
Seperti biasa, pagi itu Bidin bagun lebih dulu dan menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya selepas mandi. Bidin pun membuat nasi goreng, sedangkan aromanya tercium sampai ke dalam kamar.
Yati bangun dari tidurnya karena mencium aroma nasi goreng yang sedap. Yati bagun dan keluar dari kamar menuju dapur.
Yati melihat suaminya yang tengah sibuk di dapur, dia melihat Bidin susah rapi dengan pakaian seragam ngajarnya.
Ya, Bidin adalah seorang guru agama di sekolah dasar yang ada di kampung itu. Jika pagi dia mengajar di sekolah dan malam harinya dia mengajar di rumahnya, Bidin mengajar anak-anak bahkan para remaja yang ada di kampung itu.
Nasi goreng pun telah matang. Bidin tahu jika Yati memperhatikannya dari tadi, tetapi sengaja Bidin tidak menoleh ke arah Yati, Bidin takut jika Yati merasa malu.
Bidin pun mengambil tempat yang lebih besar untuk nasi gorengnya. Dia memasukkan nasi gorengnya di sebuah wadah yang terbuat dari anyaman. Setelah memasukkan nasi goreng itu ke dalam wadah, Bidin hendak keluar dari dapur, Bidin berpura-pura kaget melihat Yati yang tengah berdiri di depan pintu dapur, "Eh Yati, kamu susah bangun?"
Yati mengangguk. Lalu mengambil wadah itu dari tangan Bidin.
Yati membawanya ke ruang makan dan meletakkannya di atas meja makan.
Kemudian Yati mengambil dua buah piring kosong, dan toples kerupuk. Bidin segera duduk di sana, lalu mengambil piring kosong untuk di isinya.
Tetapi Yati segera kembali mengambil piring kosong itu dari tangan Bidin, lalu mengisinya dengan nasi goreng.
Bidin pun tersenyum, lalu membiarkan Yati melayaninya saat itu.
Yati kembali duduk, kini dia mengambil piring kosong untuk dirinya. Dia mulai menyendokkan nasi goreng.
Mereka pun makan bersama. Saat itu mereka hanya diam, tidak ada satu pun yang bicara.
Melihat ke kakukan itu, Bidin mulai bicara. "Yat, mulai hari ini saya susah mulai ngajar lagi. Selama saya gak ada di rumah, tolong jaga anak-anak ya. Ingat Yat, kini mereka itu anak-anak kamu juga."
Yati mengangguk, dia tidak berani menatap wajah Bidin yang berada tepat di hadapannya.
Lalu Bidin kembali berkata,
"Saat saya gak ada di rumah, jangan izinkan orang masuk ke rumah ini ya Yat, kecuali orang yang kamu kenal atau sodara, bapak, ibu dan siapa saja sodara kita. Tapi kalo cuman temen kamu, apa lagi laki-laki jangan kasih masuk ya Yat, gak boleh dan gak baik kalo saya gak ada si rumah. Teman-teman kamu boleh main, asal saya lagi ada di rumah, kamu paham kan maksud saya?"
Yati kembali mengangguk. Dia pun mulai meraba kebiasaan keluarganya. Sama sepertinya dengan ibu, saat bapak tidak ada di rumah, jika ada tamu yang datang, Ibu tidak pernah mengajaknya masuk, apa lagi tamu laki-laki, Ratmi tidak pernah mengajak tamunya masuk, dan menyuruh tamunya datang kembali saat mang Ibing di rumah.
__ADS_1
"Oh ya, nanti jika anak-anak sudah bangun, tolong mandikan Melati ya Yat, dia belum bisa mandi sendiri, kalo Mawar udah bisa, kamu gak perlu mandiin Mawar, oh ya, kamu gak perlu masak Yat, biar nanti kita beli lauk matang saja, kamu cukup jagain anak-anak aja," sahut Bidin.
Yati pun hanya kembali mengangguk. Tidak ada satupun kata-kata Bidin di bantah Yati.
Mereka pun selesai dengan makan mereka, lalu Bidin beranjak dari meja makan, dan meraih tasnya. Ketika Bidin melangkahkan kakinya, ternyata Yati mengikutinya dari belakang, Bidin meliriknya, lalu dia tersenyum bangga.
Sesampainya Bidin di depan pintu, Bidin membalikkan tubuhnya, dia ingin melihat respon Yati.
Yati meraih tangan kanan Bidin, lalu mencium punggung tangan Bidin. Dalam hati Bidin berkata, "Alhamdulillah, Yati mengerti soal ini." Ternyata Yati melakukan itu terbayang saat bapaknya akan ke ladang. Ratmi selalu mengikutinya dari belakang kemudian Ratmi mencium tangan mang Ibing.
Lalu Bidin mendekat ke depan wajah Yati, dan Yati pun terlihat malu. Bidin mencium kening Yati.
Yati pun bergidik, seperti ada sesuatu yang berjalan di tubuhnya, tapi entah apa itu, yang jelas Yati sering merasakan itu saat di dekat Bidin, apa lagi saat Bidin mencium keningnya.
"Saya berangkat dulu ya, mungkin jam satuan saya sudah pulang, jangan tinggalin rumah ya Yat," kata Bidin.
Yati pun mengangguk.
Bidin pun keluar dari rumahnya, dia mulai menyalakan mesin motor bututnya.
"Pagi Kang, usah mulai ngajar?" Sapa Arum.
"Eh Arum, iya, hari ini saya udah mulai ngajar. Oh ya, jangan lupa Nanti malam udah mulai lagi ya pengajiannya," sahut Bidin.
"Oh iya Kang, nanti saya bilangin ama temen-temen yang lain," kata Arum sambil melirik ke arah Yati yang tengah berdiri di depan pintu.
Bidin pun pergi dengan mengendarai motor bututnya.
Lalu Arum menoleh ke arah Yati, Arum pun menggodanya, "ciee cieee pengantin baru, udah keramas nih."
Yati pun tersenyum, dan berkata, "Ah Teh Arum bisa aja."
Lalu Arum mendekati Yati tanpa ke luar dari pagar rumahnya,
"Eh Yat, enak dong tidur bareng sama kang Bidin, kamu itu beruntung Yat bisa nikah sama kang Bidin, udah ganteng, sholeh, yach walau pun duda, tetep aja banyak loh yang mau jadi istrinya. Saya aja mau kalo kang Bidin milih saya, eh dia malah milih kamu. Kamu tuh beruntung sekali Yat."
__ADS_1
Yati tersenyum tersipu malu. Dalam hatinya udah lama memang Yati sangat kagum sama Bidin, tapi untuk menikah dengannya itu di luar hayalannya.
Seusia Yati yang belum genap 17 tahun memandang seorang pria hanya dari tampilannya saja.
Yang penting ganteng dan kaya, itu saja. Bidin memang tampan, tapi tidak kaya, dia hanya seorang guru sekolah dasar, rumahnya pun biasa saja, memang sih besar, tapi bentuk rumahnya sangat sederhana.
Tiba-tiba suara Mawar memanggilnya,
"Teh Yati, Teh Yati!"
Yati pun menoleh, dan berkata pada Arum,
"Udah dulu ya Teh, Yati masuk dulu."
Yati pun membalikan tubuhnya, ternyata Mawar sudah berdiri di sepanjang pintu depan.
"Bapak mana Teh?" tanya Mawar.
"Bapak udah berangkat ngajar Mawar," jawab Yati.
Yati berjalan mendekati Mawar. Tetapi Arum kembali berceloteh, "Mawar, manggilnya jangan teteh atuh, panggil Yati itu ibu, sekarangkan Yati adalah ibu kamu."
Sontak saja wajah Mawar menjadi cemberut. Yati melihat perubahan wajah anak tirinya.
Yati pun tidak tinggal diam, dia segera mengajak Mawar untuk masuk ke dalam rumah.
"Yuk kita masuk, kita makan nasi goreng, bapak tadi buatin kita, enak loh nasi gorengnya," kata Yati sambil menarik dan menuntun tangan Mawar. Tapi tiba-tiba saja mawar mengingat sesuatu perkataan Arum, "Hati-hati dengan ibu tiri, ibu tiri itu galak loh, dia bisa jahat kalo bapak kamu lagi gak di rumah."
Seketika itu pula tangan Yati di singkirkan, Yati pun kaget dengan tingkah anak tirinya, yang begitu cepat berubah sikapnya.
Baru saja dia menyapanya, seketika itu pula berubah.
Yati nanya bisa menghela nafasnya.
"Kudu sabar punya anak tiri," gumamnya dalam hati.
__ADS_1