
Sikap Mawar tiba-tiba saja berubah, entah apa yang di pikirkan nya, yang jelas sikapnya membuat Yati menjadi kesal.
Bagaimana tidak, Yati sudah berusaha bersikap baik, menyuruhnya mandi, malah Yati mengatakan bahwa jika malas mandi sendiri, Yati ingin memandikannya, tapi tetap saja Mawar bersikap kasar.
"Aku gak mau! Aku gak mau mandi! Aku gak mau mandi sama Teh Yati!" teriak Mawar.
Yati pun menjadi bingung, tiba-tiba saja Mawar menolak bantuannya. Karena teriakan Mawar, akhirnya Melati pun terbangun.
Melati menangis mencari Bidin,
"Bapak mana, bapak mana?" rengek Melati. Yati segera menghampirinya dan menggendong Melati.
"Eh dede Melati sudah bangun, Bapak sudah berangkat dari tadi, bapak kan ngajar, bentar lagi juga pulang. Yuk kita mandi, nanti teh Yati yang mandiin Melati," sapa Yati.
Sambil menggendong Melati, Yati ke kamar anak-anak dan mengambil handuk Melati.
"Yuk kita mandi, sekarang Melati yang mandiin Teh Yati ya," Sahut Yati.
Tiba-tiba Mawar berdiri di depan pintu kamar mandi, dan berkata, "Mawar mau di mandiin sama teh Arum aja."
Mendengar ucapan Mawar, Yati menoleh sambil mengernyitkan dahinya.
"Loh, kenapa minta mandiin sama teh Arum? Kan ada Teh Yati sekarang, samanteh Yati aja ya mandinya?" kata Yati.
Mawar malah menangis dan merengek. Dia tetap minta mandikan sama Arum.
Yati masih mandikan Melati, bagusnya Melati tidak cengeng seperti kakaknya. Malah dia terlihat happy di mandikan Yati.
Yati menaruhnya di dalam bak mandi, lalu bak tersebut di isi air sabun, agar Melati bermain air sebentar.
Banyak gelembung di sana beterbangan, dan Melati terlihat suka.
Setelah itu Yati sengaja membiarkan Melati bermain-main.
Yati pun berdiri, dan menoleh ke arah Mawar.
"Liat deh Kak, adenya anteng main air, Kakak mau juga gak main air?" tanya Yati pada Mawar.
Lalu Yati membungkukkan tubuhnya mendekat pada Mawar, "Yok kita main air, kamu bisa pake bak mandi yang di sana," kata Yati, sambil tangannya menunjuk ke arah dinding.
Mawar menoleh ke arah yang di tunjuk Yati.
Di dinding terlihat ada sebuah bak besar yang menempel, bak itu lebih besar dari bak yang Melati pakai.
Sambil mengusap air matanya, Mawar mengangguk.
__ADS_1
Yati pun tersenyum, lalu dia mengambilkan swbuah bak yang si tunjuk nya tadi, lalu mengisinya xsngan air dan sabun, hingga menimbulkan tumpukan busa.
Mawar pun tersenyum, lalu Yati membuakakan pakaian Mawar.
Ketika Yati hendak membukakan pakaiannya, Mawar menolak.
"Kenapa gak mau di buka? Kan mau main air?" tanya Yati keheranan.
Mawar menggeleng, tetapi dia tetap diam.
Yati sedikit bingung, dan akhirnya dia membiarkan Mawar masuk ke dalam bak mandi walau masih memakai baju.
"Ya udah, masuk sana, tapi jangan lama-lama ya, nanti masuk angin," kata Yati menyarankan.
Mawar pun mengangguk.
Dan Yati membiarkan mereka bermain air sebentar, Yati mematok waktu, dia memberikan waktu pada Mawar dan Melati selama lima belas menit, dan kini matanya tertuju pada jam dinding.
Belum sampai lima belas menit, Melati tiba-tiba menangis, Yati pun terkejut, karena Melati tiba-tiba saja menangis dengan kencang.
"Ade kenapa, kok tiba-tiba nangis?" tanya Yati.
Melati menangis sambil menunjukkan telapak tangannya.
"Sakit, tangan Ade sakit," kata Melati sambil menunjukkan telapak tangannya.
Melati pun mengangguk, lalu Yati segera memandikan Melati.
Saat Yati memandikan Melati, Yati mengingatkan Mawar, "Kak, abis ade selesai mandi, kamu mandi ya, nanti tangannya kirut loh kaya ade kalo kelamaan berendem."
Wajah Mawar seketika berubah panik. Segera dia melihat kedua tangannya. Dia memperhatikan kedua telapak tangannya.
Sambil mengerutkan keningnya, tiba-tiba saja Mawar menangis menjerit, hingga teriakannya terdengar keluar.
"Teteh, tangan Mawar juga keriput," kata Mawar mengadu.
Sontak saja Yati pun tertawa. Sedangkan Mawar masih saja menangis, dan suara tawa Yati juga terdengar sampai keluar rumah, karena letak kamar mandi berada di bagian pinggir rumah, hingga suara mereka terdengar keluar.
Arum yang mendengar teriakan Mawar terlihat panik, lebih panik lagi saat mendengar suara Yati yang tertawa terbahak-bahak.
Tidak lama kemudian Arum mendengar suara Melati yang tertawa, sedangkan suara Mawar masih menangis.
Di rumahnya, Arum menjadi gelisah. Dia berdiri sambil berjalan ke sana kemari, layaknya seperti setrikaan.
Dia membayangkan jika Mawar di sakiti oleh Yati, karena sesuatu hal yang tidak di sukai Mawar, tetapi Yati menolaknya.
__ADS_1
Arum merasa bahwa dirinya sudah sangat dekat dengan anak-anak Bidin, hingga dia merasa bahwa sifat dan karakter anak-anak Bidin hanya dia yang tahu, dan hanya dia yang mengerti.
Hingga akhirnya Arum memutuskan untuk datang ke rumah Bidin, hanya untuk sekedar melihat keadaan Mawar dan Melati.
"Assalamu'alaikum, Yati!" panggil Arum dari luar pagar rumah.
Sorak-sorakan di dalam pun seketika berhenti. Suara mereka terdiam lantaran mendengar suara orang yang memberi salam dari luar pagar rumah mereka.
Yati pun bangkit dari duduknya dan meletakkan Melati duduk di bangku.
Yati berjalan ke arah depan rumah, yang saat itu pintunya sengaja di kuncinya.
Yati melihat Arum berdiri dari balik pagar. Melihat kelakuan ibu tiri nya yang sedikit mengendap-endap, Mawar bertanya, "Siapa Teh yang datang?"
Yati menoleh ke arah Mawar, agak ragu sebenarnya Yati untuk menjawab pertanyaan Mawar, tetapi akhirnya Yati menjawabnya dengan jujur, "Itu, Teh Arum yang manggil."
Lalu Yati duduk di dekat Mawar dan memperhatikan bentuk raut wajahnya.
Mawar menoleh ke arah pintu depan, sepertinya Mawar akan ke depan, akhirnya Yatiboun mengizinkan.
"Kamu mau bukain pintu buat teh Arum?" tanya Yati pada Mawar.
Mawar menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah, sana bukain, Teteh ambil nasi dulu ya," kata Yati, sambil kembali menggendong Melati.
Mawar pun keluar, dan melihat Arum tengah berdiri di luar pagar.
Mawar membukakan pintu pagar untuk Arum, dan Arum oun segera masuk.
Arum membungkukkan tubuhnya sambil mendekat ke arah Mawar dan bertanya, "Kamu kenapa Mawar? Apa teh Yati nyakitin kamu?"
Mawar menggeleng kan kepalanya. Lalu Arum kembali bertanya,
"Lantas kenapa kamu nangis ngejer kaya gitu? Suara kamu kedengeran sampe rumah Teteh."
Kemudian Mawar tertawa, dia menunjukkan telapak tangannya.
Arum pun di buat kaget melihat telapak tangan Mawar yang keriput. Arum pun kembali bertanya, "Loh, tangan kamu kenapa? Kenapa bisa begini? Si Yati gak becus amat jagain anak-anak!" Maki Arum.
Mawar pun terdiam melihat sikap Arum yang jadi marah-marah sendiri.
Arum langsung bangkit dan berdiri. Dia lalu bergegas masuk ke dalam rumah Bidin sambil menuntun tangan Mawar.
Mawar oun menjadi bingung dengan sikap Arum yang mendadak marah dan panik.
__ADS_1
Tangan Mawar di tarik oleh Arum dan mereka pun masuk ke dalam rumah.