
"Iya Kang, lebih baik Akang pulangin Yati aja sama Bapak dan Ibu, kayanya Yati gak bisa jadi istri Akang lagi," kata Yati sambil menundukkan kepadanya.
Bidin mendekati Yati dan memegang bahu Yati kuat-kuat.
"Apa salah Akang Yat? Kenapa Yati minta di pulangkan? Apa yang kurang dari Akang, katakan Yat? Akang gak mau pisah dari Yati, Akang sayang sama Yati, tolong katakan apa salah Akang Yat?" tanya Bidin bertubi-tubi.
Bidin mengacak rambutnya dan berdiri.
"Pokoknya Akang gak mau pisah sama kamu Yat, Akang sayang sama Yati!"
Bidin pun bangkit dari duduknya dan keluar dari kamarnya.
Dia melangkah menuju ruang dapur untuk membuat sarapan.
Bidin pun mengahangatkan nasi dan menggoreng telur.
Otak Bidin pun tidak merasa tenang.
"Ada apa dengan Yati ya, kenapa tiba-tiba dia meminta cerai? Apa yang membuatnya demikian? Saya harus mencari tau kebenaran ini!" tanya Bidin dalam benaknya.
Nasi dan telur pun sudah siap. Sedangkan Yati masih berada di kamar.
Bidin memanggilnya untuk mengajaknya sarapan. "Yat, ayo kita sarapan!" panggil Bidin.
Tetapi Yati tidak menjawab. Bahkan Yati tetap tidak keluar dari kamar.
Bidin hanya bisa menghela nafas panjang, dan dia menyantap sarapannya dengan seorang diri.
Bidin mengerti dengan sikap Yati yang masih kekanak-kanakan, tetapi jika Yati menginginkan cerai, itu di luar dugaan Bidin.
Karena selama ini, jika ada konflik di antara mereka, baik itu konfliknya dari luar atau dari dalam, Bidin berusaha untuk menyelesaikannya dengan Yati, dan tidak ada satu urusan pun yang tidak terselesaikan.
Waktu telah menunjukkan pukul 6.00 pagi, waktunya Bidin berangkat ke sekolah untuk mengajar.
Bidin pun kembali memanggil Yati, sedangkan Bidin berada di ruang samping, Bidin pun memanggil Yati dengan suara keras
"Yaaat, Akang berangkatnya!"
Sebenarnya Yati mendengar panggilan itu, tetapi Yati merasa malas untuk beranjak.
Setelah mendengar suara motor suaminya menghilang, Yati pun keluar dari kamar dan keluar menuju ruang tengah.
Seperti biasa, Yati membuka jendela ruang tengah yang menghadap ke sebuah kebun.
__ADS_1
Kebun itu berseberangan dengan jalan raya yang banyak di lalui orang.
Yati berdiri di depan jendela, sesaat kemudian Bidin pun melewatinya dan menoleh ke arah jendela.
Pandangan mata mereka pun menyatu, walau terhalang banyak ilalang yang tumbuh.
Bidin pun terus melanjutkan perjalanannya.
Sementara Yati masih berdiri dan mematung di depan jendela.
Dia melihat dari balik banyaknya ilalang ke arah jalanan. Banyak orang yang lalu lalang, dan Yati pun melihat beberapa orang temannya melewati jalan itu dengan menggunakan sepeda.
"Enak ya jadi mereka, masih bisa main bebas, gak kaya aku, terkurung di rumah dan gak bebas," gerutu Yati dengan dirinya sendiri.
Yati pun berjalan menuju kamar anak-anak tirinya. Mawar dan Melati masih tertidur lelap.
Lalu Yati beranjak menuju kamarnya, dia pun mengganti pakaiannya.
Setelah mengganti pakaiannya, Yati mengambil tasnya yang menggantung di belakang pintu, lalu mencari sendalnya.
Setelah menemukan sendalnya yang berada di kolong meja, Yati oun segera memakainya.
Lalu dia keluar melalui ruang samping, di mana Bidin jika malam hari mengajar mengaji.
Setelah itu Yati pun kembali menutup pintu ruang samping.
Yati pun membuka pagar bambu rumah Bidin dengan perlahan.
Dan memang tidak seperti biasanya Arum tidak berada di pekarangan rumahnya, seperti kegiatannya setiap hari menyapu di pekarangan rumahnya yang lumayan luas.
Yati pun mempercepat langkahnya.
Tetapi ternyata, Arum melihat Yati keluar dari rumahnya.
"Eh si Yati mau kemana tuh, kenapa kaya mengendap-endap? Apa dia pergi ga mau di ketahui orang lain?" tanya Arum pada Ima, Emaknya Arum.
"Sudahlah Rum, jangan urusin urusan rumah tangga orang lain, biarkan saja," sahut Ima.
"Eh Mak, kalo Yati pergi, anak-anak sama siapa? Kasian Mak, anak-anak masih pada kecil, kasian jika di tinggal," kata Arum, yang merasa mengkhawatirkan Mawar dan Melati.
"Iya, Emak tau, tapi kamu jangan ikut campur urusan mereka," sahut Ima, sambil mengunyah sirihnya.
"Ih Emak, kenapa sih gak ada peratian banget sama tetangga, Emak gak boleh gitu!" bentak Arum.
__ADS_1
"Ima malah terkekeh mendengar ucapan anaknya yang perawan tua itu.
"Rum, mending kamu cari jodoh sana, dari pada kamu ngurusin rumah tangga orang, Emak malu!" kata Ima sambil membuang lidah sirihnya.
Ya, pernah memang suatu hari, Bidin menemui Ima, Emaknya Arum. Bidin meminta agar Ima memperhatikan Arum, agar tidak terlalu ikut campur dengan rumah tangganya.
"Ya, saya mengerti jika Arum memperhatikan anak-anak saya Mak, tapi sekarang kan saya sudah ada Yati, jadi wajar jika saya tidak menitipkan anak-anak lagi ke dia. Tolong ya Mak, ingetin Arum, agar dia tidak ikut campur lagi sama rumah tangga saya," kata Bidin pada Ima, Emaknya Arum.
"Iya Nak Bidin, Emak minta maap kalo Arum terlalu ikut campur sama urusan rumah tangga Nak Bidin. Mungkin bisa jadi, Arum terlalu suka dengan Mawar dan Melati, karena itu dia sangat khawatir dengan keadaannya," sahut Ima pada Bidin.
"Emak malu Rum, Kang Bidin pernah meminta Emak Nagar bicara sama kamu, kang Bidin mengingatkan Emak, jangan ikut campur urusan orang deh, Emak malu!"
Arum pun menjadi kesal dan berkata,
"Ih Emak, gak ngerti juga sih, sebel!"
Arum pun meninggalkan Ima yang masih saja mengunyah sirihnya.
Seperti biasa, kebiasaan Arum jika pagi, dia menyapu pekarangan rumahnya yang lumayan luas.
Karena pekarangannya banyak di tumbuhi pohon besar, dan banyak daun kering yang berjatuhan, hingga Arum harus setiap hari membersihkannya.
Arum mulai mengambil sapu lidi yang bersandar di bawah pohon.
Dia mulai menyapu dari ujung dalam rumahnya.
Lalu, pada saat Arum menyapu baru saja sampai beberapa meter saja, Arum mendengar suara anak kecil menangis.
Awalnya Arum tidak menggubrisnya, dia terus menyapu dan mengumpulkan dedaunan kering.
Tetapi lambat laun, suara tangis anak kecil itu semakin tersengar di telinganya, hingga suara itu sangat mengganggunya pada saat menyapu pekarangan rumahnya.
"Siapa yang nangis ya, kok suaranya kedengeran dekat banget," tanyanya dalam hati.
Arum pun kembali meneruskan kegiatannya. Tetapi tidak lama kemudian, Arum mendengar suara teriakan anak kecil yang sangat kencang, lalu suara tangisan anak kecil yang terus menerus.
Awalnya Arum berusaha tidak menghiraukan tangisan itu. Semakin dia mengabaikan suara tangisan itu, dadanya semakin bergemuruh, dan suara tangisan anak kecil itu semakin menusuk gendang telinganya.
Karena suara tangisan anak kecil itu terdengar terus menerus, akhirnya Arum mencari sumber suara tangisan itu.
"Gak salah, suara itu suaranya Mawar!" Bentak Arum oada dirinya sendiri.
Segera dia meletakkan sapu lidi nya begitu saja di pekarangan rumahnya. Langkahnya tergesa-gesa.
__ADS_1
Ima melihat Arum melempar sapu lidi begitu saja di pekarangan rumah, dan terus memperhatikan Arum.
"Mau kemana tuh anak?" tanya Ima dalam hati.