Deal, Kita Nikah!

Deal, Kita Nikah!
06. Malam Pertama, bukan Malam Terakhir


__ADS_3

Alara dan Abir menyalami satu per satu tamu undangan yang mengucap selamat pada mereka. Senyum keduanya tak pudar sejak akad nikah mereka pagi tadi, hingga resepsi malam ini. Jika ada penghargaan 'Pengantin Paling Bahagia Tahun Ini', sepasang suami-istri baru itu pasti akan memenangkannya. Bagaimana tidak? Melihat senyuman yang terus terpasang, siapa yang akan mengira jika keduanya menikah bukan atas dasar cinta?


"Selamat, ya, kalian berdua. Semoga bahagia, saling mencintai, dan bersama terus hingga maut memisahkan," ucap Arka. Iya, Arka yang sama.


"Aku nggak nyangka, kak Alara bisa nikah secepat ini," tambah Alisha, adik Arka. "Tapi apa pun itu, selamat buat kalian berdua. Doa terbaik dari kami."


"Makasih, ya. Semoga kalian juga cepet nyusul," balas Alara dan Abir bersamaan. Sangat kompak, untuk pertama kalinya.


Arka dan Alisha balas tersenyum, lalu menyingkir untuk memberi tamu lain kesempatan menyalami kedua pengantin.


Rupanya, tamu setelah kedua sepupu Alara itu bukanlah orang lain, tetapi Bibi Amira—ibu Alisha dan Arka. Wanita itu menghadap Alara dan Abir sambil menutupi wajah depan kipas nan lebar, juga bahu berguncang-guncang tiada henti.


Tidak, tidak, dia tidak menangis, tetapi tertawa.


Flashback-on


"Obat tidur kayaknya kurang pas, deh, Ra. Coba lo pikir, kalau kita kasih dia obat tidur, trus mulangin dia ke rumahnya, orang-orang di sini pasti bakal bingung nyariin dia. Iya, nggak?" ucap Abir.


Alara manggut-manggut. Saat ini mereka berdua sedang berada di mobil untuk membeli obat tidur seperti yang Alara rencanakan.


"Jadi? Kita biarin aja dia? Enggak bisa, Bir. Dia bakalan koar-koar ke semua orang."


"Nggak juga. Kita harus bikin Bibi Amira tetep ada di sini, dalam keadaan sehat dan sadar, tapi nggak akan bocorin rahasia kita."


"Iya, tapi caranya gimana?!"


Abir mengedikkan pundak. "Coba pikirin."


Lima detik kemudian, Alara menjentikkan jarinya dengan mata berbinar dan bibir tersenyum lebar.


"Ketemu caranya?"


Alara mengangguk semangat, lalu menarik Abir mendekat. "Kita kasih dia gas tertawa."


Abir mengernyit. "Gas tertawa?"


"Dinitrogen Monoxide, atau gas tertawa. Kalau seseorang menghirup itu, dia bakal ketawa terus nggak berhenti-berhenti. Sekarang coba pikir, kalau kita kasih dia itu, dia akan ketawa terus-terusan, sampai nggak bisa bicara saking sibuknya ketawa. Dia tetep di sini, tetep sehat wal afiat, tapi nggak bisa bocorin rahasia kita. Iya, nggak?"


Senyum Abir merekah mendengar penjelasan itu. "Ide yang bagus. Ternyata lo pinter juga, ya," pujinya.


"Iyalah! Ini kehebatan film-film gue. Gue terinspirasi dari film," kata Alara dengan bangganya.


"Ya udah, iya, percaya. Sekarang kita cari gas tertawa itu dan kasihin ke Bibi lo, biar dia ketawa terus sampai nggak bisa bocorin rahasia kita."

__ADS_1


Selanjutnya, mereka memesan secara online gas tertawa itu, dan membuat Bibi Amira menghirupnya.


Lalu, ya, wanita itu terus tertawa terpingkal-pingkal sampai semua orang keheranan melihatnya. Ia memang bisa tetap bicara, tapi tentu saja sedikit tidak jelas karena sambil terus tertawa.


Flashback-off


Amira menunjuk-nunjuk Alara dan Abir. Mengancam, tapi sambil tertawa.


"Aw-as sa-ja kalian, ya! Ak-ku ti-dak akan ting-gal di-am!" Ancam Amira terputus-putus, karena ia tidak bisa mengendalikan tawanya.


"Ngancemnya nanti aja, Bi, ketawa aja dulu yang puas," balas Alara sambil menaik-turunkan alis. Memang dasar dia keponakan tidak ada akhlak.


Amira pergi dari hadapan Alara dan Abir sambil terus tertawa, tapi sedikit ditahan hingga tidak se-terpingkal-pingkal semalam.


"Gue kok juga jadi pengin ngakak, sih, lihat Bibi Amira ketawa?" ucap Abir sambil tertawa-tawa.


"Berani ngakak di sini, gue timpuk pake high heels gue," ancam Alara.


Senyum di wajah Abir langsung pudar. "Kayaknya lu nikahin gue cuma biar leluasa nyiksa gue, deh, Ra? Gini diancem, gitu diancem. Dasar istri lucknut!"


"Dasar suami payah," balas Alara datar.


***


Sedang di sisi lain, Alara langsung mandi; melepas gaun pengantinnya yang terasa berkilo-kilo beratnya; membersihkan seluruh tubuhnya yang sudah terasa lengket dan gerah.


Gadis itu merutuk berkali-kali. Dia sudah menyerah dengan semua siksaan di hari pernikahan ini. Berdiri berlama-lama di pelaminan, memakai gaun yang super berat, ditambah high heels meski dirinya sudah setinggi tiang listrik. Ah, benar-benar penyiksaan.


Hampir satu jam kemudian, Alara baru menyelesaikan segala ritualnya di kamar mandi. Kini, ia tinggal menyelesaikan ritual memakai skin care sebelum tidur.


Melirik ke belakang, kosong. Tadi Abir langsung rebahan di situ, tapi entah kenapa sekarang menghilang.


Sudahlah, mau ke mana pun itu, masa bodoh. Lagi pula siapa yang mau repot-repot menculik laki-laki payah macam Abir?


Nah, benar 'kan. Baru juga dipikirkan, pria itu sudah muncul dari balik pintu dengan senyuman lebar. Ketika berada di dekat Alara, perempuan itu langsung menodongnya dengan sisir—agar tidak lebih dekat lagi.


Abir berdecak. "Malam ini aja, Ra, lu libur dulu jadi penjahat."


"Kenapa?" Alara memincing tak suka sambil menepuk-nepuk pipi dengan handuk kering.


"Ya ...," Abir senyum-senyum, "ini kan malam pertama kita."


"Terus? Kenapa emangnya kalau malam pertama? Lu mau sekalian ini jadi malam terakhir lu?!" sembur Alara sengit.

__ADS_1


Abir mencebik. Pria itu kemudian mengentak-entakkan kaki ke tempat tidur.


Belum sempat Abir merebahkan diri, Alara dengan gerakan super cepatnya menarik kaus Abir dari belakang.


"Mau apa lo?" tanya Alara tak ramah.


"Main kriket," jawab Abir datar. "Udah jelas ke kasur artinya mau tidur, dodol!"


"Nggak! Lo nggak boleh tidur di sini!"


"Hey, kalau lo lupa, ini istana milik keluarga gue! Jadi, kenapa gue nggak boleh tidur di sini?"


"Justru itu! Karena ini istana keluarga lo, jadi lo harusnya cari kamar lain. Di sini kan ada banyak, lo tinggal pilih mau tidur di mana, asal bukan di sini aja!" terang Alara tidak baik-baik, karena sambil ngegas.


"Nggak bisa gitu, dong!" protes Abir. "Lihat, nih," tunjuknya pada hamparan kelopak bunga mawar di atas ranjang, yang disusun membentuk tulisan 'Abir love Alara', "ada nama gue, berarti ini milik gue juga!"


"Enggak bisa! Ini daerah kekuasaan gue! Mulai dari pojok sana ke pojok sana, semuanya milik gue! Lo harus cari yang lain!"


Abir menarik napas panjang, berusaha sesabar mungkin dengan tingkah makhluk hidup satu ini. "Denger, ya, Alara Aarunaya Maheswara, anaknya Pak Adipramana Maheswara, kita masih ada di bungalow milik keluarga gue. Dan di sini, bukan hanya ada kita berdua, tapi juga bibi-bibi lo yang payah itu. Bayangin, kalau mereka lihat gue tidur terpisah sama lo, kita bakal jadi bahan bulan-bulanan mereka. Lo mau?"


Alara terdiam. Sepertinya tengah mencerna perkataan Abir barusan.


Sekitar lima detik kemudian, perempuan tinggi itu mendengus. "Ya udah, iya. Lo boleh tidur di kamar ini, tapi nggak di tempat tidur ini."


Sorakan Abir yang hampir keluar, berubah haluan jadi ternganga. "Lah, trus? Gue musti tidur di mana?"


"Serah. Di dinding, di atap, di lantai, di sofa, di balkon, atau di kamar mandi juga nggak pa-pa," jawab Alara santai.


"Di dinding-di dinding, lu kira gue cicak?!" semprot Abir.


"Gue nggak bilang gitu, ya!" Alara tertawa terbahak-bahak.


Abir mendengus. "Ra, please, izinin gue tidur di tempat tidur, ya? Please .... Gue janji, nggak bakal ngapa-ngapain lo. Beneran. Sumpah. Gue juga mana berani ngapa-ngapain Macan Betina kayak lo. Ya ...? Izinin gue tidur di ranjang, ya?" mohonnya memelas.


"ENGGAK! Sekali enggak, tetep enggak!"


"Ra, please ...." Abir melengkungkan bibirnya ke bawah, membuatnya terlihat sangat memelas.


Alara mendengus kasar. "Ya udah, ya udah. Gue izinin!"


"Yes!" sorak Abir pelan, ketika Alara membersihkan tempat tidur itu dari hamparan kelopak bunga mawar. Selanjutnya, pria itu menyeringai, seperti telah merencanakan sesuatu.


***

__ADS_1


__ADS_2