
"Yati, ngapain kamu di sini?" tanya si pengendara mobil.
Dengan terpaksa, sang pengendara mobil pun turun dari mobilnya.
Yati terperangah, ternyata dia pun mengenal sosok pengendara mobil itu.
"Kang Bahar?!" pekik Yati pelan.
Ya, sang pengendara mobil yang melintasi tadi adalah kang Bahar, teman bapaknya Yati, yaitu kang Ibing.
"Kamu ngapain teh di sini? Sekarang teh udah masuk maghrib, banyak setahun berseliweran di sini, Yati," kata kang Bahar.
Yati pun menundukkan kepalanya, karena takut kang Bahar semakin marah padanya.
Yati tidak menjawab pertanyaan kang Bahar, sedangkan kang Bahar kembali bertanya padanya,
"Dia siapa Yati?"
Yati mulai mengangkat wajahnya, lalu menoleh ke arah Ujang.
"Dia teh temen Yati, Kang," jawab Yati dengan singkat.
Kang Bahar memandangi Ujang dari atas sampai bawah. Ketika sampai bawah, mata kang Bahar mendelik. Bagaimana tidak mendelik? Kang Bahar melihat Ujang tidak memakai sendal.
Lalu kang Bahar mengajak Yati untuk pulang bersamanya.
"Ayo Yati pulang, biar Akang antar kamu pulang," ajak kang Bahar.
Yati menoleh ke arah Ujang, dan Ujang pun nundukkan kepalanya.
"Ayo atuh Neng, hari sudah gelap, pamali atuh masih berada di luar," kata kang Bahar, sambil membukakan pintu mobilnya.
Saat itu kang Bahar kembali bertanya,
"Kamu mau pulang ke mana? Ke rumah suamimu atau ke rumah bapakmu?"
Yati tidak langsung menjawabnya. Tetapi Yati segera masuk ke dalam mobil kang Bahar.
Kang Bahar pun tidak menghiraukan keberadaan Ujang.
Kang Bahar segera berjalan memutar, lalu masuk ke dalam mobil ke sisi pengemudi.
Lalu kang Bahar segera melajukan mobilnya.
Sedangkan Yati, hanya mampu melihat Ujang yang masih berdiri di sana dari kaca spion mobil.
Yati tidak berani menoleh ke belakang. Karena Yati takut jika kang Bahar akan marah.
Kang Bahar tahu siapa Yati, karena itu Yati takut pada kang Bahar, takut di marahi dan di ceramahi.
Karena sebelumnya, kang Bahar juga pernah melihat dirinya bersama Ujang, saat Ujang mengajaknya ke danau.
Karena itu, kang Bahar memberitahukan pada mang Ibing, hingga akhirnya mang Ibing memarahi Yati habis habisan.
Yati terdiam di dalam mobil, matanya masih memandang kaca spion.
"Siapa laki-laki itu? Apa dia pacar kamu?" tanya kang Bahar penuh selidik.
Yati hanya terdiam dan menunduk. Itu adalah senjata ampuh baginya untuk menghindari hujatan.
"Yati, kamu itu istri kang Bidin, harusnya kamu jaga nama baiknya, bukan malah berleliaran, sama laki-laki pula. Gak mungkin laki-laki itu tidak punya perasaan ke kamu," kata kang Bahar.
Yati hanya bisa terdiam. Dia terus menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Gak baik Yati kelakuanmu. Masa udah punya suami malah jalan sama laki-laki lain? Emang kang Bidin gak tau kamu keluar rumah?" tanya kang Bahar sambil menyetir.
Yati masih terdiam dan tetap menundukkan kepalanya. Hal seperti ini lah yang tidak di sukai Yati.
Kang Bahar kalo memarahi seseorang panjang lebar, ucapannya gak berhenti dan bikin telinga Yati sakit.
Senjata Yati hanya diam dan menjnduk, agar kang Bahar tidak terus menerus menceramahi nya.
Beberapa meter kemudian, sampailah mereka di rumah kang Ibing.
Kang Bahar ke luar dari mobilnya dan berjalan memutar unutk membukakan pintu mobil.
Sesampainya dia di depan pintu sebelah, kang Bajar membukakan pintu untuk Yati, Yati pun keluar.
Sedang Asep telah melihat mereka dari dalam rumah.
Asepnoun terkejut melihat kepulangan adiknya, yang ternyata Yati pulang bersama kang Bahar.
Mata Asep terbelalak, dia tidak percaya apa yang telah dia lihat.
Sambil mengucap Asep mengkus dadanya, "Astaghfirullah, muda-mudahan apa yang abdinliatvteh tidak sepeti dugaan abdi."
Asep segera membukakan pintu rumah untuk mereka, sebelum mereka memberi salam.
Setelah membuka pintu rumah, Asep berdiri di depan pintu, melihat kepulangan Yati dengan kang Bahar.
"Assalamu'alaikum," sapa kang Bahar.
"Wa alaikum salam," sahut Asep.
Lalu Asep mengalami kang Bahar.
"Eh Kang Bahar, kok bisa sama Yati?" tanya Asep penasaran.
Kang Bahar tidak menjawab pertanyaan Asep, dia malah bertanya,
"Bapak ada?"
Asep menoleh ke belakang, lalu menjawab pertanyaan kang Bahar,
"Ada Kang, mungkin masih di kamar, tadi sih lagi sholat. Masuk sini Kang."
Mereka pun masuk, dan Asep menyuruh kang Bahar untuk menunggu bapaknya di ruang tamu.
"Silakan masuk kang, silakan duduk, biar nanti Asep oanghilin dulu bapaknya," sahut Asep.
Kang Bahar pun masuk dan duduk dibehang tamu.
Sementara Yati masuk ke dalam kamarnya dan hendak menguncinya.
Yati pun terkejut, melihat keadaan kamarnya yang berantakan.
Sedangkan pintu kamarnya telah rusak.
Yati pun berteriak,
"Ini kenapa kamar Yati jadi berantakan kaya gini? Udah berantakan, pintu kamar juga rusak! Siapa sih pelakunya, aya aya wae ini mah!" maki Yati.
Suara Yati terdengar oleh kang Bahar dariuang tamu.
Kang Bahar hendak beranjak dari tempat duduknya, tetapi akhirnya dia mengurungkan niatnya. Kang Bahar kembali duduk.
Lalu Asep kembalj ke ruang tamu untuk menemani kang Bahar.
__ADS_1
Asep bertanya pada kang Bahar,
"Kang Bahar sudah sholat?"
Kang Bahar lalu menggeleng.
Lalu Asep kembali berkata,
"Sholat dulu atuh, bisa di kamar Asep, nanti biar Asep siapin dulu. Ayo Kang, ambil Wudhu dulu."
Mereka pun beranjak ke area belakang, di mana Asep mengantar kang Bahar agar segera berwudhu.
Mereka pun melewati kamar Yati, sedangkan kang Bahar sempat menoleh ke arah kamar.
Mata kang Bahar melihat pintu kamar Yati yang rusak.
Dia hendak bertanya pada Asep, tetapi dia mengurungkan niatnya. Kang Bahar pun meneruskan langkahnya ke ruangan belakang.
Beberapa saat kemudian, kang Bahar pun selesai untuk berwudhu dan masuk ke dalam kamar Asep untuk menunaikan sholat Maghrib.
Asep menunggunya di ruang tamu.
Tidak lama kemudian, kang Ibing keluar dari kamarnya.
Lalu kang Ibing bertanya pada Asep,
"Ada tamu ya Sep, siapa?"
"Kang Bahar Pak, dia datang bersama Yati, ruh Yatinya udah di kamarnya," jawab Asep.
Kang Ibing melongok kan kepalanya ke arah kamar Yati, lalu kembali duduk.
Asep pun menerangkan, "Kang Bahar lagi sholat di kamar Asep, Pak."
Mang Ibing pun mengangguk.
Beberapa saat kemudian, kang Bahar pun selesai sholat dan keluar dari kamar Asep.
Langkahnya bergerak menuju ruangĀ tamu. Tetapi kang Bahar sempat menoleh ke arah kamar Yati, dan matanya tertuju pada pintu kamar Yati yang rusak.
Sebenarnya kang Bahar tidak ingin menoleh ke arah sana, tetapi matanya secara otomatis melihat ke sana, kang Bahar tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan rumah tangga Yati.
Kang Bahar pun tiba di ruang tamu, lalu di sambut oleh kang Ibing,
"Eh, Kang Bahar, maap atuh teh, barusan saya lagi sholat."
Mereka pun bersalaman dan mang Ibing mempersilakan kang Bahar untuk duduk.
"Iya gak apa-apa, saya juga jadi numpang sholat nih," sahut kang Bahar.
"Aya naon Kang, bisa singgah di mari?" tanya mang Ibing.
Kang bahar membetulkan duduknya. Lalu dia berkata,
"Tadi pas datang magrib, saya lewat perbatasan kampung kita yang menuju kampung sebelah, saya liat ada orang menepim di jalan. Orang itu sama motornya. Saya khawatir, mungkin motornya mogok dan butuh pertolongan, kan daerah itu jarang sekali orang lewat dan sangat sepi. Pas saya berhenti dan bertanya dengan orang itu, saya malah liat Yati duduk di tepi jalan. Saya kaget banget. Saya ajak Yati pulang, malah saya lupa saya orang itu, padahal saya berenti karena saya khawatir sama orang itu."
Mang Ibing menyimak cerita yang di sampaikan oleh kang Bahar.
"Terimakasih Kang Bahar, sudah bawa Yati pulang. Ya, memang saat ini, kami sedang di landa masalah, jadi mohon maap, udah di repotin sama Yati," kata mang Ibing.
"Saya melihat Yati bersama seorang laki-laki, apa Bidin tidak tau jika istrinya pergi?" tanya kang Bahar.
Seketika wajah mang Ibing berubah, dia bingung untuk menjelaskan pada kang Bahar.
__ADS_1