Deal, Kita Nikah!

Deal, Kita Nikah!
21. Penyihir VS Penyihir


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Alara dan Abir berangkat ke rumah orang tua Abir. Mereka bukannya lupa soal kado isi kepala semalam, tetapi lebih memilih abai. Toh jikapun terjadi apa-apa, itu bukan hari ini, melainkan 119 hari lagi---seperti yang tertera dalam surat, benar?


"Inget, Ra, nggak usah kasih tahu siapa-siapa soal teror itu," pesan Abir sebelum mereka memasuki gerbang rumah keluarga Abir.


"Tergantung. Kalau ada yang nanya, ya gue jawab. Lo tahu 'kan, gue orang yang jujur," balas Alara enteng.


Abir geleng-geleng, "Bukan jujur, tapi orang konyol," pungkasnya sebelum kembali melajukan mobil.


Di rumah yang besar layaknya istana itu, sudah penuh oleh orang-orang; keluarga, tetangga, dan teman. Salah satu dari sekian banyak orang itu, Alara bisa melihat sahabatnya, Raisha, juga ada di sana.


Bergegas Alara turun secepatnya dan langsung menghampiri Raisha yang tengah memakan es krim. Memang konyol, di hari yang masih pagi dan lumayan dingin ini, bisa-bisanya dia sudah makan semangkuk es krim.


"Woy! Pagi-pagi udah makan es krim aja," seru Alara.


"He'em, dikasih kakak ipar lu. Mau?" tawar Raisha.


Alara menggeleng. "Enggak, gue udah kenyang."


"Habis dimasakin apaan sama Abir?"


"Mi instan."


"Wkwkwk, penngantin baru makanannya mi instan," ejek Raisha. "Btw, gimana honeymoon-nya? Sibuk ngapain aja sampai nggak sempet ngangkat telpon?"


"Horo---"


"Seru, luar biasa, amazing! Kami sibuk banget pokoknya," sahut Abir tiba-tiba.


Merasa kesal karena disahut, Alara hendak protes, tapi lagi-lagi kalah cepat dengan Abir, "Dalam dua bulan kedepan, lihat aja, Sha, lu bakalan punya ponakan. Tunggu dan lihat aja."


"Ponakan apaan, Syalan?!" sembur Alara cepat-cepat. "Gue nggak ngerasa---"


"Ya namanya juga baru kemarin, pastilah belom kerasa. Orang yang dibikin anak manusia, bukan mi instan. Iya, nggak, Sha?" Sekali lagi Abir menyahut.


"Betul," Raisha membenarkan perkataan Abir. "Hebat banget lu, Bir, bisa menaklukan macan betina macam Alara," pujinya kemudian.


"Gue gitu." Abir mengangkat kerah bajunya bangga.


Melihat itu, tentu saja Alara menggeram marah. Meski tidak dikatakan, ia tahu betul Abir terus-terusan menyahut setiap yang dikatakannya agar dia tidak memberi tahu Raisha soal 'kejadian' itu. Padahal apa masalahnya jika diberi tahu, mungkin saja Raisha bisa memberi saran atau minimal tahu informasi soal Sara, kan?


"Hei, hei, ponakanku udah balik dari bulan madu. Gimana? Bulan depan udah ada kabar baik, nggak?" Bibi Amira, entah sedang dalam rangka apa menampakkan dirinya di sini. Pastinya sekarang sudah tidak lagi tertawa-tawa, karena efek gas tertawa itu sudah berakhir.


"Loh, Bibi ngapain muncul di sini?"

__ADS_1


"Ngapain katanya?" Wanita itu tertawa, "Calon suami adik iparmu itu masih ponakan suamiku," katanya sombong.


Alara ternganga, jadi ... wah, sempit sekali dunia ini. Apa Arshia tidak bisa cari orang lain yang bukan keponakan suami si penyihir itu?


"Nggak usah syok gitu, saya juga nggak minat bongkar rahasiamu sama mertuamu."


Alara dan Abir seketika saling tatap. Iya, kenapa mereka bisa lupa kalau orang ini tahu tentang hubungan Alara bersama para pacarnya itu? Jika wanita ini sampai buka mulut, bisa bubar semuanya. Tapi ... mereka kan sudah menikah, untuk apa juga takut semua itu dibocorkan? Kalaupun Bibi Amira masih berniat koar-koar, tidak masalah. Toh semua itu dia lakukan sebelum pernikahan.


"Pasti bulan madu itu cuma namanya, tapi nyatanya kalian berdua malah selingkuh sama pacar masing-masing," Bibi Amira tersenyum sinis memandang bergantian Alara dan Abir, "kalaupun nanti ada kabar baik, siapa yang tahu itu benih dari mana?"


Kedua tangan Alara sudah mengepal kuat-kuat, siap mendarat dengan keras kapan saja di mulut wanita itu.


"Pernikahan cuma dijadiin label, tapi nyatanya? Kelakuan masih sama, suka gonta-ganti pasangan!"


Alara yang tak lagi bisa menahan emosi langsung berdiri, tetapi Abir tak kalah cepat menggenggam pergelangan tanga Alara seraya menggeleng pelan, tanda dia harus sedikit lebih bisa bersabar—tidak boleh dengan cepat terpancing emosi.


"Tapi dia---"


Abir memberi isyarat untuk diam. Kemudian, dia sendiri yang berdiri menghadap Bibi Amira yang memang sudah di depannya.


"Bibi, ini rumah tangga kami. Mau kami bagaimanapun, itu urusan kami. Bibi yang tidak tahu yang sebenarnya, tidak berhak menghakimi kami seenak Bibi," ucap Abir baik-baik pada wanita itu.


Bibi Amira melengos. "Terserah! Orang yang kukatakan udah bener. Tidak tahu yang sebenarnya, cih! Alesan aja!" katanya, sebelum melangkah pergi dari hadapan sepasang suami istri itu dan Raisha.


"He'em. Harusnya waktu itu kita kasih obat lupa ingatan, biar nggak nyerocos aja moncongnya itu," ucap Alara terkesal-kesal.


"Ck, udah lupain. Btw, Sha, lu kok udah ada di sini aja?"


Raisha terkekeh. "Gue dari pihak mempelai pria. Calon adek ipar lo, temen deket gue, tetangga pula."


***


Memang sudah benar Afsana meminta Abir dan Alara datang ke sini. Kesibukan yang ada di rumah ini yang tak ada hentinya, benar-benar membuat mereka tak sempat—bahkan lupa—memikirkan soal teror kepala boneka dan jus stroberi itu.


Alara yang memang bisa cepat melupakan sesuatu—dan agak pikun, kini sudah kembali ceria. Tak ada lagi niatan memberi tahu seluruh dunia kalau dirinya sedang diteror. Juga tak lagi ada minat memamerkan kepala boneka berlumuran jus stroberi itu pada orang-orang. Hanya saja, rasa penasaran terhadap Sara yang masih hidup atau sudah meninggal, masih mengganggu pikiran Alara.


Sehingga, di sinilah dirinya sekarang berada, kamar Abir. Laki-laki itu sedang mengurus sesuatu yang entah apa. Dan mumpung ingat, Alara curi-curi waktu untuk mengirim pesan pada Deva; bertanya soal Sara—yang semoga saja Deva tahu.


[Bantuan apa, Ra?]


Kan, pria itu masih sama baiknya. Belum sampai semenit, pesan balasan sudah masuk ke ponsel Alara.


Alara pun bergegas mengirimkan foto Sara pada Deva. Dan seperti sebelumnya, pesan itu langsung centang dua biru dalam hitungan detik saja.

__ADS_1


[Oh, cewek itu.


Dia kemarin ditemukan


pingsan di pinggir jalan.


Waktu dibawa ke rumah


sakit, nggak berselang


lama dia meninggal.


Memang kenapa tanya


itu, Ra?]


Deg!


Pesan itu membuat jantung Alara seketika seperti berhenti berdetak. Jadi … benar, Sara sudah tiada? Sara? Sara yang sama yang adalah mantan kekasih Abir?


Astaga …, Alara merasa berdosa sekali atas semua ini. Gambaran bagaimana waktu itu Sara sedang mencari-cari Abir, tapi tidak ketemu dan kemudian malah sakit—ambruk di jalan—berdesakan memenuhi otak Alara.


Jika tahu kejadiannya akan begini, Alara tidak akan pernah berpikir untuk menculik Abir. Dia akan membiarkan gadis itu puas-puas menghabiskan waktunya yang hanya beberapa hari bersama Abir.


Dan … apa perbuatannya ini termasuk melanggar perjanjian sebelum mereka menikah? Yang dia dan Abir bebas memiliki hubungan dengan siapa pun tanpa ada larangan? Apa dia melanggar semua itu? Bahkan, gara-gara melanggar, malah menyebabkan satu nyawa melayang?


Oh, Sara, maafkan Alara. Bagaimana Alara bisa tahu kau hanya punya waktu beberapa hari? Apalagi wajahmu, tingkahmu, semuanya, terlihat seperti kau sedang baik-baik saja. Sekali lagi, maafkan Alara, Sara.


Lalu jika dihubungkan dengan adanya semua teror itu, apa mungkin ulah Sara? Bukannya Sara sudah ke surga? Bagaimana bisa meneror Alara dan Abir? Apa jangan-jangan Sara mau balas dendam?


Oh, tidak! Sungguh, Alara, jangan konyol. Yang jelas, ini bukan ulah Sara. Tapi, ya, Alara harus memberi tahu Abir. Itu harus.


"Nah, kan. Baru juga balik sehari, udah kangen aja sama selingkuhannya. Kadang aku suka heran, deh, kalian ini kenapa harus menikah kalau ujung-ujungnya masih pada berhubungan sama pacarnya masing-masing? Dasar anak aneh, ajaran dari mana itu semua?"


Lagi-lagi Bibi Amira muncul tanpa diundang; tanpa ada angin ataupun hujan. Sungguh, ingin sekali Alara menyumpal mulut nyinyir Bibinya itu dengan kepala boneka semalam. Kenapa juga dia harus menguntit ke mana pun Alara pergi? Cih, tidak punya pekerjaan sekali dia.


"Haha, diem aja. Kenapa tuh? Nggak punya jawaban?" Merasa tak ditanggapi, Amira tak habis pikir untuk memancing emosi keponakannya itu.


"Atau mau manggil suaminya lagi? Hmm, harusnya disebut suami apa enggak, ya? Soalnya, bukannya setia dan berhubungan sama suami sendiri, tapi malah selingkuh sama pria lain. Di mana harga dirinya sebagai perempuan? Bisa-bisanya bersikap kayak gitu. Harusnya kamu malu!"


PLAK!


"Diem atau gue jamin lo nggak bisa ngomong lagi setelah ini?!"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2