Dendamnya Janda Bahenol

Dendamnya Janda Bahenol
Di lamar Ujang.


__ADS_3

Singkat cerita, Ujang dan sepasang laki-laki dan perempuan yang sudah renta datang ke rumah mang Ibing.


Mereka datang membawa dua buah parsel dengan mengendarai sebuah mobil yang bagus.


Sedangkan mang Ibing dan keluarga tidak ada sama sekali persiapan, karena Ujang dengan sengaja tidak memberitahukannya, dengan alasan tidak ingin merepotkan.


Terdengar suara seru mobil pada malam minggu, saat itu waktu telah menunjukkan pukul 7.00 malam, saat keluarga sedang duduk santai dan bercengkrama.


Mereka seperti biasa kumpul di halaman belakang, di sana juga terdapat bale bambu. Seperti biasa, Ratmi menyajikan makanan ringan untuk suami dan anak-anaknya.


Karena saat itu suasana sangat hening, hingga suara jangkrik ferdengar jelas, maka suara deru sshuah mobil di luar sangat jelas, apa lagi mobil itu berada tepat di depan rumah mang Ibing.


Dan suara mobil itu pun menjadi pusat perhatian keluarganya.


Serempak mereka masuk ke dalam rumah, dan ingin tahu suara mobil siapa di depan.


Dan tiba-tiba, suara deru mobil pun terhenti, lalu tedengar suara orang memeberi salam, "Assalamu'alaikum."


Seisi rumah mang Ibing saling memandang, begitu juga Asep, Yati dan Usep.


Yati hanya mengangkat kedua bahunya, ssebagai tanda bahwa dia pun tidak tahu siapa orang buang datang, ketika Asep memberi kode dengan mengangkat kedua alisnya.


Lalu mang Ibing membuka pintu depan, maka terlihatlah siapa yang datang.


Ternyata yang datang adalah Ujang beserta sepasang orang tua.


Mang Ibing terkejut, dan benar-benar terkejut, mana kala mang Ibing membukakan pintu pagar mambunya melihat apa yang mereka bawa.


Yaitu dua buah parsel, yang isinya random.


Dengan gugup, mang Ibing menjawab salam, "Wa alaikumsalam."


Yang lainnya berdiri di belakang mang Ibing, Ratmi, Asep, Yati dan Usep.


Ujang pun menyalami mereka semua, termasuk Yati.


Yati yang merasa heran dengan kedatangan Ujang, apa lagi melihat penampilan Ujang yang lebih rapi dari biasanya, mengangkat kedua alisnya, sebagai pertanyakan untuk Ujang.


Bukannya menanggapi kode dari Yati, Ujang malah menggelitik telapak tangannya Yati saat menyalaminya, hingga Yati menjerit kaget.


"ARGH"


Sontak saja semua orang di dalam rumah menoleh ke arah Yati. Ratmi menjadi kesal pada Yati karena berulah.


Setelah melihat Uajng telah menyalami semuanya, mang Ibing bertanya pada Ujang, "Ada apa teh kamu datang ke sini malam-malam? Dan siapa mereka yang kamu ajak?"


Ujang lalu tersenyum semringah, lalu dia berkata, "Oh ya Pak, Bu, perkenalkan ini kedua orangtua saya."


Laki-laki tua renta yang di perkenalkan Ujang sebagai orang tuanya segera mengulurkan tangan, lalu mang ibing pun menyambut dan menyalaminya.


Begitu juga dengan perempuan yang di perkenalkan sebagai ibunya Ujang, dia pun mengulurkan tangannya, lalu Ratmi pun menyambut dan menyalaminya.


Saat itu, mereka masih berdiri di depan pagar bambu.


Terlihat mang Ibing sangat gugup kalau itu, dan Ujang pun akhirnya bertanya,


"Apakah kami tidak di persilakan masuk?"

__ADS_1


'Oh iya, hampir saja saya lupa, ayo, silakan masuk, Bu, Yati, tolong buatkan minuman untuk tamu kita," perintah mang Ibing.


Yati yang saat itu sempat melamun, karena tidak yakin dengan apa yang dia lihat, bahwa Ujang datang bersama kedua orangtuanya, tersadar ketika Ratmi menarik tangannya, "Ayo cepat Yati, ke belakang!" bisik Ratmi dengan hentakan.


Yati pun berjalan ke arah belakang, menuju ruang tengah, begitu pula dengan Asep dan Usep,  mereka berdua mengikuti dari belakang.


"Bu, laki-laki itu siapa?" tanya Asep.


Ratmi belum saja menjawab, tetapi Usep mengelaknya, "Usep kenal sama laki-laki itu."


Yati menoleh ke arah adiknya, wajahnya terlihat heran, "Kamu kenal di mana sama kang Ujang?"


Kini malah Asep yang terlihat heran melihat Yati menyebut nama Ujang. "Kamu kenal dia Yat?"


Yati terdiam. Dia bingung harus menjawab apa.


"Eh kalian ini, ada tamu bukannya menyambut  malah ribut di belakang, ayo Yati, bantu Ibu bikin minuman, Asep, sana kamu ke depan temenin Bapak, Usep, ayo mantu ibu di dapur."


Asep pun dengan enggan berjalan ke depan, ke ruang tamu tepatnya, untuk menemani mang Ibing, menerima tamu.


Ratmi dan Yati tengah sibuk membuat teh untuk tamu, dan beberapa makanan kering.


Melihat persediaan yang sedang di siapkan oleh Ratmi, Yati bertanya, "Makanannya ini aja Bu? Emang gak ada yang lain juga?"


"Ya, memang adanya ini aja, habis temanmu itu gak kasih kabar dulu kalo mau dateng sama kedua orangtuanya, biar kita menjamu mereka, coba kamubtanya sana sama dia, kenapa dadakan," sahut Ratmi.


Seketika saja Yati terdiam dan malas menanggapi perkataan ibunya.


Ratmi pun tahun apa yang Yati rasakan dengan perkataannya, bahwa anaknya kesal dengan jawabannya.


Setelah menyiapkan minuman dan makanan kering, Ratmi pun membawanya ke depan, ke ruang tamu, dimana Ujang dan kedua orangtuanya berada.


"Maaf Nak Ujang, tujuan datang ke sini apa ya? Maksud Ibu, ada maksud apa ya, kok pake ajak orangtuanya segala?" tanya Ratmi tiba-tiba.


Ujang dengan senyum yang semringah, menjawabnya, "Saya mohon maaaf pada ibu dan Bapak, jika kedatangan saya mengagetkan. Sengaja saya tidak memberitahu sebelumnya agar tidak merepotkan."


Mang Ibing dan Ratmi saling menoleh dan saling memandang.


Lalu Ujang kembali berkata, "Saya datang ke sini untuk melamar Yati, anak bapak dan ibu, sudikah kiranya bapak dan ibu menerima lamaran saya, dan kedua orangtua saya ini sudah merestui apa yang akan saya lakukan, yaitu melamar anak bapak dan ibu, betulkan Pak, Bu?"


Ujang menoleh ke arah kedua orangtua yang di ajak bersamanya. Lalu keduanya mengangguk pelan dan mereka pun memasang senyum.


Ratmi mendekat dan berbisik ke telinga suaminya, "Gimana ini Pak? Masa langsung di terima aja? Udah, bilang aja, kita harus diskusi keluarga dulu, gitu Pak."


Lalu mang ibing pun membalas bisikan istrinya, "Iya Bu, tenang aja, bapak juga baru mau ngomong kaya gitu, lagian bapak juga belum kenal siapa dia."


Ratmi pun kembali berbisik ke telinga suaminya, "Udah, cepet Pak, ngomong, udah malem nih."


"Iya, sebentar napa Bu, Bapak lagi nyusun kata-katanya," jawab mang Ibing dengan berbisik pula.


Melihat Ratmi dan mang Ibing saling berbisik, Ujang pun menjadi kesal, tetapi dia berusaha tetap memasang wajah senang dan tetap memasang senyum.


Tetapi hatinya telah bergumam, "Yaelah Paaak, Buuuu, gimana anaknya masih perawan, anaknya janda aja diskusinya lama banget!"


Lalu dengan sikap yang tegas, mang Ibing pun berkata, "Begini nak Ujang, keputusan ini harus kami diskusikan terlebih dahulu, kami harus membicarakan agar matang. Dan semua kembali lagi pada Yati. Jadi kami minta pada nak Ujang, agar memberi kami waktu barang seminggu."


Ujang pun terkejut mendengar permintaan mang Ibing, dengan spontan Ujang berteriak, "Apa Pak? Seminggu?"

__ADS_1


Seketika wajah Ujang masam. Dia tidak Terima karena menurutnya waktu satu minggu itu sangat lama.


Tetapi Ujang langsung tersadar, bahwa dia tidak boleh gegabah, segera dia kembali memasang wajah manis dan senyuman yang semringah.


"Baiklah kalau begitu, jika Bapak dan ibu akan berembuk dulu, saya bisa sabar untuk menunggu," kata Ujang kemudian.


Lalu kemudian mang ibing mempersilakan Ujang untuk menikmati hidangan yang telah Ratmi sajikan,


"Ayo, silakan Nak Ujang, Bapak dan Ibu, siapkan di cicipi."


Laki-laki tua yang di ajak Ujang itu langsung segera menyeruput teh yang di sediakan sampai habis. Setelah menghabiskannya, dia segera meletakkan gelas yang berisi teh tadi sambil tersenyum dan berkata, "Hehehe, saya haus."


Begitu pula wanita tua yang Ujang ajak saat itu, hampir sama prilakunya dengan laki-laki tua itu, dia pun berkata, "Saya juga haus."


Ratmi dan mang Ibing saling menoleh dan saling menatap, mereka sangat heran dengan sikap kedua orangtua Ujang.


"Kenapa sikap mereka seperti itu? Seperti gak pernah minum teh saja," gumam Ratmi dalam hati.


"Ayo Bapak, Ibu, silakan di makan makanannya," sahut mang Ibing.


Laki-laki tua itu tersenyum lebar dan langsungengambil toples yang ada di atas meja, tangannya langsung masuk dan mengambil keripik singkong yang ada di dalamnya.


Begitu pula dengan wanita tua yang bersamanya, dia pun mengambil toples yang berisi kacang, lalu merogohnya, kemudian melahap kacang dengan semangatnya.


Ujang tertawa melihat tingkah laku kedua orangtuanya, dan berkata pada Ratmi dan mang Ibing, "Maaf Bapak dan Ibu, beginilah memang kelakukan Bapak dan ibu saya jika di ajak bertamu ke rumah orang, maklum jarang-jarang keluar rumah."


"Oh gak apa-apa, saya justru senang kok jika sajian yang kami sediakan di santap dengan lahap," kata mang Ibing.


Ratmi mendekatkan wajahnya tepat ke telinga mang Ibing, "laper apa doyan tuh Pak, maruk banget sih mereka, gimana kalo awalnya Ujang ngasitau dulu ke kita, persiapan kita kan gak ala kadarnya, dan gimana sikap mereka ya?"


"Husss, Ibu! Gak boleh begitu, maklumin aja kenapa sih, namanya juga manula, kadang sikapnya aneh-aneh," sahut mang Ibing.


"Baiklah Pak, Bu, Ujang dan keluarga pamit pulang dulu. Dan ini kami bawakan dua parsel untuk keluarga di sini, sebagai tanda penghormatan kami pada keluarga Yati," kata Ujang.


Laki-laki tua itu meletakkan satu parsel ke atas meja. Begitu pula wanita tua itu meletakkan parsel ke atas meja, di bantu oleh Ujang.


Ujang pun lalu berdiri dan berpamitan.


"Kami pulang dulu Pak, Bu, salam buat Yati," kata Ujang.


"Baiklah Nak Ujang, selamat jalan," kata mang Ibing.


Ratmi dan mang Ibing pun mengantar mereka sampai depan rumah.


Dan ternyata, Asep dan Usep mengintip saat pertemuan tadi.


Usep berkata pada Asep, "A', kayanya Usep kenal deh kakek-kakek tadi. Dia kan petugas kebersihan di sekolah Usep,  kok bisa kakek itu di ajak? Apa benar kakek itu adalah bapaknya laki-laki itu?"


Asep hanya mengangkat kedua bahunya, sabagai tanda bahwa dia tidak mengetahui hal itu.


Lalu Asep kerkata pada adiknya, "Sudahlah, biarkan saja, itu udah jadi urusan Bapak, berdoa saja biar Yati mendapatkan jodoh yang baik, yang bisa bikin dia baik juga."


Sedangkan Yati berada di kamarnya, menunggu kabar dari kedua orang tuanya.


Setelah Ujang dan keluarga pulang, mang Ibing memanggil Yati untuk di ajak berdiskusi,


"Yat, di panggil Bapak."

__ADS_1


"Iya A', sebentar," kata Yati pada Asep.


__ADS_2