
"Assalamualaikum," sapa Asep. Asep pun masuk ke dalam rumah yang pintunya tidak terkunci. Tetapi dia tidak tahun jika rumahnya kosong, tidak ada satu pun orang di rumahnya.
Asep masuk terus ke dalam, lalu suusk di ruang tengah.
Dia membuka sepatunya, lalu meletakkannya kolong meja.
Setelah meletakkan sepatunya, Aswo melangkah ke ruang makan, dan dia duduk di sana.
Aseo mulai membuka tuutot saji, dan mulai mencicipi makanan yang ada.
Sesekali dia menoleh ke arah kamar Yati.
Tetapi Asep terus mencicipi makanan, dan akhirnya dia pun berniat untuk mengambil piring.
Asep pun berjalan ke arah dapur dan mengambilnpiring kosong. Setelah mengambil piring, Asep kembali lagi ke ruang makan dan duduk di sana.
Asep pun berteriak memanggil Yati dengan suara keras, "Yatiiiii!" Sesaat Asep terdiam setelah berteriak, telinganya memperhatikan setiap suara yang terdengar.
Tetapi Asep ridak mendengar suara Yati.
Asep pun hendak bangkit dari duduknya, hendak melangkah ke kamar Yati, tetapi langkahnya terhenti ketika Usep, adiknya pulang dari sekolah juga.
"Assalamu'alaikum," sapa Usep.
"Wa alaikum salam," sahut Asep.
Usep menyalami Asep, kemudian duduk di ruang makan.
Seperti biasa, Usep langsung membuka tutup saji.
Asep segera mengingatkan adiknya dengan menepuk tangan Usep,
"Auuu... Sakit Aa' tangan Usep!" Usep meringis kesakitan.
"Cuci tangan dulu atuh," perintah Asep.
Usep pun beranjak ke kamar mandi.
Sedangkan kamar mandi terletak di ruang belakang, di samping pintu belakang.
Usep melihat bahwa pintu belakang tidak tertutup rapat. Usep pun segera memperbaikinya, dia membuka sebentar, lalu menutup kembali pintu belakang dengan rapat, tetapi tidak menguncinya.
Setelah mencuci tangan, Usep segera kembali ke ruang makan. Lalu Usep bertanya pada Asep,
"A', Emak ke mana?" Asep menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu menjawab pertanyaan Usep, "Mungkin ke kadang, bawain makan siang buat Bapak."
Lalu Asep merasa hati nya tidak nyaman, Asep bangkit dan berjalan ke arah pintu kamar Yati.
Asep mengetuk kamar Yati, dan memanggilnya, "Yaaaat! Yatiiiiii!"
Asep terdiam sesaat di depan pintu kamar, telinganya di tempelkan di pintu. Berharap ada suara yang memberinsautan dari dalam, tetapi hasilnya nihil.
Lalu Asep kembali duduk.
"Sok atuh, makan aja Us, jangan di gado lauknya," kata Asep.
"Iiih si Aa' mah curang, Aa' boleh tapi Usep gak boleh.
Sejenak Asep terdiam, lalu kemudian dia bertanya pada Usep,
" Us, kok Yati di panggil gak nyaut nyak?
Di tanya seperti itu, Usep mengernyitkan dahinya, lalu dia pun melaporkan tentang pintu belakang.
"Tadi Usep cuci tangan di belakang, tapi pintu belakang gak tertutup rapat. Tapi udah Usep tutup rapat barusan.
Spontan Asep bangkit, lalu menggedor pintu kamar Yati.
Asep berteriak memanggil nama adiknya, " Yaaaat! Yatiiiiii!" Asep terus menggedor pintu, berharap mendapat sautan dari dalam.
Asep pun menghentikan pukulan tangannya pada pintu, dan terdiam.
Asep menoleh ke belakang, ke arah Usep.
Usep pun melihat ke arah Asep, dan pandangan mata mereka bertemu.
Seketika saja Usep erkata dengan wajah tegang, "Apa jangan-jangan teh Yati_"
Usep menghentikan ucapannya.
Lalu Asep menegaskan dengan bertanya, "Maksud kamu, Yati Kabur lagi?"
Mendnegar pertanyaan kakaknya yang menegaskan, Usep mengangkat kedua bahunya, dan berkata, "Tadi Usep liat pintu belakang tertutup nya gak bener, agak terbuka sedikit."
"Waaah, mungkin benar nih, Yati kabur kabur lagi, dasar Yati gelo! Kumaha atuh, bapak sama ibu bakal marah pisan!" kata Asep panik.
Asep segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ruang tengah.
Dia melihat ke kolong meja, mencari sesuatu.
"Asep berteriak memanggil Usep,
__ADS_1
" Useeeep, siniiiii!"
Mendengar kakaknya berteriak memanggilnya, Usep segera bangkit dari duduknya, dia menggeser kursi yang dia duduki hingga kursi itu jatuh terbalik.
Usep tidak sempat membenahi kursi yang jatuh, dia melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ruang tengah,
"Aya naon A'!"
Usep melihat kakaknya sedang jongkok dekat meja.
"Liat Us ke kolong, sendal Yati gak ada!" kata Asep panik.
Usep terdiam sejenak.
"Atau jangan-jangan, Yati pergi lewat pintu belakang A', karena kan tadi pintu belakang gak tertutup rapat," sahut Usep.
Mata Asep terbelalak. Asep pun menjadi geram lantaran ulah adiknya yang tidak pernah berubah. Asep pun memaki,
"Dasar Yati gelo pisan! Gelis tapi gelo!!! Cepat Us, cari Yati! Tar Bapak bakal marah!" perintah Asep.
"Iya A', sebentar, Usep cari sendal dulu. Kasian Emak, entar Bapak marah-marahnya ke Emak," sahut Usep.
Setelah mendapatkan sendalnya, Usep pun bergegas keluar untuk mencari Yati.
Sementara, Yati yang tengah kabur dari rumahnya, terus berjalan menyusuri jalan raya.
Sedangkan waktu terus berjalan dan sudah siang. Matahari saat itu sangat terik, dan Yati pun bingung akan kemana.
Akhirnya Yati memutuskan untuk datang ke rumah Asih, temannya.
Sesampainya di depan rumah Asih, Yati berdiri di depan pagar, dia melihat ke dalam rumah Asih.
Rumah Asih terlihat sepi. Hati Yati pun ragu, tetapi dia meyakinkan dirinya bahwa Asih ada di rumah.
Akhirnya Yati mendekat dan mwmri salam, "Assalamu'alaikum."
Karena mendengar suara orang memberi salam, Ibunya Asih pun keluar.
"Wa alaikumsalam," sahutnya. Lalu ibunya Asih melongok kan kepalanya ke arah pagar bambu rumahnya.
"Eh Yati, ibu pikir siapa," kata ibunya Asih, sambil melangkah mendekat ke arah pagar.
Ibunya Asih membukakan pagar bambu rumahnya, lalu kembali bertanya pada Yati,
"Ada apa Neng, nyari Asih ya? Tadi si Asih teh keluar saya temennya, katanya mau main ke warung teh Sukaisih. Neng Yati mau nyusul atau mau di disini nunggu Asih pulang? Tapi ibu gak tau dia pukangnya kapan, namanya juga main, gak bisa di tentuin kapan pulangnya."
Yati terdiam, dia mulai berpikir.
"Yati nyusul aja deh Bu ke warung teh Sukaisih, makasih ya bu."
Setelah kepergian Yati, ibunya Asih baru menyadari tentang Yati.
"Lah, itu anak kenapa keluar rumah? Bukannya dia lagi masa iddah? Ahhh dasar bocah nyak, mana betah di kurung di rumah," gumamnya pelan.
Ibu Asih pu masuk ke dalam rumah danelanjutkan aktifitasnya.
Sementara Yati menyusul Asih ke warung teh Sukeisih.
Seperti biasa, warung itu ramai dengan pengunjung. Baik anak anak kampung itu, mau pun orang dari kampung lain yang singgah.
Yati masuk dan menyapa Sukaisih,
"Teteh, damang?"
Sukaisih menoleh, dan terkejut melihat Yati datang.
"Eh Yati, loh kok kamu keluar rumah? Kumaha atuh Yat?" tanya Sekaisih.
Yati tidak menghiraukannya, dia segera masuk dan memesan minuman.
"Yati mminta teh panas manis Teh."
Tanpa menunggu jawaban, Yati segera masuk ke dalam ruangan di belakang warung.
Di sama ada Asih dan beberapa temannya.
Melihat ke datangan Yati, Asih oun terkejut, dan bertanya,
"Loh, kamu keluar Yat? Emang udah selesai di kurungnya?"
Yati tidak menjawabnya, dia merasa enggan jika orang bertanya mengenai statusnya, dan juga dengan apa yang sedang dia jalankan.
Yati duduk di samping Asih. Tidak lama kemudian, Sukaisih membawakan teh panas untuk Yati.
"Nuhun Neng, tehnya," kata Sukaisih.
Yati pun menanggapinya dan meraih teh panas dari tangan Sukaisih.
Setelah itu, Yati meletakkannya persis di hadapannya.
Lalu Asih kembali menegaskannya dengan pertanyaan. Sambil menepuk lutut Yati, Asih bertanya, "EH Yatiii, kumaha atuh, emang kamu udah selesai menjalani masa iddah? Masa sebentaran doang?"
__ADS_1
Yati kini duduk menyender di bahu Asih dan menjawabnya,
"Bosen tau! Di dalam rumah gak bisa main. Kaya orang di penjara!"
Asih pun tertawa. Tetapi Yati tidak sedang saat Asih tertawa, karena Yati merasa di tertawakan.
Akhirnya Yati kembali duduk dengan tegak, dan menyeruput tehnya. Tidak kemudian, Yati bangkit. Asih pun bertanya, "Mau ke mana? Sini aja atuh, gitu aja marah."
"Mau pipis!" jawab Yati dengan singkat.
Setelah bangkit, Yati melangkahkan kakinya keluar ruangan menuju kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, setelah selesai, Yati pun keluar dari kamar mandi dan hendak kembali ke dalam ruangan.
Seketika saja dia melihat Ujang tengah makan gorengan.
Yati pun memanggilnya, "Kang Ujang!"
Ujang pun mencari sumber suara yang memanggilnya.
Karena tidak menemukan sumber suara itu, Sukaisih memberitahukannya,
"Si Neng Yati yang manggil Akang, tuh di dalem."
Ujang pun hanya melongok saja. Kemudian Yati keluar dari dalam ruangan.
"Eh Kang Ujang apa kabar? Udah lama gak ketemu," sapa Yati. Dia pun duduk di samping Ujang.
Melihat kedatangan Yati, Ujang pun melongo, hingga Yati melambaikan tangan tepat di hadapan wajah Ujang.
"Iiih si Akang, kenapa atuh, liat Yati kaya liat hantu," kata Yati.
"Kang Ujang bahagia bisa ketemu Yati di sini, gak nyangka aja. Karena beberapa kali Akang singgah di sini, berharap bisa ketemu Yati, eh Akang denger-denger katanya Yati lagi di pingit," sahut Ujang.
"Iiih di pingit, salah atuh Kang!" kata Yati dengan suara di hentakkan.
Mendengar suara Yati, Ujang pun membicarakannya terdiam, karena Ujang tahu, sepertinya Yati enggan membicarakannya.
Wajah Yati seketika murung, dan perubahan wajah Yati pun diketahui oleh Ujang.
Untuk menghibur Yati, Ujang pun menawarkan beberapa potong gorengan,
"Sok atuh di makan gorengannya."
Melihat gorengan yang masih panas, Yati pun tergiur, lalu mengambilnya. Yati pun memakannya secara perlahan-lahan.
Seketika juga saat itu Ujang mengingat akan tugas yang telah di berikan oleh mandornya, bahwa dia harus mengantar beberapa pupuk.
"Oh iya Yat, Akang gak bisa lama, Akang masih ada tugas, bos Akang pasti lagi nungguin," kata Ujang.
Wajah Yati pun semakin di tekuk mendengarnya.
Sambil mengusal bahu Yati, Ujang pun berkata, "Jangan cemberut gitu atuh Neng, wajah Neng jadi jelek, senyum atuuuh."
"Gimana mau senyum, Yati seneng bisa ketemu Akang lagi, eh malah sebentar, ya kesel atuh hati Yati," gerutu Yati.
Lalu kemudian Ujang pun memberikan sebuah ide,
"Bagaimana kalo Yati ikut Akang? Akang cuman ngasih pupuk doang ke bos mandor, setelah itu, nanti kita jalan-jalan, gimana? Mau nyak? Ayooo laaah, katanya masih kangen ama Akang."
Yati menoleh ke arah Ujang, seketika dia berpikir sejenak.
Yati terlihat bingung, karena sebenarnya dia keluar rumah hanya ingin menghilangkan kepenatan sesaat, dan setelah itu, Yati akan pulang kembali.
Sedangkan saat ini, dia bertemu Ujang dan mengajaknya untuk pergi.
Yati benar-benar bingung akan pergi, atau tetap di warung.
Ujang pun membuyarkan lamunannya, sejenak Ujang berkata,
"Eh aduh Neng, kenapa bengong, ayuuk atuh kita pergi, ngapain di sini aja, udah siang Akang pasti di tungguin sama bos mandor, nanti dia marah sama Akang, trus gaji Akang bakal di potong, gimana main ngelamar Yati kalo gaji Akang di potong atuh!"
Mendengar rayuan Ujang, Sukaisih mencibirkan bibir bawahnya,
"Huuh! Inget Kang, sama anak istri di rumah!" sahut Sukaisih seketika.
Saat itu Sukaisih berbicara secara asal. Dia pun tidak mengenal Ujang dengan pasti, karena Ujang bukan orang asli kampung tersebut.
"Eh Si bibi mah kali ngomong asal aja, saya mana ada istri, apa lagi anak. Saya masih bujang Bi, bujang lapuk, hehehe," kata Ujang sambil cengar-cengir.
Sukaisih membuang muka. Dalam hatinya dia bergumam, "Ah masa masih bujang? Apa iya, saya mah gak percaya mulut comberan."
Akhirnya Yati pun menganggukkan kepalanya. Lalu Ujang pun bertanya pada Sukaisih, "Semua berapa Bi, sama punya Yati?"
"Dua ribu," kata Sukaisih dengan singkat. Bibir bawahnya masih mencibir.
Ujang pun memberikan uang pada Sukaisih. Setelah membayar, Ujang beranjak dari tempat duduknya dan menggandeng tangan Yati.
Melihat apa yang di lakukan Ujang, Sukaisih pun berteriak mengingatkan Yati, "Awas Yati, Hati-hati sama mulut comberan, Bila-bila kamu nganyut ke kali!"
Yati tidak menghiraukan perkataan Sukaisih, dan mereka pun bergi dengan mengendarai motor.
__ADS_1
Tapi beberapa menit kemudian, Usep datang ke warung. Napasnya tersengal-semgal. Usep duduk di bangku di depan warung Sukaisih.
Melihat kedatangan Usep, Sukaisih pun terperanjat.