
Hati itu adalah hari libur, dimana Bidin juga libur untuk mengajar. Sedangkan Mawar dan Melati sudah mandi dan rapi.
Bidin hendak mengajak Yati dan anak-anak untuk bertamasya.
Tetapi Yati masih saja berada di kamar, dan Bidin pun akhirnya menghampirinya di kamar.
"Kok belum dandan juga Yat, ayo kita jalan-jalan, mumpung cuacanya cerah," ajak Bidin.
Yati tidak menjawabnya. Bahkan Yati tidak berkutik sama sekali.
Saat itu Bidin hanya berdiri di depan pintu kamar.
Melihat Yati yang gak kunjung bergegas, akhirnya Bidin pun masuk ke dalam kamar dan merayunya.
Bidin duduk di samping Yati sambil membelai rambutnya,
"Ayo dong Yat, ganti baju dan berdandanlah, Akang pingin Yati tampil cantik jika jalan sama Akang.
Wajah Yati masih saja cemberut. Lalu dia pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju lemari.
Yati membuka lemari dan mencari pakaian.
Setelah menemukan pakaian yang dia inginkan, Yati pun mengeluarkan pakaian itu dari dalam lemari.
Karena keadaan Yati yang masih cemberut, Bidin pun keluar dari kamar, agar Yati dengan cepat mengganti pakaiannya.
Setelah Bidin keluar dari kamar, Yati pun segera menutup pintu, bahkan menguncinya.
Yati mulai mengganti pakaiannya dengan baju yang baru saja dia ambil dari dalam lemari.
Setelah mengganti pakaiannya, Yati melihat ke arah cermin.
Dia menatap wajah dan tubuhnya di cermin. Tubuhnya yang montok dan pipinya yang semok, mulai dia berdandan.
Tiba-tiba Yati teringat malam pertamanya bersama Bidin. Dia menoleh ke arah tempat tidur. Di sanalah dia melepas keperawanannya yang di serahkan untuk Bidin.
Perasaannya kala itu antara senang dan sedih.
Senang karena dia bisa menikah dengan Bidin, laki-laki tampan yang di perebutkan di kampung itu. Yati pun merasa sedih, karena dia merasa akan terkekang setelah menjadi istri Bidin.
Yati pun mengingat kaka Bidin mencumbunya, alangkah dia sangat senang dan terbuai.
Dulu sebelumnya, sebelum Yati menikah dengan Bidin, dia hanya mendengar cerita dari teman-temannya tentang cumbuan.
Teman-teman Yati sering menceritakan hal itu karena mereka berhubungan dengan pacar mereka, termasuk Asih.
Dan sekarang, dia mengalaminya.
Sesaat Yati tersenyum. Tapi tiba-tiba senyumnya menghilang begitu saja saat Yati mengingat apa kewajiban sebagai istri.
Hatinya mulai memberontak. Dia tidak ingin terkekang karena statusnya sudah menjadi seorang istri.
Jiwanya meronta-ronta
Lalu Yati menoleh kearah jendela kamar, dan membukanya.
Tanpa berpikir panjang, Yati melompat keluar.
Yati berlari sekencang-kencangnya meninggalkan rumah Bidin melalui jendela kamar, entah mau kemana dia pergi.
Yang jelas, dia hanya ingin keluar dari rumah Bidin dan hidup bebas.
__ADS_1
Sedangkan Bidin masih sabar menunggu Yati di luar kamar, tepatnya di ruang samping bersama Mawar dan Melati.
Tiba-tiba Mawar bertanya pada Bidin,
"Pak, teh Yati mana? Kok lama pisan dandannya?"
Bidin pun baru tersadar, jika dia telah menunggu lama, tepatnya sudah memakan waktu lima belas menit.
Bidin pun bangkit dari duduknya. Kakinya melangkah menuju kamar tidurnya.
Bidin mulai mengetuk pintu kamar sambil memanggil nama Yati,
"Yaaat, sudah belum dandannya?" Sejenak Bidin terdiam. Dia menunggu jawaban dari dalam kamar.
Setelah sejenak dia menunggu, tetapi tidak ada jawaban.
Bidin pun kembali mengetuk pintu kamar. Tetapi lagi-lagi, dia tidak mendapatkan jawaban.
Akhirnya Bidin mengetuk pintu kamar lebih keras, hingga terdengar oleh Melati.
Mendengar ketukan pintu yang keras, Melati pun datang dan bertanya pada Bidin,
Bapak cari siapa? Teh Yati ada di dalam ya?"
Bidin menundukkan kepalanya ke arah Melati. Melati pun mendongakkan kepalanya.
Bidin pun mengangguk. Lalu Bidin menyuruh Melati untuk kembali ke ruang samping,
"Neng, nunggu Bapak di sana aja ya, Bapak mau buka pintunya, nanti Neng kaget."
Melati pun mengangguk tanda dia menuruti perintah bapaknya. Melati pun pergi dan kembali ke ruang samping, di mana Mawar juga ada di sana.
Seketika saja pintu kamar terbuka.
Bidin melihat ke dalam ruangan kamar. Matanya berkeliling di setiap sudut ruang, tetapi dia tidak melihat keberadaan Yati.
Tiba-tiba Bidin terperanjat dan terperangah. Matanya membesar, bahkan jantungnya pun berdegup kencang.
Bidin melihat jendela kamar yang terletak di samping pintu kamar telah terbuka.
"Pantas saja kamar terasa lebih terang, ternyata jendelanya terbuka!" suara Bidin serak.
Dia tidak mampu lagi memanggil Yati, karena dia yakin, bahwa Yati telah pergi melalui jendela kamar.
Bidin melongokkan kepalanya keluar melalui jendela kamar. Matanya masih berkeliling, masih berharap pandangannya akan bertemu dan melihat keberadaan Yati, sang istri.
Tapi dia sadar, mungkin Yati telah pergi sudah cukup jauh, tidak mungkin dia berteriak dan memanggilnya, karena suaranya akan hanya membuat kegaduhan.
Bidin duduk di sisi tempat tidur. Matanya memandang ke arah depan cermin.
Bidin membungkukkan tubuhnya, kedua siku tangannya berada di lutut dan telapak tangannya memegang kepalanya.
"Ya Alloh, kenapa rumahtangga ku seperti ini? Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya pelan.
Tiba-tiba dia teringat akan nasehat ibunya saat akan melamar Yati,
"Kamu yakin akan memperistri Yati? Ibu lihat, dia masih asik bermain dengan teman-temannya. Ibu khawatir jika nanti dia tidak bisa menjadi istri yang baik Din."
Sontak saja wajah Bidin memerah mengingat nasehat ibunya. Mata Bidin mulai mengembun.
Tidak terasa air matanya tiba-tiba saja jatuh, membuat kedua pipi Bidin basah.
__ADS_1
Takut Mawar dan Melati tahu jika bapaknya sedang menangis, segera Bidin mengusap kedua pipinya dan mengeringkan matanya.
Akhirnya Bidin keluar dari kamar menemui anak-anaknya.
"Ayo siap-siap berangkat sekarang, kita main aja ke rumah aki ya, akinya teh Yati, gimana? Nanti kalian bisa main sama mang Asep. Mang Asep itu kakaknya teh Yati," ajak Bidin.
Melati tampak senang mendengarnya. Berbeda dengan Mawar, dia menagih janji Bidin untuk di ajak bertamasya.
"Katanya mau tamasya, kok malah ke rumah aki?" tanya Mawar merengek.
Bidin terdiam sesaat. Bidin sedikit bingung menjelaskan pada Mawar, karena Mawar nalarnya sudah ada, dia bisa membaca situasi.
Tiba-tiba Mawar masuk ke dalam, sambil memanggil Yati,
"Teh, teteeeh Yatiiii!"
Mata Mawar memandang ke sekeliling ruangan. Dia mencari keberadaan Yati. Mawar pun melangkahkan kakinya ke arah kamar Bidin.
Di sana pun dia tidak melihat keberadaan Yati, tetapi melihat jendela kamar terbuka.
Mawar pun berteriak memanggil Bidin dari kamar.
"Bapaaaak, Paaaak!"
Mendengar teriakan Mawar yang memanggil namanya, Bidin pun beranjak bangkit dari duduknya, sambil menggendong Melati.
Sesampainya di kamar, Bidin melihat Mawar yang terlihat bingung.
Mawar oun bertanya tentang keberadaan Yati,
"Pak, teh Yati mana? Kenapa jendela kamar Bapak terbuka?"
Tubuh Bidin terasa lemas, mendengar pertanyaan Mawar.
Lalu dia menuruni Melati dari gendongan, laku dia duduk di sisi tempat tidur.
Pandangannya kosong menatap dinding.
Mawar dan Melati saling memandang. Lalu mereka pun ikut duduk di sisi tempat tidur, tepatnya di samping kanan dan kiri Bidin.
Bidin memeluk keduanya, tangan kanan dan kiri Bidin memeluk putri-putrinya.
Bidin berusaha untuk tidak menunjukkan kesedihan di hadapan anak-anaknya.
Tetapi Ada yang akan Bidin tanyakan pada anak-anaknya.
Bidin menoleh ke arah kanan dan kiri,
"Anak-anaknya Bapak, Bapak mau tanya, kalian sayang gak sih sama teh Yati?"
Mendengar pertanyaan Bidin, Melati menoleh ke arah Mawar, begitu pula dengan Mawar.
Lalu tiba-tiba keduanya menagngguk bersamaan.
Lalu Bidin pun melanjutkan,
"Kalo kalian sayang sama teh Yati, ayo kita cari ke rumah aki, mungkin teh Yati ada di sana."
Mendengar ajakan Bidin, Mawar merasa bingung, lalu dia menoleh ke arah jendela kamar yang masih terbuka.
Mawar terus menatap ke arah sana.
__ADS_1