Deal, Kita Nikah!

Deal, Kita Nikah!
27. Pokoknya Selain Alisha


__ADS_3

Gelap. Itu kesan pertama yang didapati Abir dan Alisha ketika memasuki tempat tinggal Abir dan Alara itu. Lampu ruang tamu tidak menyala, Alisha duga dimatikan oleh ibunya—yang juga ia yakin sudah tidur.


Tap.


Seketika ruangan menjadi terang, meski seseorang di atas sofa sana tidak sedikitpun terganggu.


"Alisha, kamu bisa tidur di sofa satunya. Sebelumnya maaf, ya, kamar satunya masih kotor, nggak bisa ditempati," ujar Abir.


Alisha mengangguk. "Nggak apa-apa, Kak, ini juga udah cukup, kok. Lagian sofanya juga panjang," ucapnya tersenyum.


"Oke, kalau gitu silakan tidur."


Perempuan itu mengangguk segan, baru kemudian menyusul ibunya untuk tidur. Hal itu membuat Abir turut mengembangkan senyum. Entahlah, setiap gerak-gerik Alisha tampak begitu manis di matanya. Abir segera menggeleng untuk menyingkirkan pemikiran itu dari kepalanya. Ingat, tidak baik membanding-bandingkan orang. Dan jika Alara tahu, Abir harus mengatakan selamat tinggal pada dunia ini.


"Udah selesai ngambeknya?"


Abir terlonjak saat suara itu menyambutnya yang baru masuk ke kamar. Alara. Rupanya si kejam itu belum tidur


Sebagai jawaban, Abir hanya mengangguk. Tanpa senyum. Tanpa menoleh. Ceritanya dia juga sedang sok kejam.


"Ketemu Alisha di mana?"


Abir—yang tengah membelakangi Alara—mengernyit. "Kok tahu gue datang sama Alisha?"


"Suara bisik-bisiknya kedengaran dari sini," jawab Alara.


Aneh. Kenapa Alara yang berada di sini bisa dengar, sementara Bibi Amira yang di depan sana saja tidak? Tajam juga, ya, pendengaran si Kejam ini.


"Tadi ketemu Alisha di halte bus. Sendirian. Katanya lagi nyari maminya."


Alara manggut-manggut. "Lo udah nggak marah lagi, kan?"


Abir mendudukkan dirinya di ranjang, tepat di sebelah Alara. "Gue balik bukan berarti gue udah nggak marah. Denger, ya, Ra, apa yang lo lakuin ke Ritvik itu salah. Maksudnya, itu nggak bisa dibenarkan. Gue tahu, pacaran itu nggak dilindungi hukum, atau istilahnya salah lah kalau dalam agama kita. Tapi, bohongin seseorang, ninggalin sesorang gitu aja tanpa kejelasan, itu juga nggak benar. Entah dosa atau enggak, tapi rasanya kurang sopan aja. Misal, lo lagi sayang-sayangnya sama seseorang, tapi malah dikhianatin trus ditinggal gitu aja tanpa alasan. Gimana perasaan lo? Marah, nggak? Pengen ngamuk, nggak?"


"Kalau gue yang ada di posisi itu, udah gue bunuh tuh orang," sahut Alara.


"Nah!" Abir menjentikkan jarinya, "jadi, lo siap mau dibunuh sama Ritvik atau pacar-pacar lo yang lain?"


"Kenapa juga mereka mau bunuh gue? Gue udah putusin mereka baik-baik, ya. Lihat aja chat yang gue kirim ke lo kalau nggak percaya."


Menurut, Abir mengambil ponselnya yang rupanya disimpan di laci. Benar, di sana ada tiga pesan dari nomor Alara. Setelah dibaca kurang lebih tiga puluh detik, Abir menatap perempuan yang masih setia duduk di pinggiran ranjang itu.


"Ini juga salah."


Alara menoleh tak suka. "Apanya yang salah?"

__ADS_1


"Mereka belum jawab, kenapa udah lu blokir?!"


"Akh, masa bodohlah. Yang penting, gue udah mutusin mereka. Soal terima atau enggak, bodo amat. Gue nggak peduli."


Abir menarik napas panjang, lalu mengembuskannya cepat. "Terserah."


"Eh, Bir, lo bilang tadi mau melakukan hal yang sama. Berarti lo mau selingkuh, kan? Kalau iya, jangan lupa tunjukkin ke gue, ya. Biar gue nilai calon selingkuhan lo sesuai apa enggak," celoteh Alara.


"Iya, iya. Lo tenang aja pokoknya."


***


Aroma sedap yang menyeruak memasuki kamar, membuat Abir mengerjap beberapa kali kemudian terbangun. Dilihatnya sisi samping, Alara yang tetap nyenyak seperti orang pingsan.


"Alara masih tidur, trus siapa yang masak?" gumam Abir sambil mengucek mata. "Eh tapi, kalaupun dia bangun juga nggak bakalan bisa masak seenak ini."


Sejujurnya Abir masih mengantuk, tapi aroma masakan ini membuat perutnya mendadak lapar. Rasanya ingin segera ke ruang makan, lalu menghabiskan semua yang ada di sana.


"Lara, bangun, udah pagi," Abir menggoyang-goyangkan tubuh Alara dari samping.


Namun, perempuan itu hanya melenguh seraya berganti posisi—memunggungi Abir sambil menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Lara, ada yang masak enak banget di dapur kita. Perut lo yang seluas samudra itu pasti lapar, kan? Ayolah bangun," racau Abir tak menyerah. Iya, dia agak meracau karena mulut dan matanya masih sulit diajak kompromi.


"Alara! Nggak usah simulasi mati, deh, Ra. Alaraaaaa~"


Akhirnya perjuangan Abir berhasil juga. Alara menggeliat pelan, mengucek kedua kelopak matanya sekaligus, lalu menatap Abir sembari mengembalikan kesadaran.


"Ada apa, sih? Nggak tahu apa, gue masih ngantuk," Alara menguap panjang.


"Coba hidung lo dipakai, deh. Ada bau apa yang kecium," perintah Abir.


Alara mengendus-endus sebentar, kemudian matanya berbinar-binar—tak ada lagi rasa kantuk yang tersisa di sana. "Siapa yang masak? Enak banget baunya."


"Alisha."


Alara langsung melompat turun dan berlari keluar. Dia baru ingat, Alisha itu sangat pintar memasak. Masakan apa pun bisa dibuat oleh gadis itu. Lalu rasanya, jangan ditanya lagi, sangat enak!


"Al, lagi masak apa?" tanyanya setengah berteriak menghampiri Alisha yang tengah menyajikan makanan.


"Kesukaan kamu, Ra," jawab Alisha tersenyum.


Langsung saja Alara menarik kursi, duduk, dan mengambil piring. "Gue makan duluan, ya?"


"Tunggu suamimu dulu dong, Alara," jawab Bibi Amira.

__ADS_1


Alara mendengus. Ketika ia hampir berteriak memanggil Abir, pria itu muncul sendiri dan berjalan ke meja makan.


"Nah, sekarang kita tinggal makan."


***


Beberapa macam makanan yang Alisha buat ludes seketika, masuk perut keempat orang di rumah ini. Semuanya puas, terutama Alara. Sebagai orang yang tidak bisa memasak, Alara selalu puas makan apa saja. Sejak masih kecil, dia tidak pernah rewel soal makanan.


"Enak banget masakan kamu, Sha. Bolehlah kamu ajarin sepupumu itu," ucap Abir.


Alara mendelik tajam, yang dibalas juluran lidah oleh Abir.


"Alara kalau mau belajar juga pasti bisa masak yang lebih enak dari Alisha," celetuk Amira.


"Sayangnya aku nggak minat belajar masak apa pun, Bi. Aku mah tinggal makan aja. Kalau mau ngajarin, ajarin aja si Abir," balas Alara.


"Bagaimanapun juga kamu harus belajar masak, Ra. Kamu kan udah nikah, suami kamu juga pasti ingin merasakan masakan kamu. Itu juga jadi salah satu kunci hubungan pernikahan kalian biar tetap harmonis," tutur Amira.


Alara hampir tak percaya mendengarnya. Sejak kapan penyihir satu ini jadi bijak dan bisa memberi nasihat?


"Oh iya, kami mau pulang sekarang. Alisha harus kembali ke luar negeri. Kalian juga pasti mau bekerja, kan?"


Alara dan Abir mengangguk kaku saat sepasang mata Bibi Amira menatap mereka bergantian.


"Baguslah. Ayo, Sayang, kita pulang sekarang. Kalian baik-baik, ya, di sini. Kami pergi dulu. Assalamualaikum."


Mereka jawab salam dari Bibi Amira dengan perasaan aneh dan heran. Sejak kapan wanita itu mulai mengucap salam?


"Alisha hebat banget, deh. Masih kecil aja udah bisa masak seenak ini," puji Abir setelah dua ibu dan anak itu tidak terlihat lagi di sini.


"Masih kecil apaan? Dia udah kuliah, bukan anak kecil lagi," sahut Alara.


"Sama sajalah. Intinya, masakannya enak banget." Sekali lagi Abir puji perempuan itu dengan senyuman mengembang lebar.


Alara menatap sengit Abir meski tidak diketahui oleh laki-laki itu. "Jangan macem-macem lo, Bir. Alisha itu sepupu gue. Kalau misal lu naksir atau mau lu jadiin salah satu kandidat partner selingkuh, mending lupain. Jangan dia. Cari aja perempuan lain. Di dunia ini masih banyak model perempuan. Semuanya belum punah, karena yang punah itu dinosaurus," ocehnya.


"Memang apa yang kurang dari diri Alisha?" Abir sengaja memberi tebakan.


"Dia nggak ada kekurangan sama sekali. Calon istri ideal lah istilahnya. Yang jadi masalah, dia itu sepupu gue. Pokoknya lo jangan macam-macam sama dia. Mau selingkuh boleh, sama siapa pun juga boleh, asal jangan sama seseorang yang masih kerabat gue. Oke?"


Abir mengangguk beberapa kali tanda malas berdebat. Jadi, ia setuju-setuju saja.


"Gue nggak masalah kalau lo punya hubungan sama cewek lain yang bukan kerabat gue, tapi kalau kerabat gue, dan khususnya Alisha, gue nggak akan ngampunin lo. Ingat itu!" Alara memperjelas kata-katanya sekali lagi.


***

__ADS_1


__ADS_2