
Bidin berpikir, jika dokternya baru saja datang, lalu siapa yang menangani istrinya di dalam? Padahal Bidin sudah lama duduk untuk menunggu kabar dari dalam ruang rawat.
Bidin duduk gelisah, pikirannya pun kembali pada putrinya yang di tinggalkan sendirian di rumah.
Satu jam berlalu, tetapi tidak ada satu pun perawat yang keluar dari ruangan, dan Bidin masih bersabar untuk menunggu.
Lalu tiga puluh menit berlalu, berarti Bidin telah menghabiskan waktu satu jam setengah untuk menunggu sendirian, dan hujan pun mudah mulai reda.
Lalu di saat Bidin melamun, ada seorang perawat keluar dari ruangan, dan berjalan mendekati Bidin.
Saat itu waktu telah menunjukkan pukul 11.30 malam.
"Maap pak, apakah Bapak suami suami pasien yang berada di dalam?"
Bidin oun mengangguk, lalu segera dia memberondong perawat itu dengan segala pertanyaan,
"Bagaimana Sus dengan istri saya? Apakah istri dan anak saya selamat? Lalu bagaimana keadaannya sekarang?"
Suster pun tidak langsung menjawabnya, karena itu bukan wewenangnya.
"Lebih baik bapak masuk ke dalam, di sana sudah ada bu bidan dan pak dokter yang akan memberikan penjelasan pada bapak, tugas saya hanya memanggil bapak dan mengajak bapak untuk ke dalam menemui dokter dan bidan.
Bidin pun bangkit dari duduknya lalu mengikuti langkah suster yang berada di depannya. Sesampainya di depan pintu ruang rawat, Bidin pun di persilakan masuk,
"Silakan masuk Pak." Lalu Bidin pun masuk dan duduk saling berhadapan oleh dokter.
Saat itu pun Bidin pun tidak diam saja, dan tidak menunggu, dia langsung memberondong dokter dengan berbagai pertanyaan.
Hati Bidin gundah gulana, dia melihat tempat tidur rawat pasien di tutup gorden putih.
"Bagaimana Dok keadaan istri saya? Dan bagaimana keadaan bayinya? Apakah semua baik-baik saja dok?"
Lalu seorang bidan keluar dari balik gorden putih itu, dan membuka gorden itu.
Matanya mengadah pada Bidin.
Bidin melihat ke arah tempat tidur pasien, dia melihat sosok tubuh yang di selimuti hingga ke seluruh tubuh.
Dada Bidin terasa sesak.
Perlahan di bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati tubuh yang telah tidak bernyawa itu.
Kedua tangan Bidin gemeteran. Dia berusaha menyingkap selimut itu dari arah kepala. Dia melihat wajah Rima yang sangat pucat dan dingin.
Kedua lutut Bidin terasa lemas, tubuhnya pun kini menggigil seperti ada sesuatu yang menghantamnya.
__ADS_1
Bibir Rima terlihat biru, begitu pula dengan kuku-kuku Rima.
Bidin menggenggam tangan Rima, dan tangan itu masih terasa hangat.
"Bangun Rima! Ayo bangun Rima! Ayo kita pulang, kasian Mawar di tinggal sendirian!" teriak Bidin, sambil mengoyak-ngoyak tubuh Rima yang susah terbujur kaku.
Tiba-tiba saja kedua lututnya tidak bertenaga. Pandangan matanya berkunang-kunang. Tubuh Bidin pun ambruk di depan jasad Rima.
Akhirnya para perawat mengangkat tubuh Bidin dan di bawa ke ruangan lain.
Bidin tersadar saat dia sudah berada di rumahnya, sebuah ambulans yang membawanya atas perintah bapaknya Bidin, yaitu Fauzi.
Fauzi lah yang mengurus kepulangan jenazah, lantaran Rima adalah seorang wanita yang telah di tinggalkan oleh kedua orangtuanya, karena itu Rima adalah gadis yatim piatu saat di nikahi Bidin.
Bidin termenung saat itu, telah mendapatkan kenyataan pahit dalam hidupnya, dia harus kehilangan istrinya.
Tetapi Bidin masih bersyukur, karena bayi yang dilahirkan Rima telah selamat, yaitu Melati.
Mengingat masa itu, terbayang kembali sosok Rima, yang cantik dan keibuan. Kecantikannya tidak kalah dengan Yati, yang kini telah dia nikahi, gadis yang masih berusia belasan tahun.
Dari wajah Yati, ada kemiripan dengan Rima, hanya saja Yati adalah versi mudanya.
Bidin melihat Yati yang masih tertidur siang itu. Lalu Bidin keluar dari kamarnya menuju ruang dapur untuk menyiapkan makan siang.
Lalu Bidin menyiapkan makanan ke ruang makan.
Tidak lama kemudian, pekerjaan Bidin pun telah selesai, lalu dia beranjak akan kembali ke kamarnya untuk membangunkan Yati.
Ternyata, Yati sudah bangun dan sedang duduk di sisi tempat tidur.
"Eh kamu sudah bangun Yat, baru saja akang mau ngebangunin kamu. Yuk kita makan, pasti kamu udah laparkan?" ajak Bidin.
Yati tersenyum kecut. Dia masih merasa canggung di hadapan Bidin.
"Oh ya, kamu segera ya ke meja makan, sudah Akang siapin makan siangnya, akang mau bangunin Mawar dan Melati dulu," kata Bidin.
Bidin segera kembali keluar dari kamarnya, langkahnya kini menuju kamar anak-anaknya.
Dia melihat Mawar sudah bangun, Mawar pun menoleh ke arah bapaknya, dan bertanya,
"Teh Arum ke mana Pak?" Sejenak Bidin terdiam, dia berusaha mencari jawaban yang tepat.
"Teh Arum sekarang udah pulang, kan sekarang ada Bapak. Dan juga sekarang kan udah ada teh Yati. Oh ya, kita makan siang dulu yuk, mau Bapak gendong?"
Mawar menggelengkan kepalanya. Dia beranjak turun dari tempat tidurnya. Sementara Melati masih tertidur pulas.
__ADS_1
Sebelum Mawar ke luar kamar, Bidin memanggil Mawar, dia ingin mengajaknya bicara sebentar mengenai keberadaan Yati.
"Sini Nak, Bapak mau ngomong sebentar," Panggil Bidin.
Mawar pun menoleh, dan membalikkan tubuhnya ke arah Bidin, tetapi Mawar hanya berdiri, dia tidak melangkah mendekati Bidin.
"Ayo sini, deket Bapak, Bapak mau ngomong," sahut Bidin.
Mawar pun melenggang mendekati Bidin yang tengah duduk di bangku kecil di samping lemari.
"Ada apa Pak?" tanya Mawar.
"Mawar, anak Bapak yang cantik, sekarang di rumah ini sudah ada teh Yati, teh Yati itu sekarang sudah jadi ibu kamu. Bapak minta tolong sama Mawar, Mawar kan udah gede, Bapak minta tolong sama Mawar, tolong jaga sikap ya Nak, biar teh Yati betah di sini, betah main sama Mawar, jangan cengeng dan jangan manja,"
sahut Bidin menerangkan.
Mawar hanya terdiam, sambil menggaruk-garukkan kepalanya, yang sebenarnya tidak gatal.
Lalu Bidin berdiri sambil memegang kepala Mawar, "Bapak Yakin kok Mawar bisa gak cengeng, gak manja, dan mau main sama teh Yati."
Lalu setelah bicara pada Mawar, Bidin pun menuntun tangan Mawar, dan mengajaknya ke ruang makan. Di sana sudah ada Yati yang tengah duduk menunggu.
"Loh, kok belum di makan makanannya Yat?" tanya Bidin.
"Nunggu Akang dulu, sama anak-anak,"
jawab Yati.
Bidin dan Mawar pun duduk.
Kemudian Bidin mengambil piring kosong dan hendak mengisinya dengan nasi.
Tetapi Yati segera bertindak. Piring kosong yang masih di tangan Bidin pin segera di ambilnya, lalu Yati mengambil centong nasi dan menaruh nasi itu ke dalam piring Bidin.
Kemudian Yati memberikannya pada Bidin. Bidin oun tersenyum, dan berkata, "Terimakasih Yati."
Yati hanya tersenyum. Lalu Yati kembali mengambil piring kosong dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk, kemudian Yati menyerahkan nya pada Mawar sambil berkata, "Ini untuk kamu."
Mawar hanya diam, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mungilnya.
Yati pun merasa heran dengan sikap anak tiri nya itu.
Akhirnya Yati hanya meletakkannya di atas meja di depan Mawar.
Yati melirik ke arah Bidin, dia ingin melihat respon dari suaminya, tetapi sepertinya Bidin tidak mengetahui sikap Mawar.
__ADS_1