
Alara dan Abir tak bisa berkata-kata lagi begitu mendengar penjelasan Deva. Mungkin sedikit tidak masuk akal bagi Abir, karena dia tahu benar Sara adalah seorang muslim—sama sepertinya. Namun, Alara bilang Deva itu sangat jujur; laki-laki baik hati yang mustahil untuk berbohong.
"Tapi kenapa?" tanya Alara setelah beberapa saat.
"Aku juga nggak tahu. Keluarganya bilang, itu privasi. Jadi, alasannya nggak bisa dibeberkan ke publik."
Sekarang bagaimana? Alara harus melakukan apa sebagai permintaan maafnya pada Sara?
"Maaf, Ra, aku nggak bisa membantu lebih jauh lagi," tutup Deva.
***
Tidak ada yang bisa dicari dengan berlama-lama berada di Bali, itu sebabnya Alara dan Abir memutuskan langsung pulang keesokan harinya. Ingat 'kan, mereka itu udah bukan orang-orang pemalas sekarang ini.
Namun, dalam perjalanan pulang Abir malah terus murung. Alara yang juga malas bicara pun hanya mendiaminya. Alara pikir, Abir masih syok dengan keperian Sara-atau lebih tepatnya tidak terima karena tidak bisa mengunjungi mantannya itu.
"Bir, lo kangen Sara, ya? Kalau iya, nyusul sana, gih. Daripada diem murung udah kayak orang lagi diculik gini," celetuk Alara.
Abir melotot seketika. Menyusul? Apa maksudnya menyusul? Alara menyuuruhnya meninggalkan dunia ini atau bagaimana?
"Kalau lu udah capek hidup sama gue dan pengin nyingkirin gue, nggak gini caranya," balas Abir datar.
Alara terkekeh. "Habisnya lu murung terus, sih. Bisa jadi karena kangen sama Sara, kan?"
"Masih banyak cewek di dunia ini, ngapain juga ngejar-ngejar yang udah nggak ada?"
"Iya juga, sih. Dan itu berarti, misal gue pergi kayak Sara, lo bakalan langsung nikah lagi, dong?"
Abir mengangguk beberapa kali. "Gampang move on-nya, soalnya kan kita cuma teman sekamar; pernikahan konsep rumah kos."
Alara manggut-manggut. "Sebaliknya, gue juga bakalan gitu, haha," tawanya.
Abir hanya geleng-geleng. Jika dipikir-pikir, hubungan mereka ini sangat tidak masuk akal. Yang namanya suami dan istri, pastilah akan saling takut bila ditinggal satu sama lain, tapi mereka? Malah senang?
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di rumah keluarga Alara. Tidak tahu ada apa, tapi ibu Alara terus memaksa agar mereka berkunjung ke rumah.
"Alara ...!" Lunara, bibi Alara langsung berlari-lari ke arah datangnya Alara sambil tersenyum ceria. "Keponakan kesayangannya Bibi, gimana honeymoon-nya? Sudah ada kabar baik, belum?"
Alara hampir tersedak ketika mendengar pertanyaan itu. Kabar baik? Kabar baik yang bagaimana?
"Eh, ini dia keponakan menantu. Gimana kabarnya? Baik, kan?" celoteh Lunara.
"Alhamdulillah baik, Bi," jawab Abir sambil tersenyum ramah.
__ADS_1
"Bi, ini lagi ada apaan, sih? Kenapa Mama maksa banget aku sama Abir datang ke sini?" tanya Alara langsung pada Lunara, pasalnya dia memang tidak suka berbasa-basi.
"Enggak ada apa-apa, sih. Mamamu kangen aja sama anak dan menantunya," jawab Lunara enteng, yang tentu saja membuat Alara terbelalak.
Jika hanya kangen, lalu mengapa harus memaksa? Berasa Alara dan Abir ini melakukan kesalahan yang sangat besar sampai harus diundang dengan paksaan seperti ini.
"Hey, ngapain ngobrol di situ?! Ayo masuk!" panggil Miray setengah berteriak dari depan pintu.
Alara bersama Abir dan Lunara pun berjalan masuk beriringan. Ternyata, di dalam juga sudah ada bibi-bibi Alara yang lain; Amrita, Amira, dan Amara. Lunara sendiri adalah adik dari Miray, bibi Alara yang paling muda sekaligus paling baik.
"Baru sebulan nikah, udah dua kali bulan madu? Hmm, udah ada kabar baik, belum? Bulan madu bolak-balik kan pasti ada hasilnya, dong," oceh Amrita.
Alara tersenyum kaku. Jadi, dia disuruh datang ke sini hanya untuk mendengar pertanyaan itu?
"Kalau aku dulu, sih, setelah sebulan langsung isi," kata Amira tanpa ada yang bertanya.
Sumpah, hal ini membuat Alara melongo tak percaya. Yang kemarin itu apa? Bukankah Amira sudah bukan lagi orang julid? Lalu mengapa sekarang kambuh lagi?
"Kalian bertiga ngapain di sini?" Akhirnya Alara membuka suara dengan nada tak suka pada tiga serangkai itu.
"Arisan keluarga," jawab Amara.
"Terus, aku sama Abir disuruh apa, dong, di sini?"
Lagi-lagi perkataan itu membuat Alara terbelalak. Enteng sekali dia bilang 'terserah'?
"Ma," panggil Alara pada Miray.
"Kamu dan Abir makan dulu sana, Mama sudah masakkan makanan favorit kalian," ujar Miray.
Oh, sekarang Alara tahu. Jadi, dia dan Abir diundang ke sini untuk diberi makan gratis?
"Nanti aj---"
"Mungkin dia lagi ngidam kali, Mbak. Makanya disuruh makan nanti-nanti. Pengantin baru yang baru balik honeymoon, kan," sahut Amara.
"Tapi ..., kayaknya enggak, deh, Ra. Lihat aja, penampakan Alara masih kayak anak gadis padahal udah sebulan nikah," timpal Amrita.
"Jangan-jangan belum isi, ya? Pantesan, padahal udah sebulan lebih, kan?" timbrung Amira.
"Iya, udah seharusnya kalian jadi orang tua. Tahu, nggak? Hamil di usia tua itu berisiko banget, loh," kata Amrita seraya memasukkan kue ke dalam mulutnya.
"Jangan mentang-mentang di usia kamu yang sekarang belum ngerasa tua, itu mah udah lebih dari cukup untuk punya anak. Zaman dulu malah udah banyak anak di usia itu. Eh, tapi … itu kalau kamunya normal, ya. Kalau enggak, ya beda lagi ceritanya," tambah Amira.
__ADS_1
Cukup. Alara sudah tidak tahan lagi. Dia disuruh ke sini hanya untuk mendengar ejekan-ejekan dari ketiga penyihir itu? Sungguh tega. Padahal dia ke sini berharap akan dapat penyambutan yang hangat, bukannya nyinyiran serta tuntutan harus uni dan itu.
Bayangkan saja, Alara baru sebulan menikah, tapi ketiga wanita ini sudah nyinyir karena dia tak kunjung hamil? Bukankah itu sangat konyol dan tidak masuk akal. Dikira setiap orang itu sama? Dan dikira yang namanya pembuahan untuk jadi seorang janin itu tidak butuh waktu?
"Dahlah, males. Mending gue makan di sana aja, daripada kenyang dapet nyinyiran," gerutu Alara.
"Ra,"
Belum sempat Alara memakan makanan favoritnya itu, Abir sudah memanggilnya dan di sebelahnya.
"Apaan?"
"Lo bilang merasa bersalah sama Sara, kan? Jadi, kapan kita bisa mulai wujudin impian-impiannya Sara?"
Seketika saja mata Alara berbinat-binar. "Gue mah kapan pun juga siap. Mau nanti, besok, atau sekarang juga boleh. Tapi …, coba gue lihat apa aja impiannya si Sara?"
Abir pun membuka galeri di ponselnya, kemudian menunjukkan sebuah foto pada Alara.
Gadis itu menerima ponsel Abir, membaca daftar impian di dalam foto satu per satu.
"To save a life?" Alara ternganga membaca wishlist paling bawah Sara. "Gila, dia punya impian kayak Aisha di film Ek Villain?"
Abir malah cengengesan. "Emang itu film. favoritnya Sara. Nggak heran, deh."
"Masalahnya, nyawa siapa yang mau diselamatkan? Terus, nah, yang ini. Di mana cari merak menari di hujan pertama? Keliling dunia, dan ini, ebuset! Membuat semua kisah cinta happy ending? Lah, gimana caranya anjir!?" Alara geleng-geleng tak percaya.
"Nah, makanya, gue juga bingung. Soal merak, bisalah kita cari, meski nggak di sini tempatnya. Nah kalau bikin semua kisah cinta happy ending, gimana caranya?"
Alara garuk-garuk tak gatal kepalanya. "Wishlist-nya si Sara masih ada lagi atau cuma ini?"
"Masih ada lagi."
***
Note:
Readers semua, maaf ya seminggu lebih ga up, aku lagi ribut ngerevisi ceritaku yang satunya—yang kepaksa harus selesai dalam semingguan. Jadi, beneran enggak sempet nulis yang ini. Sekali lagi, maaf sebesar-besarnya 🙏🏻
Aku harap masih ada yang nungguin cerita ini.
Oke, terima kasih:)
__ADS_1