
Alara membanting tubuhnya ke sofa. Kesal sekali rasanya mengetahui fakta bahwa Ritvik tidak terlibat dalam tindakan teror yang menimpanya. Sebenarnya, sedikit ada rasa tak percaya kalau pria itu tidak ikut-ikut, hanya saja dia tidak punya bukti untuk menuduh. Dan lagi pula, mantannya bukan Ritvik seorang. Bisa saja itu ulah mantannya yang lain, kan?
"Udahlah, Ra. Palingan surat sama mi instan itu cuma dari orang iseng," Abir ikut menghempaskan tubuhnya di samping Alara, membuat gadis itu menatapnya.
"Kalau bukan dari orang iseng?"
"Ya kita tunggu aja 59 hari lagi, bakalan ada apa," jawab pria itu santai.
Alara mendesah panjang. Sama seperti Abir, ia sebenarnya juga enggan sekali mencari tahu hal-hal yang begini, tapi mau bagaimana lagi? Rasa penasarannya sudah berada di puncak. Jika tidak dilampiaskan, uh, menyiksa sekali.
"Oh ya, Ra, gue mau ke kantornya kak Aditya," kata Abir seraya bangkit dari kegiatan setengah berbaringnya di sofa.
Alara memicingkan mata. "Sekarang?"
"Ya iyalah, masa tahun depan? Gue bakalan kerja di sana secepetnya. Oke gue pergi dulu, ya."
Alara hanya mengangguk-angguk sampai pria itu menghilang di balik pintu. Rasanya ia malas untuk sekadar bangkit dan melakukan hal-hal lain yang lebih berguna. Dan, oke, ia hanya akan tiduran saja seharian ini.
***
Hari-hari berlalu dengan cepat. Alara mencoba lupa dengan teror-teror itu, toh nyatanya sudah tujuh hari dan tidak ada yang datang lagi. Jelas, itu kelakuan orang asing. Sementara Abir? Jelas sudah lupa—lebih tepatnya tidak mau mengingat-ingat.
"Bir, Bir, gimana soal wish-nya Sara? Kita lanjut wujudin wish-nya atau udahan?" tanya Alara di sela-sela acara sarapan pagi mereka.
Abir menghentikan kunyahannya. "Tinggal yang nerbangin 1000 lampion itu, kan?"
"Sama yang lihat merak menari di hujan pertama, terus yang ... bikin semua kisah cinta happy ending."
Abir menggaruk tak gatal kepalanya. Ternyata masih banyak wish list Sara yang belum ia dan Alara wujudkan. "Tapi masalahnya, Ra, gue sibuk banget beberapa hari ini. Perusahaan lagi ada proyek besar," tuturnya.
Alara mengangguk. "Gue juga sama sibuknya. Lo lihat sendiri 'kan? Beberapa hari ini gue nggak libur sama sekali."
"Nanti lo juga ada pemotretan?"
Alara meringis. "Khusus hari ini, gue mau libur dulu. Capek."
Abir geleng-geleng. Tak heran sebenarnya, karena Alara itu bekerja 5 hari berturut-turut saja menurutnya sudah terlalu rajin.
"Ya udah, gue baru berangkat dulu. Baik-baik di rumah," pamit Abir seraya menyudahi acara sarapannya.
"Lo juga hati-hati. Jangan lembur! Inget, ntar malem temenin gue nonton film," balas Alara.
"Siap, Nyonya!" seru Abir dengan gerakan tangan hormat. Detik selanjutnya, pria itu beranjak pergi dari hadapan Alara.
Melihatnya, Alara geleng-geleng sambil memasang senyum. Sekarang, ia akan melakukan aktivitasnya sebagai seorang istri yang baik; mencuci baju, mencuci piring, dan membersihkan rumah.
Jangan heran kenapa Alara mau melakukan itu. Satu-satunya penyebab adalah: dia ingin jadi istri yang baik untuk Abir. Alara tidak mengerti, niat itu muncul dengan sendirinya. Bahkan memasak, meski hanya menggoreng telur atau merebus mi instan, sudah sering dia lakukan seminggu ini. Dia rasanya kasihan saja, melihat Abir yang capek-capek pulang kerja, tapi harus memasak dulu untuk bisa makan. Maka, Alara berinisiatif selalu menyediakan pria itu makanan—entah dari order online ataupun membuat sendiri. Seringnya, sih, pesan online.
Kegiatan mencuci piring bekas mereka sarapan sudah selesai. Sekarang, Alara akan lanjut melakukan pekerjaan lainnya, yaitu mencuci baju.
Baru beberapa langkah Alara beranjak ke kamar mandi, seseorang membunyikan bel di depan sana dengan sangat tidak sabar. Mau tak mau, langkahnya memutar balik ke pintu depan untuk memastikan siapa yang datang.
Clek.
Kening Alara mengerut sesaat setelah membuka pintu. Kosong. Sama sekali tidak ada siapa-siapa di depan pintu.
"Anaknya tetangga lagi usil kah?" gumamnya bertanya-tanya.
Masa bodoh. Akhirnya Alara memutuskan untuk kembali menutup pintu dan melakukan tugasnya yang tertunda. Namun, belum sempat pintu tertutup dengan sempurna, sebuah kotak berukuran kecil tergeletak beberapa senti di depan pintu.
__ADS_1
Alara lantas memungut kotak itu. Sangat ringan, seperti yang ia duga. Tapi, apa isinya? Jangan-jangan ... ini ulah si peneror itu? Dia berulah lagi? Kenapa baru sekarang?
Rasa penasaran Alara akan isi kotak itu membuatnya cepat-cepat masuk untuk membuka benda tersebut. Jika biasanya ia agak takut, maka sekarang tidak lagi. Dia sudah terbiasa dengan teror-teror tidak jelas ini. Paling-paling, isi di dalamnya hanyalah surat dengan seperangkat benda aneh menyertai. Mi instan lah, kepala boneka lah.
Namun, kali ini tidak ada kepala boneka lagi maupun mi instan. Hanya selembar kertas berukuran sangat kecil yang warnanya lusuh. Seperti dugaan Alara, benda itu pasti ada.
“Tidak akan ada darah yang tumpah, tenang saja.” Isi tulisan itu.
Alara benar-benar tak habis pikir. Apa mau orang ini sebenarnya? Tidak akan ada darah yang tumpah? Apa maksudnya?
Gila sekali. Kalau saja Alara tahu alamat si pengirim surat itu, pasti sudah Alara datangi dan ajak duel. Lebih baik begitu, daripada mendatangkan teror tidak jelas terus-menerus.
Geram. Alara lantas mendekati tempat sampah dan langsung membuang kertas itu. "Gue nggak takut!" makinya yang sudah terlampau kesal.
"Mau ada pertumpahan darah ataupun perang dunia ketiga, gue nggak takut sama ancaman lo, sialan!" maki Alara sekali lagi, tidak peduli jika peneror itu tidak mendengar makiannya.
Si peneror itu pikir, siapa dia sampai bisa menakuti Alara? Kalau berani, seharusnya jangan pakai teror dengan surat, tapi langsung temui Alara dan duel dengan perempuan itu. Payah sekali, kalau cuma pakai teror surat!
Dan, ya, untuk kali ini dan seterusnya, Alara tidak akan memberi tahu Abir soal surat-surat itu yang datang lagi—kecuali Abir tahu dengan sendirinya.
"Sekali lagi, siapa pun lo, gue nggak akan pernah takut!"
***
Alara saat ini tengah memainkan ponsel sambil menunggu Abir pulang. Sore tadi, pria itu mengiriminya pesan untuk ikut datang ke pesta rekan bisnisnya malam ini. Alara yang memang suka pesta, tidak usah dibujuk pun langsung semangat ikut. Kebetulannya lagi, dia sudah lama tidak menghadiri pesta-pesta apa pun.
Sesekali Alara berdecak sambil melirik jam tangannya karena Abir tak kunjung datang. Padahal, sudah berjam-jam dia siap berangkat—meski belum mengganti pakaian santainya dengan gaun. Abir bilang, akan membawakan Alara gaun untuk dipakai di pesta nanti. Jadi, Alara bersiap-siap saja dulu sambil menunggu gaunnya datang.
"Lara,"
Alara menatap ke arah pintu ketika namanya mendadak disebut. Tidak tahu sejak kapan Abir sudah berdiri di tengah-tengah pintu sambil membawa dua buah tas belanja.
"Kok lama banget, sih? Katanya kita berangkat jam 7, tuh lihat, tinggal 15 menit lagi udah jam 7," cerocos Alara.
"Ini gaunnya. Lo ganti di kamar aja, ya? Gue mau pakai kamar mandinya." Hanya itu yang bisa Abir katakan pada istri sekaligus sahabatnya itu.
Tanpa jawaban juga, Alara merampas gaun tersebut dari tangan Abir, lalu masuk ke kamar mereka diikuti Abir.
Tak butuh waktu lama, mereka bedua sudah siap. Alara dengan gaun berwarna merah yang panjangnya sampai menutupi mata kaki, sedang Abir dengan setelan jas biru dongker. Alara tampak sangat cantik dengan gaun itu, terbukti dari Abir yang hampir tak berkedip melihatnya. Begitu juga Abir yang sebenarnya tampak sangat tampan, hanya saja Alara bersikap biasa saja.
"Berangkat sekarang?" Abir sedikit melebarkan tangannya, memberi kode pada Alara agar perempuan itu menggandengnya.
Dan syukurlah. Alara mengerti. Tanpa banyak protes, ia memeluk lengan Abir dan berjalan di samping pria itu.
Sebenarnya, ini niat yang agak bodoh untuk bergandengan tangan dengan Alara. Pasalnya jantung Abir malah jadi pesta duluan. Ia takut kalau-kalau nanti malah tidak sampai di pesta dan pingsan di tempat.
"Bir, lo sehat, kan? Jalan agak cepet dikit napa? Lima menit lagi udah jam 7, loh. Gue yang pakai heels aja bisa jalan cepet-cepet, tapi lo malah kayak orang mau pingsan," oceh Alara di seraya menghentikan sebentar langkahnya.
"Oh, i-iya. Maaf." Abir berusaha menormalkan langkah ketika mereka mulai lanjut jalan lagi.
Pestanya tidak dimulai tepat pukul 7. Meski begitu, Abir harus datang sedikit lebih cepat. Siapa yang tahu juga di jalanan nanti mereka malah terjebak macet.
Sementara Abir menyetir, Alara bermain ponsel di sampingnya. Memang perempuan itu merdeka sekali hari ini. Hampir seharian dia hanya rebahan sambil main ponsel.
Ketika asyik menonton reels instagram, satu pesan masuk membuat Alara menghentikan sejenak aktivitasnya itu. Chat itu datang dari nomor Ritvik.
Ritvik
[Ra, orang itu udah
__ADS_1
nggak neror lo, kan?]
Tanpa menunggu lama, Alara mengetikkan pesan balasa.
[Neror, sih, tapi gue nggak
takut dan nggak peduli.
Biarin aja, ntar capek juga
berhenti sendiri.]
[Hari ini dia neror lagi?]
[Iya.]
"Chattingan sama siapa?" tanya Abir. Rupanya pria itu sejak tadi berusaha melirik apa yang Alara lakukan dengan ponselnya.
"Ritvik," jawab Alara santai.
Ekspresi Abir langsung berubah seperti tak suka. "Lagi ngebahas apa?"
"Teror itu loh. Dia tanya, kita diteror lagi apa enggak."
"Trus lo jawab apa?"
"Ya diteror, soalnya tadi emang dateng lagi tuh teror."
Abir menatap Alara dengan wajah terkejut. "Serius? Apa isinya?"
"Nggak usah dipeduliin. Isinya cuma kertas, tulisannya 'tidak akan ada pertumpahan darah, tenang saja'. Jadi, gue buang itu surat. Beres."
Abir menghela napas seperti lega. "Iya, lo udah bener. Abaikan aja, ngapain repot mikirin itu teror."
Alara hanya mengangguk, kemudian kembali fokus pada ponselnya.
"Btw, si Ritvik tiap hari tanyain soal teror itu, ya?"
Alara menjeda video yang ia tonton dan menatap Abir. "Enggak. Baru hari ini dia tanya soal teror itu, yang kebetulan hari ini teror itu dateng lagi."
"Lah, kok bisa pas gitu?"
Alara mengedikkan pundak cuek. "Enggak tahu. Kan kebetulan."
"Enggak, Ra," sahut Abir cepat-cepat.
"Ya terus?"
"Pasti dia tahu sesuatu soal teror itu," kata Abir yakin. "Kalau enggak, ngapain dia tanya-tanya lagi, padahal udah seminggu berlalu dan terornya nggak dateng lagi?"
Alara mengerjap beberapa kali. "Mungkin aja dia mau tanya dari kemaren, tapi ragu, makanya baru sekarang."
Abir tetap menggeleng tak setuju dengan pendapat Alara. "Entah kenapa, gue ngerasa Ritvik emang tahu sesuatu soal teror-teror itu."
"Jadi maksud lo, Ritvik aslinya neror kita, tapi bohong pas kita tanya kemaren?"
"Kurang lebih begitu," jawab Abir.
"Kalaupun iya, ya, Bir, apa motifnya? Dia udah nggak ada lagi hubungan sama gue, bahkan dia udah ikhlas kita sama-sama."
__ADS_1
Abir menghela napas panjang. "Terserah lo."
*****