Deal, Kita Nikah!

Deal, Kita Nikah!
56. Alara: "Abir hanya milikku!"


__ADS_3

Malam itu, Alara dan Raisha memilih melupakan sejenak soal teror itu dan pergi beristirahat. Besok, mereka harus kembali ke kenyataan. Fisik dan mental akan diuji lagi oleh masalah yang sedang terjadi. Itu sebabnya Raisha mewanti-wanti Alara agar tidak sampai sakit. Lupakan sejenak, lalu tidur.


Esok pagi-pagi sekali ketika Alara bangun, dia mendapat telpon yang mengabarkan kalau Abir dan Alisha sudah dibawa pulang. Saat ini mereka semua tengah berada di rumah keluaga besar Abir. Alara bersama Raisha pun mau tak mau menyusul ke sana. Karena selain itu, masalah ini juga katanya akan dicari jalan keluarnya.


Malas sekali sebenarnya melihat wajah Penyihir itu, tapi Alara tak punya pilihan lain. Masalah akan selesai jika dicari jalan keluarnya, bukannya ditinggal kabur. Alara hanya ingin hidup tenang dan damai, itu saja tidak lebih.


Ketika Alara dan Raisha tiba di rumah keluarga Abir, sudah penuh orang-orang di sana. Mereka semua seolah sudah menunggu kedatangan Alara. Dan tentu saja, tatapan tak mengenakkan langsung Alara dapat dari para bibinya.


"Nak," Afsana mendekati Alara dan menggenggam kedua tangannya. "Syukurlah kau mau datang," lanjutnya.


"Jadi bagaimana?" tanya Alara langsung ke intinya. "Sudah ada jalan keluar atau belum? Dan ya, sudah tahu siapa ayah dari anak yang dikandung Alisha?"


Alisha menunduk dalam-dalam ketika Alara menatapnya sambil tersenyum sinis. Tidak ada Alara yang rapuh atau menangis seperti kemarin. Sekarang hanya ada Alara yang kuat, Alara yang seolah sudah sangat siap berperang.


"Kami hanya ingin Abir bertanggung jawab atas perbuatannya," kata Amira tanpa basa-basi.


Alara tersenyum. "Dari mana kau tahu kalau itu perbuatan suamiku? Apa ada buktinya? Bukti yang bisa menunjukkan dengan jelas kalau itu memang perbuatan Abir."


"Bukti apa lagi? Semuanya sudah jelas dan tidak memerlukan bukti apa-apa lagi. Suamimu itu bersalah, dan itulah kebenarannya!" tekan Amira.


Alara menaikkan sebelah alisnya. "Kalau hanya bicara, semua orang juga bisa, Bibi."


"Kau---" Kata-kata Amira tertahan bersamaan dengan tangannya yang seolah sudah siap meremas Alara. Namun, ya, kau tahu sendiri, Alara mana pernah merasa talut?


"Aku apa? Aku tidak takut? Atau aku yang terlalu yakin?" tantang Alara.


Amira menghembuskan napas gusar, kemudian kembali mendudukkan dirinya. Sementara Miray mendekati putrinya.


"Nak," panggil Miray lembut, "kami ingin kau ...."


"Aku apa, Ma?" potong Alara.


"Kau merelakan suamimu untuk Alisha. Karena bagaimanapun juga ... Alisha yang lebih membutuhkan Abir, apalagi sekarang ... kau tahu sendiri, bukan hanya Alisha, tetapi ada bayinya juga," ujar Miray perlahan-lahan.

__ADS_1


"Itu keputusan yang kalian ambil tadi?" tanya Alara dengan suara tenang.


Semua orang yang ada di ruangan itu mengangguk, kecuali Abir dan Alisha yang hanya diam..


"Sebelum itu, aku ingin bertanya sesuatu," Alara menghentikan ucapannya dan menarik napas lumayan panjang. "Bagaimana jika kalian semua ada di posisi ini? Apa kalian akan lebih memilih mengalah dan menyerahkan suami kalian pada pelakor alih-alih memperjuangkan hak kalian?"


Semuanya terdiam. Satu pun tidak ada yang berani menatap mata Alara selain Raisha.


"Apalagi semua itu belum terbukti kebenarannya. Kalau benar Abir yang bersalah, oke, aku akan dengan senang hati menyerahkannya pada Alisha. Aku sendiri yang akan menyerahkan Abir padanya, tapi ini? Semuanya belum terbukti!"


Alara kemudian melanjutkan, "Sahabatku dulu, Raina, dia pernah mengatakan, 'anak yang lahir dari hubungan tidak sah, nasabnya ada pada ibunya'. Itu berarti ... anak yang lahir dari hubungan sah-lah yang lebih mendapat banyak hak, bukan yang dari hubungan tidak sah. Sekarang aku ingin bertanya, jika benar Abir menghamilimu, Alisha, bukankah anak yang kau kandung itu tidak sah? Tidak ada ikatan apa-apa di antara kalian, dan maaf, mungkin ini kedengaran kejam, tapi hak apa yang kau dapat? Kau sama saja dengan pelakor di luaran sana yang merebut suami sepupumu!"


"ALARA!" bentak Amira. "Beraninya kau bicara begitu pada putriku!"


"Ya!" jawab Alara lantang dan berani. "Aku sedang memperjuangkan hakku dan hak BAYI YANG ADA DALAM KANDUNGANKU!"


Ruangan seketika menghening. Hanya ada suara napas Alara yang naik turun selain dengan ekspresi terkejut dari semua orang.


"Kau ... kau juga sedang mengandung?" tanya Miray hampir tak percaya.


Ruangan itu kembali hening, tetapi kali ini lebih sepi sebab napas Alara sudah kembali normal. Sepersekian detik kemudian, beberapa pasang mata itu saling melempar tatapan kebingungan bercampur terkejut.


"Kau tidak bohong, kan?" tanya Ayah Alisha.


Alara mengambil sebuah surat dan melempar itu di hadapan semua orang. Miray memungutnya dan membaca tulisan yang ada di situ. Itu merupakan surat hasil tes Alara kemarin. Benda itu sekaligus menjadi bukti bahwa perkataan Alara memanglah benar dan tidak mengada-ada.


"Sekarang kalian percaya?" tanya Alara setelah puas menyaksikan wajah terkejut orang-orang.


Miray sudah berkaca-kaca menatap putrinya. Seketika saja rasa penyesalan hinggap dalam hatinya karena telah mengatakan itu. Dia tak pernah tahu putrinya juga sedang mengandung, dan itu membuatnya merasa sangat bersalah kini.


"Maafkan Mama, Alara," sesal Miray seraya menghambur ke pelukan putrinya itu.


Alara melepas pelukan Mamanya yang belum genap 5 detik. "Tidak perlu meminta maaf," ucapnya datar.

__ADS_1


"Jadi bagaimana?" sambung Alara. "Masih ingin aku yang mengalah setelah tahu semua ini?"


Terjadi keheningan untuk beberapa saat. Semua pasang mata hanya saling melempar tatapan tanpa bicara barang satu patah kata saja.


"Ya," jawab Amira memecah keheningan yang terjadi. "Setiap perbuatan harus dipertanggungjawabkan. Tidak peduli apa pun perbuatan itu, tanggung jawab tetaplah wajib!"


"Baiklah," sahut Alara tanpa menunggu detik berlalu. "Abir akan bertanggung jawab, jika Alisha berani melakukan tes DNA dan semuanya terbukti dengan jelas."


Semuanya tercengang, bahkan mulut Amira menganga lebar. Belum sempat mereka semua meredakan ekspresi terkejut masing-masing, Alara kembali berkata,


"Aku tahu tes DNA pada bayi yang belum lahir sangatlah berisiko, tapi bukankah kalian semua menuntut tanggung jawab? Aku berjanji, jika janin yang ada dalam kandungan Alisha terbukti darah daging Abir, aku akan mengalah."


Alisha yang sejak tadi menunduk, kini sedikit mengangkat wajahnya menatap sang Ibu. Sementara itu Amira menatap ke mana saja selain pada putrinya dan Alara.


"Bagaimana? Berani?" tanya Alara sekali lagi.


"Tapi itu sangat berisiko," ucap Alisha untuk pertama kalinya setelah sibuk diam.


"Jika itu adalah kebenaran, maka kau pasti tidak akan takut," tandas Alara.


Alisha kembali menatap Ibunya. Kini Amira pun berani bersitatap dengan putrinya itu. Tidak tahu apa yang mereka pikirkan dalam benak masing-masing, satu yang pasti adalah semua itu berlangsung cukup lama.


"Nak Alara, kau seharusnya mengalah untuk adik sepupumu. Bagaimanapun Alisha itu adikmu, bukan? Atau begini saja, Abir tetap menikahi Alisha tanpa menceraikanmu," tutur bibi Alara yang lain, Amrita.


Kedua tangan Alara sudah mengepal mendengar itu. Tanpa pikir panjang, satu jawaban keluar dengan lantang dari mulutnya. "TIDAK! ABIR HANYA MILIKKU! AKU TIDAK AKAN MEMBAGINYA DENGAN SIAPA PUN!"


Kalimat menggelegar itu sekali lagi membungkam mulut semua orang. Sementara napas Alara kembali naik turun, tangannya tetap mengepal, dan wajahnya sudah memerah seakan siap mengeluarkan letusan yang dahsyat.


"Sebagian dari kalian yang berada di ruangan ini adalah perempuan, apa kalian tidak bisa merasakan atau paling tidak berempati sedikit saja pada perempuan lainnya?! Kalian terus menyuruhku mengalah dan melepaskan Abir demi pelakor itu! Apa kalian akan melakukan hal yang sama jika ini terjadi pada diri kalian? Oke, mungkin ini sudah tidak akan menimpa kalian lagi, tetapi anak-anak kalian. Bibi Amrita, kau punya Kaira, anakmu yang juga seorang perempuan. Dan Mama Mertua, kau juga punya Arshia dan Arshika yang juga seorang perempuan. Kalian pikir lagi, jika apa yang menimpaku ini terjadi pada putri-putri kalian, apa kalian juga akan melakukan hal yang sama?!"


Semuanya terdiam, tetapi Afsana menjawab, "Tidak akan. Aku akan mendukung putriku untuk memperjuangkan haknya. Dan Abir, aku tahu putraku itu memang ramah ke semua perempuan dan bahkan bisa dibilang dia itu playboy. Tapi aku yakin, aku yakin sekali, putraku tidak akan melewati batas. Dia punya kakak dan adik yang juga seorang perempuan, dia tidak mungkin sampai melakukan kesalahan sebesar itu," ujarnya panjang lebar.


Afsana kemudian berjalan mendekati Alara. "Nak, kami ada di pihakmu. Kami akan membantumu mengungkap kebenaran yang mereka sembunyikan," tuturnya sembari melirik Alisha dan Amira ketika menyebut kata 'mereka'.

__ADS_1


*****


__ADS_2