Dendamnya Janda Bahenol

Dendamnya Janda Bahenol
Kencan dengan Ujang.


__ADS_3

Ujang menyewa alat pancing dua buah berukuran sedang dan memesan beberapa makanan dan minuman, lalu mengajak Yati untuk duduk di pinggir danau.


Ketika Ujang dan Yati telah duduk di pinggir danau, Ujang memasang kailnya dengan umpan, lalu memberikannya pada Yati,


"Nih buat kamu."


Yati pun meraih kail itu dari tangan Ujang.


Kemudian Ujang memasang kail miliknya dengan umpan juga. Lalu dia melemparnya ke tengah danau.


Ujang menoleh ke arah Yati, yang saat itu hanya terdiam.


Kemudian Ujang memerintahkan Yati untuk melemparkan tali kailnya juga seperti apa yang telah dia lakukan,


"Ayo cepat, lempar tali kail mu seperti saya."


Yati pun menuruti apa yang Ujang ajarkan.


Setelah Yati melemparnya, Yati pun membetulkan letak duduknya.


Ujang menoleh ke arah Yati, dan bertanya,


"Siapa namamu sebenarnya?"


Yati menoleh ke arah Ujang, lalu menjawab, "Namaku Yati."


"Oooh Yati, berapa umurmu?" tanya Ujang.


Yati terdiam sesaat  lalu menjawab pertanyaan Ujang, "Umurku sebentar lagi 17."


Ujang pun terbelalak mendengar jawaban Yati.


"Hah? Baru tujuh belas? Saya pikir sekitar dua puluhan, maaf ya," kata Uajng dengan sopan.


Saat itulah Yati mulai tertarik pada Ujang. Yati merasa Ujang mampu membuatnya tertawa.


"Kenapa emang? Apa aku terlihat lebih tua? Apa wajahku keliahatan tua?" tanya Yati sambil mengerutkan dahinya.


"Enggak sih, wajahmu tidak terlihat tua, tetapi bentuk tubuhmu terlihat bongsor, hahaha," jawab Ujang.


Yati pun tersenyum.


Mereka terdiam sejenak. Lalu Yati mulai bertanya tentang Ujang.


"Umur Akang emang berapa?" tanya Yati.


Ujang mulia berpikir, akal bulus nya mulai bekerja.


"Umur Akang mah udah tiga puluhan, tapi Akang masih sendiri," jawab Ujang.


"Oooh, kaliin udah nikah," sahut Yati.


"Hahahaaa nikah? Mana ada yang mau sama saya Yat? Wajah pas pasan gini, mana ada gadis yang mau sama saya?" kata Ujang.

__ADS_1


"Ah masa sih, wajah Akang gak jelek kok, masa iya gak ada perempuan yang mau?" tanya Yati.


"Buktinya sampai sekarang, sebum ada satu pun yang nyangkut di hati Akang," sahut Ujang.


Yati terdiam, kemudian Yati kembali berkata,


"Sayang ya Kang, Yati udah punya suami."


Ujang pun terbelalak mendengar ucapan Yati, begitu beraninya gadis ini bicara seperti itu. Ujang pun merasa di beri lampu hijau.


Lalu Ujang kembali berkata,


"Ya udah, kalo gitu Akang nunggu jandanya Yati aja, Akang rela kok menghabiskan waktu nunggu Yati janda."


Yati pun tertawa terbahak-bahak. Dia menganggap ucapan Ujang adalah lelucon.


Ujang pun menoleh, menatap wajah Yati. Dia mulai mengamati wajah Yati satu persatu.


Dari kedua matanya, hidung Yati, bibir Yati.


Sedangkan sikap Yati di pandang seperti itu oleh Ujang, sikapnya mulai salah tingkah.


Perempuan mana yang gak kelepek kelepek hatinya di pandang seperti itu oleh laki-laki?


Yati pun kembali membetulkan letak duduknya untuk menutupi sikap salah tingkahnya.


"Akang serius kok, Akang akan rela nunggu Yati janda, itu juga kalo Yati gak keberatan, kalo Yati gak merasa bahagia dengan pernikahan Yati yang sekarang," kata Ujang menggombal.


Saat itulah, Yati merasa nyaman berbincang-bincang dengan Ujang. Yati pun mengeluarkan keluh kesahnya hidup berumah tangga bersama suaminya, Bidin.


Laku Yati meneruskan,


"Suami Yati sih orangnya baik, bahkan bisa di bilang baik banget. Tapi aku gak suka kalo di ajak sembahyang bareng, Yati masih ngantuk udah di bangunin. Kan bisa entar, nah dianya itu pengennya jika bareng-bareng sembahyang nya, gitu."


Ujang mendengarkan sambil manggut-manggut. Seolah-olah dia mengerti apa yang di rasakan oleh Yati.


Yati merasa semakin lama semakin nyaman berbincang-bincang dengan Ujang.


Sikap Ujang yang hanya jadi pendengar yang baik tanpa menggurui, seolah-olah Ujang adalah pria dewasa di mata Yati.


Tetapi di balik itu, Ujang pun mulai memasang siasat.


Yati mengeluarkan segala unek-unek tentang pernikahannya pada Ujang, hampir semua kisahnya di sampaikan pada Ujang.


Dari awal sampai akhir, Ujang hanya banyak mengangguk-anggukan kepalanya saja, dan sesekali dia menyeruput minumannya. Bahkan matanya saja tidak fokus pada kail pancingannya.


Hingga beberapa saat kemudian, kail miliknya mendapatkan umpan.


Kail milik Ujang, yang hanya di senderkan di pinggir danau mulai bergerak.


Ujang pun terkejut, begitu pula dengan Yati.


Karena keadaan Ujang yang tidak siap, Ujang tidak segera memegang kailnya. Karena itu saat Ujang hendak memegang kailnya, gerakan ikan di dalam danau lebih dulu membawa lari kail Ujang dengan kuat.

__ADS_1


Alhasil, pancingan yang Ujang sewa telah di bawa kabur okeh se ekor ikan Mas besar.


"Sial! Kailnya di bawa kabur! Bagaimana ini?!" maki Ujang.


Ujang segera bergegas, dan berdiri di pinggir danau. Ujang merasa bingung apa yang harus dia lakukan untuk mendapatkan kailnya.


Yati pun merasa bingung, entah apa yang harus dia perbuat.


Ujang berjalan ke arah pos penjaga. Dia sana dia bertanya mengenai kailnya yang di bawa kabur oleh se ekor ikan besar.


"Bagaimana Pak, kail yang saya sewa di abea kabur oleh ikan besar yang ada di danau? Apakah saya mendapatkan keringanan dalam membayar sewanya?"


tanya Ujang dengan wajah serius dan bingung.


Bapak penjaga yang bertugas yang berada di pos terperangah mendengar pertanyaan Ujang.


"Apa maksudmu mendapatkan keringanan? Malah justru kamu harus menggantinya! Karena danau ini bukan ikan peliharaan, melainkan ikan liar, jadi kamu karus mengganti alat pancing dengan harga yang baru!" bentak petugas yang penjaga di pos.


Ujang pun melongo. Matanya tak berkedip setelah mendengar penuturan petugas danau yang menjaga saat itu.


Kemudian petugas itu kembali berkata,


"Lagian mancing sambil pacaran sih, sampe gak ngeh kalo kail umpannya di makan ikan! Mangkanya pacaran jangan sama istri orang! Bedabe kan!" kembali petugas itu membentak Ujang.


Sikap Ujang semakin melongo mendengar penuturan petugas. Siapa sangka, ternyata Yati, gadis yanga ddang bersamanya sudah banyak orang kenal.


Bahkan petugas penjaga danau pun mengenalnya.


"Bapak kenal dia?" tanya Ujang, sambil menoleh ke arah Yati, yang masih duduk di pinggir danau.


"Ya kenal lah, siapa sih yang gak kenal dengan suaminya! Dia itu istrinya kang Bidin, pengajar di sekolah kalo lagi, dan malamnya ngajar ngaji, nah kamu sendiri ngapain dengan dia? Awas loh kalo istri orang kenapa-napa, nanti saya laporin!" maki petugas penjaga danau pada Ujang.


Ujang pun ketakutan. Lalu dia hendak membalikkan tubuhnya, tetapi petugas danau menarik baju Ujang dan berkata,


"Eh Kang, bayar dulu alat pancingan yang di bawa ikan, baru Akang boleh pergi!


Ujang pun segera merogoh kantongnya. Dia mengeluarkan beberapa uang kertas dan langsung di berikan pada petugas penjaga danau.


" Ini Pak," kata Ujang.


"Terimakasih," sahut penjaga danau.


Ujang pun segera melangkahkan kakinya menuju di mana Yati sedang duduk.


Ujang kembali duduk di samping Yati. Nafasnya mulai tidak teratur. Hingga suara nafasnya terdengar oleh Yati.


Yati pun menoleh ke arah Ujang, dan bertanya, "Kenapa Kang, kenapa napas Akang terengah-engah? Kaya abis ngeliat setan?"


"Kita pergi aja yuk dari dari sini, ternyata banyak yang kenal sama kamu, Akang malu di katain pacaran sama istri orang!" jawab Ujang.


Yati pun terbelalak, kedua matanya membulat.


Dan akhirnya mereka pun memutuskan untuk pergi dari danau itu. Padahal tempat itu adalah tempat yang paling Asyik.

__ADS_1


"Sial banget saya, bukannya untung eh malah buntung!" maki Ujang dalam hati.


__ADS_2