
Bidin terkejut mendengar pertanyaan putri pertamanya, Mawar pada Arum, wanita perawan tua yang di titipkan Bidin untuk menjaga anak-anaknya selama pesta berlangsung.
Pertanyaan yang membuat Bidin tak habis pikir, mengapa Mawar bisa bertanya seperti itu pada Arum. "Ah namanya juga anak kecil," pikirnya.
Bidin kembali melanjutkan langkahnya ke kamar mandi.
Sedangkan Mawar, Melati dan Arum masih di ruang sebelah menonton TV. Melati duduk di pangkuan Arum, sedangkan Mawar duduk di sampingnya.
Lalu Arum berkata pada Mawar dan Melati, "Nanti, teh Arum pulang, mungkin nanti sore. Kalian nanti sama teh Yati ya."
Mawar menoleh ke arah Arum, lalu dia bertanya,
"Loh emang Teteh mau ke mana? Ngapain pulang?"
Arum pun merasa bingung untuk menjelaskan. "Gini anak-anak, kalian sekarang sudah punya ibu baru, yaitu teh Yati. Nanti kalian bisa main sama teh Yati, dan teh Yati juga yang akan jaga kalian," kata Arum.
Arum adalah perawan tua di kampung itu, yang sering di titipin anak oleh orangtua yang bekerja di ladang.
Anak yang di titip ke Arum berbagai macam usia, dari bayi, balita bahkan anak usia sekolah Dasar.
Jika ada orang tua yang bekerja, dan memiliki anak yang tidak punya pengasuh, maka Arum lah tempat yang paling aman dan nyaman.
Maka saat Bidin hendak melangsungkan pernikahannya dengan Yati, Bidin pun menyewa jasanya, tetapi sepertinya anak-anaknya merasa nyaman dengan Arum.
"Aku gak mau sama teh Yati, aku maunya sama teh Arum!" bentak Mawar.
Mawar segera bangkit, dan berlari menuju kamarnya. Sedangkan Arum sengaja membiarkan Mawar pergi darinya, karena dia merasa itu bukan urusannya.
Melati masih duduk di pangkuan Arum. Karena Melati masih berusia 3 tahun, dia tidak memahami apa yang Arum katakan.
Waktu telah menunjukkan pukul 2 siang. Melati tertidur di pelukan Arum. Lalu Arum mengangkatnya. Dia hendak memindahkan Melati ke dalam kamar.
Arum mulai menggendongnya dan mengangkatnya.
Arum berjalan menuju kamar anak-anak. Tidak lama kemudian Bidin keluar dari kamar dan melihatnya.
Melati tidur Rum?" tanya Bidin.
"Iya Kang, saya mau naruh di kamar. Dan kayanya Mawar juga udah tidur Kang," sahut Arum.
__ADS_1
Bidin pun melongok kan kepalanya ke dalam kamar anak-anak. Kemudian Arum masuk ke dalam kamar anak-anak dan meletakkan Melati di samping Mawar.
Bidin tidak masuk ke dalam kamar, dia menunggu di depan pintu kamar. Setelah meletakkan Melati, Arum segera keluar dari kamar, dan berbicara pada Bidin.
"Kang, udah ya, saya pulang, kerjaan saya sudah selesai," kata Arum.
"Iya Rumah, makasih ya udah mau bantu Akang jagain anak-anak. Oh ya, ini terima ya, sekali lagi terimakasih," sahut Bidin sambil menyodorkan amplop berisi uang.
Seperti biasa, jika ada orangtua yang menitipkan anak-anak mereka saat mereka meninggalkannya, setelah selesai para orangtua memberikan Arum upah, sebagai imbalannya.
Seperti yang saat ini Bidin lakukan.
Arum pun meraih amplop itu dari tangan Bidin.
"Terimakasih Kang, ini saya terima ya, dan saya pamit pulang," kata Arum.
Arum pun berjalan keluar dari rumah Bidin, dan kembali menutup pintu depan.
Bidin menarik nafasnya dalam-dalam, lalu dia kembali masuk ke dalam kamar anak-anak.
Bidin melihat kedua buah hatinya yang piatu. Ya, istri Bidin yang dahulu meninggal dunia saat melahirkan Melati.
Rima sudah berteriak-teriak kesakitan, sedangkan hujan di luar masih sangat deras. Bidin masih menunggu redanya hujan untuk membawa Rima ke klinik. Tetapi karena hujan belum juga reda, akhirnya Bidin nekat membawa Rima pergi ke klinik dengan menggunakan sepeda motor.
Dalam perjalanan, mereka melewati jalan yang sangat licin, dan akhirnya kecelakaan pun tidak dapat di hindari.
Bidin dan Rima terjatuh, karena jalanan yang sangat licin, Bidin tidak mampu menyeimbangkan kendaraan motornya.
Rima yang saat itu akan melahirkan, tidak saarkan diri. Akhirnya Bidin menggendong Rima, di tengah derasnya hujan.
Entah kekuatan dari mana, Bidin mampu mengangkat tubuh istrinya, dia terus berjalan, karena jarak yang harus di tempuh Bidin masih sangat jauh. Dan tidak lupa, Bidin terus memanggil nama Rima.
"Rima, bangun Rima, sebentar lagi anak kita akan lahir," kata Bidin kala itu, sambil menggendong tubuh Rima, tidak lupa dia juga mengoyak tubuh Rima.
Hampir satu jam Bidin berjalan. Hingga akhirnya Bidin pun sampai di sebuah klinik.
Saat itu keadaan klinik sangat sepi, karena memang malam itu sudah mulai larut. Hanya ada beberapa perawat yang masih lalu lalang karena klinik itu klinik kecil.
Dan hanya klinik itu yang terdapat di kampung itu. Lalu kedatangan Bidin pun segera di sambut oleh beberapa orang perawat yang ada di sana.
__ADS_1
"Bapak tunggu di sini ya, biar kami yang menangani istri bapak," kata salah satu perawat di sana.
Bidin pun mengangguk. Dia pun duduk di ruang tunggu.
Hujan semakin deras, sedangkan saat itu, Bidin meninggalkan Mawar yang tertidur pulas saat itu Mawar masih berusia 3 tahun.
Pikiran Bidin pun bertambah gelisah, takut Mawar bangun dan mencari ibunya dan dirinya.
Sedangkan di dalam ruangan, Rima masih saja tidak sadarkan diri. Padahal klinik itu hanya bisa melayani kelahiran secara normal. Dan saat itu tidak ada dokter, hanya ada seorang bidan yang menanganinya.
Bidan Ros akhirnya menghubungi dokter Alfian, agar segera datang ke klinik.
"Iya Dok, cepat datang, saya bingung, karena pasien datang dalam keadaan tidak sadar. Dan air ketubannya sudah mulai pecah," kata bidan Ros pada dokter Alfian dengan panik.
Bidan Ros sangat khawatir dengan keadaan Rima, karena bidan Ros sangat mengenal Rima.
"Bangun Rima, kau akan melahirkan," bisik bidan Ros di telinga Rima.
Bidan Ros kembali memeriksa Rima, dia menyelipkan teleskop ks telinganya.
"Jantungnya mulai lemah, sangat lemah," kata Bidan Ros pada salah satu perawat yang menangani Rima.
Lalu bidan Ros kembali ke meja kerjanya, dan mulai menghubungi dokter Alfian di rumahnya.
Tapi ternyata, telepon dari bidan Ros tidak di Terima dokter Alfian.
"Bagaimana Dan, apa dokter Alfian menjawabnya?" tanya salah satu perawat di sana.
Bidan Ros menggeleng, dan berkata, "Mungkin dia sudah dalam perjalanan, yang penting siapkan saja alat-alat yang kira-kira di perlukan."
Lalu beberapa perawat menyiapkan beberapa alat-alat dan merapikan nya di dekat meja.
Sementara, Bidin masih duduk di ruang tunggu. Dia pun mulai gelisah, dan duduknya pun terlihat sangat tidak tenang.
Matanya melihat jam yang menempel di dinding, saat itu waktu telah menunjukkan pukul 10.00 malam, saat itu jika sudah di atas jam 9.00 malam, suasana kampung itu sangat sepi, apa lagi saat itu hujan sangat deras.
Beberapa saat kemudian dokter Alfian pun sampai. Bidin melihat kedatangan dokter itu dengan berjalan tergesa-gesa.
Bidin pun mengernyitkan dahinya, sambil bertanya dalam hati, "Loh, kenapa dokternya baru datang? Lalu siapa yang menangani istriku di dalam ruangan?"
__ADS_1