
"Iya Pak, ada apa?" tanya Yati, saat keluar dari kamarnya.
"Duduk Yati, Bapak sama Ibu mau nanya soal temenmu itu," kata mang Ibing.
Yati pun duduk, tangannya menyelipkan rambutnya ke telinganya.
"Bapak mau tanya sama kamu Yat, kamu kenal di mana sama tuh anak? Maksud Bapak, itu orang? Apa kamu diam-siam udah kenal lama sama dia? Kok tiba-tiba dateng mau ngelamar," tanya mang Ibing.
Dengan menundukkan kepala Yati mengangguk pelan.
Ratmi merasa heran dengan sikap Yati, lalu Ratmi kembali menekankan, "Kamu udah kenal lama, Yat? Kapan? Berarti selasa kamu masih jadi istri nak Bidin?"
Yati ragu untuk menjawabnya, karena saat berkenalan dengan Ujang, memang benar, status dirinya masih menjadi istri Bidin.
Yati terdiam, tetapi hatinya mengatakan bahwa dirinya tidak selingkuh.
"Ehm.... Anu Bu, ehm..."
Ratmi menjadi kesal melihat sikap Yati yang terlihat ragu-ragu.
"Berarti benar, kamu selingkuh saat masih menjadi istri Nak Bidin Yat? Dasar kamu tidak tau di untung!"
Seketika satu tamparan mendarat di pipi Yati,
PLAKKK!!!
Tangan Ratmi gemetaran setelah menampar pipi Yati. Dia benar-benar geram melihat kenyataan bahwa anaknya yang dia pikir masih lugu, ternyata sudah berani selingkuh saat masih menjadi istri Bidin.
Yati pun menangis, tetapi hatinya tidak Terima mendapatkan perlakuan kasar seperti itu dari ibunya.
Akhirnya tanpa berkata-kata, Yati pun berlari dan masuk ke dalam kamarnya, bahkan Yati mengunci pintu kamarnya.
Ratmi pun histeris. Dia benar-benar tidak menyangka, Ratmi pun berteriak,
"Ya Alloh Paaaak!!! Anak kita selingkuh Paaaak!!! Kenapa anak kita jadi binal gini Paaaak!!! Ibu bener-bener nyesek Pak!!!"
Mendengar sang Ibu berteriak-teriak, Asep pun bergegas ke ruang tengah, diana bapak dan ibunya berasal di sana.
Asep mendekat dan memeluk Ratmi, sambil mengusap punggung ibunya.
"Sabar Bu, sabaaar, tahan emosi Ibu, nanti sarah tinggi Ibu kambuh lagi," kata Asep.
"Dafa Ibu benar-benar sesak Sep! Ibu beneran gak nyangka, kalo Yati waktu jadi istri Bidin itu selingkuh!"
__ADS_1
Tangis Ratmi pun sudah tidak dapat di bendung.
Ratmi pun nangis sesegukan. Dia benar-benar merasa sudah gagal dalam mendidik anak, apa lagi Yati adalah anak perempuan satu-satunya, anak yang paling di tunggu bagi Ratmi, sedangkan Yati telah menunjukkan tabiatnya yang kurang baik.
Sedangkan mang Ibing hanya duduk terdiam. Dia diam, bukan berarti tidak merasa kesal, tetapi begitulah cara mang Ibing jika kesal pada sesuatu, selain pada Istrinya.
Jika mang Ibing kesal dengan sesuatu, baik itu anaknya mau pun orang lain, dia akan memasang wajah masam dan mengunci mulutnya.
Berbeda jika dia sedang bermasalah pada istrinya. Mang Ibing tidak akan diam. Dia akan terus berkata-kata pada istrinya.
Akhirnya Asep mengajak Ratmi masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
"Ayo Bu, kita ke kamar aja, biar Ibu istirahat, jangan terlalu di pikirin lah soal Yati, dia udah gede, masa selamanya bakal nyusahin Ibu, udah Bu jangan di pikirin. Nanti Asep yang nanyain lagi ke Yati, Ibu tenang aja," kata Asep.
Sedangkan Ussp sedang duduk di ruang tamu sambil membuka buku pelajarannya. Padahal sebenarnya penswngatannya di pertajam. Buku hanya untuk menutupi aktivitasnya saat itu.
Lalu tiba-tiba Usep teringat kembali pada kakek yang di ajak Ujang tadi.
"Kakek tua yang tadi kan yang kerja si sekolah Usep, tapi apa benar kakek itu adalah orang tua laki-laki itu, sedangkan laki-laki itu adalah mandor di ladang samping sekolah, ladang yang lumayan luas.
Ya benar, apa yang Usspmkatakan pada Asep adalah benar, bahwa Ujang adalah mandor di ladang sebelah gedung sekolahnya.
Sedangkan di lain tempat, tepatnya di dalam mobil Ujang, ketika mereka telah datang ke rumah Yati untuk melamar.
Saat itu Ujang masih menyetir mobilnya, sambil marah-marah pada sepasang kakek-kakek dan nenek-nenek yang di ajaknya.
"Kamu lagi! Sama makanan maruk amat! Bikin malu saya aja! Entar kan bisa beli!" teriak Ujang yang amaih berada di dalam mobil sambil menyetir mobilnya.
"Iih kamu Jang, saya teh lapar, dari siang belum makan. Wajar atuh kalo saya mau makan yang di hidangkan tadi," kata pak tua itu.
"Iyaaa, lapar siiih lapaaar, tapi jangan marukkk! Bikin malu aja," sahut Ujang.
Tidak lupa Ujang pun memarahi nenek-nenek yang di ajaknya juga.
"Kamu lagi, ikut ikutan segala! Benar-benar bikin maluuu! Mau di taroh di mata muka sayaaa! Lainn kali kalo saya ajak, jaga sikap kalian atuh! Bikin emosi wae!" bentak Ujang.
Lalu sangat wanita tua itu pun berkata,
"Siapa yang gak ngiler liat makanan enak di depan mata Jang, sammaaa, saya juga belum. Makan dari sore, kamu mah enak udah makan. Kita berdua mah belum, lagian tadi kamu bilang katanya mau di ajak makan-makan, asal_" Wanita itu pun terdiam.
Ujang merogohkan saku celananya. Lalu dia mengambil dua buah amplop.
Tiba-tiba saja Ujang menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
__ADS_1
"Tuuuh, jatah kalian, soook ambiiiiiil, tibang ikut ajah duduk manis dapet bayaran, enak pisan eeyyy," kata Ujang meledek mereka.
Dengan kompak mereka pun menjawab, "Makasih Kang Ujang."
"Iya, Sama-sama. Pokoknya lain kali kalo saya ajak lagi, jaga sikap kalian, saya akan ajaknkalian lagi. San jika urusan ini berhasil, kalian bakal pakai baju penganten lagi, kalian mau gak? Mangkanya jaga sikap dan tutup mulut kalian, ngerti?!" kata Ujang sambil menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal.
"Udaaah, sok atuh keluar, saya mau pulang, capeee! Saya mau minta pijit!" perintah Ujang.
Lalu wanita tua itu bertanya, "Sama istri yang mana Jang minta di pijitnya?"
Dengan geram Ujang langsung menyuruh wanita tua itu keluar dari dalam mobilnya, "Sudah-sudah turun! Nanti saya ambil lagi nih amplopnya! Dasar tua-tua gak tau diri!"
Akhirnya mereka pun keluar dari mobil Ujang dengan membawa sebuah amplop.
Setelah mereka berada di luar, Ujang kembali membuka kaca mobilnya. Dia pun menoleh ke arah mereka dan berteriak, "Jangan lupa, pekerjaan kita belum selesai!"
Dengan kompak mereka pun memberi sautan pada Ujang, "Siaaappp Jaaaang!"
Setelah itu, Ujang pun kembali melajukan mobilnya.
Kita kembali ke kediaman mang Ibing.
Yati yang sudah berada di kamarnya sedang menangis tersedu-sedu.
Lalu Usep, mengetuk pintu kamar Yati.
Yati pun bertanya, "Siapa?"
"Ini usep," jawabnya.
Yati pun bangkit dari duduknya. Langkah nya menuju pintu kamar untuk membukakannya.
Setelah terbuka, tanpa bicara apa-apa Yati membalikan tubuhnya, dan kembali duduk di sisi tempat tidur.
Usep pun duduk di bangku rias.
"Teh, teteh beneran mau nikah sama laki-laki itu?" tanya Usep.
Yati menoleh ke arah Usep. Bukannya menjawab, Yati malah melontarkan adiknya dengan pertanyaan.
"Emangnya kenapa? Apa kamu juga gak suka kalo teteh sama kang Ujang?"
Usep membetulkan letak duduknya, dan dia kembali berkata,
__ADS_1
"Laki-laki itu kan mandor di ladang samping sekolah Usep Teh, dan kakek-kakek b yang dia ajak itu pekerjaan di sekolah Usep, sebagai tukang sapu. Dan setau Usep, dia itu gak punya anak, dan tadi, laki-laki itu bilang kalo kakek- kakek itu bapaknya, aneh!"
"Maksud kamu apa?" tanya Yati.