Deal, Kita Nikah!

Deal, Kita Nikah!
32. Impian Alara


__ADS_3

Kembalinya Abir dengan tangan kosong, membuat emosi Alara meledak-ledak seperti petasan; dia mengamuk, mengomel, hingga berakhir mendiami Abir. Yang didiami pun juga diam sambil fokus membuat api unggun. Dia tak mau membahayakan dirinya lagi jika api unggun itu tak segera dibuat.


"Nyala!" seru Abir setelah hampir 30 menit bergulat dengan batu dan kayu.


Abir pun menoleh pada Alara yang tengah menyandar di sebuah pohon. "Ra, apinya udah nyala. Sini, deh, biar nggak kedinginan," ajaknya lembut.


Alara malah melengos, tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.


Namun, Abir masih sabar. "Alara," panggilnya sekali lagi.


"Apa?!" ketus Alara.


"Duduk sini, daripada kedinginan di situ. Udah laper, kedinginan lagi. Ayo sini ...."


"Nggak!"


Tidak kehabisan akal, Abir beranjak ke tempat perempuan itu duduk sambil memeluk dirinya sendiri yang sangat kedinginan. Tanpa mengkonfirmasi, Abir angkat tubuh Alara ala bridal style, lalu membawanya ke tempat api unggun.


"Hey! Apa-apaan lo? Lepas!" Alara memberontak, tapi untuk pertama kalinya tidak Abir pedulikan.


"Duduk sini," titah Abir seraya mendudukkan Alara di sebuah batu yang lapang.


Alara mendengus, tetapi dia diam saja sebab malas mengeluarkan tenaganya yang tinggal sedikit ini untuk kembali ke tempat itu. Lagi pula, di sini jauh lebih hangat meski tidak ada pohon sebagai sandaran.


"Jadi inget jaman-jaman sekolah dulu waktu kemah, deh," celetuk Abir.


Namun, itu sepertinya tak menarik sama sekali bagi Alara. Perempuan itu tetap diam, bahkan tanpa menoleh sedikitpun.


Abir menyerah. Mau bagaimanapun dia mengoceh di depan orang yang merajuk, tetap tidak akan direspons. Maka, Abir memilih untuk menyembunyikan wajahnya di balik lutut. Syukur-syukur kalau dia bisa tertidur.


"Kalau di perkemahan kan pasti ada nyanyi-nyanyinya. Coba, deh, Bir, lo nyanyi apa gitu."


Abir mengangkat wajahnya menatap Alara. Yang bicara tadi Alara, kan?


"Malah natap gue kek gitu. Ayo nyanyi! Atau gue marah lagi, nih?"


"Nyanyi apa tapi?"


"Terserah. Yang sesuai sama suasana hati lo sekarang, atau apa aja lagu favorit lo. Pokoknya lo nyanyi!"


Abir menata duduknya jadi bersila, lalu mengetuk-ngetukkan jemarinya di pipi seperti berpikir. "Ittefaq Se?"


"Iya, mentang-mentang kita kebetulan kejebak di sini, jadi lu mau nyanyi Ittefaq Se yang artinya secara kebetulan?" balas Alara datar.


Abir cengengesan. "Iya kan sesuai, pas jadinya," kekehnya.


"Ya jangan dong, Bir, ih! Coba lagu yang romantis, apa gitu, masa Ittefaq?"


"Ya terus apa, dong? Gue nggak tahu-menahu soal lagu," cicit Abir. Dua detik kemudian, dia mengerjap beberapa kali seperti baru sadar. "Eh, apa tadi? Lo minta lagu yang romantis? seriusan?"


Alara terkesiap; mengerjap cepat beberapa kali juga persis seperti yang dilakukan Abir. "Emm ... itu ... maksudnya ... daripada Ittefaq yang lebih ke ngeri ketimbang romantis, kan mendingan yang romantis."


"Ntar kalau kita kebawa suasana, gimana?" tanya Abir yang lebih seperti memberi tebakan.


"Ya jangan sampai kebawa suasana!" pekik Alara. "Lagian mana ada, cuma nyanyian juga. Gila kali kalau kebawa suasana."


"Ya ... enggak gitu, maksudnya kalau kita baper sama lagunya, terus nanti kita malah pengin romantis-romantisan juga, eh?" Abir buru-buru menepuk bibirnya yang salah bicara.


"Denger, ya, GUE NGGAK SUDI ROMANTIS-ROMANTISAN SAMA LO! DIH, NAJIS, TAHU NGGAK!" semprot Alara terkesal-kesal.


"Gue juga nggak minat romantis sama lo. Mending juga sama Sara daripada lo," balas Abir datar.


"Ya udah, nggak jadi nyanyi!" kata Alara sejelas mungkin. "Dasar cowok payah, disuruh nyanyi aja kagak bisa. Gitu mau-maunya Sara suka sama dia? Udah gila kali si Sara," dumelnya.


“Khwaab Hai Tu Neend Hoon Main


(Kau adalah mimpi, aku adalah lelap)


Dono Mile, Raat Bane


(Kita berdua berpadu melengkapi malam)


Roz Yahin, Maangu Duaa

__ADS_1


(Setiap hari aku mendoakan ini)


Teri Meri, Baat Bane


(Kau dan aku kelak bersatu)


Baat Bane....


(kelak bersatu ....)”


Alara termangu saat empat baris lagu itu terucap di bibir Abir. Lagu berjudul Main Rang Sharbaton Ka, dari film India tahun 2013 berjudul Phata Poster Nikhla Hero. Salah satu lagu favorit Alara, yang mengapa bisa Abir tahu?


Abir tersenyum menatap Alara yang tampak kebingungan. Selanjutnya ia mulai bersiap-siap menyanyikan lirik selanjutnya.


“Main Rang Sharbaton Ka


(Aku adalah sari buah beraneka warna)


Tu Meethe Ghaat Ka Paani


Main Rang Sharbaton Ka


(Aku adalah sari buah beraneka warna)


Tu Meethe Ghaat Ka Paani


Mujhe Khud Mein Ghol De Toh


(Bila kau melarutkanku dalam dirimu)


Mere Yaar Baat Bann Jaani


(Sayangku, maka pasti akan menyenangkan)


Rang Sharbaton Ka


(Sari buah beraneka warna)


Tu Meethe Ghaat Ka Paani


Main Rang Sharbaton Ka


(Aku adalah sari buah beraneka warna)


Tu Meethe Ghaat Ka Paani


(Kau adalah air sungai yang manis.)”


Alara langsung tersenyum, sebelum menyanyikan lirik selanjutnya—yang memang dinyanyikan oleh penyanyi wanita.


“Maine Toh Dheere Se, Neendon Ke Dhaage Se


(Secara perlahan dengan benang-benang tidur)


Baandha Hai Khwaab Ko Tere


(Telah kuikat impian tentangmu)


Main Na Jahaan Chaahoon


(Aku tak menginginkan dunia)


Na Aasmaan Chaahoon


(Juga tak menginginkan langit)


Aaja Hisse, Main Tu Mere


(Kemarilah, kujadikan kau bagian diriku.)”


Abir menyahut kembali,


“Tu Dhang Chaahaton Ka

__ADS_1


(Kau adalah wujud dari hasrat cinta)


Main Jaise Koi Naadaani


(Aku adalah bentuk lain dari kenaifan)


Tu Dhang Chaahaton Ka


(Kau adalah wujud dari hasrat cinta)


Main Jaise Koi  Naadaani


(Aku adalah bentuk lain dari kenaifan)


Mujhe Khud Mein Jod De Toh


(Bila kau menyatukanku denganmu)


Mere Yaar Baat Bann Jaani


(Sayangku, maka pasti akan menyenangkan)


Rang Sharbaton Ka


(Sari buah beraneka warna)


Tu Meethe Ghaat Ka Paani


(Kau adalah air sungai yang manis.)”


Mereka berdua kemudian bertepuk tangan atas duet tak terduga mereka malam ini.


Raut kesal kini tak lagi tampak di wajah Alara, sebaliknya, senyuman indahnya malah terpancar bersama dengan kedua bola mata yang berbinar.


"Abir ..., dari mana lo tahu kalau ini lagu favorit gue? Mana lo bisa nyanyiinnya lagi. Kok gue nggak pernah tahu lo bisa nyanyi lagu India?" cecar Alara dengan semangat empat lima.


Abir tersenyum tipis. "Gue sering lihat lo dengerin lagu ini sendiri sambil senyum-senyum. Jadi gue cari tahu ini lagu apa, habis itu gue hafalin buat lo. Karena siapa tahu lo bakalan suka."


Deg!


Alara langsung berkaca-kaca mendengarnya. Abir menghafalkan lagu ini demi dia? Demi dia? Alara? Sungguhan ini Abir?


"Eh, Ra? Kok lu nangis, sih? Gue salah, ya, hafalin lagunya? Ada liriknya yang salah kah? Atau apa? Aduh, jangan nangis, dong," Abir panik sendiri, langsung ia melompat ke sisi Alara.


"Lara ...?"


"Beneran lo ngafalin lagu ini demi gue? Ah, Abir, gue kan jadi baper," Alara mengusap air matanya yang tiba-tiba mengalir tanpa permisi.


"Yahh, kirain karena gue salah nyanyinya."


"Enggak salah!" seru Alara cepat-cepat. "Gue malah baper, tahu!" Ia usap sekali lagi pelupuk matanya. "Gue---gue selalu berharap, akan ada seseorang yang nyanyiin lagu ini buat gue, dan ternyata, itu terkabul, dan orangnya adalah lo. Aaaa, Bir ... makasih ...."


Alara benar-benar dilanda kebaperan tingkat tinggi saat ini. Tidak pernah dia merasa tersentuh atau apa dengan berbagai tindakan Abir, kecuali tindakannya menyanyikan lagu favorit Alara ini.


Dalam diri Abir sendiri, ada rasa hangat di hatinya mengetahui respons Alara akan seperti ini. Ia usap cairan bening yang meleleh di pipi Alara. "Udah, nggak usah nangis. Masa baper aja sampai nangis? Ini bukan Alara yang gue kenal, ih," hiburnya.


"Habisnya gue baper, Bir. Ini impian gue. Hero gue akan ngafalin lagu ini hanya buat gue, khusus untuk gue, spesial untuk gue, dan ternyata impian itu malah lo yang wujudin. Gimana gue nggak baper, coba?"


"Berarti gue hero-nya lo, lo heroine-nya gue," kata Abir tersenyum. "Udah, jangan nangis lagi. Nanti coret impian ini karena udah terwujud."


Alara langsung menghambur ke pelukan Abir, memeluk pria yang berstatus sebagai suaminya itu erat-erat. Untuk pertama kalinya, tentu saja.


"Makasih, Bir. Makasih, makasih, makasih," ucap Alara di sela-sela pelukannya. "Gue akan selalu inget momen ini. Ini akan jadi hal paling indah yang terjadi dalam hidup gue. Momen yang akan selalu gue kenang selamanya. Makasih, Bir ...."


Abir membalas pelukan Alara perlahan-lahan. "Sama-sama, Alara. Ini juga akan jadi momen terindah yang pernah terjadi di hidup gue."


*****


Note:


Lagu yang Alara dan Abir nyanyikan, Main Rang Sharbaton Ka, salah satu lagu dari film India tahun 2013 berjudul 'Phata Poster Nikhla Hero', yang dimainkan oleh Shahid Kapoor dan Ileana D'Cruz.


Ittefaq Se, lagu dari film India tahun 2017 berjudul 'Ittefaq', yang dimainkan oleh Sidharth Malhotra dan Sonakshi Sinha.

__ADS_1


__ADS_2