Dendamnya Janda Bahenol

Dendamnya Janda Bahenol
Di sambut Bapak dan Ibu.


__ADS_3

" Pak lihat siapa yang datang?" Teriak Ratmi pada Mang Ibing.


Mang Ibing segera menoleh ke pintu depan. Tetapi hatinya juga menjadi penasaran, lalu Mang Ibing beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya menuju pintu depan.


" Yati! Masuk sini ya ajak anak-anakmu," sahut Mang Ibing.


Ratmi pun beranjak dari tempat duduknya,  dia melebarkan senyumnya hingga gigi putihnya nampak.


" Gimana kabarmu Yat?  Kenapa kamu pulang bersama anak-anak tirimu?  Mana Bidin?" Tanya Mang Ibing bertubi-tubi.


Yati tidak langsung menjawabnya.  Dia menurunkan Melati Dari pelukannya,  dan Yati menyalami Mang Ibing dan Ratmi.


Lalu Ratmi mengajak Yati dan anak-anaknya ke ruang tengah.  Ratmi menggendong melati,  dan Mang Ibing memangku mawar.


" Kenapa kamu pulang hanya dengan anak-anak dirimu Yat? Ada apa?" Tanya Mang Ibing.


" Yati bosen Pak di rumah,  tapi Yati udah bilang kok sama Kang Bidin,  dan Kang Bidin ngizinin Yati pergi ke sini," jawab Yati.


"Ooowh, Ibu kira ada apa, baguslah kalo gak ada apa-apa. Kalo kamu bosen di rumah, ya gak apa apa kamu main ke sini, ajak anak-anakmu, biar di rumah ini juga rame," sahut Ratmi.


"Tapi izin dulu sama suamimu, kalo Bisin gak kasih kamu keluar rumah, yankamu harus denger, jangan kamu bantah," kata Manf Ibing.


Yati pun mengangguk.


Lalu Yati beranjak dari duduknya, dia melanhkahkan kakinya menuju kamar tidurnya.


Dia membuka pintu kamarnya, matanya menjelajah ke semua sudut ruang, tidak ada yang berubah menurut Yati.


Dia pun sebenarnya rindu dengan kamarnya. Lalu dia masuk ke dalam kamar dan duduk di sisi tempat tidur.


Matanya masih memandang ke sekeliling kamar.


Akhirnya Yati merendahkan tubuhnya di kasur dan tertidur.


Tidak terasa, waktu sudah menjelang sore. Ratmi mencari Yati ke dalam kamarnya, dan dia melihat Yati tertidur.


"Aduh Yati, kenapa tidur, ayo bangun Yat, sudah sore, nanti suamimu nyariin kamu," kata Ratmi, sambil menggoyangkan tubuh Yati yang masih terlelap tidur.


Yati pun menggeliat, matanya mulai terbuka. Yati pun terbeblalak, dia tidak menyangka jika dirinya tertidur si kamarnya.


"Yati pulang sekarang Bu, takut kang Bidin marah," sahut Yati.


Dia pun segera bergegas keluar kamar. Yati melihat Mawar dan Melati sssang asyik bermain bersama Asep.


"Eh, kamu sudah bangun, Anak-anak tirimu lucu-luci Yat, aku gemes sama mereka," kata Asep.


Yati duduk di samping Asep dengan aajah cemberut. "Gemes memang, Yati aja sering di buat pusing sama mereka," kata Yati.


" Pusing gimana maksud kamu?" tanya Asep penasaran.


"Pusing ngadepin medeka tiap hari, ngurus mereka, perhatiin mereka, belum lagi kalo mereka lagi berantem. Kakaknya juga gak mau ngalah, cape jagain mereka, pengen tinggalin aja deh," kata Yati menggerutu.


"Eh kamu jangan asal ngomong Yat, gak baik ucapan kamu begitu. Kamu harus Terima mereka, jangan sayang sama bapaknya aja Yat," sahut Asep mengingatkan.


"Iya, Yati sayang kok sama mereka, tapi Yati cape Sep, malah temen-temen ngeledek Yati, kata mereka Yati penjaga bayi, kan sebel dengernya. Apa lagi sekarang Yati harus bangun sebelum subuh, Kang Bidin nyuruh Yati sholat jamaah sama dia, males banget kan, Yati masih ngantuk udah di banguninbangunin," kata Yati mengadu.

__ADS_1


Asep pun tertawa mendengarkan. "Bukannya memang kita harus bangun dan segera sholat? Kamu sih gak terbiasa bangun pagi, sekarang malah ngerasa berat. Coba dulu kamu terbiasa bangun pagi, jadi pas udah rumah tangga, kamu udah biasa," kata Asep, sambil mengacak rambut adiknya.


Tiba-tiba dari luar terdengar suara orang memberi salam.


Asep bangun dari duduk nya, dia melihat ke arah luar.


Asep melihat sebuah motor terparkir di luar. Lalu Asep segera keluar. Ternyata Bidin yang datang.


"Wa alaikum salam," jawab Asep.


Asep membuka pintu pagar, yang terbuat dari bambu.


"Masuk Kang, Yati ada kok di dalam," ajak Asep.


Bidin pun mengangguk. Sebelumn Asep mengajak Bidin masuk, Asep menyalami Bidin terlebih dahulu. Dia meraih tangan Bidin dan mencium punggung tangan Bidin.


Mereka pun masuk ke dalam.


Kang Ibing dan Ratmi menyambut kedatangan menantunya.


"Eh Nak Bidin, silakan masuk," sambut Ratmi.


Yati pun terperanjat melihat suaminya yang datang. Yati sangat takut jika Bidin akan marah padanya.


"Maaf Kang, Yati belum pulang, ini lagi mau pulang, trus ngobrol dulu ama aa' Asep," kata Yati.


"Iya gak apa-apa. Akang ke sini emang sengaja mau jemput kamu dan anak-anak.


" Bapaaaak!" teriak Mawar. Bidin langsung memeluk Mawar.


"Enggak kok, Mawar gak nakal, ade juga gak cengeng," jawab Mawar.


"Kita ngopi dulu Nak Bidin," ajak mang Ibing.


"Gak usah Pak, udah kesorean, kasian anak-anak kalo di jalan masuk waktu maghrib," sahut Bidin menolak secara halus.


"Ayo Yat kita pulang, udah sore banget, bentar lagi maghrib, kita belum siap-siap buat tar malem, kan waktunya ngaji," kata Bidin mengingatkan.


Yati pun mengangguk.


Mereka pun akhirnya meminta izin pada Ratmi dan kang Ibing.


"Yati pulang dulu Pak, Bu," sahut Yati. Kemudian Yati menyalami bapak dan ibunya, lalu di susul oleh Bidin, Mawar dan Melati.


Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di rumah.


Bidin mengajak Yati untuk sholat maghrib berjama'ah.


"Ayo Yat, kita sholat jama'ah," ajak Bidin.


Yati hanya mengangguk pelan.


Begitulah hari-hari yang dijalani oleh Yati. Bagun dari sebelum subuh, menyiapkan sarapan untuk Bidin, menjaga Mawar dan Melati saat Bidin mengajar, dan semuanya membuat Yati bertambah bosan.


Hingga satu hari, Arum si perawan tua, datang ke rumah Bidin, saat Bidin tidak berada di dumah. Entah apa maksud kedatangannya, yang jelas tiba-tiba saja dia menawarkan jasanya pada Yati.

__ADS_1


"Eh Teh Arum, ada apa?" tanya Yati.


Mata Arum memandang ke arah dalam rumah Bidin.


"Kang Bidin belum pulang Yat?" tanya Arum.


"Belum," Jawab Yati.


Lalu Yati kembali bertanya, "Ada apa Teh nyari Kang Bidin?"


" Bukain dulu atuh pagarnya, Teteh mau masuk," pinta Arum.


Dengan polosnya Yati pun membukakan pintu pagar, dan Arum pun masuk. Posisi mereka masih berada di pekarangan.


Lalu Arum melongok ke dalam, dan bertanya pada Yati, "Kamu gak ngajak Teteh masuk Yat?"


Yati terdiam sesaat, lalu kemudian Yati pun mengajak Arum masuk ke dalam rumah.


Yati telah lupa tentang pesan Bidin, bahwa jangan buka pintu dan jangan Terima tamu, selain keluarga, sedangkan Arum itu hanya tetangga Bidin.


"Ayo masuk Teh," ajak Yati.


Mereka pun masuk ke dalam dan duduk di ruang samping, di mana Mawar dan Melati sedang asyik bermain.


Melihat kedatangan Arum, Mawar pun bersorak dan memanggil Arum dengan berteriak,


"Teteeeeeh!"


Arum pun tersenyum melihat Mawar, dan memeluknya.


"Gendong Teh, gendong Mawar," Rengek si kakak.


Arum pun menggendongnya.


Setelah menggendongnya, Arum berkata pada Yati,


"Kamu di cariin tuh sama Asih, tadi Teteh ketemu sama Asih di pasar, waktu nganter Emak belanja."


Yati mengerutkan keningnya, lalu bertanya,


"Mau ngapain Teh, si Asih nyari Yati?"


Arum mengangkat kedua bahunya, ssbagaibtanda bahwa dia tidak tahu menau.


Arum pun duduk di bangku, sementara Melati juga menggelendot di tubuh Arum.


Lalu kemudian Arum kembali berkata,


"Kalo kamu mau main ke rumah Asih, sana pergi, biar Mawar dan Melati Teteh yang jagain."


Yati terdiam. Hatinya pun mulai bersebrangan dengan otaknya. rasa ingin bermainnya sangat besar, tetapi ada rasa takut jika Bidin marah.


Lama Yati terdiam, dia bingung untuk mengambil keputusan, main atau tetap di rumah?


"Sudah sana ke rumah Asih, kasian loh, dia pasti udah nunggu kamu lama, biar anak-anak Teh Arum yang jagain," sahut Arum.

__ADS_1


Yati kembali terdiam, otaknya pun berpikir dengan keras.


__ADS_2