Deal, Kita Nikah!

Deal, Kita Nikah!
15. Penyihir Polos VS Abir Payah


__ADS_3

"---Alara?!" seru Abir tak percaya.


"Alara? Siapa itu Alara? Namaku bukan Alara, dan aku tidak kenal dengan perempuan bernama Alara. Oh iya, aku tahu, Alara itu penyihir jahat, kan? Biar kuberi tahu sesuatu, jangan pernah sebut namanya, atau jika kau sebut namanya sebanyak tiga kali, maka dia akan datang," oceh Alara sok serius, tapi juga tertawa-tawa tidak jelas.


"Sadar, woy! Sadar! Penyihir jangan teriak penyihir! Sadar, Lara, sadar!" teriak Abir seraya mengguncang bahu Alara yang tengah mabuk berat.


"Kalau aku tidak sadar, bagaimana aku bisa bicara?" tanya Alara polos.


Abir berdecak geregetan. "Ayo balik!" Diseretnya Alara ke daratan, bersamaan dengan ombak yang menerpa—yang syukurlah sangat pelan.


"Ihh, lepas! Jangan tarik-tarik aku! Tanganku sakit, tahu! Nanti aku laporin Mama, loh!" rengek Alara sambil mengentak-entakkan kakinya manja, persis seperti anak kecil saat merajuk.


Jika sedang tidak dalam mode marah-marahan, Abir pasti akan tertawa terpingkal-pingkal. Lucu juga, melihat si badass Alara, bisa bertingkah manja layaknya anak kecil.


Sesampainya mereka di daratan, Abir mendudukkan Alara di hamparan pasir. Gadis itu langsung menurut tanpa protes, sangat jauh berbeda dengan Alara versi sadar.


"Kau mau apa, hm? Main masak-masakan?" Alara bertanya polos.


Sekarang lupakan sejenak soal acara pertengkaran itu, momen ini sangat langka—Alara tidak pernah bisa sepolos ini meski pernah menjadi anak kecil seperti manusia pada umumnya. Abir pun tertawa puas, bahkan sampai terguling-guling di pasir.


"Kenapa kau malah ketawa? Apa yang lucu?" Lagi, pertanyaan dan ekspresi polos itu keluar dari bibir Alara.


"Heh, mentang-mentang lu lagi mabok, kosakata lu jadi baku gitu?" tawa Abir sekali lagi.


"Bu Naina pernah bilang, 'bicaralah dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar', jadi, apa salahku?"


Bahkan otak Alara yang bebal dan tidak pernah ingat itu, mendadak ingat pelajaran semasa SD. Bu Naina adalah guru SD mereka, yang mengajar mereka dari kelas 3 sampai kelas 5.


"Terus, Bu Naina bilang apa lagi?" pancing Abir. Dia masih penasaran apa yang akan Alara katakan.


Sebelum bicara, Alara mengetukkan telunjuknya di pipi, lagi-lagi bertingkah ala anak kecil. "Bu Naina bilang … kalau lapar harus makan. Aku lapar! Ayo kita cari makan!"


"Lah, kapan bu Naina bilang gitu?"


"Pokoknya pernah, ayo kita pergi!" Alara berdiri terlebih dahulu, lalu cepat-cepat berlari meninggalkan Abir.


"Heyy! Tunggu!"


Abir mengejar Alara yang dalam beberapa detik saja sudah bisa jauh di depan sana. Rupanya selain membuat Alara tidak sadar tapi ingat banyak hal, minuman itu juga memberi Alara energi untuk berlari.

__ADS_1


"Mau makan di mana?" tanya Abir ketika berhasil menyeimbangi langkah Alara.


Alara terisak-isak sambil mengucek kedua matanya langsung dengan dua tangan. Spontan saja Abir terkejut, keajaiban apa lagi yang akan minuman itu beri?


"Hei, Lara, lu kenapa nangis gitu?"


Bukannya diam, isakan Alara semakin terdengar keras dan melengking. "HUAAAA ....!"


Abir panik sendiri. "Hei, hei, kok tambah keras? Lu kenapa? Apa yang sakit?"


"Abir bentak aku .... Padahal apa salahku dengan menculiknya? Aku hanya mau jauhkan dia dari penyihir jahat yang menyamar itu. Gadis yang sakitnya cacat logika. Aku tidak salah, kan?" jelas Alara memelas, sesekali terisak juga.


Seharusnya Abir marah karena kembali diingatkan, tapi entah mengapa dia malah kembali tertawa melihat ekspresi memelas Alara.


"Abir siapa?" Iseng Abir bertanya, dia ingin tahu saja, apa yang gadis itu ingat tentang dirinya saat sedang tidak sadar?


"Abir itu pria payah! Kang selingkuh, godain semua benda bergerak, pokoknya Abir itu manusia payah!"


Kau pasti bisa menebak, Abir tidak tertawa lagi, tapi membuat ekspresi sedatar-datarnya. Ternyata, soal mengejeknya payah, Alara sama saja. Tidak ada minuman yang mau repot membantunya jadi keren di mata Alara.


"Dia siapamu?"


Abir manggut-manggut. "Jadi kau sudah menikah?"


"Kalau aku bilang dia suamiku, artinya aku sudah menikah! Kau ini ternyata seperti Abir, ya, sama-sama payah!"


Daripada Alara semakin jauh menghinanya, akan lebih baik jika Abir segera membawa perempuan itu ke rumah makan. Tidak peduli dalam kondisi sadar atau mabuk, Alara tetap rakus.


"Oke, ayo kita cari makan."


Abir akan membawa Alara ke kedai yang buka 24 jam di sekitar ini. Belum tahu di mana, tapi pasti ada.


***


Abir tidak tahu bagaimana Alara bisa menghabiskan semua makanan itu. Alara memesan semua menu yang ada di kedai 24 jam ini, hingga meja tempat mereka memesan dipenuhi makanan. Bahkan, masih tidak cukup, karena beberapa menu diletakkan di meja sebelahnya.


"Ra, lu gila? Gimana cara ngabisin semua ini?"


"Dikunyah sampai lembut, terus ditelan," jawab Alara polos. Tangannya yang panjang kemudian mengambil ayam goreng disajikan penuh di piring. Selanjutnya, Alara makan dengan rakus paha ayam itu.

__ADS_1


Sekali lagi, Abir dibuat ternganga. Ini sebenarnya Alara mabuk minuman, atau kerasukan roh jahat yang rakus makan?


Hingga ketika piring itu habis, Abir yang sama sekali tidak makan, menelan susah payah salivanya. Dalam lima menit saja, ke mana paha-paha ayam itu menghilang?


"Enak?" tanya Abir agak ngeri.


"Heem. Mau?" Alara menyodorkan sayap ayam goreng yang sudah digigit setengah.


Abir menggeleng beberapa kali, jujur saja dia masih ngeri. "Enggak. makasih." Dengan konyolnya dia malah membayangkan akan dilahap juga oleh Alara yang masih belum kenyang.


Satu jam kemudian, makanan-makanan itu sudah berpindah ke perut Alara. Sumpah, Abir ikutan kenyang meski tidak ikut makan.


"Sekarang ayo kita pulang. Aku mengantuk. Kepalaku juga sakit sekali. Antar aku pulang, ya?"


"Iya, iya, tentu saja. Siapa yang akan tega membiarkanmu keluyuran sendiri dalam keadaan gila begini?"


Lihat, bahkan Abir pun ikut-ikutan bicara dengan bahasa baku. Jika Bu Naina dengar, pastilah wanita itu akan merasa bangga sebab muridnya ingat pesan darinya.


***


"Sudah bisa dihubungi?"


Rajvans menggeleng. Sejak sore tadi, dia belum berhasil menghubungi anak maupun menantunya, selain saat dengan suara seperti mabuk Alara berkata 'sibuk selingkuh' tadi.


"Ya Tuhan, sebenarnya mereka itu ke mana?" Nenek benar-benar khawatir memikirkan apa-apa yang mungkin terjadi.


"Jangan-jangan … sibuk selingkuh yang kak Alara bilang tadi adalah ... kak Abir yang lagi selingkuh?" tebak Arshia.


"Hust! Kamu ini bicaranya ngada-ngada aja," peringat Afsana.


"Tapi suara Alara seperti dia sedang mabuk," kata Rajvans sambil mengingat-ingat apa yang menantunya itu sampaikan lewat telfon.


"Bisa jadi kak Abir selingkuh, trus karena kesel, kak Alara minum-minum. Iya, nggak?" tebak Arshia lagi.


Kali ini sepertinya semua orang setuju, terbukti dengan mereka semua yang hanya diam sambil saling menatap.


"Kita harus beritahukan ini semua ke keluarga Alara," putus ayah Abir itu, yang langsung mendapat anggukan setuju dari semua orang.


***

__ADS_1


__ADS_2