Dendamnya Janda Bahenol

Dendamnya Janda Bahenol
Yati ingin main.


__ADS_3

"Kang, Yati boleh main?" tanya Yati tiba-tiba saat mereka hendak beranjak tidur.


Bidin memandang Yati dengan lekat, lalu menjawabnya,


"Boleh, asal nunggu Akang pulang dulu, jadi kamu main gak usah ajak Mawar sama Melati."


Yati terheran mendengar jawaban dari suaminya, Yati merasa takut jika sebenarnya Bidin marah padanya, tetapi dengan dalih jangan ajak anak-anaknya.


"Apa Akang marah sama Yati?" tanya Yati.


Bidin pun bingung mendengar pertanyaan Yati.


"Marah? Alasan Akang marah sama Yati apa?" tanya Bidin sambil berfikir.


"Itu, Yati gak boleh ajak Mawar dan Melati, apa alasannya?" tanya Yati sambil mengernyitkan dahinya.


Bidin pun tersenyum dan memeluk istrinya, lalu mengecup kening Yati.


Setelah melepaskan pelukannya, Bidin berkata, "Tidak, Akang tidak marah. Yati boleh main kok, asal nunggu Akang pulang ngajar. Biar Mawar dan Melati Akang yang jaga selagi Yati main ke luar. Lagian kan enak kalo kamu main sama teman-teman kamu gak ngajak Mawar sama Melati, ngobrolnya gak di gerecokin."


Yati terdiam. Pikirannya malah menjadi kacau, karena tetap saja Yati berprasangka bahwa Bidin sebenarnya tidak mengizinkan dirinya bermain dengan teman-temannya.


Waktu pun berlalu. Ketika sore, Bidin bertanya pada Yati,


"Yat, kamu gak main? Main sana, biar kamu gak bosen, biar nanti Mawar sama Melati Akang yang jagain."


Yati hanya terdiam, matanya terus memandang ke arah TV.


Hari terus berlalu. Rasa bosan dan rasa iri terhadap teman-temannya mulai menyerang ke otak dan hati Yati.


Yati melihat teman-temannya yang masih asyik bermain dan berkumpul. Bahkan mereka mejeng alias tebar pesona pada para pemuda kampung sebelah.


Akhirnya suatu hari, saat Bidin belum pulang mengajar, Yati mengajak Mawar dan Melati ikut bermain bersama teman-teman Yati.


"Pake baju yang bagusan War, kita mau main," kata Yati pada Mawar.


Mawar memperhatikan Yati yang sedang berdandan. Lalu Mawar bertanya,


"Kita mau main ke mana Teh?"


Sambil menguncir rambutnya, Yatienoleh ks arah Mawar dan menjawab,

__ADS_1


"Kita main ke rumah Teh Asih, nanti kita duduk di danau, di belakang rumah Teh Asih, enak loh tempatnya. Di sana juga banyak teman-teman Teteh. Yang penting, nanti Mawar jangan cengeng ya, jangan minta pulang, apa lagi kalo Teh Yati lagi asyik ngobrol."


Mawar hanya mengangguk. Lalu dia keluar dari kamar dan mengambil sendalnya yang berada di kolong meja tamu.


Setelah mengambilnya, Mawar kembali  ke kamar dan menunjukkan sepasang sendalnya pada Yati.


Mawar pun bertanya pada Yati,  " Teh nanti mawar pakai sendal ini ya?"


Yati pun menoleh ke arah mawar. Setelah melihat apa yang mawar pegang yatipun mengangguk.


Setelah merapikan rambutnya Yati pun bangkit dari duduknya. Lalu Dia merapikan melati dan menggantikan bajunya.


Setelah merapikan mawar dan melati Yati pun mengajak anak-anaknya keluar. Tidak lupa ya Tin Mengunci pintu depan dan juga pagar.


Tetapi saat Yati hendak membalikkan tubuhnya,  Arum melihat kepergian mereka.


Arun pun bergumam pada dirinya sendiri,  " siap di mau ke mana tuh ngajak anak-anak? Apa bisa ya Tik penjaga mereka di luar rumah,  di dalam rumah saja dia nggak becus menjaganya,  apalagi di luar. Biar saja sebentar lagi juga Kang Bidin pulang,  akan aku adukan Semuanya sama Kang Bidin."


Arum pun melihat kepergian Yati yang semakin menjauh,  dan akhirnya hilang dari pandangan Arum.


Dalam perjalanan ke rumah Asih,  terlihat Yati menggendong melati,  sedangkan tangannya menuntun mawar.


Gaya Yati saat itu seperti layaknya seorang ibu dan kedua anaknya yang hendak pergi ke pasar.


Asih sangat terkejut melihat kedatangan Yati dengan membawa anak-anaknya.


" mau apa Yati ke sini dengan membawa anak-anaknya?" Gumamnya dalam hati.


Akhirnya Asih pun keluar dari rumahnya menuju pagar. Lalu dia membukakan pagarnya untuk Yati agar segera masuk ke dalam.


" apa Kang bidin tahu kamu ke sini Yat?" tanya Asih.


Yati terdiam  kemudian dia menggeleng. Lalu Asih kembali bertanya, "Loh, kenapa Kang Bidin gak tau? Aku gak mau loh kalo nanti aku yang di salahin."


Lalu Mawar melihat ke arah Yati, Mawar pun berkata pada Asih,


"Bapak belum pulang."


Asih pun terdiam sejenak. Lalu kemudian dia berkata pada Mawar,


"Ooooh bapakmu belum pulang ngajar ya."

__ADS_1


Akhirnya Asih pun mengajak Yati mawar dan melati masuk ke dalam rumahnya. Sesampainya di dalam rumah,  Yati melepaskan gendongannya pada melati. Dan melati pun duduk di lantai.


Asih pun melihat Melati yang duduk di lantai sambil memegang makanan.


Tiba-tiba saja Asih sedikit berteriak,


" Aduh Yat,  ubinku kotor dong kalau anakmu duduk di lantai sambil makan."


Mata Yati pun segera mengarah ke arah melati. Dan Yati segera memastikan bahwa makanan Melati tidak berjatuhan ke lantai rumah Asih.


" lihat deh,  ubin kamu nggak kotor kok,  Lagian Melati Makannya nggak belepotan," kata Yati.


" alah sebentar lagi juga berantakan,  lihat aja tuh makanan yang ada di mulutnya melati,  sebentar lagi juga berhamburan ke lantai rumahku. Makanya kalau main jangan bawa anak. Kasih aja dulu Bapaknya,  daripada kamu repot-repot kayak gini,  Lagian Mainnya ke rumahku,  Emangnya rumahku Panti Asuhan apa!" kata Asih.


Yati terdiam sejenak. Dia tidak percaya dengan Segala ucapan Asih yang begitu menyakitkan.


Asih adalah sahabatnya, yang sebelum menikah,  seringkali menggoda Bidin bersama Yati.


Tetapi sekarang Asih telah berubah,  sikapnya mulai kasar terhadap Yati.


" Oh ya sebentar lagi teman-teman pada datang kita mau pergi ke danau. Kamu mau ikut nggak Yat?" tanya Asih.


Yati hanya menunduk dan terdiam. Ayatnya Yati memutuskan untuk segera pulang,  Yati pun segera Mencari Alasan.


" Aku pulang dulu ya Asih,  sebentar lagi Kang Didin pulang,  Lagian aku keluar rumah ini nggak izin,  takutkan Bidin marah," kata Yati.


" mangkanya Lain kali kalau main jangan bawa anak, ribet tau! Lagian kan nggak bebas banget kalau bawa anak,"  sahut Asih.


Akhirnya tanpa bicara lagi Yati pun keluar dan membawa anak-anaknya.


Di dalam perjalanan mawar pun bertanya pada Yati,  " teh kok mainnya sebentar aja?"


Yati pun menoleh ke arah mawar dan menjawabnya,  " Iya sebentar aja habis teh Asih orangnya udah berubah,  udah nggak Asik diajak main."


Sambil berjalan dan tangannya dituntun oleh Yati,  mawar pun mengangguk-anggukkan kepalanya,  Sepertinya dia mengerti apa yang Yati ucapkan padanya. Dan beberapa saat kemudian,  Mereka pun sampai di rumah.


Tetapi betapa terkejutnya Yati mawar dan melati,  ternyata Bidin ayah mereka telah sampai di rumah.


Ternyata bukan prediksi Yati yang salah, melainkan memang Bidin yang pulang dari sekolah lebih cepat.


Bidin berdiri di depan pintu masuk, tangan kanannya berpegangan pada daun pintu,  sedangkan tangan kirinya bertolak pinggang.

__ADS_1


Melihat gaya Bidin yang seperti itu,  Yati pun takut dan menundukkan kepalanya.


__ADS_2