
Asep melebarkan pintu kamar. Semua mata memandang ke arah kamar. Asep masuk dan mencari keberadaan Yati.
"Yati gak ada Pak," kata Asep pada mang Ibing dengan suara panik.
DEGGG
Benar saja, Bidin sudah menduganya. Yati pergi lewat jendela, sama persis dengan yang di lakukan di rumah Bidin.
Yati minggat lewat jendela.
Asep melihat jendela kamar Yati telah terbuka dengan lebar.
Ratmi berteriak histeris, dia tidak menyangka jika putrinya telah berbuat nekat.
"Ya Alloh Yati, kamu ke mana? Kenapa kamunkaya gini?" teriak Ratmi bercampur dengan tangisan.
Begitu pula dengan Nini, dia tidak menyangka jika cucunya akan berbuat nekat seperti itu.
Aki terdiam, begitu pula dengan mang Ibing. Mereka berdua menatap ke arah Bidin.
Bidin menundukkan kepalanya, ingin rasanya dia juga menangis, tetapi dia pun sadar, bahwa tangisannya juga tidak akan membawa Yati kembali dalam pelukannya.
Lalu Bidin memberanikan diri, dia berusaha mencoba menepia perasaan sedihnya.
"Sudahlah Pak, Bu, biarkan saja Yati pergi. Itu tandanya memang dia tidak akan mau bertemu dengan saya lagi. Saya udah ikhlas kok, lagian cinta kan gak bisa di paksakan. Semakin saya mengejar Yati, Yati akan tersiksa, begitu pula dengan saya. Saya hanya memaksakan diri saja, seakan saya hidup dalam mimpi."
Bidin lalu membalikkan tubuhnya dan duduk di ruang lain. Sementara yang lainnya pun menyusul.
Bidin menarik napas panjang dan membetulkan letak duduknya.
Ratmi menangis sesegukan. Perasaannya bercampur aduk. Antara kesal, sedih dan malu.
Begitu pula dengan mang Ibing, Nini, Aki bahkan Asep.
Mereka benar-benar merasa malu pada Bidin, malu dan benar-benar malu.
Bidin pun berusaha untuk bersikap tenang, walau sebenarnya hatinya sangat sakit.
"Sudahlah, saya baik-baik saja kok. Saya memaklumi kelakuan Yati yang masih kanak-kanak, jangan si marahin nantinjika dia pulang," kata Bidin.
Aki duduk berhadapan dengan Bidin.
Wajah Aki masih menegang.
Lalu Bidin meminta izin pada Aki untuk meracik rokok kaung milik Aki,
"Ki boleh saya minta rokoknya?"
"Oh boleh, sini biar Aki yangvracikin buat kamu," jawab Aki.
"Eh tidak udah atuh Ki, saya mau belajar sendiri meraciknya," sahut Bidin.
Bidin oun mulai meracik rokok kaung milik Aki.
Sementara Ratmi masih saja menangis. Lalu Nini memeluknya.
__ADS_1
"Bu, saya merasa telah gagal mendidik Yati," kata Ratmi dalam tangisnya.
"Sudahlah, jangan menangisinya, kamu sudah berusaha menjadi ibu yang baik bagi Yati.
Sedangkan Yati, terus melangkah pergi daribeumah bapaknya melalui jendela kamarnya.
Sengaja dia kabur melalui jendela kamarnya, karena dia sudah tidak mau menemui suaminya, yaitu Bidin.
Yati menyibak rambutnya yang panjang sambil sesekali menoleh ke belakang.
Dia takut jika langkahnya ada yang mengikuti.
Sedangkan Yati pun tidak memiliki tujuan yang pasti. Di pikirannya saat itu ialah, dia harus pergi dari rumah dan menjauh dari Bidin.
Hingga tidak terasa, langkahnya sudah sangat jauh dari letak rumah bapaknya.
Yati merasa lelah, dan akhirnya dia memutuskan untuk beristirahat di sebuah saung di pinggir sawah.
Untuk mencapai saung, Yati harus berjalan lagi kurang lebih sekitar seratus meter lagi.
Dengan terpaksa, Yati pun melangkahkan kakinya melewati pematang sawah.
Saat itu jalanan sangat licin. Yati pun membuka sandalnya dan mulai menapaki pematang sawah.
Baru saja beberapa meter Yati berjalan, tiba-tiba kaki Yati tergelincir.
"Aduuuuh, sakit!" teriak Yati.
Kaki Yati tergelincir ke dalam lumpur.
Tinggal sebelah lagi masih dia pegang.
Yati pun menggerutu,
"Ih kumaha atuh kenapa jadi begini? Kaki sakit, kotor, sendal ilang, tangan dan baju kotor, aduh sial pisan aku teh hari ini, malahan panas, gerah, sendirian gak ada yang nolongin, lengkap deh penderitaan ku saat ini."
Yati berusaha untuk bangun. Karena memang bobot tubuhnya yang berat, membuat Yati agak kesusahan untuk bangun.
Pelan-pelan Yati pun bangkit dan akhirnya berhasil. Yati melanjutkan perjalanannya menuju saung, yang berada beberapa meter dari tepi jalan.
Tinggal beberapa langkah lagi, Yati sampai di saung yang di tuju.
Tapi naasnya, Yati kembali terpeleset, karena pematang sawah yang sangat licin.
"Adu... Du... Duuuuh, kumaha atuh jatuh lagi, aduuuh sakiiit!" Yati meringis kesakitan.
Dan akhirnya Yati pun sampai di saung itu. Dia naik ke atas saung dan duduk di sana sambil meluruskan kedua kakinya.
Kedua tangannya mengurut-urut kedua kakinya yang barusan tergelincir.
"Aduuuh, sial pisan nasib aku teh hari ini. Perut lapar, lajan jauh, gerah, sendirian, bener-bener sial aku teh hari ini," gerutu Yati.
Tiba-tiba dia terdiam. Sekilas dia terlintas apa yang sudah dia lakukan terhadap suaminya.
"Apa aku telah dapat tulah dari kang Bidin? Aaah kang Bidin, gak mungkin dia marah sama Yati, kang Bidin sayang pisan sama Yati, Yati yakin. Tapi kenapa hari ini sial banget ya?" Tangan Yati mengibas-ngibas karena gerah.
__ADS_1
Tiba-tiba ada sebuah kendaraan bermotor yang melintas di jalan. Yati melihat pengendaranya, dia mengernyitkan kedua matanya.
Tanpa sengaja, sang pengendara pun menoleh ke arah saung, di mana Yati sedang singgah di sana.
Si pengendara motor pun menghentikan kendaraannya secara mendadak.
"Yatiiii!" teriak si pengendara motor itu, sambil melambaikan tangannya.
Yati mengenali suara itu. Yati pun membalas lambaian tangan si pengendara motor.
Mendapat respon, sang pengendara motor akhirnya menepikan kendaraannya di pinggir jalan. Setelah memarkirkan motornya, si pengendara lalu menguncinya.
Lalu si pengendara menoleh ke kanan dan kiri, memang saat itu jalanan sangat sepi.
Jika ada pengendara yang lewat dengan kecepatan tinggi, tidak mungkin mereka melihat ada orang di saung itu.
Lalu setelah meyakinkan ke adaan jalanan, si pengendara pun berjalan menuju saung, di mana Yati berada.
Semakin dekat, semakin jelas wajah si pengendara itu, hingga Yati pun berteriak memanggil namanya, "Kang Ujang!"
Wajah Yati seketika berubah, yang tadinya terlihat lesu dan kesal, kini senyum Yati mengembang. Semakin Ujang mendekat senyum Yati semakin semringah.
Dan akhirnya Ujang pun sampai di saung itu.
Ujang sangat senang melihat keberadaan Yati di sana, hingga dia lupa, tiba-tiba Ujang ingin memeluk Yati.
Yati pun terkejut dan mendorong tubuh Ujang dengan kuat, hingga Ujang kehilangan keseimbangan, maka Ujang pun tergelincir ke dalam lumpur.
"Aduuuh, Yatiiiii! Kejam sekali kamu mendorkng Akang, apa salah Akang, Yat?" Teriak Ujang.
Dengan susah patah Ujang pun bangkit. Tangan dan kakinya kotor karena masuk ke dalam lumpur.
Wajah Yati pun berubah masam. Dia tidak suka dengan cara Ujang memperlakukannya.
"Salah sendiri, kenapa main peluk peluk aja! Yati gak suka kalo Kang Ujang bersikap kurang ajar sama Yati!" bentak Yati pada Ujang.
"Maaf atuh Yat, Akang saking girangnya bisa ketemu lagi sama Yati, mangkanya Akang reflek mau meluk Yati, sekali lagi maap," sahut Ujang, sambil membersihkan kainya yang kotor karena lumpur.
Ujang pun duduk di sisi saung. Lalu tiba-tiba Ujang menoleh ke arah Yati dan berkata dengan pelan,
"Akang senang sekali sekarang bisa ketemu lagi sama Yati, Akang gak nyangka. Atau..." Ujang sengaja menghentikan ucapannya.
Sengaja Ujang menghentikan ucapannya agar Yati merasa penasaran.
Dan benar saja, Yati pun penasaran di buatnya.
"Atau apa Kang Ujang?" tanya Yati.
Wajah Yati menegang saat itu.
Mereka terdiam sesaat, lalu Ujang pun kembali meneruskan ucapannya,
"Atau mungkin, kita berjodoh Yat."
Seketika saja wajah Yati yang putih itu pun merona.
__ADS_1
Yati pun menundukkan kepalanya karena malu.