak Alara? Atau kak Abir?" tanya Alisha sembari mendongakkan wajah, menatap para penculiknya jika kedua matanya tak ditutupi kain.


"Itu tidak penting. Kau cukup jawab saja pertanyaan itu. Dan, ya, cepat sedikit, kami tidak punya banyak waktu menunggumu bicara," jawab Arshia.


"Iya ... Ayah dari bayi ini bukan kak Abir, tapi ... Zavier, dia kekasihku yang sekarang menghilang entah ke mana."

__ADS_1


*****


__ADS_2