Dendamnya Janda Bahenol

Dendamnya Janda Bahenol
Salah Paham.


__ADS_3

Sementara di rumah Bidin, Arum sedang mengurus Mawar dan Melati, tiba-tiba saja Bidin pulang.


Bidin pun masuk ke dalam dengan memberi salam,


"Assalamu'alaikum."


"Wa alaikum salam," jawab Mawar sambil berlari keluar.


"Bapak, bapak, gendong," dengek Mawar.


"Ih, kamu. Mawar kan sudah besar, susah berat, Bapak udah gak kuat gendong Mawar," sahut Bidin.


Tetapi Mawar memaksa. Dengan rasa lelah setelah mengajar di sekolah, dengan terpaksa Bidin mengendong Mawar.


Sesampainya Bidin berada di dalam rumahnya, Bidin melihat Arum sedang menyuapi Melati makan nasi.


"Loh, kok ada kamu Rum? Yati mana?" tanya Bidin pada Arum. Mata Bidin melihat ke sekeliling ruangan.


"Yati gak ada Kang. Arum ke sini dari tadi, dari pagi, tapi Yati udah gak ada," jawab Arum.


Bidin terdiam. Dia mengingat perkataan Yati tadi pagi selepas sholat Subuh.


Lalu Bidin masuk ke dalam kamarnya, dia menutup pintu.


Bidin membuka lemari baju. Dan benar saja, semua pakaian Yati tidak ada di dalam lemari. Lalu Bidin mendongakkan kepalanya.


Dia melihat ke arah atas lemari. Lalu Bidin menaiki ranjang dan berdiri, agar dia bisa melihat dengan jelas bagian atas lemari pakaiannya.


Setelah melihat ke arah atas lemarinya, Bidin segera turun dan duduk di sisi tempat tidur nya.


Bidin menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.


Bidin terdiam dan merenung, kedua siku tangannya berpangku pada lututnya, Bidin mengacak rambutnya.


Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka. Ternyata Arum telah berdiri di depan pintu kamar.


Arum, melihat keadaan Bidin yang sepertinya sedang tidak baik.


Arum masuk ke dalam kamar dan duduk di sisi tempat tidur, tepatnya di samping Bidin.


Awalnya Arum terdiam, tetapi dia ingin berusaha menenangkan Bidin.


"Kang, sebenarnya ada apa? Kenapa Yati pergi dan ninggalin anak-anak begitu saja? Apa kalian berantem?"


tanya Arum.


Bidin tidak menjawabnya, dia hanya diam dan diam.


"Sabar Kang, Yati masih sangat muda untuk mengarungi rumah tangga, Akang harus lebih sabar menghadapinya, menghadapi sikapnya yang masih ke Kanak-kanakan


sahut Arum menenangkan, sambil mengusap bahu Bidin.


Bidin terdiam dan menundukkan kepalanya.


Tiba-tiba saja mata Bidin fokus pada satu titik, yaitu tepatnya di depan pintu kamar.


Bidin segera mendongakkan kepalanya, dia melihat Yati tengah berdiri di sana.


Sontak saja Bidin bangkit dari duduknya, Arum pun terkejut melihat kedatangan Yati yang tiba-tiba.

__ADS_1


"YATI!" teriak Bidin.


Wajah Bidin seketika berubah, senyumnya mengembang. Tetapi sayang, semua itu hanya sebentar.


Yati marah. Wajahnya memerah, melihat Bidin berada di kamar bersama Arum.


Saat itu pula tanpa berkata-kata, Yati membalikkan tubuhnya, hendak meninggalkan Bidin. Tetapi Asep berada di belakangnya, membuat langkah Yati terhenti.


Bidin pun kaget melihat kehadiran Asep. "Eh ada kamu Sep," sapa Bidin.


Asep pun menyalami Bidin dan mencium punggung tangan Bidin.


Lalu Yati berkata dengan keras,


"Ayo A' kita pulang saja, pulang ke rumah bapak dan ibu! Lebih baik di sana daripada di sini!"


"Yat, tunggu dulu," kata Bidin.


Asep pun berkata pada Yati,


"Gak Yat, kamu harus tetap di sini!"


Yati pun tak kalah membentak,


"Kamu liat aja, tidak ada Yati mereka berani berada di satu kamar!"


Bidin pun tidak mau kalah, dia berusaha untuk membela diri nya, "Tidak seperti apa yang kamu liat Yati!"


Asep lalu mengerutkan keningnya.


Asep memang tidak melihat keberadaan perempuan itu di dalam satu kamar bersama Bidin.


"Mungkin wanita itu telah melihat kedatangan kami berdua, mangkanya dia pergi masuk ke dalam," gumamnya dalam hati.


Dan memang benar dugaan Asep. Kedatangan mereka telah di ketahui oleh Arum. Dia melihat dari kejauhan. Arum mengira bahwa Yati tidak akan melihat dirinya yang tengah asik bermain bersama Mawar dan Melati.


Tetapi sayang, dugaannya salah besar. Yati memang tidak melihatnya, tetapi Asep yang melihat dan memperhatikannya.


"Apakah perempuan ini sengaja masuk ke dalam kamar kang Bidin agar adikku cemburu?"


tanyanya dalam hati.


Arum sengaja bersikap seolah-olah mereka telah melakukan sesuatu. Arum merapikan rambutnya, karena itulah Yati menjadi bertambah kesal.


Asep memegang bahu Yati sebelah kanan dengan tangan kiri nya, agar Yati bisa lebih tenang.


Dan sepertinya, Yati telah termakan oleh tipu daya Arum.


"Pokoknya Yati mau pulang aja! Jangan larang-larang Yati!" teriak Yati di hadapan Bidin, Arum dan Asep.


Lalu Asep memperhatikan keadaan. Asep pun memiliki ide,


"Kang, bisa kita bicara sebentar?"


Bidin terlihat bingung, lalu dia melihat ke arah Asep.


Asep memberi kode, agar Bidin mau di ajak bicara.


"Tolong Kang, Asep mah bicara empat mata," pinta Asep mengulangi permintaannya.

__ADS_1


Akhirnya Bidin pun mengangguk.


Lalu Yati tidak tinggal diam. Dia pun menolak ajakan Asep.


"Gak, gak usah Aa' bicara lagi sama kang Bidin. Semua sudah jelas, siapa yang disukai oleh Akang sebenarnya. Akang nikahi Yati, tapi sayangnya sama orang lain! Maki Yati.


Ungkapan perasaan Yati di tujukan pada suaminya, yaitu Bidin, tapi wajahnya tidak mengarah ke sana, melainkan ke arah Asep, kakaknya.


"Astaghfirullah, Yati! Apa maksud kamu bicara seperti itu? Akang sayang dan cinta sama Yati! Akang gak sayang sama wanita lain, selain kamu Yat!" tak kalah Bidin bersuara keras.


Akhirnya Asep memisahkan diri ke ruang tamu.


Ternyata Bidin pun mengikutinya dari belakang, sedangkan Yati dan Arum masih berada di ruang tengah.


Yati dan Arum tidak saling bicara, tetapi mereka saling memaki satu sama lain dari dalam hati mereka.


"Huh, bilang saja kamu suka sama kang Bidin teh, selalu saja cari perhatian kang Bidin, ambil deh sana, bawa sana kang Bidin! Bawa juga sekalian tuh anak-anaknya biar kamu tambah tua!"


Maki Yati dalam hatinya.


Begitu juga dengan Arum,


"Istri macam apa kamu Yat, ninggalin anak-anaknya Bidin begitu aja, jangan mau sama bapaknya aja dong, anak-anaknya malah di telantarin. Dasar bocah! Gak bisa kawin malah mau di kawinin!"


Sedangkan Asep berada di ruang tamu bersama Bidin. Asep berusaha menenangkan Bidin.


"Maaf ya Kang, bukannya Asep ingin lkut campur urusan rumah tangga Yati dan Akang. Tapi sepertinya perempuan itu ada maksud lain," kata Asep.


"Apa maksudmu Sep? Si Arum maksudmu?" tanya Bidin, sambil membesarkan bola matanya.


"Iya, perempuan itu. Tadi Asep udah liat dia dari jauh, dan kayanya dia juga udah liat kedatangan kami berdua," jawab Asep.


Bidin mengangguk anggukan kepalanya.


"Oh ya Kang, apa sebaiknya Yati saya ajak pulang dulu, biar dia bisa berpikir jernih? Paling tidak, dapat masukan dari bapak dan ibu?" tanya Asep.


Bidin terdiam sejenak, lalu Bidin oun berkata,


"Jangan deh Sep, nanti malah dia berpikir macam-macam tentang si Arum. Udah biarin aja Yati ngambek, itu urusan Akang. Biar Akang yang urus."


Asep terdiam.


Melihat gelagat Asep, Bidin pun meyakinkan,


"Tenang Sep, Akang gak akan akan kasar sama Yati, dan gak mungkin lah Akang akan bersikap kasar, Akang sayang banget sama Yati, Yati nya aja yang gak ngerti kalo di sayangin."


Asep pun tersenyum. Karena memang benar apa yang di katakan Bidin padanya, Yati belum memahami banyak tentang rumah tangga.


"Baiklah kalau begitu, Asep izin pulang dulu Kang. Maapin sikap Yati ya, yang masih kaya anak kecil," kata Asep.


Bidin oun tersenyum dan mengangguk, lalu berkata,


"Iya Sep, Akang mah selalu maklumin, maklum masih bocah, masih maunya main. Padahal juga Akang izinin kok kalo dia mau main sama temannya. Tapi gak tau apa lagi yang sebenarnya dia mau."


Asep pun segera berdiri dan bersalaman. Lalu dia berjalan menuju ruang samping melewati ruang tengah.


Melihat Asep yang hendak bergegas, Yati oun bangkit dari duduknya dan berteriak,


"Tunggu A' Asep, Yati ikut!"

__ADS_1


__ADS_2